SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 39


__ADS_3

"Imbalan dari Mister Grand, akan dia transfer sekarang. Apa kamu sudah ada rekening bank?" tanya Santi.


Rekening bank?


Anang hanya menyimpan uangnya dicelengan ayam plastik, yang sekarang sudah hampir penuh.


Apa bisa ditransfer langsung kesitu saja?


"Apa nggak bisa dikasih dalam amplop saja? Aku belum punya rekening bank," sahut Anang.


Santi terdiam sebentar, lalu kembali bicara dengan Mister Grand, dan istrinya.


"Katanya mereka tidak menyiapkan uang kes seperti itu," kata Santi.


"Terus bagaimana?" tanya Anang.


"Hmm... Kalau pakai rekeningku saja dulu, gimana? Aku yang ambilkan dari bank untukmu nanti," tanya Santi lagi.


Meski Santi anak nakal, tapi tampaknya dia tidak akan menipu Anang.


Percayakan saja kalau begitu. Kalau pun Santi menipunya, apa mau dikata, berarti itu bukan rejeki Anang.


"Terserah kamu saja!" sahut Anang.


Santi kembali terlihat sibuk bicara dengan Mister Grand.


Kali ini Santi mengeluarkan ponsel sambil tetap bicara dengan laki-laki asing kaya itu, yang sekarang juga terlihat memegang ponselnya sambil melihat layarnya, dan menekan-nekan sesuatu disitu.


"Sudah!" kata Santi.


Santi lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Anang, tapi Mister Grand mengajaknya bicara lagi, jadi Santi membiarkan Anang yang memegang ponselnya.


Mata Anang terbelalak saat melihat banyaknya jumlah nol dicatatan rekening Santi.


Segitu banyaknya imbalannya, meski ditransfer langsung ke celengan ayamnya, perlu lebih dari tiga puluh ekor ayam plastik baru bisa muat.


"Sudah?" tanya Santi sambil ikut melihat layar ponselnya.


"Sampai sebanyak itu?" tanya Anang.


"Heh! Itu uangku!" ujar Santi kemudian menekan salah satu tanda dilayar ponselnya.


"Ini transferan Mister Grand. Lihat!


Itu tanggal, waktunya, dan pengirimnya," kata Santi yang menunjuk layar ponsel, sambil menjelaskan kepada Anang, sebelum dia mengambil ponselnya lagi dari Anang.


Ooh... Oke masih fantastis jumlahnya, meski tidak seberapa jika dibandingkan uang tabungan Santi.


Santi tidak perlu menipu Anang, uang yang dia miliki lebih dari sepuluh kali lebih banyak dari imbalan yang dia terima dari Mister Grand.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menatap Santi yang sekarang sudah sibuk berbincang-bincang dengan orang lain.


Santi tidak berbohong, dengan jumlah uang sebanyak itu, Santi memang bisa membeli rumah yang berada ditengah kota, dan uangnya masih ada sisanya.


Tapi, dia malah memilih jalan hidup yang sulit, hanya gara-gara kebenciannya dengan papanya dan ibu tirinya.

__ADS_1


"Aku mau berjalan-jalan dengan dia dulu, ya! Nggak apa-apa kalau kamu aku tinggal disini 'kan?" kata Santi.


Mata Santi terlihat menatap lelaki bule didepannya, yang tampak tidak sabaran untuk melepas gaun yang dipakai Santi.


"Nanti dulu!" kata Anang, yang membuat Santi melihatnya dengan raut wajah yang tampak tidak senang.


"Kenapa lagi? Aku mau mencobanya sekarang!" ujar Santi ketus dengan wajah garang.


"Temani aku dulu sebentar. Aku tidak ada teman yang bisa aku ajak bicara," kata Anang sambil menarik tangan Santi.


Anang membawa Santi berjalan keluar dari aula, meski terlihat jelas diwajah Santi kalau dia sangat kesal dengan Anang, dan hanya terpaksa saja mengikuti langkah Anang.


"Kamu mengganggu kesempatanku!" ujar Santi terdengar kecewa.


Anang tidak memperdulikan ocehan Santi, dan tetap membawa wanita itu berjalan sampai mereka diruangan terbuka, dibagian samping kapal.


"Ngapain kita disini? Tidak ada yang bisa dilihat!" kata Santi.


Memang tidak ada yang bisa dilihat. Lautan luas itu hanya bagian gelap yang tidak tembus cahaya lampu-lampu kapal.


Hanya angin laut saja yang berhembus kencang, sampai berbunyi mendesis ditelinga mereka, dan membuat rambut Santi yang digerai jadi berantakan.


"Dingin loh!" ujar Santi sambil menggosok-gosok kedua lengannya.


Anang melepas jasnya lalu memakaikannya kepada Santi.


"Kamu mau berhenti mangkal nggak?" tanya Anang sambil ikut menggosok-gosok lengan Santi.


"Lalu bagaimana aku mencari uang?" ujar Santi.


"Kamu ikut denganku. Kamu yang mengurus jadwal undanganku bernyanyi," kata Anang.


Santi terlihat seperti akan berkata sesuatu, tapi Anang menyela.


"Nanti kita bagi hasilnya. Kamu masih bisa memuaskan kemauanmu untuk 'itu'. Seperti sekarang, kalau sudah selesai mengurus pekerjaanku, kamu bisa bersenang-senang," sambung Anang.


Santi terdiam, terlihat seperti sedang berpikir sesuatu, kemudian tersenyum nakal.


"Boleh juga tuh! Kalau tidak dapat yang lain 'kan masih ada kamu... Sanggup saja 'kan?" ujar Santi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sanggup kata Santi?


Anang lebih dari sanggup.


Contohnya sekarang, meski sudah terpakai hampir separuh bungkus permen yang dibawa Santi, Anang masih mau kalau ditawari lagi.


Daripada tidur sendiri diranjang yang empuk, mendingan kalau ada yang membantu Anang menggoyang per-nya.


"Sanggup, nggak?" tanya Santi membuyarkan lamunan Anang.


"Sanggup! Mau sekarang?" ujar Anang buru-buru.


"Ah, Aku mau yang tadi dulu," ujar Santi sambil mengembalikan jas Anang, dan berjalan menjauh meninggalkan Anang.


"Aku terima tawaranmu," kata Santi yang tiba-tiba berbalik.

__ADS_1


Santi kemudian lanjut berjalan meninggalkan Anang yang terdiam terpaku melihat Santi pergi.


Ah, Sial!


Sekarang Anang sedang tidak sibuk, tapi Santi masih lebih tertarik dengan persneling kidal.


Daripada sibuk memikirkan hal aneh yang akan dilakukan Santi dengan laki-laki bule tadi, mendingan Anang mencari makan malam untuk perutnya yang mulai keroncongan.


Anang tersentak.


"Santi!" seru Anang sambil berlari mengejar Santi.


Bagaimana Anang bisa makan, kalau cara memesan makanannya saja Anang tidak tahu.


Anang menyusul Santi ke aula, sambil berharap wanita itu masih disitu.


Anang melihat kesana kemari, dan akhirnya melihat Santi yang hampir saja berjalan pergi dengan laki-laki bule yang didepan mereka tadi.


"Santi! Bantu aku pesan makanan dulu. Aku lapar," ujar Anang setelah menghampiri Santi dengan calon lawannya diranjang.


Santi melihat Anang, lalu melihat laki-laki bule yang bersamanya.


Santi kemudian berbicara bersahut-sahutan dengan laki-laki itu, sambil laki-laki itu menatap Anang dengan sorot mata tajam.


Tampaknya laki-laki itu marah dengan Anang, yang seolah-olah cuma jadi pengganggu.


Tapi laki-laki bule itu lalu berjalan pergi, meninggalkan Santi dengan Anang disitu.


"Buruan! Dia menungguku dikamarnya," kata Santi sambil menarik tangan Anang, dan mengajak Anang berjalan dengannya.


Santi membawa Anang ketempat mereka makan tadi pagi.


"Kamu mau makan apa?" tanya Santi, ketika mereka sudah duduk didalam tempat seperti restoran itu.


"Seperti tadi pagi saja," kata Anang.


Santi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu untuk sarapan. Malam begini, itu sudah tidak disiapkan lagi. Mau kentang tumbuk atau pasta?" ujar Santi.


Kentang tumbuk? Pasta?


"Kamu makan apa?" tanya Anang.


"Aku nggak makan. Aku mau cepat menyusulnya," sahut Santi.


"Temani aku makan sebentar!" ujar Anang memelas.


Anang merasa aneh, kalau dia makan sendirian diantara orang banyak itu.


Bagaimana kalau ada yang bertanya atau mengajaknya bicara?


Masa Anang harus pura-pura bisu?


Santi terlihat menghela nafas panjang, sebelum memanggil pelayan, dan berbicara dengan pelayan itu.

__ADS_1


"Meski sedikit, kamu harus belajar bahasa Inggris. Kalau kamu mau, nanti aku ajari," ujar Santi.


__ADS_2