SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 166


__ADS_3

"Kamu mau potong model apa?" tanya Sugeng.


"Terserah saja...! Yang penting rambutku jadi pendek!" sahut Anang asal.


Sugeng kemudian memasangkan kain pelapis dibahu Anang, dan menyemprotkan air ke rambut Anang.


"Kamu nggak tahu kalau aku pindah kesini?" tanya Anang.


Sugeng yang masih membasahkan rambut Anang, lalu berhenti menyemprotkan air, dan menatap Anang, dari pantulan cermin didepan mereka.


"Tahu!" sahut Sugeng, lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Lalu, kenapa kamu nggak pernah datang kerumah Tejo, untuk menemuiku?" tanya Anang.


Sugeng menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anang...! Anang...! Aku juga punya kesibukan. Bagaimana, kalau aku balik pertanyaanmu?! 'Kenapa selama kamu disini, kamu nggak pernah mengunjungi ku?' Bukannya nggak jauh, kalau kamu mau bertemu denganku?" ujar Sugeng.


"Kamu nggak mungkin sibuk dikebun sampai malam 'kan? Tapi, kamu nggak mau datang menemuiku duluan..." sambung Sugeng.


Anang terdiam, sambil melihat Sugeng yang menyisir rambutnya, lalu bersiap untuk memangkas rambut Anang.


"Kalau kamu memang mau bertemu, sekali-sekali kamu yang mengunjungi duluan... Jangan menunggu orang yang harus mendatangimu!" celetuk Sugeng.


Memang benar perkataan Sugeng.


Tidak seharusnya Anang berharap, harus orang lain yang menemuinya lebih dulu.


Mendengar perkataan Sugeng itu, membuat Anang merasa kalau dirinya terlalu egois.


"Aku dengar dari Bowo, Santi pergi keluar negeri..." celetuk Sugeng, yang mulai menggunting rambut Anang.


Ah, sial!


Anang datang ketempat Sugeng, untuk menghindar dari bayangan Santi.


Eeeh...! Malah diajak bicara tentang itu!


"Kamu sudah pernah menghubunginya? Atau kamu menunggu, seperti kamu memperlakukanku? Harus aku yang menemuimu lebih dulu?" tanya Sugeng.


Anang menatap Sugeng lekat-lekat, melalui pantulan cermin, meski Sugeng masih sibuk melihat rambut Anang, yang sedang dia rapikan.


"Aku nggak mau mengingatnya lagi!" sahut Anang ketus.


Sugeng tidak langsung menanggapi perkataan Anang, melainkan tetap sibuk menggunting-gunting rambut Anang.


"Yaa sudah, kalau begitu...! Tapi, kalau kamu merindukannya, nggak ada salahnya kalau kamu yang menghubunginya duluan..." kata Sugeng pelan.


"Ah, sudah! Nggak usah bahas itu lagi! Dia sudah pergi jauh! Selama ini, dia nggak pernah menghubungiku. Berarti, dia sudah lupa denganku. Untuk apa aku mengingatnya lagi?" sahut Anang.


Gerakan tangan Sugeng terhenti, lalu menatap Anang lekat-lekat.


Kali ini, Sugeng memutar kursi Anang agar mereka berhadap-hadapan.

__ADS_1


"Benar dugaanku! Kamu memang terlalu egois! Kamu mana tahu kesibukannya? Semestinya, kamu menghubunginya lebih dulu, saat kamu nggak ada kesibukan!


Belum tentu dia melupakanmu! Tapi, kalau kamu nggak pernah menghubunginya, bisa jadi, kalau dia akan lupa denganmu selamanya!" kata Sugeng dengan wajah serius.


Anang mendengus kesal.


Sugeng lalu memutar kembali kursi Anang, agar Anang menghadap cermin, dan Sugeng bisa lanjut menggunting rambut Anang.


"Dasar laki-laki bodoh!" celetuk Sugeng pelan, dan lebih terdengar seperti orang yang sedang menggerutu.


Sampai Sugeng selesai merapikan rambut Anang, tidak ada satupun dari mereka yang bicara lagi.


"Berapa ongkosnya?" tanya Anang memecah keheningan, setelah Sugeng mengambil kain pelapis dari bahunya, dan menyapu potongan rambut dilantai.


"Nggak usah bayar...! Anggap saja kalau aku membantu memotong pikiranmu, dari prasangka buruk!" sahut Sugeng.


"Geng!" ujar Anang dengan suara meninggi.


"Eh! Sudah gratis, masih mau marah denganku?" ujar Sugeng.


Anang menatap Sugeng lekat-lekat.


Sugeng malah menepuk-nepuk bahu Anang.


"Dengar-dengar dari Bowo, ada incaran Tejo, yang sekarang sedang bertamu dirumahnya... Katanya, salah satunya itu mantanmu... Beneran?" ujar Sugeng, yang kelihatannya sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mungkin karena melihat Anang yang tidak menanggapi perkataannya, Sugeng lalu membawa Anang duduk dikursi tunggu, didalam tempat pangkas rambutnya itu.


"Duduk dulu! Aku memang kesal denganmu... Tapi, potongan rambutmu yang aku buat, tetap bagus!" celetuk Sugeng lalu tersenyum dan hampir tertawa.


"Tapi, aku serius mau tahu! Apa kamu cemburu karena Tejo menjadikan mantanmu 'target'?" tanya Sugeng.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Nggak...!" sahut Anang.


"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba datang kesini?" tanya Sugeng.


"Aku mau potong rambut, lah!" sahut Anang.


"Tiba-tiba? 'Kan bisa besok?" tanya Sugeng lagi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cerita saja...! Waktu kita masih sekolah, kamu biasanya bercerita denganku soal 'target'mu. Kenapa sekarang nggak bisa?" kata Sugeng pelan.


"Aku bukan cemburu... Tapi, wanita itu malah mengingatkanku dengan Santi..." kata Anang, setelah menghela nafas panjang.


Sugeng mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Berarti aku benar 'kan? Kamu masih sayang dengan Santi, tapi kamu mau mengubah rasa sayangmu, menjadi rasa marah kepadanya..." ujar Sugeng.


"Hati-hati...! Semakin benci, malahan nanti jadi makin cinta!" sambung Sugeng, lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ah, kamu ini!" sahut Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Serius! Saranku, kalau kamu memang masih sayang, sebaiknya kamu hubungi dia lebih dulu!" kata Sugeng.


"Kecuali, kamu memang benar-benar mau melupakannya. Yaa... Terserah kamu saja!" sambung Sugeng.


Sugeng lalu melihat jam di dinding.


"Kamu mau langsung kembali kerumah Tejo? Aku bisa ikut denganmu!" celetuk Sugeng.


"Pangkas rambutmu gimana?" tanya Anang beralasan, agar tidak perlu buru-buru kembali kerumah Tejo.


"Jangan mencari-cari alasan! Kalau kamu memang mau melupakan Santi, kamu harus menghadapinya, bukannya menghindar!" sahut Sugeng serius, seolah-olah dia bisa membaca pikiran Anang.


"Jarang ada yang datang, kalau sudah jam segini..." sambung Sugeng, lalu berdiri dan mengajak Anang berjalan keluar.


Anang lalu berjalan kembali kerumah Tejo, bersama-sama dengan Sugeng.


Diteras depan rumah Tejo, teman laki-laki Anang itu, masih duduk disitu bersama Gita, dan Ayunda.


Sedangkan Bowo, sudah tidak terlihat disitu lagi.


Anang lalu duduk disalah satu kursi.


Begitu juga dengan Sugeng, yang duduk didekat Anang.


"Mana Bowo?" tanya Anang, sambil melihat Tejo.


"Pergi membeli camilan!" sahut Tejo.


Ketika Anang melihat diatas meja, hanya ada empat gelas teh, Anang lalu berdiri, dan berniat membuat dua gelas lagi untuknya dan Sugeng.


"Aku bikin minum untukku, dan Sugeng dulu sebentar!" celetuk Anang.


Ketika Anang berjalan masuk, dan menyiapkan teh didalam gelas, Sugeng tiba-tiba sudah dibelakang Anang.


"Cantik-cantik! Tapi, Santi masih jauh lebih cantik...!" celetuk Sugeng.


Anang tidak menghiraukan omongan Sugeng, dan hanya sibuk menuangkan air panas dari termos, kedalam gelas.


Baru saja Anang mau membuang bekas teh, Gita juga menyusul kedapur.


"Mau kemana?" tanya Sugeng kepada Gita.


"Aku mau kekamar mandi!" sahut Gita.


Gita hampir melewati Anang, tapi Anang terpikir sesuatu.


"Gita! Bagaimana kamu bisa dekat dengan Tejo?" tanya Anang penasaran.


"Santi yang membuat kami bisa bertemu. Waktu Mas Anang pergi ke persidangan, bersama Tejo dikota," sahut Gita.


"Aku kekamar mandi dulu! Kebelet pipis!" sambung Gita, sambil setengah berlari, menuju kekamar mandi.

__ADS_1


Sugeng menatap Anang, begitu juga Anang yang menatap Sugeng.


Mereka akhirnya bertatap-tatapan disitu, tanpa bicara apa-apa.


__ADS_2