SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 159


__ADS_3

Pekerjaan pembangunan barak sudah selesai sejak kemarin.


Bahkan lebih cepat dari perkiraan awal, yang menduga kalau itu akan berakhir disore hari, ternyata selesai dikerjakan hanya sampai tengah hari saja.


Pagi ini, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan Anang, yang bisa menghasilkan uang tambahan.


Niat untuk membantu disawah milik Tejo, juga belum bisa dikerjakan Anang, karena teman laki-laki Anang itu, tetap bersikeras menunggu orang lain, yang biasa bekerja dengannya.


Daripada tidak ada yang Anang kerjakan, Anang pergi ke lahan barunya, sambil melihat-lihat kalau-kalau ada yang bisa dia buat, selain menanam bibit.


Anang berjalan santai sendirian ke area perkebunan, karena Tejo masih sibuk melakukan sesuatu dikamarnya, dan Anang tidak mau mengganggunya.


"Duluan saja kalau kamu mau kekebun. Aku nanti menyusul!"


Begitu kata Tejo tadi, setengah berteriak dari dalam kamarnya, ketika Anang mengetuk pintu kamar Tejo, dan mengajaknya pergi kekebun bersama Anang.


Meski sebenarnya Anang merasa sedikit heran, karena Tejo tidak bertingkah seperti biasanya.


Rasanya selama ini, Anang tidak pernah melihat Tejo, terlambat keluar dari kamarnya di pagi hari.


Tapi, bisa saja mungkin karena Tejo sedang tidak ada pekerjaan, jadi dia mau beristirahat didalam kamarnya saja dulu.


Asalkan Tejo tidak bilang kalau dia sedang sakit, berarti tidak ada yang perlu Anang khawatirkan, untuk meninggalkan Tejo sendirian.


Ketika Anang tiba dikebunnya, orang-orang yang mengambil upahan untuk menanam bibit dilahannya, sudah mulai bekerja.


Kalau dilihat-lihat dari perbatasan tanah, dan banyaknya bibit yang tersisa, tampaknya tinggal sekitar lima baris lagi, semua bibit sudah selesai ditanam.


Berarti hari ini, adalah hari terakhir penanaman, dan Anang tinggal membayar imbalannya kepada orang-orang itu.


Untung saja, meski masih dikampung, yang namanya rekening bank, sudah bukan hal asing bagi orang-orang disana.


Jadi, nantinya Anang tinggal mentransfer uangnya ke rekening salah satu pekerja, lalu mereka yang membagi-bagi hasilnya sendiri.


Anang berjalan-jalan di areal kebun, sambil memeriksa dan melihat-lihat kesana kemari.


Kelihatannya bagus-bagus saja.


Karena dekat dengan persawahan, Anang juga tidak kesulitan menyiram tanamannya, dengan air yang bisa diambil dari irigasi persawahan, yang mengalir disawah Tejo.


Anang berjalan sampai ke perbatasan, dengan lahan milik tetangga yang tidak dikenal Anang.


Barak yang mereka ikut kerjakan sudah rapi dan memang siap untuk ditinggali.

__ADS_1


Entah kapan datangnya orang-orang, yang katanya dari luar pulau, yang akan tinggal dan bekerja di lahan itu.


Anang masih berjalan mondar-mandir, dengan langkah pelan didalam area kebun, dipinggir jalan terlihat sebuah mobil dengan bak terbuka berhenti dan parkir disitu.


Tampak kurang lebih delapan orang, yang duduk dibagian bak mobil, meloncat turun dari mobil itu, lalu berdiri-berdiri dipinggir jalan, seolah-olah ada yang sedang mereka cari.


Mungkin itu orang-orang yang dibilang Tejo akan tinggal dan bekerja disitu.


Tapi Anang tidak berani menghampiri mereka duluan, karena Anang belum tahu pasti, kalau memang itu orang-orang yang dimaksud Tejo.


Dari kejauhan, Anang bisa melihat Tejo, yang berjalan semakin mendekat, lalu menghampiri mereka.


Kelihatannya memang benar, merekalah pekerja yang katanya datang dari luar pulau.


Anang berjalan keluar dari kebunnya, lalu ikut menghampiri Tejo dan orang-orang itu.


Anang lalu menyapa mereka semua, dan dibalas dengan sahutan ramah, meski logat yang mereka pakai agak berbeda dengan Anang.


Perawakan orang-orang itu, lumayan jauh berbeda dengan penduduk dikampung Anang.


Dengan kulit yang lebih gelap, dan rambut yang tetap kelihatan ikal, meski sudah dipotong sangat pendek.


Tapi, bentuk tubuh mereka, tampak seperti orang yang memang sudah terbiasa bekerja keras.


Karung-karung itu sangat menarik perhatian Anang, karena kalau dilihat sepintas, sepertinya karung-karung itu berisi padi.


Anang membantu membawakan barang-barang bawaan mereka, begitu juga dengan Tejo, lalu berjalan menuju barak yang ada dilahan tetangga.


"Mereka yang bakalan tinggal dibarak itu?" tanya Anang, sambil berjalan beriringan dengan Tejo.


"Iya," sahut Tejo.


Anang masih ikut berjalan dengan Tejo, dan orang-orang itu, sampai ke depan barak.


Bahkan Anang sempat berbincang-bincang dengan mereka sebentar, ketika Tejo sudah sibuk diponselnya, dan berpamitan pulang duluan.


Orang-orang itu berasal dari pulau dibagian timur, dan sebagian besar memang merantau untuk bekerja diperkebunan, seperti ditempat itu.


Kekurangan lapangan kerja didaerahnya, membuat mereka lebih memilih untuk merantau didaerah lain, yang membutuhkan tenaga mereka.


Bukan main-main.


Kalau Anang dulu dari kampung merantau kekota, sudah merasa kesulitan, bagaimana mereka yang merantau sampai sejauh itu?

__ADS_1


Mereka sudah berpengalaman bekerja diperkebunan, dan diajak kerja sama oleh pemilik lahan, sampai batas waktu tertentu.


Setelah merasa sudah cukup lama disitu, Anang merasa tidak enak, kalau harus mengganggu mereka yang mungkin ingin beristirahat.


Anang lalu berpamitan, untuk kembali ke area perkebunan miliknya.


Lama kelamaan berjalan-jalan di dalam kebun, tanpa banyak kegiatan yang bisa dia buat, Anang memilih untuk pulang saja dulu, nanti sore baru dia kembali kesitu, sekalian mengecek ulang, apa penanamannya sudah selesai dilakukan.


Dalam perjalanan kembali ke rumah Tejo, Anang melihat Tejo yang belum sampai dirumahnya, masih berdiri dipinggir jalan, dan sesekali berjalan pelan dijalanan, dengan ponsel menempel di telinganya.


Tejo tampak menikmati pembicaraannya, sambil senyum-senyum sendiri disitu.


Kalau melihat gerak-geriknya, Tejo seperti sedang berbicara dengan pacarnya, karena Tejo kelihatan senang.


Sudahlah...


Yang jelas, sejak tadi Tejo pamitan pulang, tapi masih belum sampai dirumah.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Entah siapa, dan apa yang dibicarakan Tejo diponselnya, sampai selama itu, belum selesai-selesai.


Ketika Anang sudah mulai mendekat, Tejo terlihat panik, seperti orang yang habis kedapatan mencuri.


Tejo tampak terburu-buru menyelesaikan pembicaraannya diponselnya itu, kemudian memasukkan benda itu ke kantong celananya.


"Kamu sudah nggak dikebunmu lagi?" tanya Tejo, ketika Anang yang berjalan, sudah dekat dengan tempatnya berdiri.


"Nggak ada yang perlu aku lakukan sekarang, disitu," sahut Anang, sambil tetap berjalan.


"Kamu kenapa belum-belum juga sampai rumah?" tanya Anang.


"Eh, aku tadi menghubungi pemilik lahan. Dia menanyakan bagaimana orang yang akan bekerja dilahannya, sekalian bertanya kalau bibit-bibit miliknya sudah diantar atau belum," sahut Tejo, yang berjalan bersebelahan dengan Anang.


"Eh, Nang! Waktu kamu kesini tadi, petugas pemasangan listrik sudah datang ke barak, atau belum?" tanya Tejo.


"Belum," sahut Anang.


"Waduh! Kalau mereka sampai batal memasang listrik hari ini, berarti, orang-orang itu akan tinggal didalam gelap nanti malam," ujar Tejo, tampak cemas.


Mereka sudah memasuki halaman rumah Tejo.


Tanpa berhenti lagi, Anang lalu berjalan terus sampai kedalam dapur, dan mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak, yang akan jadi makan siang untuk mereka berdua.

__ADS_1


Tejo juga tidak kalah sibuk didapur itu ikut membantu Anang.


__ADS_2