SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 103


__ADS_3

Menginap dirumah Tejo?


Rasanya Anang kurang yakin kalau harus menumpang tidur ditempat itu.


Anang lebih suka menumpang mobil dengan bak terbuka yang penting bisa kembali kekota.


Tapi, belum tentu mereka bisa temukan tumpangan, meski Anang dan Santi pergi ke jalan raya.


Apalagi hari ini sudah mulai sore, kalau ada paling-paling kendaraan yang sudah dari kota, dan balik lagi kekampung.


Kelihatannya Anang harus menyetujui tawaran Tejo, untuk menginap bersama Santi dirumahnya.


Anang teringat kalau ada adiknya Tejo yang perempuan, mungkin Santi bisa tidur dengan adik Tejo nanti.


"Adikmu mana?" tanya Anang.


"Adikku sudah bersuami. Dia tinggal dengan suaminya sekarang." sahut Tejo lalu meminum sedikit tehnya.


"Jadi kamu sekarang tinggal sendiri disini?" tanya Anang lagi.


"Iya. Makanya aku bilang tadi kalau aku nggak mau ikut permintaan mantan istriku untuk pindah. Rumah ini nanti nggak ada yang mengurus." sahut Tejo.


"Kalian mau menginap disini?" tanya Tejo.


"Tapi Santi maklumi saja ya?!


Yang namanya rumah tua, kalau cuma laki-laki yang mengurus, mungkin tidak sebaik tempat kalian dikota, yang bisa diurus Santi," sambung Tejo sambil menatap Santi, lalu tersenyum lebar.


Santi menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum manis kearah Tejo.


Aaarrrghhhhh!


Rasanya mau saja Anang berteriak, didepan kedua orang itu.


Apa memang perlu mereka saling tersenyum seperti itu?


Tapi mau tidak mau, Anang harus menahan diri, mungkin Anang terlalu berprasangka buruk saja.


Nanti Anang bakal malu sendiri, kalau terlalu kelihatan cemburunya.


Toh, Santi dan Tejo tidak bertingkah yang berlebihan selain tersenyum, dan mata Tejo yang masih saja sering memandangi Santi, sampai hampir lupa untuk berkedip.


Kepala Anang terasa agak pusing, entah karena lapar, atau karena Tejo yang tidak tahu caranya menggerakkan kelopak matanya.


Anang menghela nafas panjang, lalu melihat Santi.


Repot kalau punya calon secantik Santi.


Anang harus ekstra menjaganya, kalau tidak, bisa-bisa ada yang menikung, meski jalurnya sempit.


"Kenapa?" tanya Santi lalu tersenyum manis kepada Anang yang menatapnya.


Senyuman Santi untuk Anang, bisa membuat Anang bernafas sedikit lega.


"Nggak apa-apa. Kamu mau menginap disini?" tanya Anang.


"Hmm... Terserah kamu saja," sahut Santi lalu kembali menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Jadi kalian mau menginap disini?" tanya Tejo.


"Santi?" sambung Tejo lagi, sambil tetap menatap Santi.


"Eh, oh... Terserah Anang saja. Maaf! Tapi, aku harus menghubungi seseorang," kata Santi lalu berdiri dan berjalan keluar dari teras, lalu berdiri dihalaman rumah Tejo, dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Anang melihat gerak-gerik Santi, yang tampaknya mengacuhkan Tejo.


Apa yang harus Anang khawatirkan kalau begitu?


"Kalau istriku secantik Santi, aku mau saja ikut kemana dia mau pergi..." celetuk Tejo.


Anang lalu menoleh dan menatap Tejo lekat-lekat, sedangkan Tejo masih memandangi Santi.


"Bagaimana dikota? Menyenangkan?" tanya Tejo yang kini sudah melihat kearah Anang.


"Maksudku, bekerja dikota apa menyenangkan?" tanya Tejo lagi.


"Sulit... Nggak semudah yang dibayangkan," sahut Anang.


"Tapi kamu bisa bertemu wanita cantik!" ujar Tejo.


"Dikampung ini mana bisa kita bertemu wanita seperti Santi. Kamu tahu saja 'kan bagaimana modelan teman-teman wanita kita waktu sekolah dulu?!" sambung Tejo.


"Oh, iya. Mantan istriku itu, teman sekelas kita yang pernah dua kali kamu 'tembak' dulu tapi dia menolak.


Dia menerimaku, waktu kamu pergi ke kota. Kami sempat berpacaran lama sebelum aku melamarnya.


Tapi, ya gitu, dia tidak mau tinggal dikampung ini terus-terusan, lalu mengajakku untuk pindah kekota.


Adikku menikah baru sebulan ini, lalu langsung pindah kerumah suaminya," kata Tejo, bercerita panjang lebar.


Tejo berhasil menjadikan 'target' Anang jadi pacarnya, bahkan sampai jadi istrinya?


Padahal sejak SMP sampai SMA, Anang mati-matian mencari perhatian teman wanita Anang itu, tapi wanita itu selalu menolaknya dengan alasan yang tidak masuk akal.


Anang harus mengacungi jempol untuk Tejo.


Tapi kalau begitu, berarti Tejo lebih menarik dari Anang?


Anang merasa tempat duduknya kini tidak terlalu nyaman untuk dia duduki.


"Sebentar!" ujar Anang kepada Tejo, sambil berdiri dan berjalan menghampiri Santi.


Ketika Anang berniat untuk berbicara dengan Santi, Santi mengangkat tangannya seolah-olah menyuruh Anang menunggunya, yang masih bicara dengan seseorang diponselnya.


Mau tidak mau Anang hanya berdiri, menunggu Santi seperti orang bodoh disitu.


Untung saja tidak terlalu lama Anang menunggu, Santi sudah selesai berbicara diponselnya.


"Ada apa?" tanya Santi pelan, sambil berjalan mendekati Anang, dan memegang pinggang Anang dengan kedua tangannya, lalu tersenyum manis.


"Kamu lagi bicara dengan siapa tadi?" tanya Anang beralasan, karena Anang lupa apa yang sebenarnya mau dia tanyakan dengan Santi, atau takut mendengar jawaban Santi.


"Aku menghubungi orang yang punya acara malam ini. Kita harus membatalkannya 'kan?" ujar Santi.


"Hmm... Iya." sahut Anang.

__ADS_1


"Itu saja?" tanya Santi yang terlihat heran.


"Iya, itu saja," jawab Anang.


Anang tidak berani bertanya pendapat Santi, apa Tejo memang lebih menarik jika dibandingkan dengan Anang.


Bagaimana kalau Santi menjawab 'iya'?


Lebih baik Anang mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Apa aku bisa memelukmu?" bisik Santi, sambil melirik kearah rumah Tejo.


Anang memeluk Santi.


"Bisa! Kenapa nggak bisa?!" ujar Anang.


"Siapa tahu 'kan, kamu malu...!" sahut Santi.


Malu?


Tidak...


Justru Anang dengan bangga, mau memperlihatkan wilayah kekuasaannya kepada Tejo.


Santi kemudian melepaskan pelukannya dari Anang, dan memegang tangan Anang lalu membawa Anang berjalan kembali ke teras depan rumah Tejo.


"Nggak enak, kalau kita berdua saja disini. Lalu Tejo duduk sendirian saja melihat kita," celetuk Santi.


Bodo amat.


Tapi, Anang tetap menurut saja, ketika Santi membawanya kembali, dan duduk bersama Tejo lagi.


"Maaf ya, Jo! Aku tadi ada yang harus aku urus," ujar Santi ketika sudah duduk ditempatnya semula.


"Oh, nggak apa-apa. Sudah selesai?" tanya Tejo ramah.


Anang mendengus.


"Sudah!" jawab Santi.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Tejo.


"Tadi sempat singgah diwarung depan gang," sahut Anang.


"Disitu cuma jual mie instan. Ayo makan siang bareng aku," ajak Tejo lalu berdiri dari duduknya.


"Nggak usah repot-repot!" ujar Anang.


"Nggak apa-apa. Aku juga belum makan, makanya aku pulang dari sawah. Mungkin Santi bisa membantuku didapur," ujar Tejo lalu tersenyum kearah Santi.


Santi melihat Anang sebentar.


Mungkin Santi merasa tidak enak kalau Tejo yang laki-laki harus menyiapkan makanan untuk mereka, akhirnya berdiri dan ikut berjalan dengan Tejo masuk kedalam rumah, sambil disusul Anang.


"Kamu memangnya bisa masak?" tanya Anang sambil berbisik kepada Santi.


"Nggak bisa. Tapi nggak mungkin 'kan aku yang perempuan malah cuma duduk, sedangkan Tejo yang laki-laki yang harus sibuk melayani kita?!" sahut Santi yang juga berbisik-bisik.

__ADS_1


__ADS_2