SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 41


__ADS_3

Anang masih mengetik kata-kata puitis nan indah, tentang kecantikan Santi yang macam kembang mawar berduri, tapi tanpa menulis durinya, sambil memandangi wajah Santi.


Santi kemudian membuka matanya, dan ikut memandangi mata Anang, tanpa berkedip untuk waktu yang cukup lama.


Deg.


Selama ini Anang tidak pernah memperhatikan warna mata Santi yang gelap seperti lubang hitam di angkasa, yang bisa melahap semua yang ada disekitarnya sampai hancur, dan habis menghilang didalam sana.


Benar-benar hitam pekat ditengah bola mata yang putih, tanpa ada sedikitpun corak atau noda yang merusak tampilannya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Santi.


"Eh. Lagi mencoba menulis lagu," sahut Anang gelagapan.


"Masih liriknya saja, sih," sambung Anang sambil mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya lagi.


"Ooh..." ujar Santi sambil berbalik memunggungi Anang.


Beeuuhh... Untung saja Santi seakan tidak perduli, jadi Anang tidak perlu grogi.


Anang melanjutkan tulisannya.


Mata Santi yang seakan bisa menghipnotis Anang, jadi bahan tambahan yang bagus untuk lirik lagu ciptaannya.


Tiba-tiba, Santi berbalik lagi menghadap Anang.


"Apa kamu mau menuliskan lagu untukku?" tanya Santi.


"Nanti! Ini saja masih coba-coba. Takutnya malah hanya akan kamu tertawakan," sahut Anang yang hanya melihat Santi sebentar lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Coba aku lihat!" ujar Santi sambil mendekat kepada Anang.


Pipi Santi yang halus pasti tertusuk bekas cukuran cambang Anang, tapi tampaknya dia tidak terganggu, dan masih santai saja menatap layar ponsel Anang.


"Hmm... Nadanya bagaimana?" tanya Santi.


"Nadanya, ya nanti. Liriknya aja sudah susah-susah aku nulisnya," ujar Anang.


"Kata-katanya bagus. Meski belum sebagus lagu Mister Grand," ujar Santi enteng, dengan pipinya yang masih saja menempel diwajah Anang.


Apa ada sesuatu?


Tidak.


Karena tak lama, Santi berdiri meninggalkan Anang yang masih berbaring diranjangnya.


Santi terlihat masuk kekamar mandi, dan tinggal didalam sana cukup lama.


Ketika Santi keluar dari kamar mandi, Anang yang kemudian bergantian masuk kedalam sana.


Rasanya ada yang berbeda dengan Santi.


Tapi apa?


Sambil Anang mandi, Anang memikirkan nada lagu yang kira-kira cocok dengan liriknya tadi.


Sesekali Anang bersenandung, mencoba menemukan nada yang pas.


Ternyata, tidak semudah itu.


Sampai Anang selesai mandi, tidak ada satupun nada yang dia rasa menarik.

__ADS_1


Anang keluar dari kamar mandi, hanya berlilitkan handuk, dibagian bawah perutnya.


Santi yang sedang berdandan, hanya meliriknya lalu lanjut memakai riasan diwajahnya.


Ketika Anang berpakaian didepannya, Santi juga hanya melihatnya begitu saja, dan tidak menghiraukan Anang, malah terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Buruan! Aku mau sarapan," ujar Santi, saat Anang masih mengancing kemejanya.


"Mana ponselmu?" tanya Santi setelah mereka selesai menghabiskan sarapannya.


Anang kemudian menyodorkan ponselnya kepada Santi.


"Kenapa?" tanya Anang sambil meminum sisa kopi dicangkirnya.


Santi melihat Anang sebentar, lalu kembali menatap layar ponsel Anang.


"Bukannya kamu minta aku menyusun jadwal bernyanyimu?" ujar Santi.


"Ooh... Iya. Tapi memangnya nggak ada yang mau kamu lakukan sekarang?" tanya Anang hati-hati.


"Nggak ada. Aku atur jadwalmu saja," sahut Santi datar.


Santi kemudian berdiri dari duduknya.


"Aku mau kembali kekamar. Apa kamu masih mau duduk disini?" tanya Santi.


"Aku ikut kekamar!" sahut Anang yang juga langsung berdiri, dan berjalan menyusul Santi yang sudah berjalan duluan.


Santi terlihat sibuk mengetik dilayar ponselnya, sambil sesekali, melihat layar ponsel Anang.


Hampir satu jam berlalu, Santi hanya sibuk dengan dua ponsel itu sambil bertelungkup. Sedangkan Anang memetik gitarnya sambil duduk disofa.


Bosan.


"Santi, tolong lihat! Apa saja lagu untuk dinyanyikan nanti malam?" ujar Anang setengah berteriak.


"Mau lihat sendiri? Aku sudah selesai mencatat jadwalmu," kata Santi sambil berjalan menghampiri Anang disofa.


"Sekalian pinjam earphone mu," ujar Anang.


Santi kemudian berbalik dan mengeluarkan earphone dari tasnya, lalu membawakannya kepada Anang.


Santi lalu ikut duduk disebelah Anang, sambil mengangkat kedua kakinya keatas meja.


Anang sempat berpikir kalau Santi akan mengganggunya berlatih, tapi ternyata tidak. Santi hanya duduk santai sambil menatap layar ponselnya, sampai Anang hilang konsentrasinya.


Itu yang aneh dari Santi hari ini.


Kenapa Santi tidak mengganggu Anang?


Apa Santi sudah sembuh atau Santi sudah bosan dengan Anang?


Kenapa Santi jadi pendiam begini?


Anang mau diganggu, Sekarang!


Tapi Santi tidak bergeming.


Sesekali Anang melirik Santi, tapi wanita itu benar-benar tidak menghiraukan Anang sama sekali.


Lama-kelamaan Anang tidak tahan lagi dicuekkin Santi seperti itu. Anang berpikir untuk duluan mengganggu Santi.

__ADS_1


Baru saja Anang hendak melepas gitarnya kelantai, Santi malah berdiri, dan berjalan masuk kekamar mandi.


Sial!


Anang merindukan sikap nakal Santi, biar nanti dia bisa kembali berkonsentrasi.


Hampir tidak ada satu pun lagu yang masuk didalam otak Anang.


Dengan rasa gelisah Anang menunggu Santi untuk keluar dari kamar mandi.


Cukup lama Anang menunggu, barulah Santi terlihat keluar dari kamar mandi, lalu kembali berjalan menghampiri Anang disofa.


Santi kemudian duduk lagi disamping Anang, dan kembali mengangkat kedua kakinya keatas meja.


Anang ikut-ikutan mengangkat kedua kakinya keatas meja, dengan harapan Santi akan mengganggunya.


Nihil!


Gagal total!


Sampai beberapa waktu berlalu, Santi tetap tidak mengganggu Anang.


Anang mencoba peruntungannya dengan duduk menyamping, tapi Santi malah berdiri lagi, berjalan ke ranjang, lalu bertelungkup disitu.


Ah, sudahlah!


Anang harus berlatih untuk nanti malam.


Anang lalu berjalan kekamar mandi, lalu mencuci wajahnya diwastafel agar pikirannya segar.


Ketika Anang berjalan keluar dari kamar mandi, lalu melihat kearah Santi, wanita itu tampak seperti sudah tertidur, dengan tetap bertelungkup diatas kasur.


Anang menghela nafas panjangnya yang terasa sangat berat.


Anang kemudian lanjut berlatih lagu-lagunya.


Sampai Anang selesai berlatih, barulah Santi terlihat terbangun dari tidurnya.


"Kamu masih latihan? Aku lapar," ujar Santi sambil berjalan kearah pintu kamar lalu membukanya.


"Sudah selesai!" sahut Anang.


Anang meletakkan gitarnya kelantai, lalu ikut menyusul Santi.


Santi sama sekali tidak mengganggu Anang, tidak juga mencari santapan diluar, sampai kapal berlabuh dipelabuhan, dan mereka harus turun dan kembali ketempat tinggalnya.


"Kamu kenapa?" tanya Anang saat mereka sudah duduk didalam mobil taksi online yang dipesan Santi.


"Kenapa?" Santi malah balik bertanya dengan nada suara heran.


"Nggak apa-apa," sahut Anang.


Anang tidak mungkin bertanya kenapa Santi tidak memperdulikannya, memangnya Anang siapanya Santi?!


Suka-suka Santi lah, dia mau atau nggaknya merusak otak Anang, yang sekarang memang sudah rusak.


"Kita pergi nanti, kamu singgah ditempatku?" tanya Santi ketika mereka sudah tiba dipemukiman.


"Iya." sahut Anang ketus.


Tapi, santi tampaknya tidak terpengaruh dengan suara Anang, yang pasti jelas sekali, kalau Anang sedang kesal.

__ADS_1


Sikap Santi hari ini, memang jadi misteri bagi Anang.


__ADS_2