
Kata Santi akan pergi kekantor Lia?
Jangan bercanda.
Santi malah mempersiapkan keberangkatannya keluar negeri, dengan alasan waktu yang tersisa untuk pendaftaran ulang sudah hampir habis.
Tidak ada yang sempat Santi dan Anang lakukan bersama, selain belajar mengemudi yang diulangi Anang semalam.
Sejak pagi, Santi sudah sibuk kesana kemari mempersiapkan barang-barang bawaannya, berikut juga dengan berkas-berkas, yang dia perlukan selama tinggal disana.
Anang tidak bisa menahannya untuk tetap tinggal disitu bersama Anang.
Semua rasanya sudah terlanjur terlambat.
Mau tidak mau, Anang hanya bisa membiarkan Santi pergi.
Tidak ada yang salah, semua hanya memilih jalan hidupnya sendiri.
Meski Anang merasa kecewa, tapi kelihatannya ayah Santi yang paling kecewa.
Apalagi, saat ayah Santi menawarkan diri untuk mengantar Santi ke bandara, ditolak Santi mentah-mentah.
Tapi untungnya, ayah Santi tidak menyalahkan Anang.
Mungkin karena dia tahu bagaimana sifat keras kepala Santi, anaknya itu.
"Anang bisa tetap tinggal disini saja..." kata ayah Santi, setelah taksi yang mengantar Santi ke bandara sudah berlalu pergi, dan menghilang dari pandangan.
"Maaf, Pak! Bukannya saya tidak menghargai tawaran bapak. Tapi, saya rasanya tidak bisa tinggal dirumah ini sendirian..." sahut Anang.
Ayah Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yaa sudah, kalau Anang bersikeras... Tapi, nanti kontak Anang jangan sampai tidak aktif ya?! Persidangan akan dimulai minggu depan... Nanti saya akan hubungi Anang disaat-saat tertentu," kata ayah Santi.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Ayah Santi sempat menepuk-nepuk lengan Anang sebentar, sebelum akhirnya dia pulang kerumahnya.
Setelah tertinggal Anang di rumah itu, Anang lalu mengemasi semua barang-barangnya.
Kenangan Anang dirumah itu tidak terlalu banyak, sehingga saat Anang melihat kesana-kemari, Anang tidak terlalu merasa sakit hati.
Koper-koper milik Anang, sekarang sudah diletakkan diteras depan rumah.
Anang sudah bisa memesan taksi online sendiri, dengan menjadikan alamat salah satu pusat perbelanjaan yang jadi alamat tujuannya, dan sekarang tinggal menunggu jemputannya datang.
Sebenarnya Anang kali ini akan berjalan tidak tentu arah, karena dia belum sempat mencari kost-kostan baru untuk tempat tinggalnya.
Tapi, Anang sudah mantap untuk pergi dari rumah itu, saat itu juga.
Dengan menumpang taksi online, Anang berlalu pergi dari kompleks perumahan itu.
__ADS_1
"Mas! Apa Mas tahu kost-kostan yang sederhana, yang bisa untuk satu orang tinggal?" tanya Anang kepada supir taksi itu.
"Banyak, Mas! Mas mau didaerah mana?" tanya supir itu, sambil tetap mengarahkan pandangannya kearah jalanan.
Anang terdiam sambil memikirkan, kemana sebaiknya dia pergi.
"Mas! Apa bisa kalau mengantar saya ke kampung ( menyebut nama desa )?" tanya Anang.
"Sebentar ya, Mas!" sahut supir itu, lalu memelankan laju kendaraannya, sampai akhirnya berhenti ditepi jalan.
Supir itu terdiam untuk beberapa waktu, lalu menyebutkan harga, kalau Anang mau diantar kekampung itu.
Anang lalu mengangguk setuju.
Supir itu kemudian membawa mobilnya kembali melaju dijalanan.
Kembali ke kampung Anang, rasanya itu pilihan terbaik, daripada harus bertahan tinggal dikota.
Anang khawatir, kalau-kalau terlalu lama dia tinggal dikota, lalu tanah yang dijual dikampungnya itu, laku dibeli orang lain.
Toh, kalau Anang dikota, berarti Anang harus memilah tawaran bernyanyi, yang kemungkinan besar sudah berkurang banyak, karena sudah ditelantarkan Anang cukup lama.
Sekarang Anang harus fokus dengan hidupnya lagi, tidak boleh ada sela dipikiran Anang untuk Santi.
Wanita itu pergi untuk waktu yang tidak sebentar, begitu juga dengan hatinya.
Belum tentu Santi masih akan memikirkan Anang, setelah berpisah terlalu lama.
"Mas! Turunkan saja aku didekat sana!" ujar Anang, sambil menunjuk sebuah gang yang mengarah kerumah Tejo.
Jaraknya dekat sekali, dan hampir saja terlewatkan, kalau Anang tidak terbangun.
Setelah Anang membayar ongkosnya, dan supir itu membantu mengeluarkan koper Anang, sambil menyeret kopernya, Anang lalu berjalan mendatangi rumah Tejo.
Sudah gelap malam, tapi, Anang merasa yakin kalau Tejo akan berada dirumahnya saja.
Benar saja dugaan Anang.
Tejo tampak sedang duduk-duduk diteras rumahnya, bersama dengan Bowo.
Ketika Anang memasuki halaman rumah Tejo, kedua laki-laki teman Anang itu tampak sangat terkejut, sampai-sampai mereka berdua berdiri dari tempat duduknya.
"Anang?" ujar Tejo yang tampak heran, sambil melihat kesana-kemari.
"Kamu sendirian?" tanya Tejo, lalu membantu membawakan koper Anang, sampai kedalam teras rumahnya.
Anang menghela nafas panjang.
"Iya... Aku sendirian saja," sahut Anang.
"Ada masalah?" tanya Bowo.
__ADS_1
"Kalau aku batal menikah, lalu Santi pergi keluar negeri itu kalian anggap masalah, ya, berarti memang ada masalah," sahut Anang, yang tanpa dipersilahkan lagi, langsung duduk di salah satu kursi kosong.
Tejo terlihat berjalan masuk kedalam rumah, sambil menarik koper-koper milik Anang masuk bersamanya.
"Kenapa?" tanya Bowo pelan.
"Hmmm... Santi mau kuliah lagi," sahut Anang.
"Tiba-tiba?" tanya Bowo seolah-olah tidak percaya apa yang didengarnya.
"Iya... Dia maunya begitu, mana bisa aku melarangnya," sahut Anang.
"Dia sudah berangkat keluar negeri tadi siang," sambung Anang.
"Padahal kemarin, Santi sempat menghubungiku. Katanya mau melihat-lihat lahan yang dijual. Kenapa malah pergi keluar negeri?" tanya Tejo, yang baru keluar dari dalam rumah, sambil membawa secangkir teh hangat untuk Anang.
"Semua itu karena salahku sendiri... Santi maunya aku bisa lebih yakin kalau aku bisa berumah tangga dengannya...
Tapi, aku terlalu banyak merasa ragu, karena perkerjaanku yang masih belum jelas penghasilannya," sahut Anang.
Anang menghela nafas panjang.
"Sekarang, dia lebih memilih untuk kami berpisah saja dulu... Entah nanti bisa bersama lagi, atau masing-masing menemukan jalan hidup yang baru," sambung Anang.
Kedua teman lelaki Anang itu terdiam, seolah-olah sedang mencerna cerita Anang.
"Kalau begitu, rasanya mungkin itu memang salahmu..." celetuk Bowo.
Tejo lalu menendang kaki Bowo.
"Lah! Iya, 'kan?" ujar Bowo ngotot.
"Kamu semestinya harus yakin kalau kamu bisa, kalau kamu sampai berani melamarnya. Benar nggak?" sambung Bowo, yang masih tampak yakin dengan pendapatnya.
"Aku nggak terpikir sejauh itu... Aku dulu cuma mikirnya, yang penting Santi jadi istriku saja..." kata Anang.
"Sudahlah... Semua sudah terjadi mau di apa?" sambung Anang.
Mereka bertiga lalu terdiam disitu, sambil menghela nafas panjang.
Anang lalu mengambil gelas tehnya, dan menyesapnya sedikit.
"Berapa harga tanahnya sekarang?" tanya Anang, mengalihkan pembicaraan tentang nikah menikah yang batal itu.
"Katanya, ( harga ) masih bisa nego, asal yang belinya mau bayar secepatnya," sahut Tejo.
Anang terdiam sambil menghitung perkiraan harga, dengan harga persiapan membuka lahan.
Kalau Anang bisa menawarnya lagi, Anang sudah bisa membeli bibit dengan Setyo.
"Kalau begitu, tolong kamu hubungi orang yang menjualnya ya?! Aku mau menawarnya!" ujar Anang mantap.
__ADS_1