
Meski ukurannya agak kebesaran sedikit.
Kemeja polos lengan panjang berwarna putih, dengan celana panjang biru malam, lengkap dengan jas berwarna senada dengan celananya.
Membuat Anang makin terlihat tampan.
Dengan dibantu Santi yang memakai gaun panjang sampai semata kaki yang juga berwarna biru malam, Anang bisa memakai dasi sebagai pelengkap penampilannya.
"Katamu tadi besok sore baru kapal ini kembali kepelabuhan?" tanya Anang saat Santi masih merapikan dasi dilehernya.
"Iya,, Kenapa?" Santi balik bertanya, dasi Anang sudah selesai terpasang.
"Aku besok ada tawaran bernyanyi yang sudah aku setujui," ujar Anang cemas.
"Jam berapa?" tanya Santi.
"Siang jam sepuluh. Juga sore jam enam," ujar Anang.
Ini yang Anang tidak mau, kegiatan yang tidak sesuai rencana.
Entah bagaimana caranya memberitahu orang yang mengundangnya, kalau seperti ini keadaannya.
Santi tampaknya mengerti kalau Anang sedang gelisah.
"Sini ponselmu! Disitu undangannya 'kan?" ujar Santi.
Anang kemudian menyodorkan ponselnya kepada Santi, yang langsung mengambilnya tanpa menunggu lama-lama.
Santi berjalan menjauh, dan terlihat menekan-nekan layar ponselnya sendiri, sambil sesekali melihat ponsel Anang.
Kemudian Santi terdengar, berbicara ditelepon dengan seseorang.
Tidak terlalu lama, kemudian kembali menekan-nekan layar ponselnya, lalu terlihat bicara lagi dengan orang diseberang teleponnya.
"Sudah. Aku sudah beritahu kalau kamu tidak bisa datang besok siang," ujar Santi enteng.
"Terus yang satunya lagi, kamu bisa datang jam setengah delapan malam," sambung Santi.
Ternyata Santi membantu mengurus jadwal Anang yang kacau.
Mungkin juga karena Santi perempuan, jadi orang yang berbicara dengannya bisa lebih bisa memaklumi pembatalan, atau perubahan jam Anang bisa datang.
"Coba kamu nyanyikan lagu Mister Grand. Biar aku dengarkan dulu, baru kita pergi ke aula," kata Santi sambil duduk disofa, sambil memangku kakinya.
Anang bernyanyi didepan Santi, sebagai pendengar pertama dan uji coba.
Sesekali Anang melihat wajah Santi.
Anang ingin tahu reaksi Santi saat Anang bernyanyi.
Lagu hampir usai, tapi Santi tampak sedih seperti akan menangis.
__ADS_1
Seburuk itukah?
Anang hilang konsentrasinya lalu berhenti bernyanyi, sebelum lagu usai dia nyanyikan.
"Kenapa kamu berhenti? Cuma sampai situ lagunya?" tanya Santi.
"Aku hilang konsentrasi. Apa jelek?" tanya Anang.
Santi menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu seperti mau menangis?" tanya Anang penasaran.
"Kalau kamu bernyanyi nanti, sebaiknya kamu pejamkan matamu. Biar tidak terganggu perhatianmu," kata Santi sambil berdiri dari duduknya.
"Ayo kita pergi sekarang! Tinggal beberapa menit lagi, acaranya dimulai," kata Santi sambil menggandeng lengan Anang, yang menenteng gitar disebelah tangannya.
Anang tidak puas dengan perkataan Santi, yang tidak menjawab pertanyaannya. Tapi, dia hanya menurut saja, saat Santi membawanya berjalan bersamanya.
Bagus atau buruk?
Anang hanya bisa pasrah, kalau-kalau Mister Grand mungkin akan menyuruh anak buahnya untuk melempar Anang keluar dari kapal, dan jatuh kelaut.
Setibanya mereka di aula, ruangan itu sudah penuh dengan tamu, lebih dari separuh ruangan yang ada, dan hanya menyisakan sedikit ruang kosong diantara panggung, dan kursi tamu.
Mister Grand kemudian terlihat berdiri, dan berbicara diatas panggung, sementara tamu yang lain masih duduk dikursi masing-masing.
Anang tidak paham dengan perkataan Mister Grand, hanya bisa melihatnya dan menunggu aba-aba agar Anang naik kepanggung.
Tak lama, seorang wanita yang tampak seumuran dengan Mister Grand tampak berdiri dan menghampiri Mister Grand dipanggung.
Anang merasa kalau itulah istri Mister Grand karena melihat perlakuan manis, dan mesranya kepada wanita itu didepan para tamu.
"Mas! Kamu disuruh bernyanyi sekarang!" kata Santi sambil berbisik.
"Ingat! Pejamkan saja matamu sampai lagu itu usai," kata Santi lagi saat Anang sudah berdiri dari kursi, dan hendak berjalan kepanggung.
Ya sudah... Turuti saja omongan Santi, kalau dilempar kelaut, mungkin Santi juga ikut dilempar. Sama-sama tenggelamnya nanti.
Anang berjalan pelan, lalu naik keatas panggung.
Setelah duduk dikursi dan wajahnya menghadap mikrofon, Anang menghela nafas panjang.
Dan sesuai perkataan Santi, Anang bernyanyi sepenuh hati, sambil memejamkan matanya. Suara petikan gitar dan suaranya saja yang terdengar disitu.
Tapi, Anang tetap berkonsentrasi agar tidak melakukan sedikitpun kesalahan. Nada dan lirik lagu yang jadi perhatian Anang.
Setelah lagu itu usai dinyanyikan, barulah Anang membuka matanya.
Anang kebingungan melihat reaksi diwajah orang-orang disitu.
Tidak sedikit tamu wanita yang tampaknya sedang menangis, lalu mengelap wajah mereka dengan tissue.
__ADS_1
Apalagi istri Mister Grand, yang tampak sangat sedih, dengan airmata yang menetes diwajahnya.
Nyata!
Kali ini memang benar-benar tamat riwayat Anang. Tidak ada tempat bagi Anang untuk lari dari kapal ini.
Sekarang dia harus bersiap-siap dibuang ke laut.
Permintaan terakhir Anang, hanya agar Santi ikut dibuang ke laut, karena dia tidak memberitahu Anang jawaban yang sebenarnya.
Anang sempat terdiam melihat mereka sebentar, sebelum akhirnya tepuk tangan meriah memenuhi ruangan itu.
Anang termangu.
Sebenarnya buruk atau bagus?
Apa Anang batal dibuang ke laut?
Anang melihat Santi melambai-lambaikan tangannya, seolah-olah menyuruh Anang turun dari panggung.
Anang kemudian berjalan turun dari panggung.
Santi lalu menghampiri Anang, dan mengajak Anang untuk bertemu dengan Mister Grand yang merangkul pinggang istrinya, dan seakan sedang menunggu Anang, sambil tersenyum lebar.
Tersenyum lebar!
Anang selamat kalau begitu.
Santi lalu berbicara dengan Mister Grand dan istrinya, sedangkan diatas panggung sudah ada grup musik yang bernyanyi sambil memainkan satu set alat musik, menggantikan Anang.
"Istri Mister Grand sangat menyukai lagu itu. Dan kemungkinan mereka akan merekammu di studio rekaman milik teman Mister Grand, untuk jadi lagu kenangan ulang tahun pernikahan mereka," kata Santi.
"Mereka bertanya kalau apa kamu ada waktu, lima hari dari sekarang untuk ikut dengan mereka ke studio rekaman. Aku harus bilang apa?" ujar Santi.
"Tidak tahu. Aku juga nggak ingat janjiku bernyanyi, kalau sampai lima hari kedepan," kata Anang.
Anang memang hanya menerima saja tawaran bernyanyi, tapi dia belum mencatatnya. Hanya memeriksa janjinya, satu hari sebelumnya saja.
Ada juga yang belum diterima Anang, karena pusing melihat pesan yang masuk, dengan tawaran bersilang-saling waktunya, alamatnya juga yang harus Anang ingat, belum lagi pesanan lagunya.
Apalagi kalau Santi sudah meraba-raba, Anang pasti langsung amnesia. Jangankan janji, caranya bernafas saja, mungkin Anang lupa.
Memang harus ada yang membantunya menyusun jadwal dengan alamatnya, jadi Anang bisa fokus berlatih lagu pesanannya saja.
"Aku bilang, nanti kamu cek rencanamu dulu," ujar Santi.
"Mereka meminta nomor kontakmu, agar bisa saling menghubungi," kata Santi.
"Berikan kontakmu saja!" ujar Anang.
Anang pikir percuma saja memberi nomor kontak Anang. Kalau nanti mereka menghubungi Anang, sedangkan Anang tidak mengerti apa yang mereka katakan, apa gunanya?
__ADS_1
Ketika Anang mengatakan itu, Santi hanya menatap Anang sebentar, tanpa ekspresi atau bicara apa-apa.
Anang melihat Santi masih terlihat sibuk bicara dengan Mister Grand dan istrinya disitu, sedangkan Anang hanya seperti mendengar suara radio rusak, yang berdesis ditelinganya.