
Sambil menikmati minuman coklat panas, dan sepotong kue pai susu, Anang masih sering melihat keluar.
Memandangi sambil memperhatikan kelakuan orang-orang yang berjalan-jalan diluar.
Untuk beberapa waktu mereka disitu, sudah berapa pasang orang yang melakukan adegan yang sama, seperti laki-laki dan perempuan tadi.
Bahkan ada yang lebih ekstrim, sambil menggendong pasangannya, asyik bermesraan diluar.
Benar-benar terlihat bebas, dan tanpa ada beban meski bermesraan didepan umum.
Begitu juga didalam kafe, ada juga pasangan yang melakukan adegan yang sama.
Semua pemandangan disekitar Anang, memang bisa merusak otak orang yang tidak biasa melihatnya.
Anang jadi teringat dengan wanita jeruk bali, waktu di kapal pesiar Mister Grand.
Mungkin karena kebebasan seperti yang dilihat Anang itu, makanya wanita itu tidak segan mengajak seseorang yang menarik perhatiannya untuk melakukan s*x.
Ah, sudahlah...
Wanita jeruk bali itu tidak se-menyenangkan yang Anang duga.
Malah hanya seperti mimpi buruk, yang membuat kepala Anang terasa sakit.
Atau mungkin Anang gagal waktu itu, cuma gara-gara Anang tidak mengerti omongannya?
Heh?
Sadar! Anang, sadar!
Kalau sampai Santi tahu apa yang dipikirkan Anang sekarang, bisa-bisa Anang ditinggalkan Santi saat itu juga.
Tapi...
Sebenarnya wanita jeruk bali itu cukup menarik...
Ah, mulai lagi...
Anang mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat, berusaha menghilangkan bayangan tentang wanita kulit putih kemerahan, dengan jeruk balinya sedang terlentang dibawah Anang.
Eh, kenapa malah makin teringat dengan jelas semuanya itu?
Apalagi waktu wanita itu berguncang diatas Anang, sampai jeruk balinya ikut berguncang.
Anaaang!
Anang buru-buru meminum coklat panasnya, sampai hampir tersedak.
"Kenapa?" tanya Santi.
"Nggak apa-apa," sahut Anang gelagapan, lalu menundukkan wajahnya, seolah-olah mau buru-buru menghabiskan kue didepannya.
Jangan sampai Santi bisa membaca pikiran Anang!
Anang harus memikirkan hal yang lain.
__ADS_1
Tapi apa?
Anang melihat kesana-kemari, tapi semua kulit putih kemerahan itu, ada dimana-mana mata Anang memandang.
"Kita pulang saja! Aku mulai mengantuk," ajak Anang.
Dari pada Anang jadi gila kalau berlama-lama disitu, memang lebih baik Anang kembali ke apartemen, nanti bisa belajar lirik lagu Anang yang sekarang berbahasa Inggris.
'Kan besok Anang sudah mulai rekaman?
Santi meski terlihat bingung dengan gerak-gerik Anang, tapi setuju saja saat diajak Anang kembali ke apartemen.
Setelah membayar makanan dan minuman mereka, Santi lalu berjalan keluar dengan Anang, dan langsung mencari taksi untuk membawa mereka berdua kembali ke apartemen mereka.
Setibanya di apartemen, Anang buru-buru membasuh wajahnya di wastafel, dikamar mandi yang untungnya ada pilihan untuk air hangat-hangat kuku.
Setelah merasa cukup segar, Anang duduk disofa, lalu memasang earphone ketelinganya, sambil membaca lirik dikertas.
Anang harus mengalihkan pikiran kotornya, dengan fokus bernyanyi.
Cukup, Anang! Cukup!
Anang bisa melihat dengan ujung matanya, kalau Santi sedang menatapnya, tapi Anang tidak berani menatap Santi.
Anang merasa bersalah kepada Santi, karena pikirannya yang tidak beres itu.
Nggak lucu!
Santi calon istri Anang.
Masa Anang masih membayangkan 'sesuatu' dengan wanita lain?
Anang bisa mengalihkan pikirannya, saat dia mulai bernyanyi pelan, sambil mendengar nada lagu ditelinganya.
Ketika pikiran Anang sudah normal, dan melihat kearah Santi yang bertelungkup diatas ranjang, Santi kelihatannya sudah tertidur.
Anang lalu mematikan lampu di langit-langit kamar, kemudian ikut berbaring dengan Santi.~
Masih pagi-pagi sekali, jemputan Anang sudah datang.
Van yang berlambang Jordan and Henderson itu akan jadi transportasi yang mengantar jemput Anang, selama Anang bekerja dilabel Miss Jordan.
Dan seperti yang dibilang Santi.
Bekerja dibawah kontrak label Miss Jordan akan sangat melelahkan, memang begitu adanya.
Sejak mereka tiba di studio Miss Jordan, Anang sudah mulai rekaman.
Anang dipaksa sampai beberapa kali mengulang, mungkin karena dianggap pelafalan Anang kurang bagus.
Sampai pegal pinggang dan punggung Anang, duduk berdiri, rekamannya seakan tidak bisa selesai.
Bernyanyi berulang-ulang, membuat tenggorokan Anang terasa agak sakit.
Mungkin juga karena lelah diperjalanan antar negara, ditambah suhu semalam yang dingin waktu Anang dan Santi berjalan-jalan, Anang memang merasa kalau badannya hari itu kurang enak.
__ADS_1
Seperti akan terkena flu, dan cukup mengganggu di pernafasannya yang terasa gatal dan kering.
Kalau cara kerja dengan Miss Jordan seperti itu, bisa-bisa Anang memang akan sakit.
Hanya satu lagu, tapi rekamannya seolah-olah sedang merekam seratus lagu.
Kadang Anang baru menyanyikan satu baris lirik, Anang sudah dihentikan, lalu mengulang lagi dari awal.
Dari pagi sampai sore, Anang hanya diijinkan untuk beristirahat sebentar, untuk makan siang yang hampir tidak bisa dimakan Anang.
Oh iya, Anang tidak melihat Santi sejak keluar dari kendaraan yang mengantar mereka ke studio, dan Anang masuk ke tempat rekaman.
Anang melihat kesana kemari, mencari-cari Santi setelah keluar dari ruang rekaman.
Sentuhan dilengannya, membuat Anang berbalik.
Santi terlihat kurang bersemangat, memegang lengan Anang dan membawanya duduk di sofa yang ada di lobi.
"Bagaimana rekamannya tadi?" tanya Santi.
"Kelihatannya sudah selesai. Tapi, aku kurang tahu apa memang sudah selesai, atau masih harus diulang lagi besok," sahut Anang.
"Bisa kamu mengerti, kalau mereka menyuruhmu mengulang nyanyianmu?" tanya Santi lalu tersenyum.
"Jangan mengejekku! Aku masih nggak mengerti apa yang mereka bilang selain 'stop'. Aku hanya memperhatikan gerakkan tangan yang mereka lakukan seperti tukang parkir," sahut Anang.
"Lanjut, ulang, stop, lanjut, ulang, stop!" sambung Anang, sambil meniru gerakan tangan orang-orang yang ada didalam ruang rekaman tadi.
Memang seperti gerakan tangan tukang parkir yang mengatur pelanggannya, saat masuk dan keluar dari parkiran.
Santi tertawa pelan.
"Tapi, suaramu... Suaramu agak serak," kata Santi dengan raut wajah cemas.
"Kamu juga agak pucat. Kamu sakit?" tanya Santi panik, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Anang.
"Nggak! Mungkin cuma capek saja... Apalagi tadi rekamannya diulang-ulang," sahut Anang.
Santi kelihatannya tidak percaya dengan omongan Anang.
"Kamu sudah bisa pulang? Atau masih ada yang harus kamu kerjakan disini?" tanya Santi.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak tahu. Mana aku mengerti apa yang mereka bilang?!" sahut Anang.
"Tunggu sebentar disini!" ujar Santi lalu berdiri dan berjalan kearah ruangan rekaman Anang tadi.
Mungkin sekitar lima belasan menit kemudian, Santi terlihat kembali dari sana.
"Kamu sudah bisa pulang!
Mereka masih memeriksa ulang hasil rekamanmu. Besok pagi kesini lagi! Entah harus diulang rekamannya atau bagaimana, nanti besok mereka beritahu," kata Santi.
Santi lalu memegang tangan Anang, dan membawanya berjalan ke meja tinggi yang ada dilobi.
__ADS_1
Santi lalu berbicara dengan beberapa orang disitu, sebelum kembali melihat Anang.
"Kita bisa menunggu diluar. Van-mu masih diarahkan untuk mengantarmu pulang," kata Santi, lalu menggandeng Anang dan berjalan keluar dari gedung studio.