
Di bandara, Anang dan Santi dijemput menggunakan minivan, yang kurang lebih bentuknya sama seperti van Miss Jordan waktu di Indonesia, meski ukurannya lebih kecil.
Untung saja didalam kendaraan yang bertuliskan Jordan and Henderson itu, memakai pemanas ruangan.
Anang sempat cemas kalau-kalau didalam van itu, akan sama dengan kendaraan kebanyakan di Indonesia yang menyalakan pendingin udara.
Kurang dingin apa lagi suhu disitu?
Kalau masih menyalakan pendingin udara, bisa-bisa Anang pingsan karena dingin.
Memang Anang masih bisa memeluk Santi, tapi dinginnya suhu, tetap tidak bisa ditolerir tubuh Anang.
Semi Blind Van, mungkin itu sebutan yang cocok bagi kendaraan yang dipakai Anang dan Santi kali itu.
Dari luar tidak terlihat apa-apa, tapi dari dalam, Anang bisa melihat dengan cukup jelas, apa saja yang ada diluar, yang dilewati kendaraan itu.
Sebenarnya kurang lebih sama saja dengan di Indonesia, kalau tidak ada sisa-sisa salju yang masih berhamburan dipinggir jalan.
Begitu juga dengan pohon-pohon yang cuma tertinggal batang dengan rantingnya saja, tidak banyak perbedaan yang berarti, yang bisa dilihat Anang.
Anang dan Santi dibawa disebuah gedung bertingkat, entah sampai berapa lantai, yang jelas kalau dilihat dari luar, bangunan itu cukup tinggi menjulang.
Mirip-mirip dengan kost-kostan tempat Anang dan Santi tinggal dulu, bedanya hanya tempat itu lebih rapat antara kamar yang berhadap-hadapan.
Ukuran kamarnya juga tidak terlalu besar, kecuali dalam kamar itu ada dapur mini, yang langsung mereka temui ketika membuka pintu masuk.
Setelah meletakkan koper-koper milik mereka berdua, kedekat lemari yang menjadi penghalang tempat tidur agar tidak langsung terlihat dari pintu masuk, Anang lalu melihat-lihat didalam situ.
Tidak perlu terlalu banyak berjalan, hampir semua bagian ruangan kamar, Anang sudah bisa melihat semuanya hanya dengan berdiri ditengah-tengah kamar itu saja.
Bisa dibilang semua yang dibutuhkan, lengkap dan ada didalam situ, sofa yang bisa untuk tiga orang duduk, meja lengkap berpasangan dengan dua kursi yang bisa dipakai makan, atau untuk sekedar menulis-nulis sesuatu disitu.
Mungkin karena ruangan itu hanya seukuran kamar, tapi dipaksa jadi seperti rumah sederhana, malah membuat ruangan itu terasa sesak dengan perabotan.
Anang menggeser kain gorden, yang menghalangi pandangan dari jendela keluar gedung.
Diluar jendela Anang bisa melihat dengan jelas, jarak bangunan dengan jalanan yang cukup padat kendaraan, sangat dekat dengan bangunan tempat mereka tinggal.
Hanya berbatas trotoar kecil, yang sekarang banyak orang-orang yang mengenakan jaket tebal dan panjang, berlalu-lalang disitu.
__ADS_1
Anang tidak tertarik untuk melihat keluar jendela lama-lama, seperti waktu mereka dikost-kostan mereka dulu.
Entah mengapa, perasaan Anang kalau di tempat itu, dia seperti sedang dikurung, meski kata Santi tadi, mereka bisa berjalan-jalan diluar nanti, asalkan Anang sedang tidak ada pekerjaan.
Setibanya mereka disitu tadi, sampai beberapa waktu berlalu, Anang tidak memperhatikan apa yang dilakukan Santi.
Sayup-sayup, Anang bisa mendengar suara Santi seperti sedang berbicara dengan seseorang diponselnya, sambil Santi bertelungkup diatas ranjang.
Nampaknya Santi sedang berbicara dengan ayahnya, kalau Anang sedikit menyimak pembicaraan Santi.
Anang merasa malas untuk membongkar koper, dan memilih duduk disofa, sambil melihat Santi berbicara diponsel, tanpa memperhatikan dengan baik semua yang dibicarakan Santi.
Santi berbicara diponsel cukup lama, sebelum dia terlihat meletakkan ponselnya dimeja kecil didekat ranjang.
"Sebentar!" kata Santi, lalu berdiri dari ranjang, berjalan kedekat pintu, dan menekan-nekan salah satu tombol, yang menempel di dinding dekat pintu kamar.
"Aku tadi lupa mengatur pemanas ruangan," celetuk Santi.
"Kamu sudah bisa membuka jaketmu," sambung Santi sambil membuka jaketnya.
Anang lalu membuka jaket panjang yang dia pakai, dan tetap memakai kaus berlapis kemeja, begitu juga kaus kakinya.
Sedangkan Santi, tampak membuka pintu kecil yang juga berdekatan dengan tempat tidur, lalu berjalan masuk kedalamnya.
"Keluar dingin-dingin begini?" tanya Anang sambil mengangkat alisnya.
Bukannya Anang tidak mau melihat-lihat diluar, tapi rasa dinginnya, membuat Anang merasa malas untuk keluar dari dalam kamar, yang suhunya sekarang sudah terasa normal bagi Anang.
"Atau kamu mau menunggu disini? Aku pergi sendiri saja," kata Santi yang sudah memakai jaket, dan syalnya lagi, lengkap dengan topi kupluk tebal.
Anang terdiam memikirkan apa dia akan ikut dengan Santi, atau menunggu sendirian dikamar.
"Aku ikut saja!" sahut Anang.
Daripada bengong sendiri didalam kamar, apalagi Anang tidak membawa gitarnya.
Apa yang bisa Anang buat didalam situ?
Kalau mungkin ada biar sedikit rasa mengantuk, mungkin Anang mau saja berdiam disitu, tapi rasanya mata Anang masih segar, karena terlalu banyak tidur di pesawat.
__ADS_1
Anang memakai jaket dan topinya lagi, sambil Santi membantu memasang syal dileher Anang.
"Pakai sarung tanganmu!" ujar Santi.
"Tapi kamu nggak pakai sarung tangan," sahut Anang.
Santi tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu belum pernah ditempat sedingin ini. Kalau kamu nggak tahan, bisa-bisa kamu kena pneumonia," ujar Santi.
"Kalau sampai sakit begitu, bagaimana? Kamu nanti nggak bisa nyanyi, malah bisa-bisa tidur di rumah sakit. Mau?" sambung Santi lagi.
Anang menggelengkan kepalanya.
"Makanya... Turuti saja apa kataku, ya?!" kata Santi, lalu mengecup bibir Anang, dan memeluknya erat-erat.
Ketika mereka keluar dari kamar, memang masih dingin dirasa Anang, meski dia sudah memakai pakaian lengkap seperti itu.
Sedangkan Santi terlihat biasa saja, meski tanpa memakai sarung tangan.
Dengan jari jempol yang diacungi kejalan, Santi menghadang taksi sedan berwarna kuning.
Setelah mereka masuk didalam mobil, Santi lalu berbicara dengan supirnya.
"Aku nggak bawa mata uang disini. Jadi nanti selesai belanja, kita ke mesin penarik uang...
Sebenarnya bisa memakai kartu untuk berbelanja atau Qris, tapi ada beberapa tempat belanja sederhana, yang masih meminta uang kes," kata Santi.
Anang hanya mendengarkannya saja, meski dia tidak mengerti sebagian dari apa yang Santi katakan.
Mereka diturunkan disebuah toko yang cukup besar, dan ketika masuk kedalam sana, banyak peralatan rumah tangga yang dijual disitu.
"Bantu aku mencari... Aku mau beli keran cabang, sekalian dengan jet shower..." ujar Santi.
"Kamu nggak mungkin tahan kalau cuma memakai tissue 'kan?" sambung Santi sambil tertawa, lalu melihat kearah bokong Anang, sebelum kembali melihat Anang.
Jelas, Anang nggak tahan.
Anang akan dengan senang hati membantu mencari keran dengan jet showernya disitu.
__ADS_1
Santi juga membeli kunci pipa berukuran sedang untuk mengganti keran, berikut juga panci dan beberapa peralatan masak berukuran kecil.
"Lebih baik kita memasak sendiri kalau disini, meski hanya makanan sederhana. Kebanyakan makanan yang dijual, tidak bisa kita makan," kata Santi, ketika Anang membawa barang-barang belanjaan mereka.