SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 102


__ADS_3

Setelah menghabiskan mie instan, dan es sirup yang mereka pesan, dan berisitirahat sebentar disitu, Anang lalu membawa Santi berjalan menuju rumah lamanya.


Rumah tua itu hampir tidak bisa dikenali Anang.


Kalau bukan karena pohon jambu air yang masih berdiri diujung halaman depan rumah itu, Anang tidak akan menyadari kalau itu memang rumah Anang bersama orangtuanya yang lama.


Renovasi besar-besaran telah mengubah bentuk rumah tua itu menjadi rumah yang tergolong mewah, jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain yang ada didesa itu.


Bagus.


Sekarang rumah itu jadi bagus.


Entah mengapa Anang merasa lega saat melihat rumah itu lagi.


Mungkin karena pemilik barunya yang merawat rumah itu sampai menjadi sebagus itu, membuat Anang merasa seolah-olah pemilik baru itu juga sedang merawat peninggalan orangtuanya.


"Ini rumahnya?" tanya Santi yang tampak terheran-heran.


"Iya. Tapi dulu rumah ini tidak sebagus sekarang." ujar Anang.


"Berarti sudah ada yang membeli lalu direnovasi ya?!" ujar Santi yang terdengar seperti kecewa.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Nggak apa-apa, aku hanya mau melihatnya dari dekat," kata Santi.


"Lah! 'Kan sudah aku bilang kalau kita cuma bisa melihatnya dari luar," ujar Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Santi terlihat kecewa, tapi akhirnya bertingkah biasa saja.


"Kita jalan-jalan lagi saja kalau begitu" ujar Santi, sambil menarik tangan Anang yang menggandengnya.


Belum terlalu jauh Anang dan Santi berjalan melewati rumah lama Anang, seseorang terdengar memanggil nama Anang.


"Anang!" teriak orang itu.


Anang dan Santi lalu menghentikan langkah mereka, dan melihat kearah suara yang memanggilnya.


Anang tersenyum lebar.


Yang memanggil Anang itu ternyata teman sepermainan Anang, Tejo.


"Waaah...! Sudah sukses dikota sekarang ya!" kata Tejo bersemangat.


"Sukses apanya?!" ujar Anang sambil tertawa.


Tejo tampak melihat Santi, lalu melihat kearah Anang lagi sambil menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat.


"Eh, ini Tejo temanku waktu masih kecil, sampai SMA," kata Anang kepada Santi.


"Jo, ini Santi calonku..." kata Anang agak mengejek Tejo.


Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Berarti benar 'kan kalau aku bilang kamu sekarang sudah sukses?!" ujar Tejo.


"Amin." sahut Anang, lalu tertawa bersama-sama Tejo.


Perawakan Tejo, mirip-mirip dengan Anang.


Tejo berbadan tinggi setinggi Anang, dengan bahunya yang lebar, begitu juga garis wajah yang tegas, dan kali ini Tejo hanya memakai celana pendek, tidak memakai apa-apa dibagian atas tubuhnya.


Dengan lengan yang padat, Tejo seakan memamerkan perutnya yang kencang berotot, macam roti sobek.


Satu saja perbedaan antara Anang dan Tejo yang menonjol, yaitu Tejo memiliki satu gigi gingsul, yang membuat laki-laki itu terlihat macho dan manis secara bersamaan, saat dia tersenyum.


Kulit coklat Tejo yang eksotis karena terbakar matahari, rasanya cukup menjadi saingan berat bagi Anang.


Iya, saingan berat, karena tampaknya Santi tertarik memandangi Tejo, yang berdiri didepan mereka sekarang.


Anang merangkul pinggang Santi erat-erat.


"Jangan sombong! Ayo singgah kerumahku dulu," ajak Tejo.


Anang merasa tidak enak juga kalau menolak ajakan Tejo, meski Anang juga agak risih melihat Tejo yang dengan cueknya berjalan didepan Anang dan Santi, dengan punggungnya yang terbuka.


Rumah Tejo rasanya masih sama seperti yang ada diingatan Anang, ada sedikit renovasi tapi tidak mengubah keseluruhan tampilan rumah itu.


"Duduk!" kata Tejo, mempersilahkan Anang dan Santi, duduk dikursi teras depan rumahnya.


"Kita disini saja. Didalam panas!" ujar Tejo.


Tejo lalu ikut duduk disitu, dan tetap tidak mau memakai bajunya.


"Eh, tunggu sebentar ya!" ujar Tejo lalu buru-buru berdiri, dan berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Ternyata, disini banyak bibit unggul..." celetuk Santi sambil senyum-senyum.


Anang meremas tangan Santi sekuatnya, sampai Santi meringis, dan membuat Anang seketika itu juga menyesal telah menyakiti tangan Santi.


"Aku hanya bercanda..." ujar Santi pelan.


"Maafkan aku...! Aku nggak sengaja," ujar Anang sambil mengelus-elus tangan Santi.


"Ada berapa temanmu yang seperti itu?" kata Santi lalu tersenyum lebar.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Meski Anang tahu kalau Santi hanya ingin menggodanya, tapi tetap saja Anang merasa cemburu.


Tak lama Tejo terlihat berjalan keluar, sambil membawa nampan berisi tiga gelas teh.


Kali ini Tejo sudah memakai kaus untuk menutupi bagian atas tubuhnya, dan membuat Anang bisa merasa sedikit tenang.


"Kamu belum menikah?" tanya Anang.


"Sudah, dua tahun lalu!" sahut Tejo sambil menata gelas minuman keatas meja.

__ADS_1


"Eh, orang tuamu mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Anang lagi.


"Sudah meninggal." sahut Tejo.


"Maaf...!" ujar Anang.


"Nggak apa-apa. Sudah lama mereka meninggal, ayah meninggal empat tahun lalu, sedangkan ibu meninggal tak lama setelah aku menikah," kata Tejo.


"Diminum tehnya. Santi ya namanya tadi?" sambung Tejo lalu tersenyum sambil melihat Santi.


"Iya," sahut Santi lalu ikut tersenyum manis.


Gerak-gerik kedua orang didepannya itu, benar-benar membuat Anang kesal.


Anang lalu mengambil gelas tehnya dan menyesapnya sedikit.


"Kamu bilang kamu sudah menikah. Istri mu mana?" tanya Anang.


"Iya, tapi kamu sudah bercerai. Kalau tidak salah sudah lima bulan ini aku menduda," ujar Tejo santai.


Anang hampir tersedak saat menyesap tehnya, dan sempat membuat cairan teh sedikit mengalir keluar dari mulutnya ke dagu Anang.


"Kenapa?" tanya Anang penasaran.


"Mantan istriku itu mau pindah kekota, tapi aku nggak mau. Rasanya aku nggak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja. Apalagi sawah orang tua ku juga masih harus ada yang merawat," sahut Tejo.


"Untung saja kami belum punya anak. Jadi sama-sama tidak ada beban saat memilih untuk berpisah," sambung Tejo lagi.


Entah mengapa perasaan Anang mengatakan, kalau Tejo hampir tidak bisa berhenti memandangi Santi, sambil tersenyum.


Anang lalu memperhatikan kemana arah mata Tejo teman masa kecilnya itu.


Memang benar.


Tejo sedang asyik memandangi Santi, yang sekarang terlihat sibuk menatap, dan menggeser-geser layar ponselnya.


Ehheem... Ehheem...


Anang berpura-pura batuk.


Dan kelihatannya berhasil, Tejo kini melihat kearah Anang.


"Kenapa, Nang? Tersedak?" tanya Tejo.


"Nggak. Tenggorokanku agak gatal, mungkin karena terlalu banyak minum yang manis," sahut Anang beralasan.


"Oh... Sebentar aku ambilkan air putih," ujar Tejo lalu berdiri dan berjalan masuk kerumahnya.


Tejo kemudian keluar lagi sambil membawa dua gelas bersih, dengan seteko kecil air putih.


"Kalian kesini untuk apa? Jalan-jalan saja atau ada apa?" tanya Tejo sambil meletakkan gelas dan teko keatas meja.


"Ada berkas yang harus ditandatangani dikantor kecamatan," sahut Anang lalu menuang segelas air putih untuk dia minum.

__ADS_1


"Oh... Lalu malam ini kalian mau menginap dimana? Kalian pasti tidak bisa langsung kembali kekota 'kan?! Menginap disini saja nanti!" ujar Tejo.


__ADS_2