SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 80


__ADS_3

Ayah Santi ternyata sengaja mengundang teman-temannya, untuk memperkenalkan Anang kepada mereka.


Tidak masalah.


Hanya saja semua itu justru membuat Anang semakin rendah diri.


Ayah Santi yang notabene bukan orang dari kalangan rendahan seperti Anang, begitu juga dengan teman-temannya, membuat Anang merasa sangat canggung.


Pembicaraan orang-orang disitu, tidak ada yang bisa diikuti Anang.


Bukan hanya bahasa Inggris yang Anang tidak mengerti, pembahasan tentang hukum seperti yang sekarang orang-orang disitu bicarakan, juga tidak satupun yang dipahami Anang


Kalau tidak melihat Santi yang masih tampak bangga dengan Anang, mungkin Anang sudah berjalan keluar dari rumah itu, didetik itu juga.


"Ayo kita pergi ketaman disamping rumah. Aku mau menunjukkan sesuatu, dari pada bergabung dengan orang-orang tua, yang nggak bisa berhenti bicara tentang kriminal," kata Santi sambil menggandeng Anang.


Memang benar yang dikatakan Santi, sejak mereka semua selesai makan siang, yang bisa didengar Anang dari beberapa diantara mereka, hanya tentang siapa yang akan dipenjarakan mereka nanti.


Pengacara-pengacara seperti mereka tampaknya pemberani.


Bayangkan saja, bagaimana kalau melawan penjahat besar.


Apa mereka tidak takut penjahat itu mengganggu keluarga mereka?


Keberanian mereka patut Anang acungi jempol.


Taman disamping rumah Santi cukup luas dan asri.


Beberapa tanaman buah yang tampaknya hasil rekayasa genetik, berjejer rapi didekat pagar tinggi.


Bunga-bunga yang bermekaran seakan tidak tergoyahkan dengan musim penghujan, yang sering mengguyur kelopaknya tanpa ampun.


"Lihat! Disini aku sering menghabiskan waktu kalau lagi dirumah ini bersama almarhumah Mama." ujar Santi ketika dia dan Anang duduk diayunan yang diletakkan didekat kolam.


"Sayangnya, bunga-bunga yang ditanam Mama denganku, sudah pada mati semua." ujar Santi yang terlihat sedih.


"Aku yakin pasti si j*lang itu sengaja membiarkan bunga-bungaku itu mati," kata Santi.


Oh iya, perasaan, sejak Anang dan Santi tiba dirumah itu, Wina tidak kelihatan.


Wina juga tidak ikut makan siang bersama tadi.


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Santi.


"Nggak ada." sahut Anang.


"Si j*lang itu pasti sedang pergi berbelanja sekarang. Karena kalau tidak, dia pasti memamerkan kecantikannya didepan teman-teman Papa,


Dia pasti tidak menyangka kalau Papa akan mengundang teman-temannya makan siang bersama kita hari ini." kata Santi.


"Si j*lang itu pasti mengamuk kalau dia pulang nanti, dan semua teman-teman Papa sudah pada pulang," sambung Santi sambil tertawa kecil.


Anang tidak berani menanggapi perkataan Santi.

__ADS_1


Anang khawatir kalau-kalau dia salah bicara, lalu hanya membuat Santi marah kepadanya.


"Kenapa kamu hanya diam saja sejak tadi?" tanya Santi.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya bingung mau bicara apa," sahut Anang sambil mengangkat tangan Santi yang dipegangnya, lalu mengecup punggung tangan Santi.


"Didalam tadi kamu kelihatannya kurang nyaman ya?" tanya Santi.


"Iya. Maklum saja, orang yang nggak ada sekolahnya seperti aku, mana bisa nyambung dengan obrolan hukum orang-orang yang berpendidikan seperti mereka," sahut Anang.


"Nggak usah ditanggapi. Mereka memang sok-sok'an saja tuh. Biasanya juga ngobrol masalah 'mancing dimana nanti'," ujar Santi sambil tersenyum.


"Papamu hobi memancing?" tanya Anang.


"Iya, sama denganku." sahut Santi.


"Iyakah? Kamu hobi memancing juga?" tanya Anang dengan rasa tidak percaya.


"Iya. Aku hobi memancing keributan," sahut Santi.


Anang yang sudah menduga akan jawaban Santi, hanya bisa tertawa terbahak-bahak bersama wanita itu.


Santi lalu bersandar dilengan Anang.


"Kamu nggak menyesal kenal denganku?" tanya Santi.


"Menyesal? Kamu pasti bercanda." ujar Anang, lalu mengecup kepala Santi.


Santi memeluk Anang erat-erat.


Ah, Anang selalu saja lupa, kalau Santi tidak bisa dilarang.


Tanpa aba-aba, atau banyak bicara, Santi berpindah duduk keatas pangkuan Anang.


Sudahlah...


Kalau Anang melarangnya lagi, entah apa yang akan dilakukan Santi.


"Anang! Santi! Kenapa kalian berdua malah duduk diluar situ?" suara ayah Santi menarik perhatian Anang dan Santi, untuk melihat kerah pintu samping rumah.


"Ah, males aku didalam. Aku mau berdua saja dengan Anang disini," sahut Santi sebelum Anang sempat berkata apa-apa.


"Santi...!" ujar Anang pelan.


"Bodo amat. Males aku gabung dengan orang tua semua begitu. Yang penting 'kan mereka sudah melihat kita berdua tadi," kata Santi enteng.


Anang lalu melihat kearah ayah Santi, yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil berjalan kembali masuk kedalam rumah.


"Papamu mau kamu menghabiskan waktu dengannya. Apa kamu tidak tahu?" ujar Anang.


"Biar saja Papa menghabiskan waktu bersama Wina. 'Kan dia juga yang mau?!" ujar Santi ketus.


Santi memang terkadang bisa bersikap sangat dewasa, tapi kalau tentang urusan keluarganya, Santi tampak jadi kekanak-kanakan.

__ADS_1


Anang tidak bisa memaksa Santi.


Sudah syukur sekarang Santi mau menemui ayahnya lagi.


Mungkin saja dengan berjalannya waktu, hubungan mereka berdua bisa membaik, tanpa perlu Anang yang memaksa keadaan.


"Kamu mau minum sesuatu? Biar aku ambilkan sekalian," kata Santi tiba-tiba, sambil beranjak turun dari pangkuan Anang.


"Nggak ada. Terserah kamu saja," sahut Anang.


Santi kemudian berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Anang sendirian ditaman.


"Kamu sama seperti Santi?" suara wanita tiba-tiba mengejutkan Anang.


Wina tampak berjalan menghampiri Anang, lalu ikut duduk disamping Anang.


Tapi Anang langsung berdiri, dari tempat duduk itu.


Wina memang aneh, bagaimana kalau ayah Santi melihat dia duduk bersampingan dengan Anang sedangkan Santi tidak ada disitu.


Bukannya nanti bisa menimbulkan fitnah?


Anang berjalan menjauh dan memilih duduk di bangku taman biasa, yang ada didekat pagar dibawah pohon buah.


"Kenapa? Kamu takut Santi marah?" tanya Wina, setengah berteriak.


"Maaf. Aku hanya merasa kalau tidak pantas kalau aku duduk bersampingan begitu, saat Santi tidak ada disini," ujar Anang.


Untung saja, Santi terlihat kembali ketaman itu, sambil membawa dua kaleng minuman bersoda ditangannya.


Santi terlihat bingung karena Anang sudah berpindah tempat duduk, dan Wina yang menguasai tempat duduk mereka tadi.


Dari gelagatnya Santi, Anang merasa kalau Santi akan melabrak Wina disitu.


Dengan cepat, Anang berlari dan menahan langkah Santi yang berjalan mendekat ketempat Wina duduk.


"Jangan...! Nggak enak kalau Papamu melihat kalian bertengkar, lalu aku seolah-olah hanya membiarkannya saja." ujar Anang pelan, sambil memeluk Santi.


Meski dengan wajah yang masih merengut, Santi mau saja dibawa Anang untuk duduk dibangku yang ada didekat pagar tadi.


"Si j*lang itu selalu saja mencari-cari masalah denganku," kata Santi ketus.


"Sudah... Nggak usah ditanggapi." ujar Anang.


Tapi Wina tampaknya memang sedang menguji kesabaran Santi, tanpa ragu Wina berjalan menghampiri Anang lagi dan seolah-olah akan duduk dipangkuan Anang.


Tanpa aba-aba, Santi lalu berdiri dan menampar wajah Wina dengan keras.


Tidak ada satupun dari mereka yang perlu mengeluarkan kata-kata kasar atau makian, kedua wanita itu hanya memasang kuda-kuda untuk saling adu otot.


Kedua wanita itu hampir saja bergelut disitu, tapi Anang menggendong Santi, lalu membawanya masuk kedalam rumah.


"Turunkan aku! Wanita sial itu akan kuhajar tanpa ampun kali ini!" seru Santi dengan nada tinggi.

__ADS_1


Tapi Anang tidak menghiraukan Santi, dan tetap menahan Santi dalam gendongannya.


"Kita pamitan dengan ayahmu. Lalu kita pulang saja sekarang!" kata Anang.


__ADS_2