
Anang memperhatikan bekas luka lebam yang diperlihatkan Santi kepadanya, ketika Santi sudah tenang, dan berhenti menangis.
Ternyata lebih banyak lagi dari yang sempat dilihat Anang sebelumnya.
Anang benar-benar tidak tega melihat lebam biru keunguan yang ada dihampir semua bagian tubuh Santi. Lengan bagian dalam, dipaha, bahkan ada juga yang dibawah buah dadanya, hampir keperutnya.
"Aku tadi malam sempat papasan dengan laki-laki yang berlari keluar dari pemukiman. Apa mungkin itu yang melakukannya?" ujar Anang.
"Mungkin. Kalau nggak salah sekitar jam satu tadi malam, aku sampai disini. Waktu aku baru saja masuk, dia langsung ikut menerobos masuk," ujar Santi
Anang bisa melihat ketakutan diraut wajah Santi, apalagi Santi terlihat masih gemetar.
"Kamu masih akan bekerja malam ini?" tanya Anang.
Santi menggelengkan kepalanya.
"Kayaknya besok saja. Aku takut kalau-kalau ada yang melihat bekas luka ini lalu mereka ikut-ikutan memukulku," ujar Santi sambil duduk menekuk lututnya sampai kedadanya.
"Kamu mau ikut denganku?" tanya Anang dengan rasa tidak percaya dia telah mengajak Santi bersamanya.
"Ada yang memintamu bernyanyi atau mengamen dijalan?" Santi balik bertanya.
"Bernyanyi diundangan, hanya aku tidak tahu acara apa. Cuma diminta menyiapkan banyak lagu berbahasa Inggris," kata Anang.
"Hmm... Kalau begitu, aku mau ikut," ujar Santi.
Anang meraba-raba saku celananya. Ponselnya tampaknya tertinggal disaku jas yang dia pakai tadi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Anang.
Santi kemudian mengambil ponselnya, lalu melihat dilayarnya.
"Sudah hampir jam setengah lima," kata Santi.
"Kalau kamu mau ikut. Kamu siap-siap saja ya?! Nanti aku singgah kesini," ujar Anang.
Anang lalu berdiri dari duduknya.
"Aku balik dulu. Aku mau mandi," kata Anang.
Santi hanya menganggukkan kepalanya.
Anang kemudian berjalan keluar dari kamar sewa'an Santi.
Tidak sempat lagi bagi Anang untuk menghapal lirik-lirik lagu yang akan dia nyanyikan nanti malam.
Buru-buru Anang kembali kekamarnya, lalu turun kesungai untuk mandi.
Waktu melihat jam dilayar ponsel, sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluhan.
__ADS_1
Hampir jam enam.
Gara-gara anak-anak dirakit tadi tidak mau memberi sela bagi Anang mandi, Anang jadinya harus menunggu mereka cukup lama sampai mereka selesai dulu.
Setelah sudah merasa siap untuk pergi dan mengecek semua yang perlu dia bawa, gitar, ponsel, dan beberapa lembar uang untuk ongkos ojek dua orang, Anang lalu mendatangi kamar Santi.
"Santi! Kamu sudah siap?" tanya Anang dari depan pintu kamar Santi, sampai setengah berteriak.
"Sudah! Tunggu sebentar! Aku tinggal menyiapkan tasku!" sahut Santi dari dalam kamarnya.
Tidak lama, Santi sudah membuka pintu. Setelah keluar, dan menutup pintunya lagi. Santi lalu memegang tangan Anang, sambil setengah menarik Anang berjalan.
Bagaimana Santi tidak menarik Anang untuk berjalan, kalau Anang malah melamun saat melihat Santi?
Mata Anang hampir tidak bisa berkedip saat melihat Santi yang tampak anggun dan elegan.
Penampilan Santi saat ini, jauh sekali dari dandanannya yang biasa, saat dia akan pergi bekerja.
Santi memakai gaun pas badan tanpa lengan, dan terbuka dibagian belakang gaun yang memperlihatkan punggungnya, panjang gaunnya sedikit dibawah lutut, dengan sepatu berhak tinggi.
Riasan wajahnya juga tampak tipis natural, dengan rambut hitam panjangnya yang digerai, dan ditarik kesalah satu sisi bahunya.
"Kita pakai taksi online saja," celetuk Santi, saat berjalan dengan menggandeng Anang.
Anang yang masih melirik Santi dengan lamunannya terkejut dengan perkataan Santi itu.
"Taksi online?" tanya Anang.
Anang lalu memperlihatkan alamat yang dikirim orang lewat ponselnya kepada Santi.
Santi lalu terlihat mengetik sesuatu diponselnya, dan tidak terlalu lama mereka berdiri dipinggir jalan raya, sebuah mobil berhenti didepan mereka.
Taksi?
Tapi malah mirip mobil pribadi.
Anang tidak sempat berpikir lama-lama, Santi sudah mengajak Anang masuk kedalam mobil itu.
"Sesuai aplikasi ya, Mbak?" tanya orang yang menyupir mobil itu.
"Iya, Mas!" sahut Santi.
Anang hanya terdiam.
Belum selesai Anang kebingungan melihat penampilan Santi, malah ditambah bingung dengan cara kerja yang namanya 'Taksi' ini.
"Kamu tadi kayaknya nggak sempat belajar lagu-lagu untuk kamu nyanyikan ya?" tanya Santi membuyarkan lamunan Anang.
"Eh, Iya. Kalau nadanya sebenarnya nggak terlalu sulit aku pelajari. Tapi liriknya itu yang sulit dihapal," sahut Anang.
__ADS_1
"Aku nanti membantumu disana. Asal kamu kasih tahu saja judul lagunya. Nanti aku carikan liriknya. Kamu nyanyi nanti pakai teks di handphone," ujar Santi santai.
Anang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tampaknya tidak ada ruginya membawa Santi bersamanya malam ini.
Apalagi, Santi terlihat cantik seperti wanita kelas atas.
Tapi, Santi memang wanita kelas atas, kalau bukan karena 'penyakit'nya, mungkin dia tidak akan berada dipemukiman kumuh itu.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan gedung yang sesuai dengan alamat yang didapat Anang, dari orang yang mengundangnya.
Mereka berdua kemudian berjalan masuk kedalam gedung.
Anang dipersilahkan naik keatas panggung, dengan set alat musik lengkap, bahkan diijinkan untuk memakai gitar akustik yang ada disitu.
Anang benar-benar tidak tahu acara apa itu, hanya saja tamu-tamu yang hadir sebagian besar orang-orang asing dengan ras kulit putih, mirip Miss Jordan.
Anang mempersiapkan lagu yang akan dia nyanyikan, dan sesuai janji Santi, wanita itu membuat layar ponsel Anang, jadi seperti naskah berisi lirik lagu yang hendak Anang nyanyikan.
Anang bisa membaca dan menyebut pelafalan bahasa Inggris itu dengan baik, meski dia tidak mengerti artinya. Jadi, penampilan Anang tetap maksimal.
Disaat Anang bernyanyi, sesekali dia melirik Santi yang tampak mudah berbaur dengan orang-orang yang ada disitu.
Ketika pergantian penyanyi, Anang kemudian menghampiri Santi yang tampak asyik berbincang-bincang dengan beberapa orang asing.
Santi ternyata pintar berbahasa Inggris.
Anang senyum-senyum sendiri melihat Santi yang tampak santai dan menikmati perbincangannya dengan orang-orang asing itu.
Tampaknya selain kelebihan Santi dengan s*x, wanita itu punya kelebihan lain.
Santi bahkan membuat Anang bisa berkomunikasi dengan beberapa orang asing yang menjadi tamu acara disitu.
"Katanya dia suka dengan suaramu," kata Santi menerjemahkan apa yang dibilang orang kepada Anang.
"Dia mau mengundangmu diacaranya nanti yang diadakan ditas kapal pesiar miliknya," kata Santi lagi.
Santi lalu terlihat bicara lagi dengan orang itu, sambil tertawa kecil.
"Aku diundangnya juga," kata Santi.
"Kapan?" tanya Anang.
Santi berbicara lagi dengan orang itu, kali ini cukup lama.
"Katanya, besok lusa. Tapi sejak pagi kita harus sudah datang kepelabuhan, karena kapal pesiarnya sudah jalan sejak jam delapan pagi,
Terus acaranya diadakan sampai malam, sampai kapalnya itu kembali kepelabuhan. Kamu nanti bergantian dengan beberapa penghibur lain, dan ada waktu untuk istirahat dijam-jam tertentu,
__ADS_1
Katanya kita tidak perlu khawatir dengan konsumsi. Diatas kapal kita nanti diberikan sarapan, makan siang juga makan malam. Kalau kamu setuju, dia akan berikan imbalan. Bayarannya fantastis!" ujar Santi.