SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 63


__ADS_3

"Kamu terlambat lebih dari satu jam," kata Santi terlihat panik, ketika melihat jam diponselnya.


"Maaf... Aku ketiduran. Semestinya aku memberitahu orang yang mengundangmu, kalau kamu masih sibuk," kata Santi dengan nada penyesalan.


Harus Anang apakan wanita yang seperti Santi?


Mungkin memang itu sudah jadi tugas Santi.


Tapi kalau pakai hati, Anang jelas tidak tega melihatnya, dan malah makin sayang dengan wanita itu.


"Nggak apa-apa. Hubungi saja lalu meminta maaf, kalau aku batal pergi kesitu," ujar Anang.


"Pesankan taksi saja sekarang. Biar kita bisa pulang. Aku mau istirahat saja. Tenggorokanku sakit," sambung Anang.


Santi lalu menganggukkan kepalanya, lalu mulai mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya.


Ketika mereka keluar dari gedung, hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya.


Gelapnya malam sudah menggantikan matahari yang sudah sedari tadi tenggelam.


Anang merangkul pinggang Santi, dan sebelah tangannya lagi menutupi kepala Santi, sambil berlari masuk kedalam mobil taksi yang baru saja datang menjemput mereka.


Santi terlihat menggigil kedinginan.


Kaus yang dipakainya cukup basah, mungkin karena ditambah dengan pendingin udara didalam mobil yang menyala, yang membuat tubuh Santi semakin gemetar hebat.


Anang memeluk Santi, sampai tersandar didada Anang, sambil menggosok-gosok lengannya.


Bukannya Anang tidak merasa dingin, tapi menghangatkan Santi dengan cara seperti itu, juga bisa membuat dirinya merasa sedikit hangat.


Yang paling penting, Anang bisa memeluk Santi tanpa Santi menolak, dan memasang wajah garang kepada Anang.


Lumayan saja 'kan?


Sampai mereka tiba dikost-kostan, Anang masih memeluk Santi.


Anang baru melepas pelukannya setelah mereka sudah didalam kamar.


Lebih tepatnya, Santi yang melepas pelukan Anang dari tubuhnya, dan berjalan masuk, terus sampai kekamar mandi, meninggalkan Anang sendiri, dengan kegalauannya.


Santi masih dikamar mandi, sampai Anang selesai mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana pendek.


Anang lalu melihat layar ponselnya.


Ada gelembung pesan masuk dari Gita, sekitar lima menit yang lalu.


Anang lalu menekan gelembung pesan, untuk melihat isi pesan Gita.


'Lagi dimana?' isi pesan Gita.

__ADS_1


'Dikost, baru saja kami pulang. Kenapa?' Balas Anang.


Tak lama, Gita membalas pesan Anang.


'Aku dijalan pulang dari kantor, Aku singgah disitu, nggak apa-apa?' isi pesan Gita


'Temanku tadi belikan martabak untukku, tapi kebanyakan kalau aku makan sendiri, sayang kalau hanya dibuang' Pesan Gita masuk lagi.


'Sekalian ngobrol sebentar' pesan Gita masuk beruntun, tanpa sempat Anang mengetik balasan untuknya.


'Terserah saja' Balas Anang.


Tidak sampai lima menit, pintu kamar kost diketuk dari luar.


Cepat amat?


Sudahlah...


Anang lalu berjalan dan membukakan pintu.


Gita sudah berdiri didepan pintu kamar, sambil memegang kantong plastik, dengan rambut dan baju atasannya yang agak basah dibagian bahunya, sampai hampir ke bagian dada.


Terlihat gemetar, suara gemeletuk gigi Gita sampai hampir terdengar Anang, ditengah berisiknya suara air hujan yang menyentuh atap bangunan.


"Masuk!" kata Anang.


Gita lalu berjalan masuk kedalam kamar.


Anang lalu mengambil satu kaus bersih miliknya dari dalam lemari.


"Ganti bajumu pakai ini saja dulu. Dari pada nanti masuk angin," kata Anang kepada Gita, yang sudah duduk dikursi, dan sudah meletakkan kantong plastik bawaannya keatas meja.


Gita lalu mengambil baju yang disodorkan Anang kepadanya, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Anang melihat Santi yang kembali sibuk dengan layar ponselnya, seakan tidak mau memperdulikan semua gerak-gerik Anang dan Gita disitu.


Baru saja Anang hendak menegur Santi, Gita sudah keluar dari kamar mandi dan berkata,


"Makasih ya!" sambil tersenyum manis.


Anang hampir tertawa melihat tubuh Gita yang hampir tenggelam dalam kausnya.


Wajar saja, ukuran badan Anang dibandingkan dengan Gita, jauh sekali bedanya.


Gita yang berbadan kurang lebih sama besar dan tinggi dengan Santi, pasti terlihat lucu kalau memakai pakaian Anang yang ukurannya jauh lebih besar darinya.


Anang lalu duduk dipinggir ranjang, disisi berseberangan dengan Santi.


Sedangkan Gita, menarik kursi lalu duduk hampir berhadap-hadapan dengan Anang.

__ADS_1


"Kamu nggak bekerja malam ini?" tanya Gita.


"Nggak. Tadi kelamaan distudio, sampai terlambat pergi ke undangan. Jadi kami langsung pulang saja" sahut Anang.


"Mau makan martabaknya sekarang? Mumpung masih panas," ujar Gita lalu berdiri, dan mengambil kantong plastik dari atas meja, dan membawanya mendekat ketempat Anang duduk


"Santi! Kamu mau?" tanya Gita.


Santi hanya mengangkat wajahnya sedikit, lalu menggelengkan kepalanya, dan kembali menatap layar ponselnya.


Mungkin karena Gita melihat Santi yang tampak tidak memperdulikannya, Gita juga ikut-ikutan bertingkah seolah-olah Santi tidak ada disitu.


Dengan santainya, Gita membuka kantong plastik, lalu mengeluarkan beberapa botol air mineral, dan kotak berisi martabak.


Gita juga memegang tangan Anang, lalu meneteskan cairan hand sanitizer dari botol kecil yang menggantung ditasnya, ke atas kedua telapak tangan Anang.


"Kamu sudah mulai rekaman?" tanya Gita, sambil meneteskan hand sanitizer keatas tangannya sendiri.


"Masih uji coba merekam single. Nggak tahu nanti gimana," sahut Anang, lalu mengambil sepotong martabak telur yang masih hangat, dan menyuapkannya kemulutnya.


Gita juga begitu. Dia mengambil sepotong martabaknya lalu memakannya.


"Baguslah... Kalau kamu sudah mulai rekaman, nanti lain lagi yang mengundangmu bernyanyi. Mungkin nanti kamu akan menggelar konser sendiri," kata Gita.


Gita terlihat senang, dengan peningkatan karir Anang, sampai dia hampir tidak bisa berhenti tersenyum.


"Mudah-mudahan saja berjalan lancar. Tadi saja aku sampai hampir kehabisan suara, gara-gara rekamannya yang diulang-ulang," kata Anang berharap.


"Amin!" ujar Gita.


"Waktu kamu balas pesanku tadi, aku sudah didepan kost ini. Hanya aku tadi ragu-ragu kalau langsung singgah, kalau-kalau kamu nggak ada disini," celetuk Gita.


"Iya. Kalau tadi jadi pergi keundangan, mungkin sekarang kami belum pulang," kata Anang sambil melihat ujung-ujung jarinya yang terasa sedikit kebas.


Gita lalu memegang tangan Anang, kemudian ikut melihat ujung-ujung jari tangan Anang.


"Kalau lama-lama bermain gitar, kulitnya akan jadi keras begitu ya?" tanya Gita sambil menatap jari tangan Anang.


"Iya," sahut Anang singkat.


"Aku mau belajar bermain gitar. Sakit nggak jarinya nanti?" tanya Gita kini sambil menatap wajah Anang lekat-lekat.


"Nggak juga. Kalau kamu mau, nanti kapan-kapan kalau kamu tidak sibuk, bisa aku ajari," sahut Anang.


"Sekarang bisa?" tanya Gita bersemangat.


"Hmm... Bisa. Sebentar!" kata Anang.


Anang kemudian berdiri, dan berjalan kesisi lain ranjang dimana Santi duduk, karena didinding dekat jendela, ada gitar Anang yang diberdirikan disitu tadi.

__ADS_1


Santi tetap tidak memperdulikan Anang yang melewatinya, seolah tidak melihat kehadiran Anang yang sekarang berdiri didekatnya, dan tetap melihat keponselnya.


Anang menghela nafas panjang, sambil melihat Santi yang masih tidak menghiraukannya.


__ADS_2