
Hari ini, Anang tidak membantu disawah Tejo.
Karena, niat Anang untuk mencari, dan menanam padi Gogo dilahannya.
Tanpa menghiraukan raut wajah Tejo yang terlihat heran, saat mengobrol dengan Anang malam tadi, tentang menanam padi dilahan kering, masih pagi-pagi sekali Anang sudah berjalan mencari bibit padi ke kampung sebelah.
Anang memang langsung kesana, karena, menurut Tejo, penjual bibit dan pupuk dikampung Anang itu, pasti tidak menyediakan bibit padi jenis itu.
Dengan teh panas dan singkong goreng, yang jadi pengganjal perut Anang tadi, Anang berjalan dengan tenaga lebih, dan hampir berlari.
Atau mungkin karena Anang terlalu penasaran dengan tumpang sari padi itu, yang membuatnya berjalan dengan sangat cepat?
Yang jelas Anang mau menemukan bibit padi itu secepatnya, agar bisa dia coba tanam hari ini.
Setibanya di toko penyedia semua kebutuhan pertanian, Anang langsung bertanya kepada pemilik toko, kalau-kalau ada jenis bibit padi yang dia cari.
Anang mendapat jawaban mengecewakan.
"Disini tidak menyediakan bibit jenis itu!" kata pemilik toko itu.
Anang terdiam sambil memikirkan sesuatu.
"Begini saja. Masnya memang mau bibit itu ada sekarang?" tanya pemilik toko.
"Iya! Kalau bisa," sahut Anang.
"Sebentar! Saya coba hubungi kenalan-kenalan saya dulu! Siapa tahu ada dari mereka yang punya bibit itu. Tapi, meskipun ada, tetap Masnya harus menunggu, sampai tiba disini," ujar pemilik toko itu.
"Oh, nggak masalah!" sahut Anang.
Pemilik toko itu, kemudian terlihat sibuk menghubungi beberapa orang diponselnya, bergantian, setelah mempersilahkan Anang untuk duduk.
Sambil menunggu kemungkinan ada atau tidaknya bibit yang Anang cari, Anang melihat-lihat peralatan pertanian disitu.
Belum ada peralatan yang terlalu dibutuhkan Anang sekarang.
Kalau-kalau bibit padi yang dia cari bisa dia dapatkan, satu-satunya alat yang dia butuhkan, hanya sebatang tongkat yang bisa Anang buat sendiri, dari cabang pohon.
"Mas! Mau varietas unggul atau yang biasa?" tanya pemilik toko, sambil melihat Anang, dengan ponselnya yang masih ditempel ditelinganya.
"Eh! Saya mau yang varietas unggul!" sahut Anang.
Pemilik toko lalu menganggukkan kepalanya, kemudian lanjut bicara diponselnya.
"Harganya ( nilai uang ) per kilogram. Mas mau berapa banyak?" tanya pemilik toko itu lagi.
__ADS_1
Anang terdiam sebentar, sambil melihat layar ponselnya, memeriksa sisa uang ditabungannya.
"Seratus kilogram!" sahut Anang.
Kembali pemilik toko itu mengangguk, lalu lanjut bicara diponselnya sebentar, dan memutus panggilannya disitu.
"Mas! Benihnya bisa diantar nanti siang. Mas mau menunggu disini? Atau mau kembali kesini saja lagi?" tanya pemilik toko.
"Kalau diantar ke tempat saya, berapa dengan ongkos antarnya?" tanya Anang.
"Dikampung sebelah, ya? ( nilai uang ), mau?" tanya pemilik toko.
"Iya! Kalau begitu, apa aku langsung bayar atau nanti waktu benihnya diantar?" tanya Anang.
"Kalau bisa dibayar sekarang saja. Nanti saya buatkan nota pembayarannya," sahut pemilik toko.
Anang mengangguk setuju, lalu dengan mentransfer sejumlah uang, Anang diberikan nota pembelian dari toko.
Setelah berpamitan dan saling berterima kasih, Anang kemudian berjalan pulang ke kampungnya.
Benih yang dibeli Anang itu, hanya bisa untuk kurang lebih dua setengah hektar lahan Anang.
Harga benih itu cukup tinggi, tapi Anang yang benar-benar berniat untuk mencoba, tidak menyesal untuk mengeluarkan uang segitu banyaknya.
Kalau terlalu takut dan serba ragu, nanti Anang hanya akan berjalan ditempat, atau, bisa-bisa Anang malah berjalan mundur.
Membantu Tejo disawah, sambil menunggu benihnya datang.
Anang kemudian berjalan ke area persawahan milik Tejo, dimana Tejo sedang duduk diatas pondoknya, memandangi petani-petani yang bekerja disawahnya.
"Eh, kamu sudah kembali. Gimana? Benihnya ada?" tanya Tejo, ketika Anang sudah didekatnya.
"Ada. Tapi, nanti baru diantar. Soalnya benihnya dikirim dari tempat lain," sahut Anang.
Ketika Anang membuka kaus dan berencana untuk turun ke sawah, Tejo menahannya.
"Nggak usah, Nang! Kita pergi ke lahan sana saja! Aku mau memeriksa perkembangan pekerjaan mereka," kata Tejo, sambil menunjuk lahan tetangga.
"Kamu 'kan bisa pergi sendiri?!" sahut Anang heran.
"Nggak... Aku mau kamu bicara lagi dengan mereka, tentang padi dilahan kering. Aku masih penasaran," ujar Tejo.
Tejo memang terlihat kurang akrab dengan orang-orang itu, mungkin itu sebabnya, kenapa dia mau Anang yang bicara dengan pekerja-pekerja lahan itu.
Anang kembali memakai kausnya, lalu berjalan dengan Tejo, mendatangi kebun diseberang.
__ADS_1
Pekerja-pekerja lahan itu, terlihat sibuk bekerja ditengah lahan.
Mereka bekerja dengan baik, menurut penglihatan Anang.
Tampaknya mereka benar-benar sudah profesional.
"Kamu bilang mereka nanti diajarkan. Kalau seperti ini kerjanya, malah kelihatannya mereka jauh lebih mengerti daripada aku yang diajari Setyo kenalanku," celetuk Anang, saat melihat perlakuan, dan cara tanam bibit akasia dilahan itu.
"Yaa... Aku mana tahu. Aku kira mereka nanti perlu diajari lagi," sahut Tejo.
Anang dan Tejo, lalu menghampiri pekerja yang menanam padi dilahan itu, lalu Anang yang berbincang-bincang dengan orang itu, sambil Tejo mendengarkan pembicaraan Anang.
Tejo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, ketika mendengarkan pembicaraan Anang dengan orang itu, sambil mengikuti langkah pekerja itu, yang masih menanam benih padi, dengan berjalan pelan, dan berbincang-bincang dengan Anang.
"Pantas saja, si pemilik lahan membatalkan untuk membeli sawah. Ternyata, mereka sudah siap untuk menanam padi lahan kering," celetuk Tejo.
Anang tersenyum.
Kali ini, berarti Tejo baru yakin dengan omongan Anang semalam.
"Ada bibit singkong yang bagus didekat sini?" tanya Anang.
"Ada punya petani yang diujung sana. Dia menanam singkong mentega. Rasanya, kalau cuma meminta sedikit batangnya untuk bibit, dia mau saja memberikannya," sahut Tejo.
"Kamu mau menanam singkong juga untuk tumpang sari, seperti yang dia bilang tadi?" tanya Tejo.
"Iya! Benih padi yang bisa aku beli, hanya untuk kurang lebih dua hektar lahan. Sisa lahannya masih banyak," sahut Anang.
"Memangnya, berapa banyak benih yang kamu beli?" tanya Tejo.
"Seratus kilo," sahut Anang.
"Sebanyak itu, cuma bisa untuk dua hektar lahan?" tanya Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya. Kalau dari perkataannya kemarin, dan kami mencoba menghitung ulang bersama-sama, memang butuh banyak benih, dibandingkan dengan padi sawah," sahut Anang.
Tejo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mahal di benih, tapi murah diperawatan," celetuk Tejo.
"Bisa kamu temani aku pergi meminta bibit singkong?" tanya Anang.
"Bisa! Ayo kita pergi!" sahut Tejo, lalu berjalan bersama Anang menuju kebun yang memiliki singkong yang dimaksud Tejo.
"Pekerja-pekerja itu, tahu jauh lebih banyak soal perkebunan akasia..." celetuk Anang.
__ADS_1
"Memang kesempatan untukku biar bisa mendapat ilmu dari mereka. Mumpung mereka ada disini," celetuk Anang lagi.
Tejo hanya terdiam mendengarkannya, sambil terus berjalan bersama Anang.