
Sepanjang minggu yang berjalan, Anang hampir tidak bisa mendapat kesempatan untuk beristirahat dengan maksimal.
Meskipun ada waktu-waktu tertentu bagi Anang dan Santi singgah di penginapan, untuk istirahat sejenak sambil membersihkan diri, tapi dengan waktu yang terbatas, dan tidak pernah bisa beristirahat berlama-lama disitu.
Mengikuti jadwal yang sudah diatur label, dalam sehari, Anang harus menghadiri empat sampai lima event, ditempat yang berbeda-beda.
Dengan jarak antar tempat diselenggarakan event yang cukup berjauhan, dan menurut kata Santi hampir mengelilingi negeri, bahkan ada yang waktu tempuhnya menghabiskan waktu tujuh sampai delapan jam.
Memang tempat duduk didalam van bisa dipakai untuk tidur, tapi hampir sama keadaannya seperti waktu Anang di pesawat, jok yang empuk tidak bisa memuaskan rasa tubuh Anang untuk tidur, dan beristirahat dengan tenang.
Sepanjang perjalanan Anang jadi kurang tidur, karena terkadang Anang hanya bisa tidur kurang lebih satu jam.
Mungkin karena merasa bosan, atau karena guncangan didalam kendaraan yang membuat Anang tidak bisa tertidur pulas.
Saat turun dari kendaraan yang mengantar ke semua tujuan Anang, rasanya seperti Anang tidak bisa berjalan lurus.
Terombang-ambing diperjalanan yang cukup lama, membuat Anang merasa pusing, dan kakinya yang seakan-akan tidak menyentuh tanah lagi saat berjalan, rasanya hanya sedang mengambang saking ringannya.
Apalagi waktu untuk makan, tidak ada kata bisa makan ditempat makan dengan santai.
Anang dan Santi hanya bisa makan sambil tetap didalam van, yang tetap melaju dijalanan.
Belum lagi disetiap event, Anang tidak langsung tampil, melainkan harus menunggu giliran, dan sebagian besar waktu menunggu, harus dihabiskan sambil berdiri.
Duduk salah, berdiri juga rasanya salah.
Anang kelelahan, dan Anang yakin Santi lebih lelah, karena Santi yang lebih sibuk mengurus keperluan Anang.
Sampai-sampai saat mereka di tempat event diselenggarakan, Santi harus mengatur dan mengawasi segala sesuatunya untuk Anang, bersama orang yang bekerja di event.
Terkadang saat Anang bisa duduk meski sebentar, Santi masih harus bolak-balik mengatur dan menyiapkan ini-itu.
Beberapa hari belakangan ini, Santi seakan-akan kehilangan selera makannya.
Makanan Santi tidak pernah dihabiskannya lagi, dan saat Anang melihatnya didalam perjalanan, tampaknya Santi hampir tidak pernah tidur.
Tapi Santi tetap memantau Anang, mulai dari memaksa Anang makan, meminum vitaminnya, sampai memaksa Anang untuk tidur.
"Santi! Sini!" ujar Anang mengajak Santi untuk duduk dipangkuannya.
Santi yang sejak tadi duduk dikursi yang ada disisi lain van, dan sibuk menatap layar benda yang katanya bernama 'tablet', lalu menoleh kearah Anang.
"Kenapa? Kamu tidur saja dulu!" sahut Santi, lalu kembali menatap layar tablet itu lagi.
"Santi!" ujar Anang memaksa.
"Kenapa?" sahut Santi enteng, tanpa melihat Anang.
__ADS_1
"Sini! Aku mau memelukmu sebentar..." ujar Anang memelas.
Santi melihat Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi Santi tampaknya mau saja menuruti permintaan Anang.
Santi melepaskan tablet ditangannya, lalu berdiri dari tempatnya duduk, dan naik keatas pangkuan Anang.
"Kamu mestinya istirahat... Mana bisa tidur, kalau sibuk memelukku saja," celetuk Santi.
"Bisa! Siapa bilang aku nggak bisa tidur?! Malah aku bisa tidur nyenyak, kalau sambil memelukmu," ujar Anang enteng, lalu tersenyum lebar.
Santi menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, mengecup pipi Anang, lalu menyandarkan kepalanya dileher Anang.
Anang memang bukan sedang mengada-ada, saat memeluk Santi seperti itu, Santi bisa tertidur, begitu juga Anang.
Entah kenapa, hanya saja, Anang rasanya lebih tenang, kalau Santi ada dipelukannya seperti itu, dan Santi juga tampaknya merasa lebih nyaman.
Masih ada satu event lagi yang harus mereka datangi, sebelum akhirnya bisa kembali ke apartemen, dan bisa berisitirahat satu hari semalam penuh.
Kata Santi ditempat terakhir untuk minggu itu, tidak ada salju, bahkan matahari bersinar terang disana.
Tapi jarak tempuhnya lumayan jauh dari tempat mereka berada sekarang, jadi cukup panjang waktu untuk Anang tidur malam itu.~
Anang tidak tahu apa yang dibicarakan Santi dengan supir yang menyetir van, yang jelas, Santi tersenyum lebar saat kembali dari bagian depan van, dan menghampiri Anang.
"Heh? Memangnya bisa?" Anang balik bertanya.
"Bisa! Eventnya nanti malam. Aku sudah memberitahu supir supaya kita bisa bersantai sebentar dipantai," ujar Santi bersemangat.
"Ooh... Oke!" sahut Anang.
Ya, lumayan saja...
Dari pada harus berdiam terus didalam van.
Apalagi kalau sudah kembali ke apartemen, suhu disana yang masih dingin, jelas membuat Anang tidak bisa kemana-mana.
Bukan tidak bisa sama sekali, tapi Anang tidak mau sakit lagi seperti waktu itu, jadi pasti lebih memilih untuk berdiam diri didalam kamar.
Kendaraan yang mereka pakai, sudah terasa berhenti berjalan, Anang dan Santi lalu berjalan keluar dari van.
Selama beberapa waktu dinegara itu, baru kali ini Anang bisa berjalan diluar tanpa harus memakai jaket yang tebal dan panjang.
Rasanya menyenangkan, seperti sudah kembali ke negaranya sendiri.
Pantai berpasir putih disepanjang Anang bisa memandang, Anang bernafas lega.
__ADS_1
Suhu disitu cukup panas, hampir mirip-mirip dengan negara asal Anang, bahkan mungkin lebih panas.
Anang dan Santi berjalan-jalan dipasir pantai, sambil menikmati pemandangan dan angin yang berhembus kencang, sampai membuat rambut Santi berantakan.
Santi terlihat senang saat mereka disitu.
Sesekali Santi membasahkan kakinya yang sudah tidak memakai sepatu, di ombak yang terhempas ke pantai.
Meski Santi tidak banyak bicara, tapi saat melihat Anang, Santi pasti tersenyum manis.
Didekat situ banyak orang yang sedang berjemur, ada yang hanya sekedar bersantai dibawah payung besar, ada juga yang sedang berjalan-jalan dipasir pantai, dan ada juga yang berenang di air laut.
Laki-laki, perempuan berbusana minim, tampak asyik menikmati waktu mereka dipantai itu.
Berbusana minim...
Anang hampir tertawa, mengingat kebodohannya waktu dikapal Mister Grand, yang berharap kalau tontonan dipinggir kolam renang akan sangat menarik.
Ehhem... Ehheeem...
Jangan sampai teringat dengan tali bikini yang berteriak meminta tolong!
Heh?
Kok malah teringat?
Anang tidak boleh melihat wanita-wanita yang hanya memakai bikini yang minim kain.
Tapi, kelihatannya jalan-jalan Anang dengan Santi, malah mendekat dimana bikini-bikini itu terlentang dan berjalan-jalan.
"Kita disebelah sini saja!" ujar Anang sambil menahan tangan Santi, agar berhenti berjalan.
"Kenapa?" tanya Santi dengan alis mengerut.
"Disini saja lega... Nggak banyak orangnya...!" sahut Anang beralasan.
"Memangnya kenapa? Aku mau berjalan kesana!" ujar Santi ngotot, dan memasang wajah garang.
"Disini saja...!" sahut Anang pelan, berusaha membujuk Santi agar mau menuruti permintaan Anang, tanpa Santi perlu marah dengannya.
"Aku mau kesana!" ujar Santi sambil membesarkan matanya.
Apa boleh buat?
Anang mau tidak mau, hanya bisa menurut saja.
Mudah-mudahan saja malam ini Anang tidak mengigau lagi.
__ADS_1