SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 158


__ADS_3

Setibanya di kampung, Anang mengganti bajunya, lalu pergi memeriksa pekerjaan yang dilakukan orang-orang dilahannya.


Baru saja Anang tiba diarea perkebunan, ponselnya berbunyi berulang-ulang.


Penjual lahan yang dibeli Anang yang menghubungi Anang.


Ketika berbincang-bincang diponsel, Anang jadi tahu kalau mereka sudah dikampung itu, bahkan mereka sudah menunggu dikantor kelurahan, untuk menandatangani perjanjian jual beli.


Anang memutuskan panggilan telepon, dan berjalan kembali menuju kekantor kelurahan.


Berarti, penjual tanah itu mungkin satu bus dengan Anang tadi, tapi karena Anang tidak tahu wajah penjualnya, jadi, Anang tidak menyadari keberadaan mereka disitu.


Setelah selesai mengurus semua berkas-berkas, sampai ke kantor kecamatan, Anang lalu mentransfer sejumlah uang, yang sudah jadi kesepakatan mereka, untuk harga tanah itu.


Semua pengurusan itu berlangsung tidak terlalu lama.


Karena ditengah hari, Anang sudah bisa kembali ke area perkebunan, yang sekarang sudah sah jadi miliknya, setelah menyampaikan salam perpisahan dan berterima kasih kepada si penjual, yang langsung pergi kerumah keluarganya.


Anang memeriksa jarak, dan cara tanam orang-orang yang bekerja disitu.


Kelihatannya, semua yang mereka kerjakan, sesuai dengan arahannya, yang diajarkan Setyo dua hari yang lalu.


Sudah banyak bibit yang sudah ditanam, dan benar-benar membuat Anang merasa senang.


Kalau begini saja terus, dalam waktu kurang dari sebulan, penanamannya sudah selesai dikerjakan.


Sambil memeriksa perkembangan pekerjaan orang-orang dilahannya, Anang berjalan-jalan sampai ke lahan tetangga, yang kelihatannya ditambah tenaga kerjanya.


Traktor yang berlalu lalang didalam lahan itu, bertambah jumlahnya, seakan-akan sedang mengebut, agar lahan itu cepat siap untuk ditanami.


Anang melihat Tejo berdiri didekat situ.


Tejo tampak santai, sambil mengawasi pekerjaan pembukaan lahan itu.


"Dikebut ya?" tanya Anang.


Tejo tampak tersentak, mungkin Tejo terkejut dengan suara dan tepukan Anang dibahunya, yang tiba-tiba.


"Iya. Pemiliknya mau buru-buru bisa kelar pengerjaan dilahannya ini," sahut Tejo.


"Bagaimana untuk penanamannya nanti? Bukannya masih banyak orang yang masih sibuk panen?" tanya Anang.


"Hmmm... Aku nggak perlu mengurusnya. Pemiliknya mendatangkan orang-orang dari pulau lain, yang juga akan diajarkan cara penanaman sampai pemeliharaannya nanti," sahut Tejo.


"Tuh, disebelah sana, akan dibuatkan barak untuk mereka tinggal. Karena aku belum ketemu rumah dikampung, yang mau dijual orang," sambung Tejo, sambil menunjuk kearah yang berbatasan dengan lahan milik Anang, yang sekarang sudah bersih dari semak belukar.


Kalau begitu, pemiliknya memang sudah memikirkan matang-matang semuanya.


"Aku hanya perlu mencari tukang bangunan, yang bisa mengerjakan barak sederhana, untuk ditinggali pekerja-pekerja lahan nanti," kata Tejo lagi.

__ADS_1


Anang jadi ingat sesuatu.


"Di sawahmu belum ada yang bisa dikerjakan?" tanya Anang.


Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Belum. Masih menunggu orang-orang selesai panen," sahut Tejo.


"Kalau begitu, aku mau ikut bekerja di pembangunan barak itu nanti," ujar Anang.


Tejo terdiam, sambil melihat Anang.


"Boleh juga, tuh!" sahut Tejo.


"Besok, bahan-bahan bangunannya sudah akan diantar kesini. Paling-paling lusa, sudah mulai dikerjakan," sambung Tejo lagi.


Sebenarnya, Anang bisa membantu untuk penanaman dilahannya saja.


Tapi, berhubung orang-orang yang bekerja dengannya, meminta untuk memakai sistem borongan, jadi meski Anang membantu mereka, bayarannya tetap sama saja.


Kalau begitu, lebih baik kalau Anang bekerja yang lain saja 'kan?


Meski penghasilannya mungkin tidak seberapa, tapi paling tidak, bisa mengurangi pengeluaran dari tabungan Anang.


Dengan hasil bekerja yang lain, Anang bisa membantu Tejo, untuk memenuhi kebutuhan dirumahnya, dimana Anang juga ikut tinggal disitu.


Syukur-syukur, kalau ada kelebihan dan bisa Anang pakai untuk kebutuhan dirinya sendiri.


Disaat-saat tertentu, Anang bisa berjalan ke lahannya sebentar, sambil memeriksa perkembangan pekerjaan penanamannya.


Pilihan Anang sudah tepat bukan? ~


Demikian kelanjutannya, kegiatan Anang yang ikut bekerja di pembangunan barak, dalam beberapa hari selanjutnya, memang sesuai dengan bayangan Anang.


Bukan cuma Anang, Tejo juga ikut bekerja di pembangunan itu, sambil menunggu lahan sawahnya siap dikerjakan lagi.


"Aku mau ikut bekerja, sekalian belajar. Kalau-kalau rumahku ada yang perlu direnovasi, paling tidak, aku bisa biar sedikit-sedikit," kata Tejo, saat bekerja dengan Anang di pembangunan barak itu.


Kurang lebih dua mingguan, pembangunan baraknya sudah di tahap akhir, tinggal menyelesaikan toilet umum, untuk dipakai pekerja-pekerja lahan itu nanti.


Begitu juga lahan Anang, yang hampir selesai ditanami bibit.


Lahan tetangga yang luas, juga sudah bersih, dengan semak belukar yang sudah rata dengan tanah.


"Besok, pembangunan barak sudah selesai. Aku kembali, jadi pengawas sawahku lagi," celetuk Tejo, lalu tertawa, ketika Tejo sedang duduk bersantai dengan Anang diteras rumahnya malam itu.


"Kenapa kamu tetap meminta orang yang mengerjakan sawahmu?" tanya Anang, yang merasa kalau Tejo bisa mengelola sawahnya sendiri.


"Anang...! Kamu tahu 'kan, kalau dikampung begini, pilihan pekerjaan itu kurang? Jadi, anggap saja kalau aku sedang membantu memberikan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkannya," sahut Tejo.

__ADS_1


"Aku hidup sendirian, jelas ongkos hidupku nggak seberapa banyak. Sedangkan hasil dari sawahku itu, aku bersyukur selalu lebih dari cukup, meski aku harus membayar tenaga orang lain yang bekerja disitu," sambung Tejo lagi.


Anang tahu itu.


Anang hanya sempat mengira, kalau Tejo memang tidak terlalu berminat saja, untuk mengelola sawahnya.


Tapi, ternyata Anang salah menduga.


Niat dan tujuan Tejo melebihi dugaan Anang.


Meski laki-laki itu tampak hidup sederhana dan biasa saja, Tejo masih sempat memikirkan orang lain.


Tejo layak mendapat dua acungan jempol dari Anang.


"Kalau aku mau membagi hasil sawah kepada adikku, suaminya pasti melarangku...


Katanya bukan dia menolak rezeki, tapi, dia ingin terus berusaha agar dia bisa membahagiakan adikku, dengan hasil keringatnya sendiri," celetuk Tejo.


"Dan kelihatannya memang begitu... Karena selama beberapa bulan ini, adikku kelihatannya baik-baik saja, saat aku tiba-tiba kangen, lalu menghubunginya lewat video call," sambung Tejo.


"Dimana adikmu tinggal sekarang?" tanya Anang.


"Awal menikah mereka tinggal dirumah mertuanya. Tapi, suaminya mendapat pekerjaan yang bagus di provinsi lain. Jadi, sekarang mereka sudah menyicil rumah sendiri disana," sahut Tejo.


"Padahal, waktu aku melihat awal-awalnya menikah, aku sempat meragukan kemampuan iparku itu...


Ternyata aku salah besar...


Tekad laki-laki itu luar biasa...


Dengan awal bekerja hanya sebagai karyawan biasa di perusahaan, sekarang sudah bisa jadi pengawas lapangan," sambung Tejo.


"Jadi adikmu menikah dengan orang dari provinsi lain?" tanya Anang.


Tejo tersenyum lebar, dan hampir tertawa.


"Iya... Percaya nggak, kalau aku bilang mereka awal bertemu hanya lewat f*cebook?" ujar Tejo.


"Menurut adikku, kurang lebih setahun mereka pendekatan, dan iparku itu hanya sempat satu kali saja datang ke kampung ini, untuk menemuiku dan adikku...


Tanpa sepengetahuanku, dia sering mengirimi adikku uang, meski dia belum menikah dengan adikku itu...


Sampai waktunya dia mendapat cuti lama, lalu dia datang lagi kesini, sambil membawa keluarganya, dan meminta ijin denganku, agar bisa menikahi adikku...


Mereka menikah, dan sempat tinggal dua minggu disini, sebelum kembali ke daerahnya." Tejo bercerita, sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dua minggu lalu aku menghubungi mereka, dan ternyata mereka sedang membuat selamatan, untuk rumah baru, dan pekerjaan barunya, berikut juga karena adikku sekarang sudah 'berisi'...


Kata iparku, mungkin rezekinya jadi berlimpah-limpah, karena dia sekarang sudah berumahtangga..." sambung Tejo.

__ADS_1


Tejo menghela nafas panjang.


"Sayangnya, aku belum bisa seperti adik dengan iparku itu... Aku malah bercerai... Sekarang aku tanpa istri, juga tanpa anak..." celetuk Tejo, lalu tersenyum, meski terlihat seakan dipaksa-paksakan saja.


__ADS_2