
Hari penting bagi Anang, tiba.
Sejak pagi, kesibukkan didalam rumah Santi menjadi-jadi.
Anang yang sementara tidak diijinkan untuk menemui Santi, yang bersiap-siap dikamarnya, merasa sedikit was-was.
Wajar saja, selama Anang belum mendengar kata 'Sah!', Anang masih bisa merasa khawatir kalau-kalau Santi menghilang, atau membatalkan pernikahannya lagi.
Dibantu Tejo, Anang bersiap-siap didalam kamar itu.
"Gugup?" tanya Tejo.
"Iya," sahut Anang.
"Tenang saja! Kamu pasti bisa!" ujar Tejo, lalu tersenyum lebar.
Seorang perias pengantin yang juga ada didalam kamar itu, merias wajah Anang sekedarnya saja agar tidak terlihat kusam atau urakan.
Setelan jas pengantin yang dipakai Anang, membuat Anang terlihat cukup tampan, dan menarik perhatian.
"Sudah siap?" tanya Tejo.
Anang menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya.
Bersama-sama dengan Tejo, Anang menuruni tangga, lalu duduk ditempat yang disediakan khusus untuknya.
Sesekali, Anang melihat kearah dimana Santi akan datang menyusul, untuk duduk disebelahnya.
Jangan sampai Santi berubah pikiran lagi!
Entah apa yang akan terjadi pada Anang, kalau sampai Santi berulah kali ini.
Sebenarnya, belum lama Anang duduk disitu.
Tapi, karena merasa gelisah dengan bayangan-bayangan kekhawatiran, membuat Anang merasa kalau dia sudah lama sekali menunggu Santi datang.
Para tamu undangan, yang sebagian besar sudah dikenal Anang, bahkan Tejo, Gita, dan Lia yang tersenyum kepada Anang, tidak bisa membuat Anang ikut tersenyum.
Debaran ketegangan, ketika Anang naik pesawat untuk pertama kalinya, tidak sebanding dengan ketegangan Anang kali ini.
Meskipun ruangan itu berpendingin udara, tapi rasanya, Anang masih merasa kepanasan.
Anang baru bisa bernafas lega, setelah melihat Santi yang terlihat sangat cantik memakai kebaya berwarna putih, berjalan pelan menghampiri Anang, dan duduk disebelahnya.
Semua yang harus dilakukan Anang sesudahnya, terasa ringan dan gampang, tanpa beban atau kendala yang berarti.
Dan, terbayarkan dengan rasa puas yang tidak terhingga, setelah Anang mendengarkan kata 'Sah!', yang dilanjutkan dengan tepuk tangan meriah tamu-tamu undangan yang hadir disitu.
"Selamat!"
Kata para tamu bergantian, sambil berjabat tangan dengan Anang dan Santi.
"Do'akan, biar aku cepat menyusul!" bisik Tejo, ketika giliran Tejo yang bersalaman dengan Anang, sambil Tejo menunjuk Gita yang berada disampingnya, dengan lirikan matanya.
"Oke!" sahut Anang, lalu tersenyum lebar.
"Selamat ya, Mas!" ujar Gita, yang kini bergantian dengan Tejo menyalami Anang.
__ADS_1
"Terimakasih!" sahut Anang.
Setelah semuanya selesai menyalami Anang dan Santi, mereka lalu makan bersama diruang makan rumah pak Handoko.
Sesekali, Anang melirik Santi yang duduk disebelahnya, yang benar-benar terlihat sangat cantik, sambil senyum-senyum sendiri.
Rasanya, Anang seperti sedang bermimpi yang indah.
Kalau memang semua ini hanya mimpi pun, Anang tidak mau terbangun lagi dari tidurnya.
"Kenapa?" tanya Santi.
"Kamu cantik sekali..." sahut Anang, lalu menggigit bibirnya sendiri, sambil meremas tangan Santi yang dipegangnya dibawah meja.
Santi tersenyum manis, sambil menatap Anang lekat-lekat.
Perjamuan makan sudah usai, dan masing-masing tamu sibuk berbincang-bincang antara satu dengan yang lain.
Anang hampir tidak bisa berhenti menatap Santi disebelahnya, sambil tetap duduk diruang makan itu.
"Jangan hanya melihatku terus! Itu loh, masih banyak orang lain, yang masih disini!" ujar Santi.
"Ah, bodo amat!" ujar Anang.
Santi mencubit paha Anang.
"Kamu bisa melihatku sepuasnya nanti!" ujar Santi.
Mau tidak mau, Anang melihat tamu-tamu yang beberapa diantaranya tampak berbisik-bisik, sambil sesekali melihat mereka berdua.
Gita dengan Tejo juga terlihat semakin akrab, mengobrol berdua, dan terlihat senang dengan senyum yang mengembang diwajah keduanya.
Ada satu tamu yang terlihat berbeda dari biasanya.
Lia tampak senang berbicara dengan seorang wanita, yang tidak kalah cantik dari Lia, meski teman wanita Lia itu tidak dikenal Anang.
Kelihatannya, semua orang sedang berbahagia hari ini, sampai semua tamu undangan itu pulang, tidak ada satupun dari mereka yang menampakkan kekecewaan, atau kesedihan diwajahnya.
"Kamu bilang tadi, aku bisa sepuasnya melihatmu 'kan?!" ujar Anang, ketika Santi sudah kembali ke kamarnya bersama Anang.
"Iya!" sahut Santi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Anang yang duduk dipinggir ranjang, membuat Santi yang berdiri didepannya berputar pelan, agar Anang bisa melihatnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Anang tersenyum lebar, lalu menarik Santi untuk duduk dipangkuannya, dan memeluknya erat-erat.
"Aku mencintaimu..." bisik Anang.
Santi merangkul leher Anang, dan mencium bibirnya disitu.
Meskipun mereka sudah sering melakukannya, tapi, kali ini dirasa berbeda, dan lebih menyenangkan dari biasanya.
Pertempuran yang seakan tidak ada yang mengenal lelah, sampai-sampai mengacak-acak seprai ditempat tidur hingga habis berantakan.
Gawang Santi dijebol Anang dengan gol yang sempurna, tanpa maksimal target poin atau batasan waktu.
Ah, sudahlah...
__ADS_1
Kali ini sudah halal, mau gaya apa saja bisa, sampai jungkir balik, ranjangnya patah, atau jatuh kelantai, juga nggak apa-apa.
Lakukan saja sepuasnya!
Apalagi, kamar dirumah Santi cukup kedap suara, meski ada keributan didalam situ, tidak ada yang bisa mendengarnya.
Kecuali, ada orang kepo, yang sengaja menempelkan telinganya di daun pintu.
Kalau coba-coba iseng menguping, tanggung jawab sendiri kalau jadi ikut-ikutan kepengen.
Bodo amat! ~
Segala sesuatunya, kelihatannya berjalan sesuai rencana.
Di keesokan harinya, Anang melakukan wawancara dengan tabloid musik, yang memintanya menjadi narasumber, untuk artikel di tabloid itu.
Anang yang kini cukup dikenal kalangan masyarakat penyuka musik, mulai mendapat sorotan dimana-mana Anang pergi.
Bukannya Anang tidak mau dikenal luas, tapi Anang lebih memilih, untuk tetap dengan cara hidup orang kebanyakan, yang masih bisa memiliki privasi.
Anang kelelahan menghadapi media, dan beberapa penggemar ekstrim yang mendatangi sampai kerumah, baik dirumah pribadi pak Handoko, maupun rumah yang diberikan pak Handoko untuk Santi dan Anang waktu itu.
Setelah, semua urusannya dikota, hingga resepsi pernikahan mereka juga sudah berlangsung dengan baik dan lancar, Anang mengajak Santi kembali kekampung, untuk beristirahat sementara, dari hiruk pikuk perkotaan.
Rumah Tejo yang kosong, karena Tejo untuk beberapa waktu, sedang tinggal dikost-kostan Gita, jadi tempat sementara bagi Anang dan Santi menghabiskan waktu.
Kebun milik Anang dan Santi dirawat oleh pekerja-pekerja, yang biasanya mengurus kebun Santi, dan sementara Anang masih dikampung, Anang hanya ikut membantu sekedarnya saja.
Dengan sisa uang tabungan Anang, dan ditambah dengan sedikit uang Santi, Anang membangun rumah kecil, disalah satu sudut kebun, yang terdapat banyak bibit tanaman akasianya yang mati.
Anang melanjutkan rencananya, untuk tetap bertahan dikampungnya, sampai bibit akasia berumur dua tahun, sambil disela-sela waktu senggangnya, Anang menuliskan banyak lagu-lagu baru.
Sedangkan Santi, juga tetap melanjutkan kuliahnya yang dilakukannya secara daring.
Ketika Anang dan Santi kembali untuk tinggal dikota, perut Santi yang sudah membuncit, menjadi hadiah yang bisa membuat ayah Santi meneteskan air mata bahagia.
Anang masih bernyanyi, meski hanya merekam album atau single baru, dengan tetap menjalin kontrak dengan label pak Robi.
Santi juga berhasil menyelesaikan kuliahnya, lalu menerima gelar sarjananya diluar negeri.
Santi membawa Anang, ayahnya, dan seorang bayi laki-laki mereka yang ganteng, dan menghabiskan waktu disana, kurang lebih dua minggu lamanya, sebelum mereka pulang ke Indonesia.
Lagu-lagu hasil gubahan Anang, juga banyak yang dinyanyikan musisi lain, dan cukup diterima dimasyarakat.
Anang memang mengatur karir dan keluarga agar tetap seimbang, seperti perkataan pak Handoko, dan Anang benar-benar menikmati hasil dari keputusannya.
---- TAMAT ----
Nb : Yang terlihat buruk dimata manusia, belum tentu buruk dimata Tuhan.
Cara-Nya berkerja, memang terkadang tidak bisa kita pahami.
Tapi, dijalani saja... Ikuti alurnya...
Berencana, Berusaha, dan senantiasa tetap Berdo'a.
Salam dari author,
__ADS_1
Semoga tulisan sederhana ini bisa menghibur semua yang membacanya.
TERIMAKASIH.