SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 26


__ADS_3

Kata Santi, dia hanya akan menemani Anang saja.


Bisa dipercaya?


Kalau tangan Santi yang sibuk meraba-raba didalam boxer Anang itu dinamakan menemani saja, berarti Santi tidak berbohong.


Anang yang merasa geli, tidak bisa memainkan gitarnya dengan baik.


Permainan tangan Santi didalam boxer Anang, masih lebih lancar daripada permainan jari tangan Anang diatas senar gitar.


"Santi! Aku nggak bisa konsentrasi!" ujar Anang.


"Benarkah?" ujar Santi enteng.


Kira-kira Santi akan berhenti mengocok telur?


Jangan bercanda!


Tangan Santi malah makin rajin mengaduk agar kuenya cepat mengembang.


Tampaknya Santi merasa rugi kalau pekerjaannya tanggung-tanggung, sudah terlanjur...


Harus berhasil! Iya 'kan?


Anang berdiri dari duduknya, lalu membuka pintu kamarnya, dan dia mengintip keluar. Hujan yang tadinya hanya gerimis saat Santi datang, sekarang sudah makin lebat.


Anang tidak bisa menyuruh Santi pulang kalau begitu.


Santi tampaknya tidak terima kalau Anang terlalu lama berdiri menjauh. Mungkin dia khawatir kalau-kalau kuenya nanti jadi bantat, Santi ikut menyusul Anang, lalu berdiri disela antara Anang dengan pintu.


"Kamu ngapain berdiri disini lama-lama?" tanya Santi, sambil mendorong pintu dengan punggungnya, sampai kembali tertutup.


Anang melihat Santi yang tampak sudah tidak sabaran. Seperti singa betina kelaparan, atau kucing kecil nakal yang lapar, memaksa mencuri apa yang dia inginkan.


Anang hanya bisa pasrah, saat Santi membuka semua yang ada, selain pintu yang tetap ditutup Santi rapat-rapat.


Santi memang keterlaluan.


Kasihan Anang yang dibuat Santi begitu, sampai mengeluh bersama-sama Santi.


Tapi mau bagaimana lagi? Hampir semua gaya yang pernah dilihat Anang bersama Mandor diponselnya, sudah Anang coba.


Anang harus mencari referensi baru.


Heh, Salah! Bukan begitu ya!


Yang benar itu, Anang harus istirahat.


Anang merasa lututnya mulai sakit. Kasur kapuk tua yang sudah tipis itu sepertinya nanti harus dia ganti dengan yang baru, kalau mau lebih nyaman beraksi.


Ehheem... Maksudnya, nyaman tidurnya.


Anang tergesa-gesa agar cepat sampai ditujuannya, biar dia bisa berbaring dulu biar sebentar.


Meski Anang sudah merintih lalu berbaring terlentang, apa Santi akan merasa cukup?


Sudahlah... Macam tak tahu Santi saja.


Hujan diluar terdengar mulai reda.


"Kamu belum mau pulang?" tanya Anang.


"Nanti saja," sahut Santi.


"Masih bisa lagi 'kan?" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Bentar dulu ya! Aku istirahat sekalian latihan laguku dulu sebentar. Kamu capek juga 'kan? Nanti baru kita lanjut lagi," ujar Anang.


Santi mengangguk pelan.


Akhirnya Santi bisa juga terkapar, jadi Anang bisa berlatih lagu-lagunya lagi. Meski Santi yang masih polos tetap berbaring dikasur, Anang yang duduk membelakanginya, bisa memegang gitarnya dulu.


Talenta Anang dibidang musik, memang patut diacungi jempol. Sebentar saja dia mendengar dan mencoba lagu-lagu baru, dia sudah bisa menghapalnya.


Anang yang bisa dengan mudahnya kembali konsentrasi mempelajari lagu baru, mungkin karena sudah bakatnya, atau mungkin karena sudah lega setelah memuaskan Santi dan dirinya sendiri.


Anang mengambil kesempatan sebaik-baiknya saat Santi masih kelelahan.


Lumayan hampir lebih dari satu jam, sebelum Santi mulai mengganggunya lagi.


Santi yang masih berjoget ria diatas Anang, kemudian harus terhenti tariannya karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Anang.


"Sebentar!" sahut Anang.


Meski wajah Santi tampak kecewa, untungnya dia mau saja berhenti menindih Anang.


Anang buru-buru memakai pakaian dalam, boxer, dan kausnya, lalu membuka pintunya sedikit, untuk mengintip keluar.


Siapa yang bertamu ketempat Anang?


Selama beberapa waktu ini, hanya Santi tamu yang tidak diundang yang mengunjungi Anang.


Gita.


Duh, Gusti...


Setelah beberapa hari tidak ada kabarnya.


Apa yang dia lakukan disini?


Anang berusaha menutup sela pintu yang terbuka sedikit dengan tubuhnya.


Jangan sampai Gita melihat Santi yang tanpa busana didalam situ.


Tapi sebelum Anang menyapanya, tiba-tiba Gita buru-buru berbalik dan berjalan pergi, sebelum sempat berkata apa-apa.


Anang mengejar Gita yang setengah berlari meninggalkan Anang.


Anang menahan tangan Gita, sampai Gita tidak bisa berjalan, dan hanya bisa berusaha menepis tangan Anang dari tangannya.


"Lepaskan tanganku!" kata Gita.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Anang.


"Lepaskan aku!" seru Gita lagi, suaranya kini cukup nyaring didengar, sampai menarik perhatian tetangga-tetangga Anang.


Anang yang melihat tetangga-tetangganya seakan berniat menonton mereka disitu, kemudian menarik tangan Gita sambil berjalan, agar Gita ikut dengan Anang.


"Lepaskan aku! Kamu mau membawaku kemana?" ujar Gita, tapi tetap mengikuti langkah Anang yang menariknya.


Anang tidak bicara apa-apa, tetap saja berjalan dijalanan sempit dan masih berlumpur basah karena air hujan. Anang tetap terus berjalan menjauh dari kompleks kumuh itu, sambil tetap menarik tangan Gita.


Anang baru berhenti berjalan setelah mereka sudah jauh dari perumahan kumuh, dan menahan kedua tangan Gita sambil berdiri dipinggir lapangan sepakbola, yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal Anang.


"Kenapa kamu datang kesini?" tanya Anang sambil berusaha melihat wajah Gita yang sibuk memalingkan wajahnya kesana kemari, menghindari pandangan mata Anang.


Gita seakan mengunci mulutnya rapat-rapat, tidak mau bicara apa-apa.


"Gita! Kamu menghilang begitu saja. Tiba-tiba kamu kesini. Kenapa?" tanya Anang pelan.


"Kamu playboy, penipu, brengsek!" seru Gita, dengan suara bergetar sambil menatap Anang dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Gita terlihat sangat marah kepada Anang.


"Aku playboy? Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Anang tetap mempertahankan nada suaranya agar tetap pelan dan tidak mengasari Gita.


"Apa salahku?" sambung Anang.


"Kamu bilang kamu mencintaiku," Mata Gita terlihat mulai basah dengan air matanya.


Anang menghela nafas panjang.


"Aku memang mencintaimu. Tapi bukannya waktu itu kamu menolakku?" ujar Anang.


Gita terdiam, hanya air matanya saja yang menetes diwajahnya.


Anang lalu memeluk Gita yang tampaknya juga tidak menolak pelukan Anang. Anang memeluk Gita erat-erat.


"Siapa wanita yang tidur dikamarmu?" tanya Gita, sambil melepas pelukan Anang.


Anang tersentak.


Berarti Gita sempat melihat Santi tadi.


Habislah Anang kali ini.


Jujur... Tidak... Jujur... Tidak...


"Kamu mau aku jujur?" tanya Anang.


"Iya," sahut Gita tegas.


Anang merasa gamang.


Apa mungkin Gita percaya omongannya nanti? Atau Gita malah akan pergi saat itu juga.


"Siapa dia?" tanya Gita.


Wajah garang Gita, membuat Anang gemetaran.


"Anu... Dia Santi tetanggaku," jawab Anang ragu.


"Kalau kamu memang mencintaiku. Sebaiknya kamu bicara sekarang! Tidak mungkin kalau hanya karena dia tetanggamu, lalu bisa tidur dikamarmu!" ujar Gita.


Anang hanya bisa terdiam.


Astaga!


Kenapa Gita datang disaat yang tidak tepat seperti ini? Saat Anang sedang berjuang memuaskan kegila'an Santi?


Apa yang harus Anang katakan?


Ooh, Itu nggak ada apa-apa, Anang hanya membantu melayani hiperseksual Santi... Begitu?


Gita pasti akan mengira, kalau Anang sama gilanya dengan Santi.


"Apa kamu berhubungan intim dengannya?" pertanyaan Gita membuyarkan pikiran Anang.


Anang masih terdiam.


Gita tampak sangat gusar. Matanya bergerak liar, melihat kesana kemari.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Gita.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau mempermainkanku?" tanya Gita setengah berteriak.

__ADS_1


__ADS_2