
Anang tidak mau berlama-lama melihat Gita.
Sudah cukup emosi Anang terkuras gara-gara tingkah Santi.
Anang tetap bernyanyi seolah hanya dia dan lagu itu yang hidup. Kedua wanita yang duduk berseberangan ujung ke ujung ruangan itu dianggap Anang, sebagai boneka yang tidak punya hati.
Baik Gita ataupun Santi, sama-sama hanya membuat Anang kesal.
Apalagi saat melihat Santi dengan santainya, tersenyum dan tertawa dengan seorang laki-laki, yang sekarang sedang berbincang-bincang dengannya.
Hey!
Kenapa perhatian Anang fokus kepada Santi?
Anang memang sudah gila.
Anang kemudian memejamkan matanya sambil terus bernyanyi.
Tinggal dua lagu lagi, jangan sampai rusak konsentrasi gara-gara dua wanita itu, terlebih dengan senyum nakal Santi, yang seakan sedang menggoda laki-laki yang bersamanya sekarang.
Ah, Mulai lagi.
Satu lagu selesai dinyanyikan Anang, sukses tanpa kendala.
Anang membuka matanya, lalu mengambil air mineral, dan meminumnya, sambil melihat ketempat Santi duduk tadi.
Hilang!
Kemana perginya wanita itu?
Anang melihat kesekelilingnya, batang hidung mancung Santi masih tak terlihat.
Gita juga sudah tidak terlihat ditempat dia duduk tadi.
Masih satu lagi lagu yang harus Anang nyanyikan, dan Santi mungkin sudah mendapat target yang menarik untuknya.
Anang menghela nafas panjang, bersiap menyelesaikan pekerjaannya malam ini.
Lagu terakhir ini lagu cinta yang manis, dan tampaknya tidak cocok dengan perasaan Anang saat ini.
Tapi Anang profesional, salah seorang wanita yang cukup cantik, yang sedang menontonnya bernyanyi, jadi bayangan Anang untuk lagu itu.
Akhirnya semua lagu pesanan yang harus Anang nyanyikan berhasil dinyanyikan, dan mendapat sambutan meriah dari penontonnya.
Anang buru-buru turun dari panggung.
Rasa lelahnya membuat Anang ingin segera pulang, dan meluruskan punggungnya diranjang.
Apalagi sekarang matanya sudah terasa kering, karena menahan kantuk.
Tapi, bagaimana Anang bisa pulang?
Ponselnya tadi dipegang Santi, sedangkan alamat tempat kost barunya belum dihapal Anang.
Benar-benar menjengkelkan, meskipun itu kesalahan Anang sendiri, yang mulai bergantung dengan Santi.
__ADS_1
Anang mencari-cari dimana Santi, tapi tetap tidak terlihat.
"Bro! Ini bayarannya," kata seorang laki-laki yang tampak sebaya dengan Anang, yang mengundang Anang malam ini, sambil menyodorkan selembar amplop kepada Anang.
"Terimakasih! Apa kamu melihat wanita yang datang denganku tadi?" tanya Anang menerima amplop pemberian laki-laki itu, lalu memasukkannya kedalam saku celananya.
Laki-laki itu terlihat seperti sedang berpikir, sebelum akhirnya dia berkata,
"Kalau tidak salah tadi, aku lihat dia kebelakang. Mungkin lagi ke toilet,"
"Oke, Bro, Makasih ya! Aku mau bertemu rekan-rekan kerjaku sekarang," sambung laki-laki itu, sambil berjalan dan mengacungkan jempolnya kepada Anang.
Anang dengan menenteng gitar ditangannya, kemudian berjalan tergesa-gesa kebagian belakang tempat itu, sesuai dengan arahan laki-laki tadi.
Anang berharap kalau Santi memang hanya pergi ke toilet, dan bukannya sudah menari striptis diatas laki-laki yang menarik perhatian Santi.
Tepat didepan pintu bersimbol perempuan, Santi terlihat berdiri disitu.
Santi bersama dengan seorang perempuan yang sedang berdiri didepannya, yang wajahnya tidak dapat dilihat Anang, karena posisinya yang membelakangi Anang.
"Santi! Aku mau pulang sekarang! Kamu ikut?" seru Anang sambil berjalan mendekat.
Perempuan didepan Santi berbalik, dan ternyata itu adalah Gita.
Apa yang mereka berdua lakukan disitu?
Mengobrol?
Sejak kapan Gita dan Santi saling kenal?
"Wanita itu menyukaimu," kata Santi sambil berbisik ditelinga Anang.
Gita tampak sangat kesal, kemudian ikut menghampiri Anang yang sudah berhenti berjalan karena dipeluk Santi.
Pernah ketemu pacar obsesif? Atau posesif yang berlebihan?
Gita adalah contohnya, meskipun saat ini dia tidak pacaran dengan Anang.
Gita menarik bahu Santi sampai melepas pelukannya dari Anang, lalu mengambil gitar dari tangan Anang yang termangu melihat tingkah aneh dua wanita itu, yang tidak dapat dia mengerti apa maksud semuanya.
Gita membanting gitar Anang sampai rusak.
Usia gitar Anang yang sudah lanjut, tidak mampu menahan tekanan saat dihempaskan kelantai, gitar itu patah jadi dua bagian.
Anang yang masih termangu, hanya bisa menatap teman seperjuangannya tewas dilantai.
Sampai Gita menariknya pergi dari situ, Anang seakan hilang kesadarannya, dan hanya mengikuti tarikan tangan Gita, sambil menatap gitar tuanya yang berantakan.
Sebelum Anang dan Gita berjalan terlalu jauh, Santi menahan sebelah tangan Anang sambil menyentaknya, dan membuat Anang tersadar, lalu berhenti mengikuti Gita.
Anang menepis tangan Gita, yang memegang tangannya erat-erat, sampai terlepas.
"Kenapa kamu membanting gitarku?" tanya Anang dengan suara bergetar, karena menahan emosinya.
Kalau Gita adalah seorang laki-laki, mungkin Anang sudah memukulnya saat itu juga.
__ADS_1
"Aku akan membelikanmu gitar yang baru. Ikut denganku sekarang!" ujar Gita yang terlihat sangat marah, dan mencoba memegang tangan Anang lagi.
Anang melenggangkan tangannya kesana kemari, menghindari tangan Gita yang mencoba memegangnya lagi.
"Ada apa denganmu?" suara Anang meninggi, dan menjadi perhatian orang-orang didekat situ.
Bahkan ada yang keluar dari toilet umum, sambil menonton adegan mereka bertiga.
Anang melihat kesekelilingnya.
Pandangan mata orang-orang disitu sedang melihat mereka bertiga, dengan tatapan penasaran.
Anang melihat Gita yang memegang kemejanya, sedangkan Santi masih memegang sebelah tangannya.
Memalukan!
Anang sekarang mungkin terlihat seperti laki-laki yang ketangkapan berselingkuh.
Berselingkuh?
Gila!
Rasanya mau saja Anang berteriak, kalau diantara kedua wanita gila itu, tidak ada yang jadi pacar Anang, agar orang-orang disitu berhenti menonton.
"Dia wanita gila!" bisik Santi dengan santainya ditelinga Anang.
Anang menoleh kearah Santi.
Santi sama saja gilanya!
"Lepaskan aku! Kita bicara diluar!" ujar Anang tegas, dan cukup membuat dua wanita itu melepaskan pegangan mereka dari Anang.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil berjalan duluan, sedangkan Gita dan Santi menyusul Anang dari belakang.
Gitar tua kesayangan Anang sudah berakhir perjuangannya, dan Anang tidak sempat menguburkannya dengan hormat.
Sekarang Anang memang bisa membeli gitar baru, tapi kenangan dengan gitar tuanya itu tidak tergantikan.
Anang tidak habis pikir, kenapa Gita sampai menghancurkan gitarnya, yang tidak tahu apa-apa.
Jangankan gitar, Anang saja tidak mengerti apa yang kedua wanita gila itu pikirkan.
Santi seakan sengaja memeluk Anang, untuk membuat Gita marah.
Tapi untuk apa Gita marah?
Bukannya waktu itu, dia menolak, bahkan menghina Anang?
Santi pun sama.
Untuk apa dia bertingkah seolah-olah berpacaran, atau akan berpacaran dengan Anang?
Anang tampaknya benar-benar akan masuk rumah sakit jiwa, bersama dua wanita itu.
Anang terus berjalan sampai keluar dari gedung, tanpa mau berbalik melihat Santi dan Gita, yang rasanya masih mengikuti langkahnya.
__ADS_1