SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 51


__ADS_3

Entah berapa lama Anang dikamar mandi tadi. Tapi, ketika Anang keluar dari sana, Santi terlihat asyik mengobrol dengan Gita.


Tidak ada ejek mengejek, tidak ada yang mengamuk, keduanya kelihatan benar-benar santai, seolah-olah mereka berdua sudah berteman sejak lama.


Apa yang terjadi tadi?


Anang ikut duduk bersila diantara Santi dan Gita, yang tampaknya memang menunggu Anang untuk makan bersama mereka.


Pernah lihat estafet bola untuk anak sekolah dasar?


Cuma kali ini bukan bola yang dioper.


Tidak ada kaki yang berlari, atau saling menerjang, Gita hanya memberi pandangannya kepada Anang, sedangkan Anang mengoper pandangannya kepada Santi.


Sampai mereka menghabiskan makan siangnya, tidak ada keributan berarti yang terjadi.


Menyenangkan?


Tidak. Sama sekali tidak.


Anang malah makin galau.


Sikap masa bodoh, dan cueknya Santi, benar-benar akan membuat Anang depresi.


Selesai menghabiskan makannya, Anang duduk dipinggir ranjang bagian dalam, yang dekat dengan jendela.


Anang kemudian mengambil gitar, dan ponselnya, lalu melihat kata-katanya tentang Santi, yang ditulis Anang waktu dikapal pesiar.


Mungkin karena kegalauan, atau karena kegilaan dikamar itu, Anang bisa menemukan kunci nada yang pas dengan kata-kata itu, dan mulai memainkannya di gitarnya sambil bersenandung.


Anang tenggelam dalam nada dan lirik yang dia ciptakan.


Lirik dan nada lagu yang terdengar bersemangat akan cinta.


Satu lagu berhasil di gubah Anang.


"Lagu baru?" tanya Santi sambil duduk dipinggir ranjang berseberangan sisi dengan Anang.


Anang hanya melihat Santi sekilas, lalu mencoba menyanyikan kembali lagu ciptaannya itu, sambil merekamnya dengan perekam suara diponselnya.


Anang bernyanyi sambil memejamkan matanya, seolah hanya ada dia disitu.


Anang tidak mau menjawab pertanyaan Santi, dan tidak mau memperhatikan gerak-gerik kedua wanita itu, yang masih ada didalam kamar itu bersamanya.


Baik Santi maupun Gita kelihatannya mengerti, kalau Anang sedang tidak mau diganggu, atau mungkin mereka sedang diganggu setan yang membuat kedua wanita itu takut untuk bersuara.


Selesai menyanyikan lagu baru ciptaannya itu, Anang kemudian mencoba mendengarkan hasilnya, dengan memasang earphone di kedua telinganya.


Lirik dan nada lagu terdengar seolah lagu itu lagu cinta termanis dan terbaik yang pernah Anang rasakan, meskipun sebenarnya itu justru lagu patah hati yang paling menyesakkan bagi Anang.


Untuk memuaskan rasa penasarannya, kali ini Anang merekam video saat dia menyanyikan lagu itu.


Anang kemudian mengunggah hasil rekamannya ke akun f*cebooknya, dengan menambah keterangan disitu, kalau dia meminta pendapat orang-orang yang menonton video itu.


Sambil menunggu ada yang mengomentari videonya, Anang mencoba menggubah lagu lagi, dan berusaha agar hasilnya sama seperti lagu pertama tadi.


Tidak butuh waktu terlalu lama, kurang lebih setengah jam setelah diunggah Anang ke akun f*cebooknya, tapi ponsel Anang hampir tidak bisa berhenti berbunyi.

__ADS_1


Pesan yang masuk banyak dan menumpuk.


Anang membuka dan membaca pesan yang masuk, satu persatu. Begitu juga dengan komentar dari video unggahan Anang barusan.


Tanggapan orang-orang, seakan itu lagu cinta manis, dan banyak yang menyukainya.


Bagus!


Anang lanjut menggubah lagu keduanya.


Masih seperti tadi Anang hanya fokus pada lagunya.


Gagal!


Lagu itu terdengar seperti lagu galau.


Anang mencoba lagi, tapi masih gagal.


Anang meletakkan gitarnya lalu bertelungkup diranjang, dengan wajahnya menghadap jendela kaca disampingnya.


Dari jendela kaca, Anang masih bisa melihat pantulan bayangan dua wanita di belakangnya.


Anang menatap bayangan Santi, yang terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya.


Anang harus bisa mengontrol perasaannya kepada Santi.


Kalau tidak, semua lagu yang akan dia tulis menjadi lagu galau, yang bisa membuat orang mendengarnya jadi depresi seperti Anang sekarang.


Anang lalu melihat bayangan Gita, yang kelihatannya sedang memandangi Anang.


Gita terlihat senang-senang saja, meski Anang menolaknya, seolah-olah dia masih bersemangat mengejar cinta gilanya.


Anang baru saja mendapat ide yang bagus.


Mengambil semangat Gita, dibumbui kegalauan Anang, digabung dengan sikap cueknya Santi.


Anang buru-buru bangkit dari ranjang, mengambil gitarnya lagi, lalu mengambil kursi, dan duduk dihadapan dua wanita itu.


Anang melihat Gita dan Santi bergantian, dan mulai memetik senar gitarnya, sambil bersenandung.


Anang tidak perduli dengan tatapan heran kedua wanita itu kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Santi, lalu berdiri dari duduknya.


"Tunggu sebentar!" ujar Anang sambil memegang tangan Santi.


"Aku mau menulis lagu tentang kalian berdua. Bisa nggak?" sambung Anang.


"Bisa!" jawab Gita bersemangat.


Santi menoleh kearah Gita sebentar, kemudian kembali duduk didepan Anang.


"Kamu memangnya nggak bersiap untuk janjimu nanti malam?" tanya Santi sambil menatap Anang.


"Sebentar! Masih ada sisa waktu. Nggak lama," ujar Anang.


Tidak lama.

__ADS_1


Hanya butuh waktu kurang lebih lima belasan menit, Anang menemukan nada-nada yang menarik untuk lirik lagunya.


"Kalian mau dengar?" tanya Anang sambil melihat Santi dan Gita bergantian.


"Iya," kedua wanita itu menjawab hampir serempak.


Anang kemudian bernyanyi lagu yang baru saja terkumpul dikepalanya.


Dan reaksi kedua wanita itu?


Gita senyum-senyum tampak senang dengan lagu yang terdengar seperti lagu cinta yang indah untuknya.


Sedangkan Santi, kelihatannya cukup merasa bangga dengan lirik dan nada lagu itu.


Anang dengan kagalauannya, merasa kalau lagu itu tetap menjadi lagu yang galau, tapi tidak sampai membuat orang ingin bunuh diri.


Lihat?


Satu lagu bisa menyentuh tiga sisi emosi orang yang mendengarnya.


"Bagus!" seru Santi dan Gita berbarengan sambil bertepuk tangan.


Memuaskan.


Tidak rugi Anang berurusan dengan kedua wanita gila itu.


"Gita... Aku harus bersiap untuk janjiku nanti malam. Kamu pulang dulu ya?!" kata Anang pelan, sambil memegang tangan wanita itu.


Anang berusaha sebisa mungkin, agar jangan sampai membuat Gita mengamuk.


Ternyata Gita tidak sepintar gelar sarjananya.


Mungkin pintar di akademis, tapi benar-benar bodoh dengan urusan cinta.


Dengan sedikit bujukan Anang, dia sudah senang dan mau menuruti permintaan Anang.


Setelah Gita pulang, Anang kemudian buru-buru merekam lagu barunya tentang Gita dan Santi dalam perekam diponsel agar Anang tidak lupa.


"Kalau kamu bisa membuat lagumu sendiri, kamu tidak perlu menyanyikan lagu Mister Grand," ujar Santi sambil berbaring menyamping diranjang, menghadap kearah Anang.


Anang yang masih duduk dikursi, sambil memangku gitarnya, hanya terdiam memandangi Santi untuk beberapa waktu.


"Hmm... Nanti aku coba. Baru dua lagu yang berhasil aku buat. Aku mau dengar pendapat Pak Robi saja dulu," ujar Anang.


Mungkin ditelinga Anang dua lagu tadi cukup menarik.


Tanggapan diakun f*cebooknya juga tampaknya mendukung, tapi tetap Anang harus mendapat tanggapan dari yang benar-benar profesional.


Memikirkan apa kira-kira tanggapan Pak Robi, hanya membuat Anang ingin menerjang Santi saat itu juga.


Belum bisa mendapatkan cinta Santi?


Tidak usah dipikirkan sekarang.


Apalagi Santi sudah memasang senyum nakal diwajahnya, saat Anang meletakkan gitarnya ke lantai.


Mana mungkin Anang ingat kegalauannya lagi kalau sudah begitu.

__ADS_1


Nikmati saja...


__ADS_2