SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 114


__ADS_3

Jalan-jalan Anang dan Santi malam itu, rasanya lumayan menyenangkan, kecuali drama Anang yang tidak sengaja menginjak lubang, yang cukup dalam dan berisi air lumpur, yang membuat kaki celana panjangnya basah sampai hampir ke lutut.


Terang saja Santi akan menertawakan Anang, sampai dia hampir sesak nafas.


"Lucu?" tanya Anang ketus.


Santi menganggukkan kepalanya, sambil tetap tertawa, dan menutup mulutnya dengan tangan.


Hampir saja Anang menyiramkan air kepada Santi, yang masih saja menertawakannya, ketika menumpang mencuci kaki disalah satu emperan toko.


"Ketawa terus... Dingin tahu!" ujar Anang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Santi hanya memeluk Anang, saat Anang sudah memasang tampang sangar, seolah-olah akan memarahinya.


"Belum mau pulang?" tanya Santi sambil menunjuk kaki celana Anang yang basah.


"Sebentar lagi. Aku masih mau melihat itu," kata Anang menunjuk anak-anak abege yang berkumpul, sambil memamerkan sepeda motor mereka, tidak jauh dari tempat Anang dan Santi berdiri sekarang.


"Jangan lama-lama!" ujar Santi.


"Kenapa?" tanya Anang.


"Buah untuk Gita, sebaiknya diberikan malam ini 'kan? Kalau besok, bisa-bisa buahnya sudah nggak bagus lagi untuk dimakan," sahut Santi yang memegang pinggang Anang erat-erat.


Anang hanya menganggukkan kepalanya.


"Untuk apa melihat anak-anak ini? Memangnya kamu bisa pakai sepeda motor?" tanya Santi.


"Nggak bisa. Dulu bisa naik sepeda saja... Dulu aku pernah lihat anak-anak seperti ini beratraksi dijalan," ujar Anang.


"Ya, elah... Kalau dipinggir kota, bisa saja kamu melihat anak-anak itu berani begitu. Kalau ditengah kota seperti ini, mereka mana berani," ujar Santi.


"Paling-paling mereka cuma mau pamer motor mereka saja kalau disini," sambung Santi.


"Ooh..." ujar Anang.


"Kalau begitu, kita pergi saja dari sini!" sambung Anang sambil menarik Santi berjalan menjauh dari anak-anak itu.


"Belum mau pulang?" tanya Santi lagi, yang mulai terlihat bosan berjalan-jalan didaerah itu.


"Ya sudah. Kita pulang saja!" sahut Anang.


Memang semakin jauh mereka berjalan, malah jalur itu jadi kurang menyenangkan lagi, paru-paru mulai terasa sesak karena asap yang dikeluarkan kendaraan bermotor dijalanan yang terlalu padat.


Tidak terlalu lama mereka sudah mendapat taksi untuk membawa mereka kembali ke kost-kostan.


"Aku sudah mengirim pesan pada Gita, agar mengambil buahnya dikost," celetuk Santi ketika mereka sudah diperjalanan pulang.


"Lalu? Dia mau saja?" tanya Anang.


"Iya," jawab Santi.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sekalian kalau dia datang, kita beritahu kalau janji untuk bernyanyi dipernikahan keluarganya tidak bisa kamu lakukan," kata Santi lagi.


Setibanya mereka di kost-kostan, Gita sudah menunggu didepan kamar Anang dan Santi.

__ADS_1


"Sudah lama?" tanya Santi kepada Gita.


"Baru saja!" sahut Gita.


"Ayo masuk!" ajak Santi, sambil membuka pintu kamar.


"Kenapa kakimu?" tanya Gita yang kelihatan heran, karena celana Anang yang masih basah.


"Nggak sengaja masuk lubang tadi," ujar Anang.


Santi senyum-senyum sendiri, sambil melirik Anang.


"Masih mau mengejekku lagi?" tanya Anang kepada Santi.


"Matanya jelalatan, makanya masuk lubang," sambung Santi lalu tertawa.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu buahnya!" kata Anang sambil menunjuk, bungkusan, yang masih tergeletak dilantai.


"Besar amat. Mana bisa aku habiskan sendiri kalau segitu banyaknya," sahut Gita.


"Ambil saja! Kalau dikost mu ada lemari es, bisa tuh dimasukkan ditempat yang kedap udara, baru disimpan," ujar Santi.


Gita lalu duduk dilantai bersama Santi dan Anang.


"Berapa hari kalian dikampung Anang?" tanya Gita.


"Mau di cicip sekarang?" tanya Anang, sambil memegang bungkusan buah nangka, yang akan diberikan kepada Gita.


"Iya, aku mau!" sahut Gita.


"Kami dikampung Anang, cuma sehari saja," ujar Santi.


"Disana banyak pria bibit unggul..." sambung Santi sambil berbisik kepada Gita.


Anang menatap Santi lekat-lekat.


"Aku masih bisa mendengarmu," ujar Anang ketus.


Santi tertawa lepas, begitu juga Gita yang ikut tertawa bersama Santi.


"Santi paling cuma bercanda, kamu sudah marah-marah," ujar Gita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, tapi memang benar. Teman-teman Anang, ganteng-ganteng. Malah ada satu teman Anang, yang lebih ganteng dari Anang," kata Santi kepada Gita, seolah-olah tidak ada Anang disitu.


Anang hanya bisa merengut mendengar perkataan Santi.


"Aku punya videonya, waktu kami lagi kumpul-kumpul dikampung Anang. Juga saat Tejo, salah satu teman Anang itu, sedang bernyanyi. Mau lihat?" ujar Santi.


Gita menganggukkan kepalanya.


Santi lalu membuka layar ponselnya, dan memperlihatkan hasil rekamannya kepada Gita.


"Kamu merekam Tejo?" tanya Anang dengan suara tinggi.


Anang tidak tahu sama sekali, kalau Santi sempat merekam video malam itu.

__ADS_1


Santi hanya tersenyum, sambil melihat Anang, tanpa mau menghiraukan kekesalan Anang dengannya.


'Awas saja' kata Anang yang hanya menggerakkan mulutnya, tanpa mengeluarkan suaranya kepada Santi.


Santi hanya menyipitkan matanya, sambil menggigit bibirnya sendiri.


Bayangkan saja, bagaimana Anang harus menahan gemasnya, karena tingkah Santi itu.


Santi lalu memberi tanda kepada Anang dengan matanya, agar Anang melihat Gita.


Gita tampak terpana dengan video yang dia lihat diponsel Santi, sambil memakan buah nangka, sesekali Gita terlihat tersenyum disitu.


Setelah videonya usai diputar, Gita lalu mengembalikan ponsel Santi.


"Kayaknya seru waktu kalian dikampung ya?!" ujar Gita.


"Lumayan seru. Teman-teman Anang, asyik dibawa ngobrol. Ini bawaan yang dikasih teman-teman Anang!" kata Santi.


"Jauh nggak dari sini?" tanya Gita, lalu mengambil sepotong buah nangka lagi untuk dia makan.


"Sebenarnya nggak terlalu jauh. Cuma bus yang ada, hanya bisa pergi. Kalau mau pulang kesini, harus menunggu besoknya lagi," ujar Anang.


"Buahnya enak. Manis! Kalian nggak makan?" ujar Gita.


"Makan saja...! Kami sudah makan tadi," sahut santi, lalu berdiri dan mengambil kantong plastik.


Santi memasukkan kedalam kantong plastik, beberapa camilan yang diberikan oleh teman-teman Anang.


"Ini sekalian kamu bawa pulang nanti" ujar Santi sambil meletakkan kantong plastik didekat Gita.


"Gita...! Tentang janjiku untuk bernyanyi diacara keluargamu, mau nggak mau harus aku batalkan." celetuk Anang.


"Heh? Kenapa?" tanya Gita.


"Lusa, kami akan keluar negeri. Aku menandatangani kontrak bernyanyi disana," sahut Anang.


Mata Gita terbelalak.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Gita.


"Hmm... Gara-gara Peter, orang yang menemuimu waktu itu, yang mengatakan kalau Anang itu penipu," sahut Santi.


Santi lalu menceritakan kepada Gita, semua yang terjadi, kenapa sampai Anang mendadak harus pergi keluar negeri.


Gita hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mendengarkan penjelasan Santi.


"Jadi kalian juga nggak tahu, kapan kalian bisa kembali kesini?" tanya Gita.


"Iya," sahut Anang.


"Padahal, Tejo mungkin akan jalan-jalan kesini..." ujar Santi sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Gita.


Gita kelihatannya mengerti candaan Santi, lalu tertawa lepas.


Anang menghela nafas panjang, melihat Santi yang masih saja bisa bercanda.


Tapi, yang paling penting, Gita tampaknya sudah bisa menerima, kalau Anang akan tetap bersama Santi.

__ADS_1


Kalau begitu, 'kan bagus?


Tidak perlu lagi ada drama pertengkaran dua wanita, yang hanya akan membuat Anang hipertensi.


__ADS_2