SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 43


__ADS_3

Tampaknya otak Anang memang sudah berpindah, dari kepala kebawah perutnya. Karena setiap diganggu Santi, Anang pasti tidak bisa berpikir.


Contohnya sekarang, Anang sampai tidak bisa menanggapi perkataan Santi, setelah Santi sibuk menjilat dan memakan pisangnya utuh-utuh.


Anang sampai lupa caranya berkata-kata selain 'Aah'.


Padahal sekarang Anang semestinya bilang pada Santi, kalau dia setuju atau tidaknya pindah tempat kost.


"Kamu mau pindah?" tanya Santi menghentikan sebentar kegiatannya.


Tapi Anang baru saja mengumpulkan kata-kata dari kamus, Santi sudah lanjut membuat Anang kejang-kejang.


Bagaimana Anang bisa memikirkan jawabannya?


"Mau nggak sih?" tanya Santi lalu lanjut lagi.


Apa Santi tidak tahu kalau gangguannya itu merusak semua sel otak Anang?


"Wooiyy! Mau atau nggak?" tanya Santi yang sudah tampak kesal. Kali ini dia beri kesempatan koneksi saraf Anang berfungsi sebentar.


"Mau," sahut Anang.


Satu kata dengan tiga huruf itu saja, membutuhkan perjuangan berat bagi Anang untuk mengingatnya.


Santi tersenyum lebar, dan tidak mau menunggu lagi membiarkan pisang yang sudah terkupas terkena angin lama-lama.


Mungkin Santi takut makanannya dihinggapi lalat, atau nanti berubah warna dan bentuknya.


Santi memang bisa membuat Anang jadi gila dan bodoh, untuk sementara waktu.


Nggak apa-apa deh yang penting saat Anang sedang gila, 'kan ada Santi...


Yang tidak mau berhenti, sampai Anang bisa membuatnya jungkir balik, dan Anang kembali menemukan kewarasannya lagi.~


"Santi! Berhenti sebentar dulu!" ujar Anang sambil membesarkan matanya kepada Santi yang mulai nakal lagi.


"Kenapa? Ngomong aja! 'Kan ngomongnya pakai mulut, bukan pakai itu?!" ujar Santi enteng.


Kenakalan Santi memang membuat Anang gemas dengannya.


Anang memerah susu Santi, meski tidak ada yang keluar dari situ, dan bisa ditampung Anang.


"Bisa konsentrasi nggak kalau begini?" tanya Anang.


Santi hanya tertawa, kemudian menghentikan kenakalan tangannya, yang mengganggu ketenangan sela paha Anang.


"Kira-kira kamu tahu tempat kost yang bagus?" tanya Anang saat situasinya sudah normal.


"Hmm... Besok nanti aku tanyakan teman-teman ku. Kalau malam-malam begini, mereka pasti sama sibuknya denganku," kata Santi sambil tangannya bergerak mendekat.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" seru Anang menghentikan gerakan bawah tanah tangan Santi.


"Apa lagi?" tanya Santi yang tampak kecewa.


"Besok saja kita urus semua. Mulai dari buka rekening bank baru untukmu, sampai cari tempat kost baru untuk kita. Sudah?" sambung Santi tidak sabaran.


Anang terdiam sebentar.


"Iya, sudah," sahut Anang yang membuat senyum manis Santi, merekah lebar diwajahnya.~


Rasanya masih terlalu pagi, tapi keributan dipemukiman tempat tinggal Anang dan Santi itu bisa membuat Anang dan Santi yang baru saja tertidur, harus membuka matanya lagi.


Bukan cuma ocehan atau omelan, tapi teriakan-teriakan histeris.


Anang merasa kepalanya pusing, saat terbangun seperti itu, sedangkan Santi tampaknya merasakan hal yang sama.


Santi terduduk, tapi masih bersandar dipunggung Anang yang sudah duduk dipinggir ranjang, sambil memeluk Anang dari belakang.


"Ada apa?" tanya Santi.


"Nggak tahu. Aku nggak tahu apa yang orang-orang itu bilang," sahut Anang.


"Sebentar aku lihat dulu," ujar Anang sambil berdiri pelan, lalu berbalik dan memegang Santi agar tidak terjatuh dari ranjang.


Santi kembali berbaring menyamping diranjang, membiarkan Anang yang memakai pakaiannya lagi, dan membuka pintu kamarnya.


Anang melihat orang-orang tampak berkumpul di salah satu bagian pemukiman, yang dekat dengan aliran sungai.


Anang berjalan pelan kesitu, untuk mencari tahu ada kejadian apa.


Air sungai ternyata meluap cukup lebar, sampai menenggelamkan beberapa bangunan kost liar, bahkan ada yang ikut hanyut terbawa arus air sungai.


Anang dan Santi memang harus pindah dari tempat itu secepatnya.


Semakin tahun, luapan banjir air sungai semakin luas, dan makin deras dengan banyaknya batang-batang pohon dan lumpur yang ikut hanyut dibawa air.


Lama-lama, tempat itu akan berbahaya untuk ditinggali.


Bisa-bisa, nanti lagi enak-enak tidur, tahu-tahu sudah hanyut terseret banjir.


Orang-orang yang rumahnya terdampak banjir, sibuk mengambil barang-barang berharga yang masih bisa diambil.


Sedangkan orang-orang yang rumahnya sudah hanyut, hanya menangis melihat kearah sungai.


Mudah-mudahan tidak ada korban jiwa.


Anang tidak bisa mendengar jelas perkataan orang-orang yang bicara, sambil menangis seperti itu.


Anang kembali kekamarnya lalu merapikan barang-barangnya.

__ADS_1


Tidak banyak, koper pemberian pemilik rumah seperti istana waktu itu, cukup untuk menampung semua barang-barang milik Anang.


Anang lalu menarik kopernya, sambil tangan sebelahnya lagi menenteng gitar tuanya, kemudian berjalan mendatangi kamar Santi.


Ketika Anang membuka pintu dan masuk kedalam situ, Santi sudah bangun, dan memakai kain sarung batik. Tampaknya dia berniat pergi mandi.


"Kamu mau mandi?" tanya Anang.


"Iya," sahut Santi yang terlihat heran melihat Anang membawa koper.


"Nggak bisa. Banjir parah diluar itu. Jangankan rakit, rumah saja ada beberapa yang hanyut," ujar Anang sambil meletakkan barang bawaannya.


"Ooh... Jadi itu yang ribut-ribut tadi?" tanya Santi sambil duduk dipinggir ranjang bersebelahan dengan Anang yang sudah duduk disitu.


"Jadwalku hari ini cuma malam ya?" tanya Anang.


"Iya!" sahut Santi yang bersandar dilengan Anang, dan tampak lemas.


"Kita cari tempat untuk pindah sekarang saja. Nanti saja kita ke bank, kalau sudah ketemu tempat kost baru," ujar Anang sambil mengelus kepala Santi.


Santi kemudian memeluk Anang sebentar, lalu berdiri, dan mencari pengganti kain sarungnya dengan pakaian kasual, yang cukup pantas untuk dipakai berjalan-jalan mencari tempat kost.


Anang melihat Santi yang tampak masih sangat lemas, beberapa kali hampir terjatuh cuma karena memakai celana jeans panjangnya.


"Sini aku bantu!" ujar Anang.


Anang lalu berdiri dan membantu memegang pinggang Santi dari belakangnya, agar tidak terjatuh saat menunduk, memasukkan kakinya kecelana.


Dari samping wajah Santi, Anang bisa melihat sekilas, kalau Santi tampaknya sedang tersenyum dan hampir tertawa, saat Anang memegangnya seperti itu.


Anang menghela nafas panjang, mungkin Anang memang menyayangi wanita itu.


Tapi apa mau dikata.


Anang juga tidak berani memastikan perasaannya kepada Santi, apalagi Santi sudah bilang dia hanya mau berteman saja sekarang.


Kecuali Santi nanti berubah pikiran, mungkin Anang akan mempertimbangkannya.


Anang tidak mau nanti saat dia yakin kalau mencintai Santi, lalu ditolak Santi mentah-mentah.


Maka Anang nanti akan jadi pencipta lagu galau tersedih yang pernah ada.


Jalani saja dulu.


Nikmati prosesnya, toh tidak ada ruginya.


"Sudah! Makasih! Aku memang masih agak pusing," ujar Santi lalu berjalan menjauh dari Anang dan duduk dipinggir ranjang.


Santi terlihat mengambil ponselnya, dan mengetikkan sesuatu disitu, ketika Anang ikut duduk disebelah Santi.

__ADS_1


__ADS_2