
Sudah lima hari belakangan, Anang selalu sibuk menanam benih padi dilahannya.
Tejo juga, yang menyuruh Anang menyelesaikan pekerjaannya dilahan itu duluan, karena disawahnya memang sudah ada yang mengerjakannya, meski Anang tidak membantu disitu.
Sehari setelah Anang menanam padi pertama kali, Anang sudah dihubungi pak Handoko, kalau persidangannya sudah selesai, dan dengan hasil yang baik.
Label Miss Jordan tidak bisa menuntut Anang lagi, bahkan pihak Miss Jordan harus membayar kerugian Anang, selama waktu penuntutan yang mereka lakukan kepada Anang.
Termasuk untuk masa kerja Anang diluar negeri, dengan hak cipta lagu yang juga kembali jadi milik Anang, sedangkan lagu Anang yang disalin jadi berbahasa Inggris, harus ditarik dari pasaran.
Bukan cuma Anang yang mendapat ganti rugi dari label Miss Jordan, penyanyi dari Filipina yang ikut bersaksi juga mendapat hasil yang sama.
Anang tidak terlalu mengerti yang dibahas pak Handoko, hanya itu saja yang ditangkap Anang saat berbicara siang itu.
Pak Handoko mengajak Anang untuk bertemu dikota, kalau Anang mau tahu lebih jelasnya lagi, tapi Anang menolak dengan halus sebisanya.
Jadi pesan terakhir pak Handoko, yang diingat Anang, hanyalah, kalau pihak label Miss Jordan sudah membayar denda, saat pengembalian ganti rugi Anang, yang akan dilakukan pengadilan, maka Anang akan dihubungi lagi.
Dan saat itu, Anang harus pergi ke kota.
Kesibukkan Anang di kebunnya hari ini tidak terlalu banyak, karena benih padi sudah hampir habis.
Perkiraan Anang, mungkin siang nanti, penanaman benih padinya sudah selesai, tinggal menunggu hasil kerjanya saja.
Sesuai dugaan Anang, sebelum jam makan siang, benih terakhir sudah ditanam Anang, dilahannya itu.
Saat Anang sedang berjalan keluar dari area kebunnya, Anang secara tidak sengaja melihat pekerja-pekerja yang sedang beristirahat dibarak, lalu mereka memanggil Anang, untuk bergabung disitu.
Anang yang hampir saja menyusul Tejo dipondok sawahnya, lalu berjalan menuju barak, dimana pekerja-pekerja lahan disitu menunggunya.
Ketika Anang mendekat, ternyata mereka sedang makan siang, dan mengajak Anang agar ikut makan siang dengan mereka.
Anang menolak dengan ucapan terimakasih, tapi mereka tetap memaksa.
"Mas, rasakan dulu, nasi dari beras gunung!" kata salah satu pekerja, yang sudah menyodorkan sepiring nasi kepada Anang.
Berikut juga dengan ikan kering, dan sayur pucuk daun singkong, lengkap dengan sambalnya.
Anang lalu ikut duduk dengan mereka diteras barak, sambil lesehan, lalu mencicipi makanannya.
Rasa nasinya pulen, saat disantap hangat-hangat seperti itu, benar-benar nikmat dipadankan dengan lauk, yang ada disitu.
Tapi, Anang hampir tersedak, saat mencoba mencicipi sambalnya sedikit.
Astaga, pedasnya!
Rasanya seperti duri, yang menusuk didalam mulut Anang.
Para pekerja itu tersenyum lebar, dan bahkan hampir tertawa saat Anang dengan panik meminum air putih, untuk mengurangi rasa pedasnya.
Cabai apa yang dipakai orang-orang ini sampai segitu pedasnya?
Hanya sekali, Anang mencocol sambalnya, tapi sampai makanannya habis dimakan, dengan air minum bergelas-gelas, pedasnya seakan-akan tidak bisa berkurang.
__ADS_1
Sampai-sampai keringat Anang, memenuhi wajah, kepala, dan punggungnya.
Bibir Anang terasa bengkak, lengkap dengan cenut-cenutnya.
Tapi, pekerja-pekerja disitu, masih terlihat santai memakan sambalnya, malah tampak seolah-olah tidak cukup untuk mereka makan.
Tidak ada tanda-tanda satupun dari mereka, yang kepedasan.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa nggak kepedasan?" tanya Anang.
Mereka disitu hanya tertawa.
"Kami sudah biasa memakan makanan pedas. Malahan kalau tidak ada rasa pedas, kami tidak bisa makan," sahut salah satu pekerja itu.
"Bagaimana rasa nasinya?" tanya orang itu.
"Enak! Tapi gara-gara aku kepedasan, aku nggak bisa menikmati rasa nasi itu dengan baik," sahut Anang, lalu tertawa bersama pekerja-pekerja itu, yang juga tertawa terbahak-bahak.
Setelah duduk disitu untuk beberapa waktu lamanya, pekerja-pekerja itu lalu meminta ijin untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Anang juga berdiri dari situ.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada pekerja-pekerja itu, Anang kemudian berjalan pergi menuju sawah Tejo.
Sambil berjalan, Anang mengingat sebutan mereka tentang padi lahan kering, 'beras gunung'.
Wajar saja sebutannya seperti itu, mengingat cara tanamnya yang tidak membutuhkan banyak air.
Seperti ditanam di atas gunung, yang kesulitan untuk mendapatkan air.
Ketika Anang sampai dipondok Tejo, laki-laki itu sedang berbaring didalam pondok.
Sedangkan petani-petani yang bekerja disawahnya, sudah tidak kelihatan.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Anang, sambil meloncat naik keatas pondok.
Tejo menggelengkan kepalanya.
"Belum. Nggak selera makan," sahut Tejo.
Tejo terlihat lesu, seolah-olah ada yang dia pikirkan, yang menyusahkan hatinya.
"Ada apa?" tanya Anang heran.
Tejo menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Apa kamu nggak marah, kalau aku...?" Tejo tidak melanjutkan pertanyaannya, meski Anang menunggu disitu sambil menatapnya.
"Aku apa?" tanya Anang penasaran.
"Ah, nggak jadi..." sahut Tejo, lalu bergeser menyamping, memunggungi Anang.
__ADS_1
"Apa?" tanya Anang, yang makin penasaran.
"Nanti saja!" sahut Tejo ketus.
Ada apa sebenarnya dengan Tejo ini?
Apa yang kemungkinan bisa membuat Anang marah dengannya, sampai-sampai membuatnya merasa khawatir?
Apa Anang akan diusir Tejo?
Atau apa?
Semakin hari tingkah Tejo makin aneh saja.
Kalau lagi berteleponan dengan seseorang, atau berkirim pesan, dia kelihatan senang.
Tapi, sekarang ini seperti sedang gelisah, dan bersusah hati, sambil menatap layar ponselnya yang mati, tanpa berbuat apa-apa disitu.
Ah, bodo amat!
"Kalau kamu sudah tidak suka, aku tinggal di rumahmu, kamu ngomong aja," ujar Anang.
"Bukan itu!" sahut Tejo, masih dengan nada suara yang ketus.
"Lalu apa?" tanya Anang, dengan suara meninggi.
"Nanti saja! Aku sudah bilang, nanti saja!" sahut Tejo lagi.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tadi makan siang dibarak. Rasa nasi dari padi lahan kering itu tidak kalah enak dengan beras sawah," celetuk Anang, mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Tejo.
Tejo masih terdiam.
Anang memandangi Tejo, yang masih memunggunginya.
Tiba-tiba layar ponsel Tejo menyala, dan Tejo buru-buru duduk, lalu meloncat turun dari pondok, kemudian berjalan menjauh dari Anang.
Anang bisa melihat kalau Tejo sedang menerima, atau melakukan panggilan diponselnya.
Yang jelas, yang Anang lihat sekarang, ponsel Tejo sudah menempel ditelinganya.
Ketika Anang bisa melihat wajah Tejo yang menoleh kesamping, laki-laki itu kembali terlihat senang, mengobrol sambil senyum-senyum sendiri.
Anang menghela nafas panjang, lalu meloncat turun dari pondok.
Terserah Tejo saja.
Asalkan bukan karena Tejo berniat mengusir Anang dari rumahnya.
Anang memilih untuk kembali kerumah Tejo.
Pakaian kotornya, kemarin sore tidak sempat dia cuci, dan lebih baik kalau dia mencucinya sekarang, mumpung tidak ada yang terlalu mendesak untuk dia lakukan.
__ADS_1