SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 70


__ADS_3

Lokasi pertemuan yang dikatakan Peter, tidak jauh dari tempat Anang dan Santi berjalan-jalan.


Hanya dengan berjalan kaki, Anang dan Santi sudah bisa tiba disana.


Restoran yang cukup mewah jadi pilihan Peter untuk bertemu dengan Anang.


Ketika mereka tiba di restoran itu, Peter sudah menunggu Anang, sambil duduk disalah satu meja yang letaknya dekat dengan jendela kaca besar.


Peter terlihat berdiri dan melambaikan tangan kepada Anang, ketika Anang berjalan masuk kedalam situ.


Tapi, ada yang aneh.


Raut wajah Peter yang awalnya tersenyum dan bersemangat, tiba-tiba berubah seperti orang yang sedang terkejut, dengan raut wajah kaku, saat Anang dan Santi berjalan mendekat ketempatnya duduk.


Anang melihat pandangan Peter yang terpaku kearah Santi.


"Eh. Maaf aku tadi lupa beritahu. Kami sedang berjalan-jalan tadi, sekalian aku bawa dia ikut denganku," ujar Anang.


Peter lalu melihat kearah Anang.


"Ini Santi, calon istriku!" sambung Anang dengan bangga.


Raut wajah Peter terlihat lebih aneh lagi ketika Anang mengatakan itu, tapi Anang tidak terlalu memperdulikannya.


Anang menganggap kalau Peter hanya terkejut, karena Anang membawa Santi, tanpa persetujuan Peter.


"Silahkan duduk!" ujar Peter.


Anang dan Santi lalu duduk bersebelahan diseberang meja, berhadapan dengan Peter.


Santi yang menggenggam tangan Anang, sejak mereka menghampiri Peter, tetap tidak melepaskan tangan Anang, sampai mereka duduk disitu, malah makin mempererat genggamannya.


"Calon istri katamu?" tanya Peter yang terdengar heran.


"Iya," sahut Anang.


Anang melihat sedikit gelagat aneh dari Peter, yang menatap Santi dengan sorot tatapan yang tajam, dan terlihat seperti Peter sedang marah dengan Santi disitu.


"Apa ada yang salah?" tanya Anang.


Peter hanya melihat Anang sebentar, lalu kembali menatap Santi.


Ada apa ini sebenarnya?


Anang dengan rasa penasaran, kemudian menoleh, dan melihat Santi yang duduk disampingnya.


Santi pun tampak tidak nyaman dengan Peter, dan terlihat gelisah.


Anang tidak bisa menahan rasa penasarannya, kembali melihat Peter, lalu berkata


"Ada apa?"

__ADS_1


Perkataan Anang seakan menyentak Peter dari pikirannya, kemudian dengan wajah datar mengembalikan pandangannya kepada Anang.


"Aku diminta Miss Jordan mencarimu," ujar Peter.


"Untung saja, akun media sosialmu aktif. Aku kira kamu tidak punya akun f*cebook,


Waktu aku mencarimu ditempat kamu biasa mengamen, salah satu pengunjung memberitahu aku, kalau kamu sudah tidak mengamen disana lagi,


Lalu dia juga yang memberitahu aku kalau kamu ada akun untuk mengunggah videomu," kata Peter panjang lebar.


"Oh... Iya. Aku nggak ngamen disana lagi, karena sekarang sudah sering jadi penyanyi panggilan," sahut Anang.


Perkataan Peter meskipun sudah panjang lebar, tapi Anang masih merasa kalau ada sesuatu yang mengganjal, dengan gerak-gerik Peter dan Santi.


"Untuk apa Miss Jordan mencariku?" tanya Anang.


"Miss Jordan mau menawarkan kontrak rekaman denganmu," sahut Peter.


"Hmm... Santi! Bagaimana? Aku nggak mengerti," ujar Anang sambil melihat Santi.


"Belum bisa sekarang. Anang sudah terlanjur berjanji distudio rekaman lain, dan sekarang sudah dalam proses peluncuran single," sahut Santi.


Raut wajah Peter sekarang terlihat lebih tidak senang lagi.


Seakan-akan, Peter akan memukul meja, atau menerjang Santi disitu.


"Apa kalian berdua saling mengenal?" tanya Anang hati-hati.


Santi terlihat menghela nafas panjang.


"Kamu ingat ceritaku, kenapa aku diusir dari rumah? Teman laki-laki yang aku bawa kerumah, itu Peter," ujar Santi.


"Dunia memang sempit!" celetuk Peter, dengan alis mengerut.


"Aku hanya merasa heran... Kenapa sekarang dia mau menikah?" ujar Peter.


Anang yang sedari tadi hanya mendengar sambil melihat Peter dan Santi bergantian, tidak mau berkomentar.


Anang lebih suka kalau mereka saja yang bercerita.


"Apa masih ada yang lain?" tanya Anang setelah terlalu lama menunggu, tapi Santi dan Peter tidak melanjutkan ceritanya.


"Nggak ada. Nanti aku hubungi kamu lagi!" ujar Peter.


Santi kemudian berdiri, sambil menarik tangan Anang agar ikut berdiri dengannya.


"Ayo kita pergi! Kamu juga tidak bisa membatalkan begitu saja dengan Pak Robi," ujar Santi lalu buru-buru berjalan keluar.


Anang hanya bisa mengikuti langkah Santi, tanpa sempat berpamitan dengan Peter, dan hanya sempat menoleh sebentar kearah Peter, yang memasang tampang merengut.


"Apa hubungan kalian waktu itu?" tanya Anang, ketika Anang dan Santi, sudah berjalan diluar restoran.

__ADS_1


Santi menghela nafas panjang.


"Peter sempat memintaku menikah dengannya waktu itu, hanya saja waktu itu hampir sama dengan sekarang, seperti aku denganmu, aku ragu-ragu," Kata Santi.


"Makanya aku menolaknya," sambung Santi.


Anang baru saja hendak bertanya lagi, tapi Santi sudah memotong omongannya.


"Kita singgah makan disitu, nanti kamu bisa bertanya apa saja yang kamu mau tahu," kata Santi menunjuk sebuah warung makan.


Santi lalu membawa Anang singgah diwarung makan yang dekat dari situ.


"Kenapa kamu ragu?" tanya Anang, sambil meneruput sedikit teh hangat, yang dantarkan pelayan.


"Aku sudah mengenalnya sejak aku diluar negeri. Aku tahu, kalau dia sama gilanya denganku. Daripada kami saling menyakiti, lebih baik kalau aku menolaknya," sahut Santi.


"Aku juga takut, kalau-kalau aku hanya akan menyakitimu..." sambung Santi pelan.


"Kamu masih ada perasaan dengannya?" tanya Anang hati-hati.


"Nggak ada,. Sejak awal memang hanya untuk bersenang-senang. Aku nggak tahu kalau dia jatuh hati denganku, sampai dia melamarku," sahut Santi.


"Bagaimana denganku?" tanya Anang, yang merasa agak khawatir, meskipun Santi sudah menerima lamarannya.


"Awalnya memang hanya untuk bersenang-senang, tapi aku juga nggak sadar, sejak kapan aku bisa benar-benar sayang denganmu," kata Santi.


"Mungkin saja waktu kamu dengan kebodohanmu, dikapal pesiar waktu itu," sambung Santi, sambil tersenyum.


"Aku mau kamu melanjutkan hubunganmu dengan Gita, agar tidak terpengaruh denganku, tapi kamu malah menyatakan cinta,"


"Tapi justru itu yang membuatku makin takut kalau aku sampai menyakitimu, dengan semua kegila'anku," kata Santi lagi yang terdengar cemas.


Tidak ada masalah kalau begitu, Anang sudah siap dengan konsekuensi, dari keputusan yang Anang buat.


Anang memegang tangan Santi, berniat menenangkannya.


"Aku akan ke psikiater nanti. Aku sayang denganmu, dan aku nggak mau kalau kamu sampai pergi dariku," kata Santi, sambil menatap Anang lekat-lekat.


Oke, Itu kabar baik 'kan?


Siapa yang menyangka, laki-laki bodoh dan standar seperti Anang, bisa merubah pikiran wanita seperti Santi.


Anang tersenyum puas.


Laki-laki sekelas Peter, yang pernah membuat Anang merasa iri, ternyata masih bisa tergeser.


Ehheem. Ehheem...


Anang tidak boleh sombong dan takabur.


Segala sesuatu pasti sudah ada yang mengatur, dan Anang hanya bisa mengikutinya saja, tanpa perlu banyak mengeluh, dan tanpa perlu banyak melawan, cukup dengan bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2