SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 190


__ADS_3

"Kamu berpakaian saja dulu...!" ujar Santi pelan, lalu berjalan melewati Anang, yang masih berdiri terdiam.


Ketika Anang berbalik, Santi berjalan dengan Tejo menuju ke bagian depan rumah.


Anang buru-buru memasuki kamarnya, lalu berpakaian secepat yang dia bisa.


Anang tidak mau Santi berlama-lama berduaan dengan Tejo, meski kemungkinan mereka sudah berduaan sejak siang tadi, waktu Anang masih dikebun.


Ah, yang jelas, sekarang Anang mau, dia yang bisa menghabiskan waktu bersama Santi.


Ketika Anang menyusul Santi dan Tejo didepan, kedua orang itu terlihat sedang duduk bersebelahan dikursi teras.


Jauh sekali perbedaannya, dibandingkan dengan pertama kali Anang membawa Santi kesitu waktu itu.


Kali ini, Santi terlihat santai dan akrab saat berbincang-bincang dengan Tejo.


Sampai-sampai, saat Anang ikut duduk diteras itu, Santi hanya tersenyum biasa saja, meski Santi dan Tejo akhirnya berhenti mengobrol begitu saja.


"Kapan kamu datang?" tanya Anang.


"Tadi malam aku sampai dikota. Pagi-pagi langsung kesini, makanya tadi ngantuknya minta ampun," sahut Santi.


"Kamu menyetir sendiri kesini?" tanya Anang.


"Iya. Tadinya, aku mau mengajak Papa, tapi, papa lagi kurang sehat," sahut Santi.


"Sakit apa?" tanya Anang lagi.


"Hmmm... Katanya kecapekan saja," sahut Santi.


"Berarti kamu sudah disini sejak siang tadi?" tanya Anang lagi.


"Iya... Malah masih agak pagi aku sudah tiba disini. Tapi, aku masih mengantuk, jadinya batal untuk pergi ke kebun," sahut Santi.


Anang lalu melihat Tejo, yang tampak kurang senang.


Mungkin karena Anang yang mengajak Santi bercerita terus-terusan, atau memang tidak senang saja karena adanya Anang disitu.


"Kenapa, Jo?" tanya Anang enteng.


"Nggak apa-apa... Memangnya ada apa?" Tejo balik bertanya.


"Aku pikir, kamu bilang tadi pagi kalau kamu kurang enak badan," ujar Anang, yang menahan kekesalannya, dan berusaha berbicara seperti biasa saja.


"Kamu lagi nggak enak badan? Maaf, kalau aku merepotkanmu!" ujar Santi, yang terlihat cemas, sambil menatap Tejo.


"Aku hanya kecapekan. Gara-gara beberapa hari ini, tidak ada istirahatnya panen padi," kata Tejo.


Bagi Anang, alasan itu tidak masuk di akal Anang, dan Tejo hanya beralasan dengan asal-asalan.


Jelas saja, Tejo tahu kalau Santi akan datang, lalu berpura-pura didepan Anang, seolah-olah Santi datang tanpa sepengetahuannya.


Tidak masalah bagi Anang, kalau memang Tejo mau mencoba bersaing mendapatkan hati Santi, asalkan Tejo bermain sportif, dan bukannya mencari-cari kesempatan dibelakang Anang.


"Aku mau pergi membeli sesuatu. Apa ada yang kalian mau aku belikan?" tanya Tejo, sambil berdiri dan melihat Anang, dan Santi bergantian.


Baik Anang maupun Santi, hanya menggelengkan kepalanya.


Tejo lalu berjalan pergi dari rumahnya.


"Apa kamu nggak mau menjelaskan kenapa kamu tiba-tiba datang kesini?" tanya Anang kepada Santi, setelah Tejo sudah berjalan jauh dari teras itu.


"Aku datang untuk menjemputmu!" sahut Santi enteng.

__ADS_1


"Jangan bercanda...!" ujar Anang pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tanpa menanggapi lebih jauh perkataan Anang, Santi lalu berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan masuk kedalam rumah.


Anang kemudian menyusul Santi, dan memegang tangannya, meskipun Santi tetap berjalan, dan Anang mengikuti langkahnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Anang.


"Aku mau membuat teh," sahut Santi, yang masih terus berjalan sampai kedapur dengan Anang.


Anang lalu duduk dikursi, sambil melihat Santi yang menata gelas-gelas, dan mengisinya dengan kantong teh.


"Apa ada sesuatu antara Tejo denganmu?" tanya Anang hati-hati.


"Nggak ada..." sahut Santi, sambil menuangkan air panas dari termos, kedalam gelas-gelas diatas meja.


Setelah Santi meletakkan termos kembali ketempatnya, Anang kemudian menarik Santi, dan membuatnya terduduk diatas pangkuannya, lalu memeluk Santi erat-erat.


"Kalau memang ada sesuatu, kamu beritahu saja," ujar Anang pelan.


"Apa kamu cemburu dengannya?" tanya Santi.


"Iya!" sahut Anang cepat.


"Bagus!" ujar Santi.


"Heh? Apanya yang bagus?" tanya Anang bingung.


Santi hanya tertawa pelan, lalu beranjak turun dari pangkuan Anang.


Sambil mengangkat kantong teh dari gelas-gelas diatas meja, Santi melirik Anang yang memandanginya.


"Santi...!" ujar Anang.


"Kamu nggak menjelaskan apa-apa denganku," sahut Anang.


Santi hanya tetap sibuk mengaduk gelas-gelas teh didepannya.


"Sini sebentar!" ujar Anang, lalu kembali menarik tangan Santi pelan, agar kembali mendekat kepadanya.


"Kalau kamu memang tertarik dengannya, setidaknya kamu beritahu aku...


Aku nggak akan mengganggumu lagi, kalau kamu memilihnya..." ujar Anang perlahan-lahan, sambil menatap Santi yang duduk dikursi didepannya.


"Hmm... Itu mau mu?" tanya Santi.


"Nggak! Aku mau kamu bersamaku!" sahut Anang.


"Hmm... Tejo memang sempat melamarku," ujar Santi.


Anang menghela nafas panjang.


"Lalu, apa kamu mau menerimanya?" tanya Anang.


Santi hanya terdiam sambil tersenyum.


Kelihatannya, memang sudah waktunya untuk Anang menyerah.


Anang hanya akan memeluk Santi untuk perpisahan.


"Semoga kamu bahagia selamanya dengan Tejo, punya anak yang banyak, lalu kalian bisa jadi orang sukses bersama-sama," ujar Anang, sambil memeluk Santi erat-erat.


"Terimakasih, itu ucapan selamat yang bagus...!" celetuk Santi.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana kalau nama Tejo diganti dengan nama Anang? Karena tadinya aku berencana untuk melamar Anang, agar menikah denganku," sambung Santi.


Anang melepaskan pelukannya dari Santi, lalu memegang kedua bahu Santi, sambil menatapnya lekat-lekat.


"Heh? Kamu bercanda?" tanya Anang.


"Kamu melamarku?" tanya Anang lagi.


"Apa ada orang lain lagi yang bernama Anang disekitar sini?" Santi balik bertanya.


"Santi...! Jangan bercanda...!" ujar Anang pelan.


"Anang...! Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Santi.


"Iya!" sahut Anang.


"Hmmm... Tapi, kamu serius 'kan?" tanya Anang, masih tidak bisa percaya dengan perkataan Santi.


"Aku serius...!" sahut Santi pelan, lalu berdiri dan berjalan pergi dari dapur.


Apa yang terjadi barusan?


Anang yang kebingungan, berjalan menyusul Santi yang sudah pergi dari situ, beberapa saat yang lalu.


Hampir saja Anang pergi ke teras, dan nyaris melewatkan Santi, yang ternyata sedang duduk didalam kamar, dengan ponsel menempel ditelinganya.


Ketika Anang berniat untuk mendekat, Santi memberi tanda dengan tangannya, agar Anang menunggu disitu.


Santi terlihat berbicara diponselnya, dengan wajah serius.


Anang masih menunggu didepan pintu kamar, ketika Santi menurunkan ponsel dari telinganya, dan ketika Anang akan mendekat, kembali Santi menahannya.


"Tunggu saja, dulu!" ujar Santi.


Santi terlihat seperti sedang menghubungi orang lagi diponselnya, yang kembali dia angkat dan ditempelkan ditelinganya.


Mau tidak mau Anang tetap menunggu didepan pintu, karena Santi masih belum mengijinkan Anang mendekatinya.


Anang gelisah dan tidak sabaran mau mendengarkan penjelasan Santi, tapi, Santi masih sibuk bicara diponselnya, untuk beberapa waktu lamanya.


Akhirnya, Santi menurunkan ponsel dari telinganya, dan melihat Anang.


"Besok kita kembali kekota!" ujar Santi.


"Mereka disana akan mempersiapkan semuanya. Kata Lia, lusa nanti kita sudah bisa menikah!" sambung Santi.


"Kamu nggak lagi bercanda 'kan?" tanya Anang.


"Memangnya kamu lagi bercanda menerima lamaranku?" Santi malah balik bertanya.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Aku serius!" sahut Anang.


"Oke! Sudah beres kalau begitu!" ujar Santi, lalu tersenyum lebar.


Santi lalu berdiri, dan berjalan menghampiri Anang yang masih linglung dengan kejutan yang tidak terduga itu.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau memelukku?" tanya Santi.


Anang memeluk Santi tanpa bicara apa-apa lagi, sambil memikirkan perkataan Santi, tentang mereka yang akan menikah lusa nanti.


Serius?

__ADS_1


Rasanya, sulit untuk dipercaya.


__ADS_2