SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 64


__ADS_3

Gitar Anang, kini sudah diatas pangkuan Gita.


Sambil duduk berhadap-hadapan, Anang menunjuk titik-titik yang harus ditekan jari-jari tangan Gita.


Merasa kurang maksimal, Anang lalu berdiri dan dengan sedikit membungkuk, hampir seperti memeluk Gita dari belakang, sambil mengajari Gita memainkan senar gitarnya.


Anang sempat melihat dengan ujung matanya, kalau Santi mengangkat wajahnya sebentar, seolah-olah sedang melihat kearah Anang dan Gita disitu.


Tapi, ketika Anang melihat kearah Santi, wanita itu sudah kembali melihat layar ponselnya.


Lama-kelamaan, Anang mulai merasa tidak nyaman dengan situasi disitu, apalagi dengan melihat tingkah Santi seperti itu.


"Gita! Nanti ada waktunya, aku ajari main gitarnya lagi ya?! Aku sekarang lelah sekali. Mau istirahat dulu," kata Anang yang kembali duduk dipinggir ranjang berhadapan dengan Gita.


Gita terlihat kecewa, tapi tidak memprotes perkataan Anang.


"Iya. Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok!" ujar Gita.


Gita kemudian meletakkan gitar Anang, dengan disandarkan diranjang, sambil Gita berdiri dan berjalan kekamar mandi.


Tak lama Gita terlihat sudah mengganti kaus Anang, dan memakai bajunya sendiri yang basah tadi.


"Kalau begitu, Aku pulang sekarang." kata Gita sambil tersenyum kepada Anang.


Anang yang sudah berdiri, kemudian mengantar Gita kepintu kamar.


Tanpa aba-aba, Gita mencium bibir Anang disitu sebentar, dan mengelus pipi Anang, sebelum akhirnya Gita berjalan pergi, sambil melambaikan tangan pada Anang.


Anang menutup pintu, lalu berbalik kedalam kamar.


Santi sudah tidak terlihat diatas ranjang lagi.


Padahal Anang sebenarnya ingin bicara dengan Santi, tapi tampaknya Santi masuk kedalam kamar mandi.


Sambil berbaring, Anang mencoba mencari cara untuk bicara dengan Santi, tanpa membuat wanita itu marah kepadanya.


Tapi, hampir seperti malam sebelumnya, Santi lama sekali tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi, sampai Anang hampir tertidur.


Anang tidak sabar lagi menunggu sampai Santi keluar dari sana.


Buru-buru Anang berjalan menuju kepintu kamar mandi, tapi belum sempat dia membuka pintu, Santi sudah lebih dulu membuka pintu.


Santi hampir saja melewati Anang yang berdiri didepannya.


Tanpa berpikir panjang, Anang yang sudah tidak tahan, tidak dihiraukan Santi lama-lama, menghadang Santi sampai tersandar dipintu kamar mandi.


"Kenapa?" tanya Santi datar, dan wajah garang.


Meski lutut Anang gemetaran, Anang memberanikan diri untuk mengkonfrontasi Santi disitu.


Cek! Anang bukan takut dipukul Santi, Anang hanya takut kalau-kalau Anang terlalu memaksa, dan Santi malah pergi.


Oke?


Lanjut!


"Kenapa kamu menghindariku? Ada salah apa aku denganmu?" tanya Anang pelan.


Santi menghela nafas panjang.


"Siapa yang menghindarimu? Aku sibuk mengurus jadwalmu," kata Santi datar, lalu mencoba melewati Anang lagi.

__ADS_1


Anang rasanya tidak percaya dengan perkataan Santi.


Rasa khawatir Anang kalau Santi sudah bosan dengannya, dan mungkin meninggalkannya lebih menakutkan dari wajah datar Santi sekarang.


Anang mau menyatakan cintanya sekarang kepada Santi.


Anang mau Santi tahu, kalau Anang tidak bisa hidup tenang tanpanya.


Anang akan memeluk dan menciumnya, sekarang!


Lutut Anang makin gemetar, dengan dada yang berdebar-debar, saat menghalangi langkah Santi yang berusaha melewatinya.


Santi menengadahkan kepalanya, dengan wajah sangar, dan sorot mata tajam.


Terlihat jelas kalau Santi sangat marah dengan Anang, yang menghalang-halanginya.


Wajah Santi pasti panas, sampai berwarna merah terang, dengan nafasnya yang tampak memburu.


Mungkin Santi akan mengeluarkan asap dari hidungnya saking panasnya wajahnya.


Anang!


Jangan coba-coba!


Santi mungkin akan menetaskan telurmu, kalau kamu memaksa menghadangnya lebih lama lagi.


Anang nekat menunduk, dan mencium bibir Santi, dengan mata terpejam.


Kalau Santi sampai memukul sela paha Anang dengan lututnya sekarang, Anang sedikit pasrah.


Sedikit, karena Anang sudah merapatkan kedua kakinya, sampai cukup rapat rasanya.


Anang memegang kedua sisi pipi Santi, dengan kedua tangannya.


Santi tidak menampar Anang, tidak juga memaksa memukul sela kaki Anang dengan lututnya.


Santi hanya terdiam.


Malah rasanya terlalu tenang.


Santi tidak membalas ciuman Anang dibibirnya.


Anang membuka matanya, dan melihat Santi yang sedang menatapnya.


Anang makin ketakutan melihat mata gelap Santi, yang seakan-akan bisa menelan Anang hidup-hidup.


Rasanya sekarang lutut Anang bisa mengeluarkan suara seperti Angklung, saking gemetarnya.


Tapi, telinga Anang tidak bisa mendengar apa-apa, selain detak jantungnya sendiri, dan desiran aliran darahnya yang mengalir terlalu cepat, saking gugupnya.


Anang lupa caranya menggerakkan paru-parunya, dan rasanya dia akan pingsan sekarang.


Kalau Anang akan ditinggalkan Santi sekarang, mau tidak mau, Anang harus siap.


Salah Anang sendiri, yang terlalu nekat menyentuh Santi tanpa persetujuannya.


Kepalang tanggung...


Anang mengumpulkan keberanian, dan kekuatannya yang tersisa.


Anang mengangkat Santi sampai mengambang dari lantai, menyandarkan Santi kedinding, dan menahannya disitu, agar tidak bisa turun dari gendongan Anang.

__ADS_1


Anang berhenti mencium Santi, lalu menatap mata gelap wanita itu lekat-lekat, meski Anang tidak bisa menemukan apa-apa didalam sana.


Santi tidak mengamuk, meski wajah Santi masih terlihat marah dengannya.


"Aku mencintaimu... Aku nggak mau kamu jauh dariku..." kata Anang dengan suara pelan, dan hampir berbisik.


Santi hanya terdiam, meski kini wajahnya malah terlihat seperti orang kebingungan, dengan alisnya yang mengerut.


"Kamu bercanda?" tanya Santi tiba-tiba.


Mata Anang terbelalak.


Selamat!


Anang akan jadi pencipta lagu galau terbaik!


"Kamu baru saja merayu Gita. Lalu sekarang kamu bilang cinta denganku?" ujar Santi dengan suara tinggi.


"Heh? Siapa yang merayu siapa? Aku nggak merayu Gita. Dia malah sudah tahu kalau aku jatuh cinta denganmu," kata Anang tidak mau kalah.


"Jangan main-main denganku! Turunkan aku sekarang!" seru Santi dengan wajah garang, sambil memukul-mukul bahu Anang.


Anang merasa kalau sekarang sudah terlanjur basah.


Tidak bakalan Anang melepas Santi, cuma karena pukulan tangan kecil dibahunya, yang hampir tidak ada rasanya.


"Nggak!" ujar Anang.


Anang makin menekan Santi ke dinding, sampai wanita itu berhenti bergerak.


"Aku nggak main-main denganmu... Aku serius... Aku mau kamu tetap bersamaku." sambung Anang pelan.


Anang memang tidak main-main, dan tidak akan mundur lagi.


'Kan Anang laki-laki sejati?!


Kalau sudah serius begini, tapi Santi masih menolaknya, apa boleh buat.


Yang penting Anang sudah berani mengungkapkan perasaannya dulu.


Masa Anang harus menyerah sebelum berperang, cuma gara-gara melihat banyak pejuang, yang sudah tewas bergelimpangan di medan perang?


Santi tidak bereaksi dengan pernyataan Anang.


Sudahlah,


Berarti berakhir sudah, perjuangan Anang.


Cukup sampaikan salam perpisahan, sebelum Santi pergi, dengan ciuman lembut dibibir wanita itu.


Tapi...


Hey!


Tampaknya Anang belum gugur dimedan perang.


Santi membalas ciuman Anang, sambil merangkul leher Anang.


Kalau tahu begini, dari kemarin-kemarin, semestinya Anang sudah mengakui perasaannya kepada Santi.


Lain kali, kata-kata ini harus di ingat,

__ADS_1


Jangan jadi pengecut!


__ADS_2