
Meskipun sudah semakin sore, pengunjung dipantai seakan tidak merasa bosan, belum banyak yang beranjak pulang, dengan busana minim masih berseliweran disana-sini.
Malah kelihatannya, pengunjung yang ada, justru bertambah banyak.
Anang yang khawatir kalau-kalau dia nanti berpikiran yang tidak-tidak lagi, lebih banyak melihat kearah laut lepas, atau melihat Santi yang asyik bermain pasir, sambil duduk diatas pasir beralaskan sendal Anang.
Tapi tetap saja, namanya juga pantai, tempat orang berenang, bermain air, bersantai, berjemur, tidak mungkin Anang mengharapkan orang-orang disitu memakai setelan jas dan gaun.
Sesekali, baik pengunjung laki-laki atau perempuan, ada saja yang lewat didepan Anang dan Santi, dengan daerah rawan konflik yang hampir menyembul keluar, dari bikini yang mereka pakai.
Bukan hanya Anang yang jelalatan, Santi juga sama.
Anang menepuk jidat.
Meskipun Santi hanya memandangi model pakaian dalam laki-laki, yang berjalan santai didepan mereka, dan sesekali balas tersenyum saat para lelaki itu tersenyum kepadanya, tetap saja hal itu menjengkelkan bagi Anang.
Oke, Anang memang egois.
Anang juga memandangi wanita kulit putih kemerahan yang hampir tidak tertutup apa-apa, tapi Anang tidak terima kalau Santi ikut-ikutan memandangi versi pria-nya.
Tapi rasanya semua laki-laki didunia ini, memang memiliki sifat seperti Anang.
Laki-laki suka cuci mata, tapi cemburu kalau pasangan wanitanya cuci mata.
Berarti ketidak sukaan Anang, saat Santi menatap laki-laki lain, masih wajar saja 'kan?
Lebih baik Anang dan Santi, sama-sama menjauh dari godaan-godaan itu.
"Kulitmu nggak pedih, kah?" tanya Anang, mencoba mencari-cari alasan, agar mereka bisa memilih tempat lain untuk bersantai.
"Nggak! Kalau kamu mau kembali ke van duluan, pergi saja, nanti aku menyusul!" sahut Santi.
Hah?
Apa Anang tidak salah dengar?
Anang akan membiarkan Santi sendiri disitu?
Jangan bercanda!
Bisa-bisa, Santi tidak menyusul Anang selamanya.
"Aku haus...!" ujar Anang beralasan lagi.
Santi menoleh kearah Anang sebentar, lalu mengela nafas panjang.
Ckckck...
__ADS_1
Seberat itu kah Santi meninggalkan pemandangan dipantai?
Santi memang mau digigit Anang kalau begitu.
Meski terlihat enggan, Santi akhirnya berdiri, dan memegang tangan Anang, lalu membawa Anang berjalan lagi dengannya.
"Kamu mau minum apa? Minuman manis atau air biasa saja?" tanya Santi, yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Anang.
"Hmm... Terserah saja! Yang penting bisa minum!" sahut Anang.
"Kalau cuma terserah, minum didalam van saja! Kamu juga harus bersiap-siap untuk tampil di event nanti..." ujar Santi.
Anang harus bekerja lagi.
Lumayan saja sempat mengurangi kebosanan, dengan mencuci mata dipantai tadi.
Sekembalinya didalam van, kendaraan mereka kemudian mulai melaju lagi dijalanan.
Tidak terlalu lama, mereka sudah tiba di gedung bertanda nama 'El Rey'.
Gedung yang menjadi tempat digelarnya event tempat Anang tampil, untuk yang terakhir diminggu itu.
Tempatnya tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan beberapa tempat yang Anang singgahi kemarin-kemarin.
Dengan menumpang mandi dan berganti pakaian di gedung itu, Anang bersiap-siap untuk mempertunjukan kemampuannya didepan para penonton.
Rasanya di event kali itu, Anang lebih tenang dari pada biasanya.
Anang bisa tampil dengan tenang dan percaya diri, didepan para penonton yang tampak antusias saat Anang mulai bernyanyi, sampai lagunya usai.
"Ada artis Hollywood diantara penonton itu!" ujar Santi bersemangat, setelah Anang turun dari panggung.
Santi menunjuk dengan matanya kearah seseorang, yang tampak menikmati penampilan orang-orang yang bernyanyi diatas panggung.
"Siapa?" tanya Anang.
Yang Anang tahu dengan baik, hanya Chuck Norris, dan kelihatannya orang itu bukan aktor yang Anang kenal.
Santi menghela nafas panjang, sambil menatap Anang.
"Sudahlah... Kita kembali ke van saja!" ujar Santi sambil menarik lengan Anang, agar ikut berjalan keluar dari gedung bersamanya.
"Sudah selesai 'kan?" tanya Anang.
"Iya! Untuk minggu ini... Nanti istirahat sehari, besoknya kerja lagi," sahut Santi, sambil melangkah masuk kedalam van.
"Melelahkan, bukan?!
__ADS_1
Masih enak kalau bekerja dengan pak Robi... Label yang bekerja keras untuk mempromosikan lagunya, kalau dengan Miss Jordan, kebalikannya...
Sedangkan untuk royaltinya, perhitungannya kurang lebih saja... Kelihatannya saja yang besar, tapi tidak sesuai dengan kerja kerasnya," kata Santi.
Anang hanya terdiam mendengar semua perkataan Santi.
Memang kalau dibandingkan dengan kontrak dilabel pak Robi, jauh lebih ringan kerjanya.
Anang masih bisa mencari hasil tambahan diluar, dengan jadwal yang tidak dipaksa-paksakan.
Tahu-tahu lagu Anang sudah terkenal, tanpa perlu Anang yang sibuk promosi kesana-kemari.
Juga rasanya waktu rilis single di label pak Robi, tidak memakan waktu lama, lagu Anang sudah bisa menembus pasar musik.
"Apa ada yang kamu tahu tentang penyanyi yang bekerja dengan Miss Jordan?" tanya Anang penasaran.
"Hmmm... Kalau yang ditarik paksa seperti kamu, rata-rata berakhir begitu saja. Mungkin karena penyanyi-nya nggak bisa mengikuti irama kerjanya,
Atau mungkin juga karena Miss Jordan hanya suka mengambil keuntungan saat penyanyi-nya masih diatas saja," sahut Santi.
Meskipun Anang mau jadi penyanyi terkenal, tapi kalau begini cara kerjanya, rasanya Anang tidak sanggup.
Dalam satu minggu ini saja, Anang sudah beberapa kali hampir jatuh sakit.
Kalau tubuhnya tidak dipaksa dengan vitamin dan suplemen yang diberikan dokter Miss Jordan, mungkin Anang sekarang sudah terkapar.
Bahkan sekarang, mungkin karena Anang yang kurang tidur, membuat pikiran dalam kepalanya terasa aneh, seolah-olah akan berhalusinasi disaat-saat tertentu.
Anang tidak mungkin mengeluh.
Sedangkan Anang tidak mengeluh saja, Santi masih ekstra mengurus Anang.
Apalagi kalau Anang sampai mengeluh, Santi pasti jadi lebih khawatir, dan mungkin tidak sempat memikirkan dirinya sendiri lagi, dan hanya terfokus kepada Anang.
Perjalanan mereka kembali kekota, dimana ada apartemen tempat Anang dan Santi tinggal lumayan memakan waktu lama.
Anang sempat tertidur, dan terbangun beberapa kali sebelum mereka tiba didepan gedung apartemen.
Baik Anang maupun Santi, hampir tidak bisa lagi melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Lelah, bosan, kurang makan, kurang tidur, menjadi penyanyi mulai menjadi hal yang menjengkelkan bagi Anang.
Membayangkan masih harus terus bekerja yang tidak mengenal jam seperti itu, benar-benar membuat Anang merasa ingin menyerah saja.
Tapi mau bagaimana lagi?
Kalau Anang waktu itu tidak menerima kontrak Miss Jordan, bisa-bisa Anang dipenjara, dan mungkin juga masih harus membayar denda yang cukup lumayan besar, kalau tuntutan dimenangkan label Miss Jordan.
__ADS_1
Begitu juga ikatan kontrak dengan label Miss Jordan, yang tidak bisa diputuskan Anang begitu saja.
Mau tidak mau, Anang harus menjalani saja pekerjaan itu meski dengan rasa terpaksa.