
Pagi-pagi sekali Anang, Tejo, dan Santi sudah bergantian mandi.
Barang-barang bawaan mereka, sudah dikemas masing-masing, saat bergantian memakai kamar mandi.
Anang benar-benar penasaran, apa kejutan yang dibilang Tejo semalam.
Mengingat Santi juga berkata, ada yang akan Anang ketahui hari ini.
Apa mungkin maksud mereka berdua, adalah hal yang sama?
Meskipun merasa penasaran setengah mati, Anang mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuat teh, dan beberapa potong singkong yang digorengnya untuk sarapan mereka pagi itu.
Tejo yang sudah berpakaian, lalu duduk didapur dan meminum tehnya sedikit.
"Singkongnya sudah ada yang matang?" tanya Tejo.
"Eh, ada! Sebentar!" sahut Anang, lalu mengambil singkong goreng dari atas tirisan minyak, dan memasukkannya kedalam piring, kemudian meletakkannya diatas meja.
Tak lama, Santi berjalan dari arah kamar mandi, dan dengan santainya melewati Anang dan Tejo didapur.
Santi hanya memakai handuk yang menutup sebagian dada, sampai keatas lutut, dengan rambutnya yang juga digulung keatas dengan handuk kecil.
Bagian leher sampai sebagian dada, begitu juga sebagian paha sampai ke ujung kaki Santi yang putih mulus, benar-benar terekspos, dan membuat mata-mata yang memandangnya, seakan tidak tahu caranya untuk berkedip.
Ketika Tejo terbatuk-batuk, dan Anang menoleh lalu melihat kearah Tejo, barulah Anang tersadar kalau Tejo juga sedang memandangi Santi, sampai tersedak makanan atau minumannya.
Anang menghela nafas panjang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dasar Santi...
Anang tahu kalau Santi tidak berniat menggoda siapa-siapa disitu, tapi, wanita itu terlalu santai, seakan-akan tidak menyadari kalau tingkahnya itu, bisa membuat laki-laki normal tergoda imannya.
Eeh... Singkong yang digoreng Anang, juga hampir gosong.
Buru-buru, Anang mengangkat gorengannya, dan mematikan kompor.
Anang lalu ikut duduk didekat Tejo, dan menikmati sarapannya perlahan-lahan, sambil menunggu Santi.
Santi yang sudah berpakaian, dan masih dengan rambut bergulung handuk, kemudian ikut duduk didapur.
"Selesai sarapan, aku mau pergi melihat kebunmu. Kemarin aku nggak sempat kesana, malah langsung tidur," celetuk Santi.
"Nanti agak siang, baru kita berangkat ke kota," sambung Santi, lalu menyesap sedikit teh, dan mengunyah sepotong singkong goreng.
"Terserah kamu saja...!"
"Terserah saja...!"
Sahut Anang dan Tejo hampir bersamaan.
"Kenapa singkongnya hitam?" tanya Santi, yang hampir tertawa, sambil mengangkat sepotong singkong yang gosong sebagian.
Anang tidak bisa menjawab pertanyaan Santi, dan hanya melihat Tejo yang cekikikan disebelahnya.
"Tersedak lagi, baru tahu rasanya!" ujar Anang ketus, sambil menatap Tejo.
Tejo berhenti tertawa, berdehem beberapa kali, lalu menyesap sedikit tehnya.
__ADS_1
Anang juga menyesap tehnya lagi.
Setelah dirasa sarapannya sudah cukup, Santi berdiri lebih dulu dari situ, lalu berjalan kedepan.
Tejo mencuci gelas-gelas kotor, sedangkan Anang merapikan dan mengelap meja, barulah mereka berdua berjalan kedepan.
Belum sempat Anang dan Tejo duduk di teras, Santi sudah menyusul keluar, dengan rambutnya yang sudah tersisir rapi.
"Ayo, kita pergi!" ajak Santi.
Mereka bertiga lalu berjalan keluar dari rumah, menuju ke area perkebunan.
Anang dan Tejo, berjalan di sisi-sisi Santi, yang berjalan diantara kedua lelaki itu.
Setibanya dikebun, Tejo menunjukkan areal persawahannya yang pertama kali mereka lihat.
"Ini, sawahku! Kebun Tejo sebelah sana!" ujar Tejo.
Santi lalu berjalan-jalan sebentar, didekat pondok sawah Tejo, sebelum dia kembali berjalan mengarah ke areal kebun milik Anang.
Santi berjalan-jalan pelan, sambil melihat-lihat di area perkebunan Anang.
"Lumayan banyak yang mati bibitnya!" celetuk Santi.
"Bagaimana yang lain?" tanya Santi, sambil menunjuk ke area kebun, yang jauh dari jangkauannya.
"Yang sebelah sana, ada juga yang mati. Tapi, nggak seberapa banyak," sahut Anang.
Pandangan Santi lalu terpaku kearah pondok terpal milik Anang, yang tersimpan banyak karung goni.
"Padi, lahan kering. Baru selesai dipanen disini kemarin," kata Anang, tanpa menunggu Santi bertanya.
"Kita kesana?" tanya Tejo kepada Santi, sambil menunjuk dengan tangannya, kearah lahan tetangga Anang.
Anang yang melihat itu, merasa heran, karena untuk apa Tejo mengajak Santi melihat kebun orang lain.
"Iya!" sahut Santi, lalu berjalan pelan menuju lahan sebelah.
Ketika Santi menyetujui ajakan Tejo, semakin membuat Anang bingung.
Sudahlah...
Anang ikut berjalan bersama Santi, dan Tejo mengarah ke kebun tetangga.
Dari kejauhan, terlihat pekerja-pekerja disitu seolah-olah sedang memperhatikan mereka bertiga, yang berjalan makin mendekat kesitu.
Ketika mereka bertiga semakin dekat, dan menghampiri pekerja-pekerja yang tampaknya baru selesai sarapan, dan masih duduk-duduk diteras depan, orang-orang itu langsung meloncat turun dari atas teras.
Pekerja-pekerja itu menghampiri Santi, yang menjulurkan tangan kepada mereka, lalu berjabat tangan satu persatu berganti-gantian, dengan senyum yang merekah lebar diwajah mereka.
"Baru kali ini aku bisa bertemu langsung dengan mereka," celetuk Santi, sambil melihat Anang.
"Biasanya hanya lewat video call," sambung Santi, lalu tersenyum.
"Minum, Bu?!" tawar salah satu pekerja disitu.
"Nggak usah...! Kami tadi baru saja selesai sarapan," sahut Santi.
__ADS_1
Santi lalu berbincang-bincang dengan mereka disitu, sambil berjalan-jalan pelan didalam area kebun itu.
Ketika Anang mau menyusul Santi, Tejo menahan langkah Anang.
"Kita tunggu disini saja... Biar mereka bebas bicaranya," ujar Tejo.
Anang makin bingung dengan perkataan Tejo, dan melihat Santi yang berjalan makin menjauh, dengan beberapa pekerja yang ikut dengannya.
Tertinggal satu pekerja didekat Anang dan Tejo, yang menuangkan dua gelas kopi dari ceret, lalu menyodorkannya kepada Anang dan Tejo.
"Diminum, Mas!" kata orang itu.
"Terimakasih!" ujar Anang dan Tejo bersamaan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Anang kepada Tejo.
"Waktu kamu baru melihat-lihat lahan, lalu berniat membelinya. Aku ditelepon seseorang, saat kita duduk-duduk dipondok. Kamu ingat nggak?" tanya Tejo.
"Hmmm... Iya, kalau nggak salah kamu bilang, ada yang mau membeli lahan yang satu ini..." sahut Anang.
Anang tersentak.
"Santi yang membelinya?" tanya Anang, dengan mata melotot kearah Tejo.
"Iya!" sahut Tejo enteng.
Anang memandang kearah Santi yang ada dikejauhan, lalu melihat Tejo dengan rasa tidak percaya.
"Serius?" tanya Anang.
"Iya! Tuh! Kamu lihat 'kan orang-orang itu sibuk melapor dengan Santi!" ujar Tejo, sambil menunjuk dengan pandangan matanya, kearah Santi dan pekerja-pekerja kebun itu.
Anang memandangi Santi, yang memang terlihat seperti sedang mendengarkan perkataan pekerja-pekerja yang berjalan bersamanya, sambil sesekali Santi menunduk, atau berjongkok melihat-lihat tanaman disitu.
Anang jadi ingat perkataan salah satu pekerja, yang terhenti waktu Anang berterima kasih, karena mereka sudah membantu merawat kebun Anang.
Anang berbalik, dan melihat salah satu pekerja yang ada didekatnya.
"Itu bosmu?" tanya Anang.
"Iya, Mas!" sahut orang itu.
"Dia yang menyuruh kalian merawat kebunku waktu itu?" tanya Anang lagi.
"Iya. Tapi, bos melarang kami memberi tahu Masnya," sahut orang itu.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi, selama ini, kamu yang membantu Santi untuk kebun ini?" tanya Anang kepada Tejo.
"Aku mana tahu, caranya mencari orang-orang seperti pekerja-pekerja dikebun ini. Apalagi, cara mengelola kebun akasia begini," sahut Tejo.
"Aku cuma membantu menguruskan pembelian tanahnya, lalu sekedar melaporkan perkembangannya saja kepada Santi...
Selain itu, tetap Santi yang mengaturnya sendiri," sambungTejo.
Anang benar-benar kagum dengan Santi, yang bisa mengatur perencanaan kebun sebesar itu, seperti seorang pebisnis yang handal.
__ADS_1
Benar-benar kejutan yang hebat.