
Anang masih duduk-duduk dirumah makan, bersama dengan pak Robi, ketika ponsel Anang berbunyi dan bergetar.
Pak Handoko sudah menjemput Anang, dan sekarang sedang menunggu Anang, distudio pak Robi.
Alih-alih menyusul pak Handoko dengan kembali ke studio, pak Robi justru menyuruh Anang agar memberitahu pak Handoko, untuk mendatangi rumah makan tempat mereka berada sekarang.
"Lebih baik Pak Handoko menyusul kesini... Dia mungkin juga belum makan siang," kata pak Robi.
Anang kemudian berbicara dengan pak Handoko, dan pak Handoko menyetujui, untuk pergi ke rumah makan itu.
Sambil menunggu pak Handoko datang, pak Robi menambah pesanan minuman, untuk Anang dan dirinya sendiri.
Tidak berapa lama, pak Handoko sudah tiba disitu.
Pak Robi yang melihat pak Handoko lebih dulu, lalu berdiri dan memanggil pak Handoko.
"Sebelah sini, Pak!" ujar pak Robi.
"Anang sudah selesai pemotretannya?" tanya pak Handoko, sambil ikut duduk didekat Anang.
"Sudah, Pak! Bapak sudah makan siang?" tanya Anang.
"Saya kurang berselera..." sahut pak Handoko pelan.
Saat itu juga pak Robi tersenyum sambil menatap Anang, seolah-olah ingin membanggakan diri, kalau dugaannya tentang pak Handoko, benar adanya.
Ketika Anang melihat pak Robi, Anang hanya tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pak! Bapak makan saja dulu! Kami barusan sudah selesai makan siang! Saya akan menunggu bapak selesai makan, baru kita pergi dari sini," kata Anang.
Pak Handoko menatap Anang dan pak Robi bergantian, tapi pak Robi tampak mengangkat kedua bahunya.
Meski terlihat enggan, pak Handoko akhirnya memesan makanan untuknya.
Pak Robi tertawa kecil disitu, dan jadi perhatian Anang dan pak Handoko.
"Ada apa...?" tanya pak Handoko pelan, kepada pak Robi, dan terlihat bingung.
"Nggak ada apa-apa," sahut pak Robi enteng.
"Sebaiknya, memang turuti saja perkataan calon mantu..." celetuk pak Robi pelan, setengah berbisik, dan hampir tertawa lagi.
Mata Anang terbelalak, setelah mendengar celotehan pak Robi.
Anang lalu melihat pak Handoko, yang tampak memasang raut wajah datar.
Tapi, akhirnya kedua laki-laki paruh baya itu malah tertawa bersama-sama.
"Anang nggak usah tegang begitu... Pak Robi memang suka bercanda dengan saya..." celetuk pak Handoko.
Anang menghela nafas panjang.
__ADS_1
Ada-ada saja tingkah orang-orang tua ini...
"Saya menawarkan Anang untuk kontrak satu album. Tapi, kelihatannya ada yang masih membuatnya ragu-ragu..." celetuk pak Robi.
"Kenapa?" tanya pak Handoko, sambil melihat Anang.
"Hmmm... Perkiraan waktunya, yang bisa memakan waktu kurang lebih satu bulan..." sahut Anang.
"Anang memikirkan kebun? Atau memikirkan tempat tinggal disini?" tanya pak Handoko.
"Kalau cuma tempat tinggal disini, Anang tinggal dirumah saya saja," sambung pak Handoko, sebelum Anang sempat menjawab pertanyaannya.
Anang terdiam.
"Saya juga membutuhkan bantuan Anang, untuk beberapa waktu ini..." sambung pak Handoko lagi, dengan raut wajah seperti sedang cemas, akan sesuatu hal.
Anang menyadari kalau ada yang mengganjal dipikiran pak Handoko, dan kemungkinan bukan cuma sekedar menemani pak Handoko begitu saja.
Jadi, Anang tidak bertanya, tentang bantuan apa yang dibutuhkan pak Handoko, didepan pak Robi.
"Baik, Pak! Bisa saja saya tinggal dirumah bapak, kalau saya jadi menerima kontrak pak Robi," kata Anang.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya pak Robi.
Dugaan Anang, pak Robi juga menangkap sesuatu yang salah dengan pak Handoko.
"Nggak ada apa-apa... Saya hanya mau meminta Anang membantu saya untuk beberapa hal biasa," sahut pak Handoko, lalu tersenyum seolah-olah memang tidak ada apa-apa.
"Kira-kira kapan baiknya saya mulai merekam lagu-lagu saya?" tanya Anang.
Pertanyaan Anang, tampaknya cukup untuk mengalihkan perhatian pak Robi, yang menatap pak Handoko dengan raut wajah heran dan penasaran.
"Hmmm... Terserah Anang saja...
Tapi, kalau memang jadi, Anang hubungi saya sehari sebelumnya...
Saya harus memeriksa jadwal penggunaan studio, jadi tidak ada penyanyi yang harus saling menunggu lama-lama," sahut pak Robi.
Anang melihat pak Robi, masih melirik pak Handoko, yang sekarang sudah mulai memakan makan siangnya.
"Kalau begitu, nanti saya hubungi pak Robi secepatnya," ujar Anang.
"Saya agak ragu, karena padi dikebun saya sudah mulai bertunas. Tapi, rasanya kebun saya masih bisa ditinggal, kalau cuma sebulan..." sambung Anang.
Pak Robi tampak tertarik, ketika Anang mengatakan tentang padi yang ditanam Anang, dan perhatian pak Robi benar-benar teralihkan dari pak Handoko.
Pak Robi lalu asyik berbincang-bincang dengan Anang, tentang kebun milik Anang.
Anang juga menjelaskan semua hal dikebunnya, yang bisa dia ceritakan kepada pak Robi, sambil menunggu pak Handoko selesai makan siang.
Setelah pak Handoko selesai makan, dan sempat beristirahat sebentar, Anang dan pak Handoko lalu berpamitan dengan pak Robi, kemudian berpisah jalan kembali ke kegiatan masing-masing.
__ADS_1
"Terimakasih...!" ujar pak Handoko pelan, ketika Anang sudah didalam mobil bersamanya, dan kendaraan itu sudah mulai melaju dijalan raya.
"Untuk apa, Pak?" tanya Anang.
"Anang sengaja mengalihkan perhatian Pak Robi, 'kan? Padahal Anang belum tentu mau untuk tinggal disini selama itu..." sahut pak Handoko.
"Ooh... Nggak masalah, Pak! Kebun saya memang bisa ditinggal kok, kalau cuma sebulan," ujar Anang santai.
"Anang mau tinggal dirumah saya?" tanya pak Handoko.
Anang terdiam sebentar.
Sudahlah... Rasanya, tidak ada salahnya...
Anggap saja Anang menemani pak Handoko sementara, sekalian Anang juga bekerja.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Raut wajah pak Handoko terlihat cerah, lalu tersenyum lebar.
"Saya tadi tidak asal bicara. Saya butuh bantuan Anang untuk memberikan kesaksian, tentang kejadian kemarin," ujar pak Handoko.
"Kapan, Pak?" tanya Anang.
"Maafkan saya...! Anang mungkin masih lelah. Tapi, keterangan saksi diminta hari ini, dikantor polisi," sahut pak Handoko.
"Ooh... Bisa saja, pak!" sahut Anang.
"Kalau begitu, kita langsung kesana sekarang ya?" ajak pak Handoko.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Pak Handoko lalu membawa Anang mendatangi kantor polisi.
Setibanya di sana, pak Handoko lalu berbicara dengan beberapa petugas kepolisian.
Anang kemudian dibawa ke salah satu ruangan, dimana Anang ditanyakan berbagai hal, tentang kejadian Peter dan Wina kemarin.
Sedangkan pak Handoko, hanya bisa menunggu Anang diluar.
Pemeriksaan keterangan saksi berlangsung kurang lebih dua sampai tiga jam, dan Anang menceritakan semua yang dia tahu sebisanya.
Setelah selesai diperiksa, Anang kembali di antar keluar, menemui pak Handoko yang masih menunggu Anang.
Sejak Anang tiba dikantor polisi, dan selama Anang didalam ruang pemeriksaan, sampai dia sekarang keluar lagi, rasanya Anang tidak melihat Peter ataupun Wina disana.
"Bagaimana dengan Peter dan Wina, Pak?" tanya Anang.
"Mereka berdua ditahan disini dengan ruang terpisah. Keduanya meminta penangguhan penahanan, tapi, tidak ada yang datang untuk menjamin mereka," sahut pak Handoko.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kali ini, saya akan membuat keduanya membayar semua perbuatannya," kata pak Handoko tegas.