
Kunci G, kunci F, kunci E, mayor, minor, kunci nada berbunyi acak-acakan, tanpa ada susunan yang teratur didalam kamar.
Anang memetik-metik senar gitarnya asal-asalan, sambil bersenandung.
Tadi, Anang sudah berbaring dan mencoba untuk tidur, tapi mungkin karena pikirannya sedang kacau, tidak ada tanda-tanda Anang bisa tertidur.
Malahan hanya membuat badan Anang terasa sakit, karena berputar-putar diatas ranjang.
Dengan memangku gitar, dan mendengarkan nadanya, bisa membuat Anang merasa lebih baik.
Orang dengan pembawaan mellow seperti Anang, memang bisa cepat tenang dengan mendengarkan suara musik.
Jadi semakin tidak mungkin rasanya, kalau Anang akan berhenti bernyanyi begitu saja.
Anang malah bisa membuat satu lagu baru, saat dia hanya memusatkan pikirannya kepada nada-nada, yang keluar dari suara petikan gitarnya.
Dengan ponselnya, Anang sudah membuat rekaman kasar, lagu baru yang bisa digubahnya dalam waktu singkat.
"Ada Papa ingin bertemu dengan kamu dibawah," kata Santi, yang tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu kamar.
Belum sempat Anang menyahut omongan Santi, wanita itu sudah berbalik, lalu pergi menghilang dari pandangan Anang.
Anang meletakkan gitarnya sampai tersadar didinding kamar, lalu berjalan keluar, menuruni tangga.
Ayah Santi sudah menunggu Anang tepat didekat tangga, sendirian, tanpa ada Santi disitu.
"Iya, Pak!" ujar Anang, menyapa ayah Santi.
Ayah Santi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita berbincang-bincang diteras samping saja," ajak ayah Santi, lalu berjalan bersebelahan dengan Anang.
"Terimakasih, Pak! Bapak sudah membantu biar kami bisa pulang kesini," celetuk Anang, sebelum dia duduk disalah satu kursi diteras.
"Nggak masalah. Saya tidak mungkin membiarkan kalian begitu saja. Apalagi Anang sudah bukan orang lain bagi saya," sahut ayah Santi, yang juga sudah duduk di kursi diteras itu.
"Tapi, saya kesini bukan mau membahas tentang itu. Saya mau tahu kapan kalian mau pernikahan kalian digelar," sambung ayah Santi.
Anang terdiam.
Berarti ayah Santi belum tahu rencana Santi.
"Maaf, Pak! Tapi mungkin kami akan menundanya lagi," sahut Anang hati-hati.
Anang melihat, kalau wajah ayah Santi tampak tidak senang mendengar perkataan Anang.
"Kenapa? Apa lagi yang membuat kalian harus menundanya?" tanya ayah Santi.
"Maaf, Pak! Tapi..." Anang bingung harus bagaimana bicara dengan ayah Santi, jadinya dia hanya berhenti bicara begitu saja.
Semestinya, memang harus Santi sendiri yang bicara dengan ayahnya tentang itu, bukan Anang.
"Kalian bertengkar?" tanya ayah Santi, dengan alisnya yang mengerut.
Anang harus jawab apa?
__ADS_1
Anang dengan Santi tidak bertengkar.
Yang ada, hanya Anang saja yang tidak terlalu mau bicara dengan Santi, karena Santi tidak menghiraukan Anang.
Itupun tidak sepenuhnya benar.
Santi masih bertegur sapa dengan Anang, meski keduanya tidak terlalu mau berbicara lebih jauh, antara satu sama lain.
Mungkin karena merasa tidak sabar lagi untuk menunggu penjelasan Anang, Ayah Santi lalu berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan masuk kedalam rumah.
Anang tersandar dikursi.
Dengan pikiran kosong, Anang menatap halaman samping yang juga masih kosong tanpa ada tanaman lain, selain rerumputan.
Cukup lama ayah Santi didalam rumah, sebelum ayah Santi kembali lagi menemui Anang diteras itu.
Buru-buru, Anang memperbaiki posisi duduknya.
Ayah Santi duduk lagi dikursi yang dia pakai tadi.
"Kenapa Santi tiba-tiba mau kuliah lagi?" tanya ayah Santi.
Lagi-lagi pertanyaan yang tidak bisa dijawab Anang.
Akhirnya, Anang hanya bisa terdiam.
"Anak itu selalu saja membuatku pusing," celetuk ayah Santi.
Mereka berdua terduduk diam disitu, untuk beberapa waktu lamanya.
Merasa lelah duduk tegak terlalu lama, Anang juga ikut bersandar dikursinya.
Anang dan ayah Santi, sama-sama tampak kebingungan menghadapi jalan pikiran Santi.
"Apa Anang tidak bisa membujuknya?" tanya ayah Santi tiba-tiba.
Anang menghela nafas panjang.
"Saya nggak tahu bagaimana caranya, Pak...!" sahut Anang pelan, tanpa melihat ayah Santi yang duduk disebelahnya.
Kedua laki-laki itu kembali terdiam.
"Padahal kalau cuma mau melanjutkan kuliahnya, dia bisa kuliah disini saja..." celetuk ayah Santi.
"Kelihatannya, anak itu memang masih tidak mau kalau saya dekat dengannya lagi," sambung ayah Santi.
Suara ayah Santi terdengar seperti orang yang berputus asa.
"Santi terus-terusan mencari alasan, agar dia bisa tetap jauh dari saya," celetuk ayah Santi lagi.
Ckckck...
Kelihatannya, Santi memang pintar memanipulasi perasaan laki-laki.
Jangankan Anang yang baru hitungan bulan dekat dengannya, ayahnya saja bisa dia berikan harapan palsu, sampai kehilangan semangatnya.
__ADS_1
Anang merasa iba dengan ayah Santi, tapi dia juga dalam kondisi perasaan yang sama-sama menyedihkannya.
Meski kalau dipikir-pikir, ayah Santi pasti yang paling merasa kecewa.
Anang mungkin menyayangi Santi, tapi kalau lama-lama seiring berjalannya waktu, Anang mungkin bisa melupakan Santi.
Sedangkan ayah Santi bisa apa?
Tidak mungkin ayah Santi bisa melupakan anaknya sendiri.
"Anang harus bantu saya menahan Santi, agar dia tetap disini!" ujar ayah Santi tegas, membuyarkan pikiran-pikiran Anang.
Anang menoleh kesamping, dan melihat ayah Santi yang sudah menatap Anang, dengan sorot mata tajam, dan raut wajah sangar.
Tiba-tiba, Anang merasa seolah-olah ada hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Suasana disitu yang tadinya tenang, sekarang seakan-akan berubah jadi mencekam.
Horor!
Anang menelan ludah.
"Bagaimana caranya, Pak?" tanya Anang pelan, sambil meremas telapak tangannya.
Ayah Santi dan Anang, kini duduk menyamping dan saling berhadap-hadapan.
Ayah Santi memutar bola matanya, dan menggerak-gerakkan bibirnya, dengan mulut terkatup, kesana kemari, seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan.
"Hmm..." ayah Santi menggumam.
Kelihatannya, ayah Santi belum bisa menemukan ide untuk dikatakan kepada Anang.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Santi, yang tiba-tiba sudah berdiri didekat Anang dan ayah Santi, sambil meletakkan dua cangkir kopi keatas meja teras.
Anang gelagapan, begitu juga ayah Santi yang tampak kikuk mengubah posisi duduknya, ketika Anang melihatnya dengan ujung matanya.
"Nggak ngapa-ngapain," sahut Anang.
Anang berusaha bersikap biasa, lalu menarik lengan Santi, dan mencoba membawanya duduk diatas pangkuannya.
Santi mau saja duduk diatas pangkuan Anang, meski raut wajahnya masih tampak seperti orang bingung dan penasaran.
Anang melirik ayah Santi.
Ayah santi kelihatan masih salah tingkah, sampai-sampai dia sibuk merapikan kemejanya, yang sebenarnya tidak berantakan.
Anang menghela nafas panjang.
"Kamu bilang mau menemaniku ke kampungku. Bagaimana kalau besok kita kesana?" tanya Anang mengalihkan perhatian Santi, yang masih menatap ayahnya.
Santi melihat Anang.
"Lihat saja keadaannya besok, kalau rasanya nggak terlalu capek," sahut Santi.
"Aku sudah mengontak Tejo. Katanya lokasi lahan yang dijual, dekat dengan persawahan miliknya. Sekarang harga jualnya malah diturunkan lagi oleh pemiliknya, biar cepat laku," sambung Santi.
__ADS_1