
Ketika Anang dan Santi sudah selesai menghabiskan makanannya, dan berniat untuk pulang, Santi kembali memesan taksi online.
Mereka diantar kembali kepemukiman kumuh dengan 'Taksi' versi Santi.
Anang memperhatikan gerak-gerik Santi.
Santi tidak terlihat mengeluarkan uang untuk membayar ongkos mereka menumpang mobil, mulai dari pergi tadi, pulangnya juga begitu.
Awalnya dikira Anang kalau nanti pulang barulah dibayar ongkosnya, tapi ternyata mereka pergi dan pulang menggunakan mobil yang berbeda, dan Santi tidak mengeluarkan lembaran uang untuk membayar.
Mereka hanya langsung turun begitu saja.
Memangnya itu gratis?
Atau itu mobil teman-teman Santi?
Tapi Santi tampaknya tidak mengenal supir-supirnya tadi.
"Bagaimana cara kerja taksi online itu?" tanya Anang penasaran.
"Hmm... Itu pakai aplikasi diponsel. Ponselmu bisa dipakai tuh," sahut Santi yang menggandeng tangan Anang sambil berjalan menuju pemukiman.
Sesekali Santi terlihat menoleh kebelakang, dan melihat kesana kemari.
Santi tampak seperti sedang mengawasi sekelilingnya.
"Bayarnya seperti apa?" tanya Anang lagi.
"Pakai uang yang ditransfer di dompet digital," sahut Santi.
Dompet digital?
Apa lagi itu?
Anang melihat Santi seperti tidak konsentrasi menjawab Anang.
"Kenapa?" tanya Anang menghentikan langkah mereka, lalu ikut menoleh kesana kemari.
"Nggak apa-apa. Aku hanya takut kalau-kalau ada yang mengikutiku lagi," kata Santi yang memegang tangan Anang erat-erat.
"Aku bukan takut melakukan s*x. Tapi aku takut dipukuli," sambung Santi saat Anang menatap Santi dengan tatapan heran.
Anang lanjut berjalan.
"Kamu mau aku menemanimu sampai pagi?" tanya Anang spontan.
Anang tidak tahu kenapa dia harus mengatakan itu. Sudah pasti Santi mau, apalagi tadi Anang sudah berjanji untuk mengganti kerugian Santi.
Tapi nggak apa-apa sih. Besok 'kan tawaran bernyanyi Anang cuma dimalam hari.
Kalau Santi mau sampai lutut Anang gemetar, Anang siap.
"Kamu mau?" tanya Santi.
"Kalau kamu mau, kita ditempatku saja..." sambung Santi datar.
Tumben!
Mungkin saking takutnya, sampai Santi seperti tidak memikirkan s*x yang memacu jantungnya untuk tetap berdegup kencang.
"Iya," jawab Anang.
Anang sempat melihat bayangan dada Santi mengembang, seakan sedang menghela nafas panjang.
__ADS_1
Santi kemudian terlihat lebih tenang, tidak lagi menoleh atau melihat kesana kemari.
Anang tidak mendatangi kamarnya lagi, melainkan langsung kekamar Santi.
Santi terlihat santai melepas jas Anang dan gaun yang dia pakai, didepan Anang, setelah menutup pintu kamarnya.
Entah karena pengaruh daging kambing yang dimakan Anang tadi, atau memang karena daging Santi yang padat, sampai membuat Anang langsung kepanasan.
Biasanya Santi yang harus duluan mengganggu Anang, kali ini Anang yang duluan menyosor seperti angsa, ke dada Santi yang sudah terbuka.
Anang yang kehausan, menyusu didada Santi, sambil Anang melepas kancing kemeja nya satu persatu.
Ah... Ribet.
Kancingnya kebanyakan.
Santi buru-buru membantu Anang melepas kancing kemeja yang dipakai Anang.
Belum lagi kancing celana dengan ritsletingnya.
Lain kali pakai kaos dengan boxer saja, biar nggak lama-lama kalau mau dibuka.
Sudah tahu 'kan kelanjutannya?
Film aksi pertempuran dimedan perang, kurang lebih sama serunya dengan permainan Anang dengan Santi.
Bedanya, kalau dipertempuran yang terdengar 'Aaarrgghh' itu berarti pemerannya sudah tertembak dan hampir mati, tapi kalau dikamar Santi, itu berarti pemerannya makin semangat untuk hidup.
Cukup sekali?
Tidak mungkin.
Santi sudah seharian nggak makan.
Sudahlah!
Ditinggal tidur saja, masih terlalu panjang prosesnya.~
Anang menemani Santi tidur dikamarnya sampai siang.
Iya, siang.
Anang kelelahan setelah bercocok tanam dikebun Santi sampai pagi, meski dia sudah tahu kalau tidak akan ada yang tumbuh disitu.
Pekerjaan yang sia-sia, karena semua bibit benihnya cuma dibuang, tapi Anang masih mau saja berlelah-lelah, dan serius mengerjakannya.
Anang sampai tidak ingat kalau Santi sudah meninggalkannya sendirian dikamar Santi.
Anang baru terbangun saat Santi kembali kekamarnya sambil membawa bungkusan makanan, dan beberapa botol air mineral.
"Aaaahh... Kamu sudah bangun?!" ujar Santi sambil melenggang santai dengan kaus longgar dan celana pendeknya.
Anang melihat keperutnya yang tertutup kain batik.
Masih aman.
Maksudnya aman, karena Anang masih memakai segitiga pengaman.
Untung Anang masih ada sisa sedikit tenaganya untuk menarik pakaian dalamnya, naik diantara kaki-kakinya yang pegal subuh tadi, sebelum dia tertidur disamping Santi.
"Makan dulu! Aku lapar," ajak Santi yang sudah duduk bersila dilantai.
Anang melihat kesana kemari, mencari-cari celana panjangnya yang terlempar entah kemana tadi malam.
__ADS_1
"Cari apa?" tanya Santi yang masih menunggu Anang untuk makan bersamanya.
"Celanaku mana?" Anang balik bertanya.
"Oh... Itu aku gantung disana," kata Santi sambil menunjuk pinggir lemari pakaiannya.
Anang tetap menutupi bagian bawah tubuhnya dengan kain batik tadi, sambil beranjak turun dari ranjang Santi untuk mengambil celananya yang sudah digantung Santi.
Anang bisa melihat dengan ujung matanya kalau Santi sedang tertawa melihat Anang, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Wanita ini, sepertinya memang mau dihajar Anang lagi.
Jangan... Tolong jangan...
Cukup pegal kaki-kaki Anang sampai terasa sulit untuk dia berjalan.
Apalagi Anang juga sekarang juga sudah ikut merasa lapar, karena harumnya makanan yang dibawa Santi.
Anang lebih memilih makan makanan yang bisa mengenyangkan lebih dulu, sebelum...
Sudah.
Anang buru-buru memakai celananya, karena kain batiknya malah terjatuh kelantai.
Anang bisa mendengar suara Santi yang cekikikan dibelakangnya.
Awas saja!
Santi belum tahu saja, kekuatan Anang yang biasa mengaduk adonan pasir dan semen, juga mengangkat ember berisi adonan semen dibahunya tanpa lelah.
"Buruan! Aku sudah lapar!" kata Santi setengah berteriak.
"Iya! Ini juga sudah buru-buru. Kalau aku terjepit ritsleting memangnya kamu mau tanggung jawab?" sahut Anang sambil pelan-pelan menaikkan ritsleting celanannya.
Santi kembali terdengar cekikikan dibelakang Anang.
Anang berbalik. Dia berhasil memasang ritsleting, tanpa ada yang ikut lengket disitu.
Anang kemudian ikut duduk bersila didepan Santi yang menyodorkan hand sanitizer di kedua telapak tangan Anang.
"Kamu ada jadwal nyanyi lagi hari ini?" tanya Santi yang mulai menikmati makanannya.
"Ada. Nanti malam. Pesta khusus perempuan," sahut Anang yang juga ikut memakan nasi padang, yang bungkusannya sudah terbuka didepannya.
"Pesta khusus perempuan? Bisa aku ikut?" tanya Santi bersemangat.
Anang melihat Santi yang tampak ingin sekali pergi kepesta itu.
Santi kelihatannya belum mau bekerja, tapi Anang merasa itu bagus.
Pekerjaan Santi itu terlalu beresiko, lebih baik kalau dia berhenti sama sekali.
Kalau hanya untuk memuaskan nafsu gila Santi, Anang masih sanggup, kok.
Kalau urusan keuangan, sekarang Anang juga sudah mulai sanggup untuk menghidupi Santi.
Apalagi tawaran imbalan orang asing yang diurus Santi kemarin, bisa untuk menghidupi mereka berdua sampai tiga tahun kedepan, kalau cuma begini saja, tanpa banyak mengubah gaya hidup.
Belum lagi amplop-amplop lain yang sudah Anang terima dalam beberapa hari ini.
"Kita tanya orang yang mengundang dulu ya. Soalnya orangnya tampaknya agak cerewet. Kemarin saja aku sempat dicobainya," kata Anang.
"Oke!" ujar Santi yang tampak senang.
__ADS_1