SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 99


__ADS_3

Anang dan Santi masih ditaman itu untuk beberapa waktu lamanya.


Menikmati suasana kota ditempat itu, seakan bukan ditengah kota, area tamannya yang luas, seakan mampu meredam kebisingan kendaraan bermotor yang berlalu lalang dijalan raya.


Semakin malam, tempat itu semakin ramai pengunjungnya.


Yang tadinya banyak anak-anak kecil yang bermain dengan orang tuanya, kini berganti dengan orang-orang yang hanya datang berdua, atau berombongan dengan teman sebaya.


Mulai dari anak muda yang tampak sedang asyik bermesra-mesraan, sampai orang dewasa yang tampaknya ingin menghabiskan waktu dengan pasangannya disitu.


Anang melihat beberapa pengamen, yang berjalan mendatangi pengunjung yang ada disitu.


"Aku takut datang mengamen ditempat-tempat ramai seperti ini..." celetuk Anang.


"Kenapa?" tanya Santi.


"Biasanya ada saja bos preman yang menguasai tempat begini. Yang berani mengamen atau mengemis diwilayah mereka, harus membuat laporan dulu, juga membagi hasilnya dengan bos preman," sahut Anang.


"Rata-rata bos preman itu ganas-ganas, kalau kita tidak bisa menuruti kemauan mereka." sambung Anang.


Santi lalu menunjuk dengan matanya kearah beberapa wanita yang berpakaian minim.


"Kalau aku dulu seperti itu, nggak mau ditempat begini karena khawatir kalau-kalau ada keluarga dari kenalan Papa yang mengenaliku. Bukan karena takut dengan bos preman," ujar Santi.


"Tidak ada satu pun bos preman yang berani mengganggu rok mini," sambung Santi sambil tertawa pelan.


Anang meremas tangan Santi, yang sedari tadi digenggamnya.


"Jangan sampai kamu kembali memakai pakaian begitu!" ujar Anang.


"Nggak usah pakai baju sekalian 'kan?" tanya Santi dengan suara mengejek.


Anang menatap Santi lekat-lekat.


"Didepanmu maksudnya..." sambung Santi sambil tertawa, lalu mencium bibir Anang disitu.


Meskipun Anang ingin sekali membalas ciuman Santi, tapi tetap ada rasa malu saat didekat mereka banyak pengunjung lain.


Anang mundur teratur.


"Kenapa? Kamu marah? Aku cuma bercanda..." ujar Santi.


"Bukan begitu..." sahut Anang sambil mengarahkan matanya kesekeliling mereka berdua.


"Banyak orang!" sambung Anang.


Santi lalu ikut melihat kesekeliling.


"Mereka nggak akan perduli dengan kita. Tuh, coba lihat!" kata Santi sambil menunjuk anak-anak abege, yang sedang asyik berciuman didekat mereka.


"Aku juga mau..." kata Santi dengan suara merengek.


Anang meremas tangan Santi, saking gemasnya.


"Nanti saja!" ujar Anang.


"Aku mau... Sebentar saja... Yaa? Yaaaa...?" Santi masih saja merengek.


Anang menggigit bibirnya sendiri.

__ADS_1


Mau tidak mau Anang menuruti permintaan Santi.


Ah, Santi memang keterlaluan.


Sebentar katanya?


Tangan Santi merangkul leher Anang sampai tidak bisa mundur, agar Anang tetap menciumnya disitu lama-lama.


"Sudah puas?" kata Anang yang geregetan.


"Sudah!" jawab Santi enteng, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum.


Mau saja Anang membawa Santi pulang, untuk dihukum karena kenakalannya, saat itu juga.


Tapi, perut Anang yang keroncongan, mampu membuat Anang mengurungkan niatnya, untuk menyiksa Santi secepatnya.


"Aku lapar!" ujar Anang.


"Kita makan dikost saja!" kata Santi yang memicingkan matanya sambil melihat Anang, lalu menggigit bibirnya sendiri.


Anang makin gemas dengan sikap Santi, yang masih saja menggoda kesabaran Anang.


"Iya. Buruan!" ujar Anang sambil berdiri dan berjalan tergesa-gesa, dengan lengannya yang merangkul pinggang Santi.


Santi hanya tertawa cekikikan, saat Anang setengah menyeretnya, untuk berjalan cepat bersama Anang.


Setibanya dikost dengan menumpang taksi, ketika turun dari mobil, Santi tidak mau berjalan sendiri.


Santi malah membuka kedua tangannya, seolah-olah meminta Anang untuk menggendongnya.


"Manja amat jadi orang! Untung aku sayang. Coba kalau nggak, sudah aku buang kamu keluar balkon!" ujar Anang ketus.


Santi hanya tertawa cekikikan, dan tampak tidak memperdulikan ocehan Anang.


Ketika mereka sudah dilantai atas, ada satu lagi tamu tak diundang yang datang ke kamar kost mereka.


Gita terlihat sedih ketika Anang yang masih menggendong Santi, berjalan menghampirinya.


"Apa aku hanya mengganggu kalian?" tanya Gita.


"Turunkan saja aku!" bisik Santi ditelinga Anang.


"Nggak apa-apa. Gita harus terbiasa melihat kita, agar tidak ada lagi yang canggung saat bertemu," ujar Anang yang juga berbisik kepada Santi.


"Ada apa?" tanya Anang kepada Gita.


"Aku hanya mau ada teman saja. Bosan dikost-kostan sendiri." sahut Gita.


"Aku tadi beli ini, bisa kita makan sama-sama," sambung Gita lagi.


"Mana kunci kamar?" tanya Anang kepada Santi.


Santi lalu merogoh kedalam tasnya, dan mengeluarkan kunci dari dalam situ.


Anang lalu menurunkan Santi dari gendongannya, kemudian membuka pintu kamar kost.


"Ayo masuk!" ujar Anang.

__ADS_1


Santi berjalan masuk duluan, disusul Gita, sedangkan Anang yang paling terakhir menyusul masuk, dan menutup pintu.


"Sudah lama menunggu?" tanya Santi, sambil meletakkan tasnya keatas meja.


"Baru saja. Aku hampir saja pulang tadi. Aku kira kalian pergi ke undangan," sahut Gita.


"Aku mau pinjam kamar mandi," kata Gita.


"Pergi saja!" sahut Santi.


Ketika Gita masuk kedalam kamar mandi, dan pintunya sudah ditutupnya.


Anang memeluk Santi dan menciumnya.


Anang harus mengambil kesempatan, karena kalau Gita sudah keluar nanti, mau tidak mau harus menunggu Gita pulang, baru Anang bisa membalas tingkah Santi yang menggodanya tadi.


Ketika terdengar bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, Anang lalu buru-buru melepas Santi, kemudian berpura-pura sibuk membuka lemari, dan seolah-olah sedang mencari sesuatu didalam situ.


Rasanya Gita mungkin memang terlalu bodoh.


Sudah tahu Anang dan Santi sudah seperti itu, untuk apa masih saja datang mengunjungi mereka?


Bukannya itu hanya akan menyakiti hatinya sendiri?


Anang bisa melihat raut wajah Gita yang tampak sedih, tapi mau di apa?


Gita bukannya tidak tahu kalau Anang mencintai Santi, dan sudah pasti tidak akan kembali kepadanya.


Apa yang Gita harapkan?


"Kamu bawa apa tadi?" tanya Santi yang terdengar seperti sedang berbasa-basi.


"Brownies kukus," sahut Gita.


Sambil pergi duduk dipinggir ranjang, Anang merasa iba melihat Gita, yang kelihatannya memaksakan diri agar tetap terlihat tegar.


"Kelihatannya, enak!" ujar Santi, sambil melihat kue yang baru saja dibuka Gita dari bungkusannya.


"Aku mau pesan makan malam. Mau ikut makan disini?" tanya Santi.


Gita melihat Anang sebentar.


"Iya," sahut Gita.


Hah?


Gita, oh... Gita.


Sesabar apa kamu memandangi Anang, yang menaruh hatinya hanya untuk Santi.


Kalau Anang yang diposisi seperti Gita sekarang, jangankan duduk bersama lama-lama, mungkin Anang tidak akan pernah datang berkunjung lagi, dan berusaha mencari kehidupan baru.


Toh, dunia tidak hanya selebar daun kelor.


Tidak mungkin, tidak ada orang lain lagi yang bisa menjadi tempat sandaran hati.


Sudahlah...


Terserah Gita saja.

__ADS_1


Asal tidak ada yang bertengkar, rasanya nggak apa-apa, dan Anang tidak perlu mengusir Gita pergi.


__ADS_2