SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 136


__ADS_3

Pernah merasakan kelelahan berlebihan?


Atau selesai olahraga berat tanpa ada pemanasan yang baik, sampai-sampai banyak otot yang meradang?


Badan terasa pegal-pegal dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Seharusnya Anang mengambil kesempatan untuk beristirahat, saat dia sekarang sedang di apartemen, tapi bagaimana mau istirahat kalau begitu rasa badannya?


Duduk tidak enak, saat berbaring badan Anang terasa sakit, berdiri juga rasanya lebih lelah lagi.


Sepertinya tidak ada yang bisa Anang lakukan, yang bisa membuatnya merasa nyaman.


Seolah-olah, Anang kehilangan gairah hidupnya.


Bukan hanya Anang, Santi juga kelihatannya begitu.


Karena setibanya di apartemen, Santi tidak banyak bicara atau berbuat apa-apa, bahkan seolah-olah menghindari Anang, dan hanya berlama-lama didalam kamar mandi.


"Nanti kamu harus ke studio. Cadangan vitaminmu harus ditambah...!" kata Santi, setelah dia baru saja selesai mandi.


Anang hanya memandangi Santi, tanpa menyahut perkataan Santi kepadanya, dan hanya berjalan kekamar mandi, melewati Santi begitu saja.


Dengan air panas dari pancuran, Anang membasahkan tubuhnya lama-lama.


Jatuhan air seakan-akan sedang memijat bahu dan punggung Anang, dan membuatnya sedikit merasa rileks.


Mungkin ini sebabnya, sampai-sampai Santi hampir satu jam lamanya didalam kamar mandi.


Mandi berlama-lama seperti itu, rasanya bisa juga membantu Anang agar bisa sedikit lebih fokus.


Setelah Anang selesai mandi, Santi sudah selesai berpakaian, dan sedang duduk menikmati kopinya di sofa, sambil menatap layar ponselnya.


Santi hanya melihat Anang sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya, ketika Anang keluar dari kamar mandi, dan berjalan didepannya.


"Kamu nggak capek?" tanya Anang, sambil memilih pakaian yang akan dia pakai.


Santi tidak menjawab pertanyaan Anang, dan masih saja menaruh perhatiannya dilayar ponselnya.


Itu memang pertanyaan bodoh.


Sudah pasti, Santi sama lelahnya dengan Anang.


Masih memakai jubah mandi, Anang berjalan menghampiri Santi, lalu ikut duduk disampingnya.


"Kenapa nggak pakai baju dulu?" tanya Santi.


"Nanti saja!" ujar Anang asal, lalu menyesap sedikit kopinya, yang sudah diletakkan Santi dimeja.


Anang menarik Santi agar terduduk dipangkuannya berhadap-hadapan, lalu mengambil ponsel Santi, dan digeletakkan keatas meja.


Santi tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Heh? Kamu yang kenapa?" Santi balik bertanya.


"Nggak mau?" tanya Anang lagi.

__ADS_1


Santi menggigit bibirnya sendiri.


"Kita masih harus ke studio..." ujar Santi.


"Ah, nanti saja!" sahut Anang, lalu memegang wajah Santi dengan kedua tangannya, dan mencium bibirnya.


Anang bukan asal bicara.


Sebenarnya Anang sudah mulai merasa tidak perduli, dengan pekerjaan bodohnya dengan Miss Jordan.


Kalau sampai penampilannya nanti buruk, Anang sudah tidak mau ambil pusing.


Kalau Miss Jordan tidak mau melepas Anang, biarkan itu jadi urusan wanita itu nanti, kalau dia sampai rugi.


Anang mau menghabiskan waktunya hari itu dengan Santi.


Tapi Santi kelihatannya tidak bisa tenang, meski semestinya sedang bersenang-senang dengan Anang, tapi seolah-olah ada yang dia pikirkan, yang membuat Santi tampak kurang menikmati.


Dan itu mengganggu konsentrasi Anang.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Anang kesal.


"Besok kita nggak akan sempat mengambil vitaminmu lagi," ujar Santi dengan wajah cemas.


"Memangnya kenapa?" tanya Anang ketus.


"Kalau kamu sakit, bagaimana?" ujar Santi sambil mengelus pipi Anang.


"Ah! Kalau aku nggak bisa kerja, ya sudah!" sahut Anang ketus.


"Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana denganku?" sambung Santi lagi.


Anang terdiam sebentar.


"Nanti kita pasti kesana... Nggak usah pikirkan itu dulu, ya?!" ujar Anang lalu mengecup leher Santi.


Santi menganggukkan kepalanya.~


Ketika Anang dan Santi pergi ke studio Miss Jordan, meski Anang kesal saat melihat tempat itu, tapi setelah bisa mengeluarkan penatnya tadi, kepala Anang sudah terasa lebih ringan.


Masih seperti waktu itu, mereka berdua pergi keruangan yang ada dokter jaganya.


Kesehatan Anang diperiksa sebentar, lalu diberikan vitamin dan suplemen tambahan, begitu juga makanan yang diambil dikantin studio


"Mau langsung pulang, atau mau jalan-jalan dulu?" kata Santi setelah bungkusan makanannya, sudah diantar ke tempat mereka duduk menunggu.


"Pulang!" sahut Anang buru-buru, sambil menatap Santi lekat-lekat.


Santi tertawa kecil, sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Jangan menertawakan, apalagi menghakimi Anang!


Kalau bekerja besok, lalu kepala Anang masih sakit, bagaimana?


Apalagi membayangkan perjalanan melelahkan yang kata Santi, tujuan per tujuannya semakin berjauhan jaraknya, dengan jumlah event yang tidak berkurang, yang harus didatangi Anang


Terang saja demi mengejar waktu, kendaraan yang mengantar Anang pasti akan gila-gilaan kecepatannya, dan pasti membuat Anang semakin tidak bisa tidur selama diperjalanan.

__ADS_1


Anang bisa stres kalau lama-lama seperti itu.


Tidak ada yang mau dipikirkan Anang.


Pokoknya sekarang, Anang hanya mau menghabiskan waktunya sebisanya bersama Santi. Titik!


Setibanya di apartemen, Santi memanaskan ulang makanannya didalam microwave, meski Anang tidak berhenti mengganggunya.


"Maas...! Bentar dulu!" ujar Santi hampir tertawa.


Santi mungkin merasa geli dengan bibir Anang, yang tidak berhenti mengganggu lehernya, sambil Anang memeluknya dari belakang.


Tapi, Anang tidak mau menghiraukan ocehan Santi, dan tetap saja mengganggu Santi disitu.


"Buruan...!" bisik Anang.


"Iya...! Ini juga sudah buru-buru!" sahut Santi lalu tertawa.


"Aku belum mau makan... Belum lapar! Nanti saja itu ya?" bisik Anang lagi.


"Nggak bisa! Kamu harus makan, lalu minum vitaminmu!" sahut Santi tegas.


"Kalau kamu sakit, aku kewalahan mengurus semuanya nanti!" sambung Santi.


Ya sudah, mau tidak mau Anang harus menuruti kata Santi.


Anang tidak mau Santi lebih repot nanti, meskipun Anang sudah tidak sabar untuk bermain-main dengan Santi.


Hanya beberapa menit menunggu makanannya jadi, tapi rasanya sudah berjam-jam Anang menunggu kesempatannya untuk melepaskan tembakan peringatan.


Ketika makanan mereka sudah ditata dimeja, Anang sama sekali tidak selera makan, dan lebih banyak melihat makanannya saja, tanpa berniat memasukkannya kedalam mulutnya.


"Mas! Makanannya memang tidak cocok dengan kebiasaan kita, tapi tetap kamu harus makan!


Tadi 'kan aku sudah mengajakmu jalan-jalan, biar bisa sambil membeli bahan makanan, yang paling tidak, bisa dimasak sesuai yang mau kamu makan...


Tapi kamu memaksa kita harus langsung kembali kesini," ujar Santi.


Anang tidak bergeming.


Santi tampaknya sudah kehilangan kesabarannya, saat melihat Anang yang belum memakan makanannya biar sedikit.


"Makan! Aku suap!" ujar Santi, lalu mencoba menyuapkan Anang makanannya.


Anang masih mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak 'mau' kalau begitu..." sambung Santi sambil membesarkan matanya.


Anang menyerah.


Sebenarnya bukan masalah rasa makanannya...


Memang ada pengaruhnya sedikit, karena rasa makanannya jauh lebih buruk dari bubur ayam yang dijual dikost-kostan liar.


Tapi, rasa tidak nyaman karena tinggal di negara itu, yang lebih berpengaruh diselera makan Anang.


'Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.'

__ADS_1


__ADS_2