
Anang tidak pernah terpikir untuk mempermainkan perasaan Gita.
Jangankan untuk mempermainkan, berharap untuk disayang Gita saja sulit.
Tapi, tadi Gita bilang kalau dia merasa Anang mempermainkannya.
Apa Gita sudah menerima cinta Anang sekarang?
"Apa kamu cemburu?" tanya Anang pelan dan ragu, siapa tahu Gita hanya tidak suka melihat laki-laki yang mengumbar cinta dimana-mana.
Mata Gita terbelalak dan malah kelihatan makin gusar.
Tanpa bicara apa-apa, Gita hampir saja berjalan pergi, tapi dia berjalan kembali lagi kedepan Anang yang masih berdiri terdiam ditempatnya seperti orang linglung.
"Laki-laki rendahan seperti kamu, tidak pantas untuk aku cemburui!" ujar Gita.
Anang menahan tangan Gita, saat Gita mencoba pergi lagi.
"Kamu menganggapku rendah, jadi kamu menolakku? Kalau begitu untuk apa kamu datang kesini? Disini memang bukan tempat untuk wanita sekelas kamu," ujar Anang.
Anang sudah biasa direndahkan, tapi saat Gita yang melakukannya, hati Anang terasa hancur.
Rasa sakit karena perkataan Gita, mampu mengguncang pertahanan Anang.
Kalau boleh memilih, Anang lebih suka ditampar wanita itu daripada dikata-katai seperti sekarang ini.
Anang kemudian melepaskan tangan Gita, lalu berjalan melewati wanita itu. Seolah-olah tidak mengenal Gita, dan hanya sekedar berpapasan dengan orang asing dijalanan.
Dari kejauhan, Anang bisa mendengar suara motor yang melaju meninggalkannya yang sudah berjalan masuk ke area pemukiman.
Anang tidak mau berbalik untuk melihat Gita.
Kali ini dia memang berniat untuk melupakan wanita itu selamanya.
Ketika Anang kembali kekamarnya, Santi masih disana, dan terlihat asyik mengutak-atik ponselnya, dan ponsel Anang.
Anang melampiaskan kekesalannya dan sakit hatinya, dengan menggempur Santi, sampai Santi memohon ampun pada Anang.
"Cukup! Aku harus bekerja malam ini," ujar Santi dengan suara memelas.
Anang tidak bergeming, dia masih menghujam Santi. Sampai akhirnya Anang kelelahan, barulah Anang mau berhenti.
__ADS_1
"Besok kamu kesini?" tanya Anang, sambil memakai boxernya lagi.
"Terserah saja. Aku kesini atau kamu ketempatku," sahut Santi yang juga sedang memakai pakaiannya kembali.
"Aku pulang dulu, ya!" kata Santi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Anang.
Anang melihat jam dilayar ponselnya. Dia juga harus bersiap-siap untuk bekerja.
Seperti biasa Anang turun kerakit untuk mandi, sekembalinya dari sana, Anang lalu memakai pakaian pemberian ayah gadis yang berulang tahun semalam.
Kemeja lengan panjang dengan lengannya yang digulung Anang sampai hampir ke sikunya, celana panjang lengkap dengan sepatu, tanpa jas dan dasi.
Anang tampak keren dengan gaya semi kasual seperti itu.
Wajahnya juga tampak lebih bersih sekarang. Mungkin karena sudah tidak lagi tersengat panas matahari, dan sudah bisa merawat diri, kusam diwajah Anang perlahan menghilang.
Ketampanan Anang mulai terlihat. Dengan badan yang tinggi, tegap dan kekar berotot, benar-benar melengkapi penampilannya.
Anang kali ini tampil di acara reuni sekolah.
Ketika Anang tampil bernyanyi, Anang tampil seperti biasa.
Dengan sepenuh hati bernyanyi, dan memainkan senar gitar dengan jari-jari tangannya, yang sudah terbiasa dengan letak senar yang harus dia petik.
Sebagian besar wanita-wanita disitu, meminta ijin untuk berfoto dengan Anang, bahkan ada yang meminta nomor kontak Anang, agar bisa saling menghubungi.
"Nanti aku mau mengadakan acara ulang tahun, apa Mas Anang mau tampil ditempatku?" kata salah satu wanita dengan gaun panjang yang terbuka dibagian bahunya, sampai hampir separuh kedadanya yang menyembul keluar dari gaunnya.
"Kapan? Asal tidak bertabrakan dengan pesanan yang lain, saya mau," sahut Anang.
"Nanti dua hari lagi dari sekarang. Nanti aku kirim lewat wh*tsapp alamatnya," ujar wanita itu sambil menyentuh bahu Anang dengan jarinya, lalu meluncur turun sampai ke ujung jari tangan Anang.
Wanita itu lalu memasukkan kemulutnya, dan menggigit jari telunjuknya yang dia pakai menyentuh Anang.
Entah disengaja atau tidak, wanita itu tampak mabuk atau berpura-pura mabuk, tapi wanita itu seolah-olah akan terjatuh, dan beberapa kali menyenggolkan dadanya ke lengan Anang.
Anang merasa kalau wanita itu seperti sedang merayunya. Cantik dan seksi, saingan dengan penampilan Santi, tapi Anang tidak berani berpikir yang aneh-aneh tentang wanita itu.
Anang masih tertarik dengan tawaran bernyanyi yang wanita itu katakan.
"Oke. Kabari saja nanti," kata Anang datar.
__ADS_1
Malam itu Anang baru merasakan yang namanya minuman beralkohol. Tapi Anang hanya mencicipinya, tidak meminum sampai berlebihan hingga bisa membuatnya mabuk.
Anang benar-benar sibuk dengan wanita-wanita yang mencoba merayunya malam itu. Tapi Anang tidak bergeming.
Bukan karena Gita, atau mungkin saja sedikit karena Gita, tapi bukan karena cintanya kepada Gita, melainkan keinginan Anang untuk mendapat kehidupan yang lebih baik, agar tidak jadi bahan hinaan bagi wanita seperti Gita.
Anang lebih memperdulikan kalau orang-orang disitu bicara tentang pekerjaan yang bisa Anang lakukan.
Setelah menerima imbalan yang sudah menjadi perjanjian mereka, Anang kemudian berniat kembali ke tempat tinggalnya.
Anang mencari ojek pangkalan yang letaknya cukup jauh dari gedung yang menjadi tempat Anang bernyanyi tadi.
Sebelum Anang sampai dipangkalan ojek, sebuah mobil sedan lumayan mewah berhenti dipinggir jalan, lalu dari dalam mobil, keluar seseorang yang langsung menghampiri Anang.
"Mas Anang!"
Wanita gaun panjang dengan dada montok tadi ternyata yang menghampiri Anang.
Anang memperhatikan sebentar, tampaknya wanita itu tidak mabuk, masih bisa berjalan normal, tidak seperti waktu didalam gedung tadi.
"Aku antarkan pulang. Jadi aku tahu tempat aku harus menjemput mas Anang ke pesta ku nanti," ujar wanita itu.
"Hmm... Tidak usah! Saya tidak mau merepotkan. Nanti saya juga bisa pergi sendiri, asal alamatnya sudah ada," kata Anang, sambil mencoba berjalan meninggalkan wanita itu.
Anang tidak mau berurusan dengan wanita-wanita yang kelasnya diatas Anang lagi.
Anang tidak mau jadi bulan-bulanan wanita yang menganggapnya rendah, meskipun wanita itu menarik.
Cukup!
"Hmm... Apa aku menjengkelkan dan mengganggumu?" tanya wanita itu sambil memegang tangan Anang.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau merepotkan saja," ujar Anang yang menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik melihat wanita itu, karena tangannya yang dipegang wanita itu.
"Tidak merepotkan kok. Aku juga mau jalan-jalan tapi tidak tahu mau kemana. Membosankan bicara dengan teman-teman SMA didalam.
Semua hanya sibuk membicarakan kesuksesan, atau mengolok-olok teman yang belum berhasil.
Mungkin sambil mengantar Mas Anang, kita bisa mengobrol hal yang lain," kata wanita itu yang terdengar seolah-olah memaksa dengan mencari-cari alasan.
Anang terdiam sebentar sambil memikirkan ucapan wanita itu.
__ADS_1
Tampaknya tidak ada masalah, dan tidak ada ruginya kalau diantar wanita itu pulang.
Memangnya apa yang bisa membuat Anang sakit hati kalau cuma begitu saja?