
Santi sudah menurunkan tuas rem parkir, tapi tetap memegangnya, seolah-olah, Santi sedang berjaga-jaga, kalau-kalau Anang melakukan kesalahan.
Anang gemetar hebat.
Wajar saja...
Jangankan menyetir mobil, sepeda motor saja belum pernah Anang coba mengendarainya.
Kedua tangan Anang sudah diatas setir, tapi saking takutnya, sampai-sampai Anang melupakan semua peragaan Santi tadi.
"Injak pedal remnya dulu... Lalu geser gigi persnelingnya kesini...!" kata Santi pelan, sambil menunjukkan tanda, dimana posisi tongkat persneling harus digeser Anang.
Anang menghela nafas panjang, untuk menenangkan dirinya.
"Nggak usah terlalu takut...! Asal kamu nggak tancap gas, nggak akan terjadi apa-apa..." kata Santi lagi.
Anang menuruti perintah Santi, dan melakukan sesuai prosedur yang jadi instruksi Santi.
"Angkat kakimu dari pedal rem, lalu injak pedal gas sedikit... Sedikit saja. Jalanan ini datar, mobilnya tetap akan berjalan. Kamu hanya perlu memberikan sedikit dorongan," kata Santi lagi.
Anang baru mengangkat kakinya dari pedal rem, mobilnya sudah mulai terasa berjalan maju.
Jantung Anang berdegup kencang.
"Ingat! Pelan-pelan saja...!" kata Santi.
Perlahan tapi pasti.
Setelah mobilnya sudah berjalan cukup jauh, Anang mulai bisa merasa tenang.
Semua arahan Santi, kembali teringat dikepala Anang.
Meski saat berpapasan dengan kendaraan lain, Anang rasanya akan menginjak pedal rem mobil sampai berhenti berjalan.
Atau agak kesulitan membagi jalan, agar tidak mobil tidak menyerempet kiri-kanan, sampai-sampai Santi harus berulangkali memberitahu Anang triknya.
Tapi, untuk keseluruhan latihan mengemudi Anang, bisa dibilang berjalan lancar.
Santi juga mengajari Anang caranya memundurkan mobil, tanpa perlu mengeluarkan kepala untuk melihat bagian belakang.
Iya, Anang sempat akan mengeluarkan kepalanya, saat Santi menyuruhnya untuk mencoba belajar berjalan mundur.
Kompleks perumahan yang luas, memiliki area jalanan yang cukup panjang, untuk jadi tempat Anang belajar mengemudi.
Apalagi, jalanan disitu tidak terlalu ramai.
Anang sudah bisa mengendalikan setirnya, mulai dari berbelok, bahkan sampai memutar arah.
Setelah beberapa kali berkeliling jalanan kompleks, Anang sudah bisa santai dibelakang setir sambil mengemudi.
"Nggak ada yang nggak bisa, kalau ada kesempatan, juga kemauan untuk belajar..." celetuk Santi.
Anang yang masih menyetir mobil yang sedang berjalan, tidak berani mengalihkan pandangannya dari jalanan, meskipun hanya untuk melirik Santi sebentar.
__ADS_1
Jadi, Anang hanya mendengarkan saja, apa yang Santi katakan.
"Kita kembali ke rumah! Aku mau mandi... Nanti malam, kamu bisa mencobanya lagi," ujar Santi.
Anang lalu berbalik arah, dan menyetir mobil itu kembali kerumah mereka.
"Jangan lupa mencabut kuncinya!" kata Santi, setelah Anang memarkirkan mobil, dan mematikan mesinnya.
Santi lalu keluar dari mobil, dan buru-buru masuk kedalam rumah, sambil Anang menyusul Santi dari belakang, dengan membawa kunci mobil yang dipegangnya.
Meski Santi berjalan lumayan cepat didepan Anang, tapi, Anang sempat menangkap, dan memegang tangan Santi.
Santi tidak protes, atau menepis tangan Anang, dan hanya membiarkannya saja.
Mereka lalu berjalan bersama, menaiki tangga kelantai atas.
Santi lalu masuk ke kamar mandi.
Tanpa memperdulikan Santi yang mungkin akan marah, atau mengusirnya, Anang ikut masuk kedalam kamar mandi.
Tapi, kelihatannya masih aman, karena Anang bisa mandi sama-sama dengan Santi.
Anang sudah selesai mandi duluan lalu berpakaian, sedangkan Santi, masih menggosok-gosok rambut panjangnya yang basah, sambil memilih pakaiannya dari lemari.
"Kalau jadi membeli lahannya, apa kamu bisa menemani, sekalian membantu membeli bibit ditempat Setyo?" tanya Anang hati-hati.
Gerakkan tangan Santi yang menggosok-gosok rambutnya, terhenti tiba-tiba.
Santi lalu melihat Anang, yang sekarang sedang duduk dipinggir ranjang, sambil menatap Santi.
Anang hanya bisa memandangi Santi disitu, sampai Santi selesai memakai pakaiannya.
Santi sudah selesai berpakaian, juga sudah menyisir rambutnya.
Ketika Santi akan berjalan keluar dari kamar, Anang mencoba merangkul pinggang Santi.
Eh, berhasil!
Santi masih tidak protes dengan Anang.
Anang senyum-senyum sendiri, sambil berjalan dengan Santi menuruni tangga.
"Kalau punya anak-anak, maunya nanti, kita pindah kamar dibawah sini saja. Jadi, nggak perlu khawatir, anak-anak kita nanti terguling-guling ditangga," celetuk Anang, ketika mereka melewati salah satu kamar kosong, dilantai bawah.
Santi berhenti berjalan, lalu mengangkat wajahnya sambil menatap Anang.
"Jangan terlalu memaksa!" ujar Santi ketus.
Anang gelagapan.
Tapi, Anang tetap memberanikan diri untuk menunduk, lalu mencium Santi.
Santi hanya terdiam, tanpa membalas ciuman Anang.
__ADS_1
Anang tidak perduli, dan tetap mencium Santi, bahkan memeluk Santi, sampai kaki Santi terangkat dari lantai.
"Aku menyayangimu..." kata Anang pelan, sambil tetap memeluk Santi.
Santi menatap Anang lekat-lekat, seolah-olah mencari pembenaran dari kata-kata Anang.
"Aku mau makan mangga yang tadi!" kata Santi, lalu merangkul leher Anang, sambil meletakkan dagunya dibahu Anang.
Ya sudah, Anang tetap menggendong Santi lalu berjalan keluar, berniat mengambil mangga yang dimasukkan didalam mobil.
Tapi, pintu mobilnya terkunci.
Mau tidak mau, Anang kembali kedalam rumah, menaiki tangga, mengambil kunci mobil didalam kamar, lalu kembali menuruni tangga, kemudian membuka pintu mobil, sambil tetap menggendong Santi.
Kelihatannya, Santi memang mau mengerjai Anang.
Karena, saat Anang mengambil mangga dari dalam bagasi mobil, Anang sempat merasakan kalau tubuh Santi berguncang.
Seakan-akan Santi sedang tertawa, tapi tidak mengeluarkan suaranya, dan hanya nafasnya saja yang terdengar agak tersendat-sendat.
Meski rasanya lumayan melelahkan, sampai Anang mengeluarkan sedikit keringat dikepala dan punggungnya, Anang tidak protes.
"Mau duduk makan dimana?" tanya Anang, sambil berjalan.
"Diteras depan!" sahut Santi.
Ketika Anang akan menurunkan Santi diteras depan, Santi masih bergantung dilehernya.
"Memangnya sudah ada pisau disini?" tanya Santi.
Mau tidak mau, Anang hanya meletakkan mangga diatas meja teras, lalu berjalan kedapur untuk mengambil pisau, dengan Santi yang masih di gendongannya.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak salah lagi, memang benar kalau Santi sedang mengerjai Anang sekarang.
"Kamu mengerjai ku ya?" tanya Anang, ketika berjalan kembali ke teras depan.
Tampaknya, Santi tidak bisa lagi menahan rasanya untuk tertawa.
Santi cekikikan sambil menempelkan wajahnya dibahu Anang.
"Kamu ini..." keluh Anang, sambil tetap berjalan.
"Makanya, jangan coba-coba membodohiku. Kamu pikir, aku nggak tahu maksud semua omonganmu?!" ujar Santi ketus.
"Aku bukan mencoba membodohimu... Aku sungguh-sungguh mau mendapat kesempatan denganmu lagi," kata Anang.
Ketika sampai diteras depan, Santi turun sendiri dari gendongan Anang, lalu duduk di salah satu kursi disitu.
"Aku 'kan sudah bilang, kita lihat saja nanti!" ujar Santi.
"Iya, tapi, kalau kamu sudah pergi keluar negeri, kesempatan apa yang ada untukku?" tanya Anang.
__ADS_1
Santi terdiam sebentar.
"Kalau kamu memang yakin itu maunya kamu, besok kita kekantor Lia. Sekarang, aku mau makan mangganya saja dulu..." kata Santi.