
Penyanyi dari Filipina yang sejak tadi bersama Anang dan Santi, turun di pelabuhan Staten island.
Sedangkan Anang dan Santi tetap dikapal feri, untuk kembali ke pelabuhan asal, tempat mereka naik tadi.
Sejak orang Filipina itu berpisah dengan mereka, Santi terlihat sibuk menghubungi seseorang diponselnya, untuk beberapa waktu lamanya.
"Sudah beres!" celetuk Santi sambil memasukkan ponselnya kembali kedalam tas.
"Dalam beberapa hari ini kita bisa kembali ke Indonesia. Miss Jordan tidak perlu kita beritahu. Kita langsung pergi saja," ujar Santi, lalu memeluk Anang.
"Lalu bagaimana dengan kontraknya?" tanya Anang.
Santi mengangkat wajahnya, lalu melihat Anang dengan alisnya yang mengerut.
"Kamu masih mau bekerja disini?" tanya Santi yang kelihatan heran.
"Bukan begitu. Aku hanya mau tahu saja, bagaimana kontraknya kalau kita pergi begitu saja," sahut Anang.
"Ooh... Nggak ada masalah. Aku tadi sudah bicara dengan Papa. Rekaman pembicaraanku dengan orang Filipina tadi, juga sudah aku kirimkan pada Papa...
Miss Jordan nggak akan bisa menuntutmu sesukanya lagi. Papa dan teman-temannya nanti yang akan mengurusnya," kata Santi.
"Kita tinggal tunggu pengajuan tinjauan ulang dari Papa dan teman-temannya masuk, lalu kita bisa pulang," sambung Santi.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi mau berfoto?" tanya Anang, saat feri mendekati patung liberty.
"Jadi!" sahut Santi bersemangat.
Anang memotret Santi, lalu bergantian lagi dengan Santi yang memotret Anang dengan kamera ponsel.
Santi bahkan meminta tolong, salah satu penumpang kapal, untuk memotret Anang dengan Santi disitu.
"Satu kali lagi..." kata Santi.
Santi kembali meminta penumpang kapal tadi, untuk memotret mereka berdua lagi.
"Cium aku...!" ujar Santi, sambil mengangkat wajahnya.
Anang tersenyum lalu memeluk dan mencium Santi, sambil dipotret penumpang yang diminta bantuannya oleh Santi.
Ketika Santi sudah mengambil ponselnya dari penumpang itu, sambil senyum-senyum sendiri Santi melihat hasil foto-fotonya.
"Kenapa? Jelek?" tanya Anang.
"Nggak kok! Bagus!" sahut Santi lalu memeluk Anang erat-erat, sebelum Santi kembali melihat keluar kapal, dengan bersandar dipagarnya.
"Coba aku lihat!" kata Anang.
Santi kemudian memberikan ponselnya kepada Anang.
__ADS_1
Anang tidak terlalu bagus kalau difoto, tapi Santi tetap terlihat cantik seperti aslinya.
Anang menggeser-geser layar ponsel, dan melihat-lihat hasil foto yang tersimpan disitu.
Ada foto-foto waktu mereka dijembatan malam itu, tapi kelihatannya masih banyak foto-foto yang lain.
Dengan rasa penasaran, Anang melihat sampai kebagian bawah album foto diponsel Santi.
Ternyata, Santi sering mengambil gambar Anang sembunyi-sembunyi.
Mulai dari saat Anang tampil diatas panggung, sampai-sampai saat Anang sedang tertidur.
Bahkan ada foto Santi yang mengecup bibir Anang, yang tertidur pulas disitu.
Anang menatap Santi lekat-lekat, sambil tetap memegang ponsel Santi.
"Ada apa?" tanya Santi.
Anang hanya terdiam.
"Ada apa sih? Sudah selesai melihat fotonya?" tanya Santi lagi.
Tapi Anang tetap terdiam, dan tidak mengalihkan pandangannya dari mata Santi.
Tak lama, raut wajah Santi berubah drastis, seakan-akan baru menyadari sesuatu.
Kulit wajah Santi yang putih, kini pipinya berwarna kemerahan.
"Sini ponselku...!" ujar Santi pelan, tanpa mau melihat mata Anang, yang masih menatapnya.
Santi agak menunduk, lalu mencoba mengambil paksa ponselnya dari tangan Anang.
Anang mengangkat tangannya yang memegang ponsel Santi tinggi-tinggi, agar Santi tidak bisa menggapainya.
"Maas...!" kata Santi dengan raut wajah, dan suara memelas.
Anang mengembalikan ponsel Santi, lalu memeluknya erat-erat.
"Untuk apa kamu memotretnya? Memangnya aku bakalan kemana, sampai kamu harus menyimpan gambarnya?! Aku akan tetap bersamamu, sayang..." kata Anang pelan.
"Kalau kamu mau aku menciummu, nggak perlu hanya melihat foto saja. Aku mau menciummu kapan pun kamu mau," sambung Anang, lalu mengangkat wajah Santi, dan mencium bibirnya dengan lembut.
Anang tidak malu-malu lagi untuk berciuman dengan Santi didepan umum.
Hampir semua arah mata Anang memandang, orang-orang disitu tidak saling perduli dengan orang lain, yang bermesraan disekitarnya.
Bahkan ada yang lebih ekstrim, tapi semua orang yang melihatnya tampak cuek-cuek saja.
Santi tersenyum lebar, meski pipinya masih kemerahan, setelah Anang berhenti menciumnya.
Mereka berdua lalu berdiri bersebelahan, bersandar dipagar sambil melihat pemandangan diluar kapal, disisa perjalanan mereka, sebelum nanti kembali ke pelabuhan.
__ADS_1
"Foto-fotoku nggak bagus, tapi kamu mau saja menyimpannya!" celetuk Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apanya yang nggak bagus? Kamu laki-laki ganteng kesayanganku... Selain Tejo!" ujar Santi sambil melirik Anang dengan ujung matanya, lalu senyum-senyum sendiri.
"Kamu mengejekku?" tanya Anang sambil menaikkan alisnya, lalu menggigit bibirnya sendiri.
Santi tertawa cekikikan.
Anang yang gemas dengan Santi, lalu memeluknya erat-erat, sampai Santi hampir sesak nafasnya, dan berhenti tertawa.
Setibanya di pelabuhan, Anang dan Santi tidak langsung kembali ke apartemen, melainkan berniat untuk berjalan-jalan ditaman kota, dengan berjalan kaki.
Ketika mereka didalam taksi yang berjalan lambat, trotoar di tengah kota begitu juga didalam gang-gang kecil yang bisa dicapai penglihatannya, Anang melihat kalau makin banyak orang-orang yang tampak kotor, dan berantakan.
"Mereka semua itu tuna wisma?" tanya Anang, sambil menunjuk dengan wajahnya keluar jendela taksi.
Santi ikut melihat keluar sebentar, lalu kembali melihat Anang.
"Iya. Di negara ini tuna wismanya, saingan banyaknya, dengan dikota-kota besar dinegara kita," sahut Santi.
"Nggak usah diperhatikan!" sambung Santi.
Setibanya mereka ditaman kota, Anang dan Santi berjalan-jalan santai, sambil melihat-lihat kesana kemari.
"Tuna wisma begitu, nggak diangkut satpol PP?" tanya Anang.
Santi tersenyum.
"Kamu masih mengingat orang-orang itu?" tanya Santi.
"Iya," sahut Anang.
"Setahuku, di negara ini, nggak ada yang memperdulikan mereka. Nggak seperti ditempat kita, yang biasanya orang-orang jalanan, sampai ODGJ ditangkap, lalu direhabilitasi," kata Santi.
"Negara besar, tapi rasanya masih lebih baik negara kita. Masyarakatnya masih diperhatikan. Mungkin orang-orang jalanan seperti kita dulu, kesulitan saat berhadapan dengan satpol PP...
Tapi rasanya tujuan pemerintahnya baik, meski belum bisa memberikan solusi yang tepat, untuk masyarakatnya," sambung Santi panjang lebar.
Mereka berdua masih berjalan-jalan ditaman, sampai beberapa waktu kemudian.
"Belum mau kembali ke apartemen?" tanya Santi ketika mereka sudah ditengah-tengah taman, lalu duduk disalah satu bangku yang ada disitu.
"Nanti saja...! Kenapa? Kamu sudah capek?" tanya Anang.
"Nggak...! Tapi, aku mulai lapar!" ujar Santi.
"Kalau begitu kita kembali saja ke apartemen," ujar Anang.
Ketika mereka berjalan keluar dari taman, dan hendak mencari taksi, pandangan Santi terlihat terpaku pada salah satu kendaraan, yang menjual makanan didalamnya.
"Kamu mau itu?" tanya Anang.
__ADS_1
"Nanti dulu! Aku masih harus membaca menunya, apa bisa kita makan itu atau nggaknya," sahut Santi.
Setelah Santi terlihat yakin, Santi lalu mengajak Anang membeli makanan itu, lalu menikmatinya disitu.