
Kira-kira apa yang dipikirkan Gita, sampai dia menangis sesesak itu?
Sedih atau terharu?
Dada Gita terlihat mengembang, dan mengempis perlahan-lahan, tampaknya Gita sedang mengatur nafasnya.
"Kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah?" tanya Anang yang benar-benar penasaran.
"Karena lagu-lagumu. Aku menangis karena lagu-lagumu itu, membuatku merasa sangat sedih," kata Gita, sambil mengusap wajahnya yang basah dengan tangannya.
Bukan tangisan haru.
Kalau Gita yang tadinya bersemangat mengejar cintanya bisa menangis sesedih itu, bayangkan kalau orang yang memang sedang galau yang mendengarkannya...
Kelihatannya, kalau sampai Anang jadi membuat album dengan lagu-lagu itu, koran kota akan dipenuhi berita tentang orang galau bodoh yang putus asa, dan menghabisi nyawanya sendiri.
"Terus bagaimana menurutmu? Jelek?" tanya Anang.
"Lagunya bagus. Hanya menyesakkan dada saja," sahut Gita.
Anang belum sempat berkata apa-apa, Gita sudah bertanya,
"Kenapa kamu bisa membuat lagu sesedih itu?"
Anang terdiam.
Apa Anang harus beritahu kalau lagu itu tercipta, karena sakit hatinya gara-gara cintanya kepada Santi?
Anang mungkin akan ditertawakan Gita.
Atau mungkin akan di amuk Gita saat itu juga.
Atau tidak ada yang terjadi, hanya begitu saja.
Entah apa yang akan Anang katakan kepada Gita. Apa Anang beralasan saja? Bilang saja kalau...
"Kamu jatuh cinta dengan Santi?" pertanyaan Gita, menyentak dan memutus koneksi sel otak Anang, yang masih memikirkan apa yang harus dia katakan kepada Gita.
Anang jadi gelagapan.
Bagaimana Gita bisa memikirkan hal itu?
Apa Gita sekarang sudah bisa membaca pikiran Anang?
"Santi belum tahu?" tanya Gita lagi, sambil menatap Anang lekat-lekat.
Anang rasanya tidak bisa membohongi Gita.
Akhirnya, Anang menganggukkan kepalanya.
Gita terlihat menghela nafas panjang, tapi masih terlihat tenang.
"Kenapa kamu nggak beritahu Santi?" tanya Gita yang terlihat heran dan penasaran.
"Santi hanya mau kami berteman saja," sahut Anang pelan.
Tadi Gita tidak mengamuk, jadi kali ini Anang yakin kalau Gita akan menertawakannya.
Gita terdiam sebentar, sebelum dia tertawa lepas.
Benar dugaan Anang, kalau Gita akan menertawakannya.
Anang menghela nafas panjangnya, berat.
__ADS_1
"Jangan salah sangka. Aku nggak menertawakanmu. Karena sama saja aku menertawakan diriku sendiri,
Rasanya menyedihkan, tapi lucu juga,
Aku mencintaimu... Kamu mencintai Santi... Sedangkan Santi hanya mau berteman denganmu," kata Gita, setelah dia berhenti tertawa.
Gita juga ikut-ikutan menghela nafas panjang.
"Sekarang apa?" tanya Gita.
Pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Keduanya bertatap-tatapan, dengan pikiran kosong.
Entah apa yang dipikirkan Gita sekarang, Anang tidak bisa menduga-duga karena dia sendiri tidak tahu apa yang ada dipikirannya sendiri.
"Apa kamu mau makan atau minum sesuatu?" tanya Gita, memecah kesunyian yang terjadi disitu, untuk beberapa waktu lamanya.
"Nggak ada. Terserah kamu saja. Aku masih mencoba membuat satu lagu baru lagi," sahut Anang.
Gita lalu terlihat sibuk dengan layar ponselnya, mengetik-ngetik sesuatu disitu, dengan kedua jempol tangannya.
Anang lanjut memetik senar gitar, yang masih dipangkunya sejak tadi.
"Aku memesan kopi dan camilan. Nggak apa-apa kalau aku masih disini?" tanya Gita.
"Nggak apa-apa. Asal kamu nggak terganggu dengan suara gitarku," sahut Anang.
Gita hanya tersenyum, tanpa berkomentar banyak.
Sesekali Anang bersenandung pelan, mengikuti nada yang keluar dari gitarnya.
"Jujur, aku menyesal waktu kamu menciumku malam itu, tapi aku tidak langsung mengakui kalau aku juga menyukaimu," celetuk Gita tiba-tiba.
"Waktu itu, kita baru kenal. Rasanya kalau aku mengatakan kalau aku juga mencintaimu, mungkin akan terlihat seperti aku sedang berbohong," kata Gita.
"Aku membanting gitarmu, karena aku cemburu. Santi bilang denganku kalau kamu selalu berhubungan intim dengannya,
Bayangan itu mengacaukan pikiranku. Maafkan aku..." sambung Gita lagi, dengan raut wajah sedih, dan seolah-olah akan menangis.
Anang menyentuh pipi Gita dan mengelusnya pelan, berniat menenangkannya.
Tapi perlakuan Anang seakan jadi pemicu api, yang membuat Gita terbakar.
Gita mendekat, lalu mencium bibir Anang dengan lembut.
Anang melihat mata Gita yang terpejam, seakan menikmati kesempatannya mencium bibir Anang.
Gita memegang gitar yang dipangku Anang, lalu memindahkannya kelantai.
Gita lalu duduk dipangkuan Anang berhadap-hadapan, dan kembali mencium bibir Anang, sambil merangkul leher Anang dengan mata terpejam.
Anang bukannya tidak bisa menikmati ciuman Gita, tapi Anang bukan pengumbar cinta.
Anang adalah laki-laki sejati.
Kalau tanpa perasaan dan hanya untuk bersenang-senang, mungkin Gita sudah mengerang diranjang, dibuat Anang sekarang.
Tapi, Anang tahu kalau Gita bermain dengan hati, dan Anang tidak mau menyakitinya.
Anang tahu dengan benar sakitnya perasaan yang digantung.
Apalagi kalau lagu-lagu Anang nanti jadi dibuatkan albumnya, lalu didengarkan Gita lagi.
__ADS_1
Bayangkan bagaimana perasaan bersalah Anang, kalau Gita sampai jadi bahan berita halaman depan dikoran?
Anang membiarkan Gita menikmati keinginannya tanpa membalas, atau menunjukkan kalau Anang bisa menerima cinta Gita.
Tidak jadi masalah 'kan?
Toh, mulut Anang tidak dibawa Gita pulang, hanya dicium disitu saja.
Tapi, lama kelamaan kayaknya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anang.
Eh, tangan Gita mencoba merusak sel otak Anang.
Anang jadi mau...
Jangan!
Jangan lama-lama!
Heh? Salah!
Anang mendorong Gita sedikit, sampai Gita berhenti menciumnya, dan ikut menghentikan serangan tangan Gita, dibawah perut Anang.
"Jangan...!" ujar Anang pelan.
Anang harus melarang Gita, meski sebagian otaknya bilang, 'Lanjutkaaan!'
Ehhem. Ehheem...
Untung saja Anang bisa cepat tersadar, sebelum otaknya benar-benar berpindah semua, disela kedua paha Anang.
Gita memang berhenti, tapi memasang raut wajah kecewa.
Melihat raut wajah Gita sekarang, membuat Anang ingin mencari 'stok' yang dibeli Santi.
Santi.
Anang jadi ingat dengan wanita itu lagi.
Ah, Santi... Wanita itu memang perusak suasana hati Anang.
Anang menghela nafas panjang.
"Jangan buru-buru! Jadi tidak ada yang akan kecewa," kata Anang, sambil memegang kedua sisi wajah Gita dengan kedua tangannya.
Anang mendekatkan wajah Gita, lalu mengecup keningnya pelan.
"Aku masih bisa mencium mu?" tanya Gita dengan wajah memelas.
Ijinkan? Tidak?
Yaa sudah... Nggak apa-apa.
Anang menganggukkan kepalanya.
Gita tersenyum, kemudian mencium bibir Anang lagi, sambil merangkul leher Anang, dengan kedua tangannya.
Anang yang memang tidak memejamkan matanya saat dicium Gita, melihat Santi yang sudah berdiri didekat pintu yang terbuka.
Raut wajah Santi tanpa ekspresi.
Dingin dan datar, melihat Anang yang berciuman dengan Gita.
Santi lalu terlihat berbalik, dan berjalan keluar melewati pintu, yang akhirnya dia tutup kembali.
__ADS_1
Anang yang masih kesal dengan Santi, juga tidak mau menghentikan ciuman Gita dibibirnya, dan tidak berniat mengejar Santi.