SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 77


__ADS_3

Kalau bukan karena tempat acara undangan itu yang dipenuhi orang asing, mungkin kegiatan Anang bernyanyi malam itu, tidak akan ada yang terlalu spesial.


Iya. Penuh dengan orang asing, tanpa ada satu pun tamu yang hadir disitu, yang memiliki ras yang sama seperti Anang dan Santi.


Meskipun sebagian besar tamu yang hadir tampaknya sudah berumur juga sudah berkeluarga, tapi masih ada saja beberapa potongan pemuda bule yang tersesat, dan ikut hadir disana.


Sebagian tamu-tamu wanita yang masih terlihat berusia muda, yang senyum-senyum sambil menonton Anang bernyanyi, tidak menarik perhatian Anang sama sekali.


Meski sesekali Anang memuaskan mata-mata yang memandanginya, dengan melihat kearah mereka, tapi pandangan mata Anang tetap lebih banyak tertuju kearah Santi.


Santi dengan kulit, dan wajah lokalnya, benar-benar mencolok diantara semua kulit putih kemerahan disitu.


Bayangkan saja kegelisahan Anang malam itu...


Memang tidak ada yang memegang tangan Santi, atau yang membuat Santi tertawa kegirangan, tapi tawa kecil dan senyuman manis diwajah wanita itu saat berbincang-bincang dengan orang-orang disitu, cukup membuat Anang merasa was-was.


Untung saja ada yang membuat Anang merasa sedikit tenang, dan bisa bernafas ditengah kesesakkan itu.


Sesekali, Santi masih melihat kearahnya, sambil tersenyum.


Begitu juga saat Santi menghampiri Anang untuk mengganti teks lirik dilayar ponsel Anang, Santi masih menyempatkan memegang tangan Anang sebentar.


Lumayan saja untuk membuat Anang tetap bersemangat bernyanyi tanpa merusak penampilannya, karena bayangan buruk tentang pemuda bule dengan Santi.


Meski begitu, Anang merasa yakin, kalau setelah Anang selesai bernyanyi, lalu bergabung dengan Santi dan tamu-tamu yang lain, Anang akan jadi patung figuran, yang bisu dan tuli disitu.


Dan benar saja dugaan Anang.


Rasanya Anang mau saja mengajak Santi langsung pulang, dari pada harus bergabung diantara orang-orang, yang berbicara seperti kicauan kutilang ditelinga Anang.


Bagus, tapi tidak bisa dimengerti Anang apa artinya.


Dan yang lebih buruk, mereka bukan bicara memakai bahasa Inggris, melainkan bahasa yang bisa memutar lidah sampai kusut terpelilit.


Ada sih orang lokal, tapi yang bekerja jadi pelayan di hotel itu.


Dan pegawai-pegawai hotel itu, bisa bicara dengan lidah terputar-putar seperti tamu-tamu asing disitu.


Tapi, pegawai-pegawai hotel itu juga tampaknya tidak tertarik, untuk berbicara dengan Anang.


Sudahlah...


Yang penting, Santi tidak keberatan memamerkan kemesraan dengan Anang, yang merangkul pinggang Santi sekarang.


"Sebentar lagi baru kita pulang. Kelihatannya kamu akan mendapat tawaran bernyanyi di klub jazz" ujar Santi, sambil menggenggam tangan Anang yang merangkul pinggangnya.


"Kalau jadi, kita bisa sekalian jalan-jalan ke Paris," sambung Santi.


Anang tidak menyahut, hanya bisa menunggu sampai Santi selesai berbicara, dengan beberapa orang didepannya.


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Santi tiba-tiba.


"Iya. Aku nggak tahan kalau harus bengong lebih lama lagi..." sahut Anang pelan.

__ADS_1


Santi tertawa, lalu berbalik.


Santi merangkul leher Anang dengan kedua tangannya sambil mendongakkan kepalanya, seolah-olah meminta Anang menciumnya, tanpa perlu dia yang berjinjit, atau menarik Anang untuk mendekat.


Anang tidak akan menolak. Pasti!


Anang kemudian menunduk, dan mencium bibir Santi sebentar, sebelum Santi menjauhkan wajahnya dari Anang.


"Heh! Aku mau kita berdansa seperti tamu yang lain," ujar Santi sambil tertawa, dan menunjuk kesamping dengan lirikan matanya.


Anang lalu melihat kebagian tengah ruangan itu.


Orang-orang yang berdansa, memang terlihat mesra dan cukup menyenangkan, tapi Anang tidak yakin kalau dia bisa seperti mereka.


"Aku nggak tahu caranya berdansa begitu. Dari pada aku menginjak kakimu, mending kita pulang saja sekarang," ujar Anang.


"Ya, sudah... Ayo, kita keluar sekarang!" ujar Santi, yang hampir tertawa.


Sambil Anang merangkul pinggang Santi, mereka berjalan keluar dari gedung hotel mewah itu.


"Besok seharian tidak ada jadwal sama sekali. Apa ada yang mau kamu lakukan? Atau mau jalan-jalan kemana gitu?" tanya Santi, ketika mereka sudah didalam perjalanan pulang ke kostan.


Anang terdiam.


Anang tidak ada rencana khusus.


Tapi Anang teringat pesan ayah Santi, agar mereka mengunjungi rumah ayah Santi, kalau mereka ada waktu.


Anang tidak mau mengungkit dulu tentang pergi kerumah ayah Santi sekarang.


Sudah cukup mengganggu Santi dengan pergi kesana tadi sore.


*****


Ketika Anang menggeser gorden sampai terbuka, diluar jendela, kabut air mengaburkan pandangan, sampai hampir tidak bisa tertembus penglihatan Anang.


Jarang sekali bisa terlihat kabut air seperti itu, meski sekarang memang masih sangat pagi.


Pagi ini, cukup dingin setelah semalam diguyur hujan lebat sejak mereka pulang dari pesta, sampai hampir menjelang subuh.


Santi masih tertidur pulas, meski Anang sudah beranjak turun dari tempat tidur.


Beberapa hari ini Santi memang terlihat lebih lemas dari pada hari-hari biasanya.


Mungkin karena 'Tamu tak diundang'nya, yang membuat tenaganya seakan terkuras.


Anang yang sejak tadi sudah mandi, lalu menghampiri Santi.


"Masih ngantuk?" tanya Anang, ketika melihat Santi membuka matanya, saat Anang duduk disampingnya.


"Hmm... Lumayan," sahut Santi, lalu duduk dan memeluk Anang.


"Kamu pagi-pagi sudah mandi. Mau kemana?" tanya Santi dengan suara lemas.

__ADS_1


"Nggak kemana-mana. Cuma mau mandi saja supaya segar," jawab Anang.


"Aku mau mandi juga... Hhooaamm!" kata Santi sambil menguap, lalu bergerak turun dari ranjang.


Anang memegang Santi yang masih tampak sempoyongan, agar tidak terjatuh.


Sambil menunggu Santi didalam kamar mandi, Anang memeriksa isi ponselnya.


Anang menggeser-geser layar ponselnya, sembari membaca beberapa pesan yang masuk.


Merasa tidak ada yang menarik, Anang lalu duduk didekat jendela, lalu memetik senar gitar, asal-asalan, sambil melihat keluar jendela.


Kabutnya sudah hampir tidak ada lagi.


Dan rasanya tumben sekali, jalanan kompleks didepan bangunan kost, bisa terlihat banyak sekali kendaraan berlalu-lalang.


Seperti sedang ada acara, atau kegiatan apa yang membuat orang-orang sibuk hilir mudik dijalanan.


Anang memperhatikan satu persatu kendaraan yang lewat, sampai hampir melamun disitu.


"Ada yang menarik?" suara Santi mengejutkan Anang, dan membuat Anang hampir menjatuhkan gitarnya.


Santi sudah selesai mandi, dan berjalan menghampiri Anang.


Santi yang hanya berlilitkan handuk, lalu duduk dipangkuan Anang, yang sudah meletakkan gitarnya kedekat dinding.


"Nggak ada. Hanya heran saja, tumben jalanan didepan itu rame begitu," sahut Anang.


Santi ikut melihat keluar.


"Oh... Mungkin karena hari ini tanggal merah. Jadi orang-orang pada jalan-jalan. Mumpung libur 'kan?!" sahut Santi.


"Kita nggak jalan-jalan?" tanya Santi sambil menatap Anang.


"Kamu mau kemana?" Anang balik bertanya.


"Hmm... Kita ke supermarket saja. Bisa jalan-jalan sambil belanja, keperluan sehari-hari. Mau?" ajak Santi.


"Iya, terserah kamu saja," sahut Anang.


Santi tersenyum lalu mengecup bibir Anang, dan hampir saja berdiri, tapi Anang menahannya lalu mencium Santi disitu sampai puas.


"Kalau kamu sudah dandan, nanti kamu nggak mau aku cium lagi" ujar Anang.


Santi tertawa kecil, lalu berjalan kearah lemari.


"Nanti, kamu mau pergi kerumah papamu lagi?" tanya Anang, ketika Santi sedang memakai pakaiannya.


"Untuk apa?" tanya Santi dengan nada heran.


"Kemarin 'kan Papamu pesan, agar aku membawamu kesana lagi kalau ada waktu. Hari ini nggak ada kerjaan, kalau kamu mau, kita bisa kesana. Nggak enak kalau dikiranya, aku tidak mau bertemu dengan Papamu lagi," kata Anang menjelaskan.


"Hmm... Nanti saja, aku pikir-pikir dulu," sahut Santi.

__ADS_1


__ADS_2