
Anang, pak Handoko, juga Tejo, menghabiskan waktu mereka sampai menjelang sore dengan duduk-duduk dipondok Tejo.
Anang sempat membakar beberapa potong singkong, yang diambil Tejo dari salah satu kebun yang ada didekat situ.
Dengan menikmati singkong bakar, dan kopi hitam, mereka bertiga berbincang-bincang santai, tentang sawah, baik kendala maupun keuntungannya.
Pak Handoko yang tampak menikmati waktunya disitu, dengan bersemangat menanggapi semua pembicaraan Tejo dan Anang.
Sambil mereka berbincang-bincang, sesekali pak Handoko menyapa sambil tersenyum, kepada petani-petani lain yang bekerja disawah Tejo, atau yang hanya sekedar lewat didekat mereka.
Pak Handoko tampak makin tertarik, untuk mencari tempat tinggal untuknya diperkampungan Anang itu.
Baik Anang maupun Tejo, di wanti-wanti pak Handoko, agar memberikannya informasi kalau-kalau ada yang mau menjual tanah pekarangan, atau rumah sekalian.
Dengan bersemangat pak Handoko berkata, kalau dia mau memelihara ikan lele, ayam, dan itik untuk menjadi kesibukannya nanti dikampung itu.
Anang dan Tejo hanya bertatap-tatapan sambil tersenyum, saat melihat pak Handoko yang tampak senang saat menceritakan rencananya dikampung itu nanti.
Sampai mereka bertiga berjalan kembali ke rumah Tejo, pak Handoko masih terlihat senang dan bersemangat.
Bahkan, orang tua itu sempat singgah, dan menyapa beberapa penduduk kampung, yang dilihatnya dijalan, ataupun yang sedang berkumpul dipinggir jalan.
Anang dengan Tejo singgah duduk diteras depan rumah Tejo, membiarkan Pak Handoko yang pergi mandi lebih dulu.
"Pak Handoko, semangat sekali...!" celetuk Tejo.
Anang tertawa pelan.
"Iya... Mungkin karena terlalu lama tinggal dikota. Kalau disana 'kan dengan tetangga sebelah rumah saja, belum tentu bisa saling menyapa," ujar Anang.
"Dia sampai berkali-kali memintaku mencari tempat tinggal untuk dibelinya," kata Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Orang kota mau pindah ke kampung, orang kampung banyak yang mau tinggal dikota," sambung Tejo.
"Eh! Kamu menyindirku?" ujar Anang, sambil tertawa.
Tejo juga tertawa disitu.
"Nggak lah! Kamu saja membeli kebun disini, bagaimana bisa tinggal dikota selamanya kalau begitu?!" sahut Tejo.
"Di kota memang cocoknya untuk mengais rezeki saja. Tetap kalau sudah mulai lelah, kampung jadi tempat tinggal ternyaman," celetuk Anang, sambil menyandarkan punggungnya dikursi, sampai hampir terbaring.
"Kalau aku sudah punya rezeki lebih, aku nanti membangun rumah kecil di salah satu sudut kebunku. Jadi, aku nggak khawatir kalau kamu mengusirku..." sambung Anang.
"Apa katamu? Kamu kira aku se-brengsek itu?!" ujar Tejo, yang menendang pelan kaki Anang, sambil tertawa.
Anang hanya ikut tertawa, sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya.
__ADS_1
"Yang jelas, aku memang masih harus menunggu dikampung ini, sampai tanaman akasianya dua tahun, baru aku bisa kembali mencari uang dikota," celetuk Anang.
"Nggak masalah... Kalau kamu belum bisa membangun rumahmu sendiri, tinggal saja disini bersamaku," ujar Tejo.
"Biar ada temanku berkelahi..." sambung Tejo, sambil tertawa.
"Kamu mau berkelahi denganku?" tanya Anang bercanda, sambil ikut tertawa.
"Mau mencobanya?" sahut Tejo yang menggoyang-goyang kedua tinjunya didepan dadanya.
Anang melihat tingkah konyol Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sejak kecil kita tidak pernah berkelahi. Sampai sekarang, sudah sebesar ini lalu kamu mengajakku berkelahi? Sudahlah...!" ujar Anang enteng.
Mereka berdua lalu tertawa bersama-sama.
"Ada apa rame-rame?" tanya Pak Handoko, yang tiba-tiba muncul di pintu.
"Kami hanya bercandaan, Pak!" sahut Tejo.
"Anang, kamu mau mandi duluan?" tanya Tejo.
Pak Handoko lalu berjalan, dan ikut duduk dikursi teras.
"Hmmm... Kamu saja yang mandi duluan," sahut Anang.
Tejo lalu berdiri, dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Sudah lama, Pak! Sejak kami masih sangat kecil," sahut Anang.
Pak Handoko mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Rumah lama Anang yang mana?" tanya pak Handoko.
"Disebelah sana! Nggak jauh dari sini. Tadi, kita melewatinya," ujar Anang sambil menunjuk kesalah satu arah.
"Oh... Berarti sudah ada yang menempati sekarang, ya?! Apa Anang nggak ada keluarga lain disini?" tanya pak Handoko.
"Masih ada Pamanku... Tapi, saya nggak tahu sekarang dia tinggal dimana. Saya nggak pernah bertemu dengannya lagi," sahut Anang.
Pak Handoko lalu mengajak Anang bercerita santai, tentang masa kecil Anang dikampung itu.
Saat Anang bercerita, pak Handoko terlihat sedih, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang Anang rasakan.
Akhirnya, Anang mengalihkan pembicaraan, dengan hal-hal konyol yang dilakukan Anang dengan teman-teman Anang, di masa-masa mereka masih sekolah.
Pak Handoko sesekali tertawa lepas, saat ada cerita Anang yang mungkin dipikirnya lucu, sampai Tejo selesai mandi dan berpakaian, lalu ikut duduk diteras itu.
__ADS_1
"Saya tinggal mandi dulu ya, Pak?!" ujar Anang, lalu berdiri dan berjalan masuk, meninggalkan pak Handoko bersama Tejo.
Anang langsung pergi mandi, dan setelah selesai mandi lalu berpakaian, Anang membuatkan mereka teh panas untuk mereka bertiga, kemudian membawanya ke teras depan.
Ketika Anang sampai diteras, Pak Handoko terlihat sedang sibuk berbicara diponselnya, begitu juga Tejo, yang juga berbicara diponselnya, sambil berdiri dihalaman depan rumahnya.
Anang yang tidak mau mengganggu pak Handoko, lalu duduk dikursi yang letaknya agak jauh dari pak Handoko.
Anang lalu memeriksa ponselnya sendiri.
Sejak pagi tadi, Anang tidak memeriksa benda itu, dan mungkin saja ada Santi menghubunginya.
Benar saja, ada beberapa pesan dari Santi yang masuk diponselnya siang tadi.
Anang melihat kontak Santi yang sekarang sedang aktif daring, lalu mencoba menghubunginya.
Tapi, kontak Santi sedang berada dipanggilan lain.
Anang kemudian melihat pak Handoko dan Tejo bergantian.
Kedua orang itu masih sedang sibuk berbicara diponselnya, dan Anang tidak bisa menduga-duga, apa ada salah satu dari mereka yang sekarang sedang berbicara dengan Santi.
Bisa saja 'kan, kalau Santi sedang bicara dengan orang lain, dan bukan dengan pak Handoko ataupun Tejo.
Cukup lama Anang duduk menunggu disitu, baik Tejo maupun pak Handoko, masih saja berbicara diponselnya.
Kembali Anang mencoba menghubungi Santi.
Masih sama, kontak Santi masih berada didalam panggilan lain.
Anang lalu mengetikkan pesan.
'Aku tadi nggak memeriksa ponselku.'
'Kalau kamu nggak sibuk, hubungi aku.'
Kemudian, Anang mengirimkan pesan-pesan itu kekontak Santi.
Daripada duduk bengong disitu tanpa berbuat apa-apa, setelah Anang memasukkan ponselnya kembali kekantong celananya, Anang lalu berdiri dan berjalan masuk kedalam rumah.
Anang mempersiapkan bahan makanan, untuk jadi tambahan makan malam mereka bertiga nanti.
Rasanya, cukup lama Anang sendirian didapur.
Sampai selesai semua bahan makanan dipersiapkan Anang, ponsel Anang belum ada tanda-tanda dihubungi, atau mendapat pesan balasan dari Santi.
Anang tidak terlalu mau memikirkan hal aneh-aneh, Anang lalu sibuk memasak bahan makanan, sampai semuanya matang, dan siap untuk disajikan.
__ADS_1
Ketika Anang selesai menyimpan makanan matang kedalam tudung saji, barulah ponsel Anang berbunyi dan bergetar.
Santi menghubungi Anang lewat panggilan video seperti biasanya.