
Entah disengaja atau tidak, hanya saja Anang merasa Santi terlalu lama berdiam sendiri didalam kamar mandi.
Anang yang berbaring, dengan kaki menggantung dipinggir ranjang, menatap langit-langit kamar yang di cat berwarna putih, sambil memikirkan sikap Santi tadi.
Anang hanya merangkul pinggangnya, dan mengecup keningnya.
Meski Anang melakukannya diruang terbuka, tapi rasanya perlakuan Anang kepada Santi, masih dalam batas wajar.
Apa yang salah?
Anang menoleh kesampingnya.
Jendela kaca yang belum ditutup gorden, memantulkan bayangan Anang yang berbaring, dan membuat Anang bisa melihat jelas wajahnya disitu.
Anang hanya mau mencurahkan rasa sayangnya dengan Santi, tapi wanita itu tampaknya memang tidak menyukai gerak-gerik Anang, kalau menunjukkan seolah-olah Anang mencintainya.
Kalau begini terus, dan Santi tidak mau merubah pikirannya tentang hubungannya dengan Anang, maka Anang akan merana selamanya.
Jika semudah itu menghapus perasaan itu, Anang mau menghapusnya sekarang.
Anang menghela nafasnya berat, dadanya terasa sesak.
Anang kemudian beranjak turun dari ranjang, dan menuju kamar mandi.
Anang mengetuk pintu kamar mandi, beberapa kali, sambil memanggil Santi.
"Santi!"
"Santi!"
Tapi, tidak ada jawaban dari dalam sana.
Anang mulai merasa cemas.
Apa mungkin terjadi sesuatu dengan Santi?
Anang membuka pintu buru-buru, dan ternyata tidak dikunci.
Anang melihat Santi, sedang duduk diatas kloset yang tertutup, sambil menunduk dan memegang kepalanya, dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Anang sambil menghampiri Santi.
Santi hanya menggelengkan kepalanya, tapi tidak mengubah posisinya.
Anang memeluk Santi.
"Kamu sakit?" tanya Anang pelan.
Anang benar-benar merasa khawatir dengan Santi.
Santi yang merangkul leher Anang yang memeluknya, hanya terdiam, dan tidak menjawab pertanyaan Anang.
Santi tetap terdiam dengan sebagian wajahnya dibenamkan dibahu Anang.
Anang mengangkat Santi, menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Ketika Anang hendak membaringkan Santi diranjang, Santi menolak.
"Aku mau kamu duduk, memangku aku sebentar," kata Santi.
Anang menuruti kemauan Santi, tanpa melepas Santi dari gendongannya, Anang lalu duduk, dan membiarkan Santi diatas pangkuannya.
Santi melonggarkan rangkulannya dari leher Anang, dan menyandarkan kedua tangannya perlahan kedada Anang, sambil membenamkan wajahnya disalah satu bahu Anang.
Anang memeluk Santi erat-erat.
"Kamu kenapa? Kamu sakit? Atau apa? Coba beritahu. Kamu membuat aku khawatir kalau kamu begini," ujar Anang pelan.
Anang memang membujuk Santi, agar mau bicara, karena Anang memang sungguhan mengkhawatirkan wanita itu.
__ADS_1
Selama Anang mengenal Santi, baru sekali saja Anang melihat wanita itu bisa kelihatan rapuh, dan itupun karena ada yang benar-benar mengganggu fisik dan pikirannya.
Tapi Santi tetap tidak mau bicara.
"Ayolah... Ada apa?" tanya Anang cemas.
"Nggak ada apa-apa. Hanya lelah. Aku hanya mau dipeluk sebentar," sahut Santi pelan.
Sebentar?
Anang mau memeluk Santi selamanya, kalau Santi mau.
Santi menggeser kepalanya sedikit sampai hidung mancungnya, terasa menempel dileher Anang.
Hembusan nafas Santi dileher Anang, membuat jantung Anang berdebar-debar.
Duh Gusti,
Anang ingin sekali wanita ini tetap bersamanya.
Untuk beberapa waktu lamanya, Anang tetap duduk memangku Santi.
Sampai Anang merasa kalau tubuh Santi sudah lemas.
Santi tampaknya sudah tertidur dipelukan Anang.
Perlahan-lahan, Anang membaringkan Santi keatas ranjang.
Santi sempat bergerak sedikit, tapi tidak sampai terbangun.
Anang lalu berganti pakaian, sebelum mematikan lampu, dan ikut berbaring disamping Santi.
Anang mengangkat kepala Santi sedikit, lalu membuat lengannya menjadi bantal untuk leher Santi, kemudian merangkul Santi yang sudah tersandar didadanya.
Tak lama, Anang juga tertidur pulas dengan perasaan tenang, karena adanya Santi yang masih dipelukannya.~
Tapi tak lama saat Anang melihat Santi yang menatapnya, Santi lalu berbalik, dan berbaring menyamping kesisi lain ranjang, membelakangi Anang.
Apa yang terjadi?
Apa Anang baru saja menangkap basah Santi yang sedang memandanginya?
Kenapa Santi memandangi Anang seperti itu?
Dan anehnya, tangan Santi tidak mengganggu ketenangan disela paha Anang seperti biasanya, dan hanya menatap wajah Anang disitu.
Perlahan, Anang menarik Santi agar kembali berbalik melihatnya.
"Nggak mau?" tanya Anang pelan.
Masih pagi, tapi justru itu adalah jam-jam yang rawan konflik.
Bukan hanya orang-orangnya yang bangun, sesuatu yang lain juga ikut bangun.
Olahraga pagi sebelum sarapan pagi itu memang lebih sehat, dan membakar lemak dan kalori lebih banyak, agar bentuk tubuh tetap ideal.
Apalagi kalau Santi masih mengangguk setuju, berarti waktu untuk berolahraga masih panjang.
Sambil merasakan dinginnya air pancuran yang jatuh diatas kepalanya, Anang memikirkan gerak-gerik Santi tadi.
Keinginan Santi masih sama, hanya ada yang berbeda dengan tingkahnya saat melakukannya dengan Anang, dan cukup mengganggu pikiran Anang.
Apa Santi mulai bosan dengan Anang sekarang?
Atau ada sesuatu yang Santi pikirkan?
Anang tidak tahu apa, hanya terasa berbeda saja.
Santi seolah-olah menginginkan sesuatu yang lebih dari Anang.
__ADS_1
Kalau Anang tidak tahu Santi, Anang bisa mengira kalau Santi bermain dengan perasaan kepada Anang.
Ah... Tidak mungkin.
Santi?
Wanita yang tidak punya perasaan itu?
Tidak mungkin tiba-tiba jatuh hati dengan Anang.
Kecuali 'perasaan' sekarang sudah dijual bebas, dan Santi bisa membelinya untuk dia pakai.
Anang melanjutkan mandinya dengan rasa penasaran.
Kalau Santi tidak jatuh hati dengannya, berarti kemungkinan lain yang tersisa, hanyalah Santi mulai bosan dengan Anang.
Kekhawatiran Anang semakin menjadi-jadi.
Kemungkinan besar, Santi akan meninggalkan Anang selamanya, kalau Anang tidak bisa menjaganya.
Hanya membayangkannya saja, Anang sudah merasa kepalanya sakit.
Apalagi kalau sampai terjadi kemungkinan buruk itu?
Anang tidak akan membiarkannya begitu saja.
Tidak semudah itu.
Buru-buru Anang menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya, lalu keluar dari kamar mandi.
Anang masih bisa bernafas lega.
Santi masih berbaring menyamping menghadap kearah jendela, memunggungi Anang.
Anang melihat Santi seperti sedang menulis sesuatu dibantal, yang biasa Anang pakai.
Tapi Anang tidak tahu, apa yang ditulis Santi dengan jari telunjuknya.
"Kamu belum mau mandi?" tanya Anang.
Suara Anang pelan, tapi masih bisa membuat Santi tersentak.
Tampaknya Santi sama sekali tidak menyadari, kalau Anang sudah keluar dari kamar mandi.
Santi lalu berbalik, masih dengan selimut yang menutup sampai diatas dadanya.
"Sebentar lagi. Aku masih lelah..." sahut Santi pelan.
Anang menghampiri Santi, lalu duduk disampingnya.
"Dari tadi malam, kamu kelihatan kurang bersemangat. Ada apa? Kenapa kamu tidak mau cerita?" tanya Anang sambil menatap Santi lekat-lekat.
"Nggak ada apa-apa. 'Kan aku sudah bilang, kalau aku hanya lelah," sahut Santi lalu memalingkan wajahnya kesamping, menghindari tatapan Anang.
"Ya, sudah... Mau mandi cuma masih lelah?" tanya Anang pelan.
Santi terlihat menganggukkan kepalanya, meski tidak melihat kearah Anang.
Anang menarik pelan selimut yang dipakai Santi, wanita itu hanya memakai selembar pakaian dalam, yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Anang lalu berdiri, dan mengangkat Santi dari samping.
Mungkin Santi memang mau saja digendong, atau hanya karena takut jatuh, dengan tangannya, Santi berpegangan dibahu Anang.
"Biar aku yang gendong, kalau kamu lelah," kata Anang, saat Santi sudah digendongannya.
Santi tidak protes, tidak juga setuju, hanya memasang wajah datar sambil melihat Anang.
"Kalau kamu lelah, tapi mau kemana-mana... Beritahu aku. Aku akan menggendongmu," kata Anang dengan percaya diri.
__ADS_1