
"Kamu kemana tadi siang?" tanya Anang, lalu menyuapkan sesendok penuh nasi goreng hangat, kedalam mulutnya.
Tenda penjual nasi goreng yang cukup ramai pengunjung, membuat Anang dan Santi hanya bisa makan di meja yang ada diluar tenda.
Uap panas yang keluar dari makanan pesanan mereka, terlihat mengepul ke udara.
Suhu malam itu memang cukup dingin, setelah baru saja diguyur hujan lebat.
Jalanan aspal basah yang hitam terlihat mengkilat, terkena pantulan cahaya lampu penjual makanan, yang berjejer dengan gerobak dan tenda seadanya.
"Aku pergi dengan Tom, temanku yang kamu lihat diperkumpulan gay tadi," sahut Santi yang juga terlihat cukup lahap memakan makanannya.
"Tom, mau melihat tempat itu dulu. Tapi karena kesulitan berkomunikasi, jadinya dia memintaku mengantarnya," sambung Santi.
"Lalu bagaimana dia dan teman-temannya bisa membuat janji disitu, sedangkan tempatnya saja dia tidak tahu?" tanya Anang.
"Aku yang memberitahu dengannya, kalau tempat itu biasa dipakai orang-orang seperti mereka,
Semestinya waktu kita pindah kost waktu itu, aku sudah mengantarnya kesitu,
Tapi, karena kita berdua sibuk sampai sore, aku nggak sempat mengantarnya. Makanya jadwalmu sudah ada, meski Tom belum tahu persis lokasinya," kata Santi menjelaskan.
"Terus kenapa mau dinyanyikan lagu Mister Grand?" tanya Anang lagi.
"Tom ada dikapal pesiar dengan kita waktu itu. Dia mendengar lagu cinta yang kamu nyanyikan, dan merasa itu adalah lagu yang bagus untuk foreplay," sambung Santi.
"Masih ada lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Santi, lalu menyuapkan sesendok terakhir sisa makanannya.
"Apa itu foreplay?" tanya Anang buru-buru.
Santi tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yang biasanya kita lakukan, sebelum kita berhubungan intim," kata Santi, tapi kali ini raut wajahnya tampak berubah, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya.
Anang sempat memperhatikan perubahan diwajah Santi, sebelum wanita itu kembali tersenyum kepada Anang.
"Kamu pulang tanpa menungguku tadi," ujar Santi.
"Eh. Aku pikir kamu sedang sibuk dengan teman laki-laki mu itu," sahut Anang.
Santi terlihat menghela nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.
Santi lalu melihat kesekelilingnya, Anang juga ikut melihat disekitar mereka.
Jalanan sudah terlihat sepi, meski malam belum terlalu larut, kurang lebih sekitar jam setengah sembilan malam.
Mungkin karena tadi sempat hujan, jadi orang-orang tidak terlalu berminat untuk jalan-jalan.
__ADS_1
"Kamu belum mau pulang? Apa kamu tidak ada janji dengan Gita?" tanya Santi tiba-tiba, saat Anang masih memandangi jalanan.
"Nggak ada, dia harus bekerja besok," sahut Anang.
Dengan wajah datar, Santi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa menanggapi perkataan Anang.
Kemudian Santi terlihat meneguk air mineralnya dari botol, sampai tertinggal separuh botol saja.
"Kenapa? Kamu mau pulang sekarang?" tanya Anang.
"Iya. Aku lelah," sahut Santi. Dia lalu berdiri dan berjalan meghampiri pedagang nasi goreng yang dimakan mereka tadi.
Anang melihat Santi yang tampak seperti sedang kurang bersemangat.
Tapi, Anang menganggap itu mungkin hanya karena Santi kelelahan.
Anang juga tidak berminat membahas kejadian tadi sore. Apalagi Santi juga terlihat tidak tertarik membahas itu.
Santi kemudian terlihat kembali ketempat Anang duduk, dan mengambil botol air minumnya yang isinya masih tersisa.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Santi yang masih berdiri.
Anang berdiri dari duduknya, lalu mengambil sisa air mineralnya yang belum habis dia minum, dan membawanya sambil berjalan dengan Santi.
"Belum pesan taksi?" tanya Anang sambil berjalan menyusuri trotoar, yang masih basah, bersama dengan Santi yang berjalan disampingnya.
"Sebentar! Kamu capek?" tanya Santi.
"Kalau begitu, kita jalan kaki dulu sebentar," kata Santi sambil memutar-mutar botol air ditangannya.
Ketika mereka sedang berjalan, terlihat ada beberapa orang yang keluar dari rumah ibadah yang tidak jauh dari pinggir jalan yang mereka lewati.
Santi lalu berbelok ke tempat itu, mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas selempang kecilnya, lalu memasukkan kedalam kotak kecil, yang ada didepan rumah ibadah itu.
Anang juga melakukan hal yang sama, sebelum mereka lanjut berjalan menyusuri trotoar.
Tidak jauh dari situ, terlihat ada pasar malam yang terang benderang, meski pengunjungnya hampir tidak ada terlihat.
"Mau singgah sebentar disitu?" tanya Santi.
Tanpa menjawab pertanyaan Santi, Anang memegang tangan Santi, lalu membawanya masuk ke area pasar malam.
Anang bisa melihat dari ujung matanya, kalau Santi sedang melihatnya sekarang.
Anang lalu merangkul pinggang Santi, sambil berjalan pelan, melihat-lihat wahana bermain sederhana untuk anak-anak.
"Sebentar! Aku mau cemilan," kata Santi yang tiba-tiba berhenti berjalan.
__ADS_1
Anang melihat stand yang berjualan camilan, yang berjejer rapi didekat mereka berdua.
Mereka berdua lalu menghampiri tempat yang berjualan makanan itu.
"Kamu mau apa? Aku mau gulali, kentang goreng, sosis bakar, sama popcorn," ujar Santi.
Tangan Anang yang masih merangkul pinggang Santi, menarik badan Santi sampai benar-benar bersandar dibadan Anang, dan membuat Santi menoleh lalu menatap Anang dengan wajah sangar.
"Jangan beli sosis! Yang lain saja," ujar Anang.
Setelah Anang selesai bicara, Santi tersenyum lebar, dan hampir tertawa.
Mungkin dia mengerti apa yang ada dipikiran Anang sekarang.
"Bu! Kentang gorengnya dua, popcorn dua, gulalinya juga dua," kata Santi kepada pedagang wanita yang menjaga tempat itu.
Setelah membayar belanjaannya, Santi langsung membuka satu bungkus gulali lalu mulai memakannya, sambil berjalan pelan.
Sedangkan Anang yang memegang bungkusan belanjaan, dan sebelah tangannya lagi masih tidak mau melepas rangkulannya dari pinggang Santi, hanya berjalan mengikuti langkah Santi.
Anang melihat-lihat beberapa anak-anak yang tampak senang, saat sedang bermain di istana balon.
Santi kemudian menyuapkan Anang sedikit gulali.
Ketika Anang memakannya, lalu melihat Santi, wajah wanita itu tampak senang, sambil tersenyum manis kepada Anang.
Rasanya Anang mau mencium bibir Santi saat itu, hanya Anang masih ingat kalau disitu banyak anak-anak.
Anang mengecup kening Santi pelan.
Tapi, tampaknya Santi tidak menyukai perlakuan manis Anang kepadanya.
Raut wajah Santi berubah drastis.
"Ayo kita pulang! sudah cukup jalan-jalannya," kata Santi sambil melepas tangan Anang dari pinggangnya, dan berjalan menjauh.
Anang sempat berhenti berjalan sebentar, karena merasa bingung dengan sikap Santi yang tiba-tiba berubah seperti itu, sebelum akhirnya dia menyusul Santi.
"Apa ada yang salah?" tanya Anang, ketika mereka sudah didalam mobil yang mereka tumpangi.
Santi hanya terdiam, dan tidak menjawab pertanyaan Anang.
Santi malah terlihat sibuk menatap keluar jendela disampingnya.
Begitu juga saat Anang mencoba memegang tangan Santi, wanita itu menarik tangannya seolah-olah tidak terima kalau Anang menyentuhnya.
Akhirnya mereka berdua hanya terdiam disepanjang perjalanan pulang, sampai mereka tiba dikost-kostan.
__ADS_1
Ketika masuk kekamar kost, Santi masih saja tidak mau bicara dengan Anang.
Ada apa lagi dengan Santi kali ini?