SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 164


__ADS_3

Pagi-pagi buta seperti biasanya, Anang sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke kebun.


Begitu juga Tejo, yang sejak kemarin siang bertingkah aneh, pagi ini rasanya tingkahnya jauh lebih aneh.


Anang baru saja akan berjalan keluar dari rumah, tapi, Tejo melarang Anang pergi ke kebun.


Tejo meminta Anang, agar membantunya membersihkan rumah, karena ada tamu Tejo yang akan datang kesitu.


Tumben saja, kalau tiba-tiba Tejo akan kedatangan tamu, yang kelihatannya cukup istimewa, sampai-sampai Tejo melakukan persiapan ekstra dirumahnya.


Tejo sudah mewanti-wanti Anang, kalau dia ingin menjamu tamunya sebaik-baiknya, agar mendapat kesan yang baik.


Setelah menghabiskan teh hangat dan beberapa potong biskuit, sebagai sarapan mereka pagi itu, Tejo kemudian pergi ke pasar sendiri.


Sambil Anang menunggu Tejo kembali dari pasar, Anang sudah membersihkan halaman rumah, sampai kedalam kamar mandi.


Ketika Tejo sudah pulang, dan membeli berbagai macam bahan makanan, dengan jumlah yang cukup banyak, seolah-olah Tejo akan membuat selamatan dirumahnya, cukup membuat Anang semakin penasaran dengan tamu yang akan datang ini.


"Berapa orang tamu yang akan datang?" tanya Anang.


"Dua orang. Tapi, mereka akan menginap disini," sahut Tejo, sambil memasukkan bahan makanan kedalam lemari es.


Anang tidak mau bertanya lebih jauh lagi, kemudian melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya dirumah Tejo.


"Kamu nggak akan membuat keributan, disini nanti 'kan?" tanya Tejo tiba-tiba, disela-sela kegiatan mereka berdua membersihkan rumah Tejo.


Anang yang sedang menyapu lantai, berhenti bergerak, lalu menatap Tejo yang sedang mengelap perabotan sederhana dirumah Tejo itu.


"Apa maksudmu?" tanya Anang heran.


"Aku hanya khawatir... Karena saat aku menceritakan tentang pernikahanku waktu itu, kamu kelihatannya tidak senang," sahut Tejo, yang tetap menggosok perabotan dengan sepotong kain lap.


"Rasanya, waktu itu aku bersikap biasa saja..." ujar Anang, yang masih bingung dengan arah pembicaraan Tejo itu.


Kali ini, Tejo yang berhenti bergerak, lalu balas menatap Anang.


"Ya sudah, kalau begitu... Aku hanya mau memastikan saja..." sahut Tejo, kemudian lanjut mengerjakan pekerjaannya.


"Aku bukan akan langsung menikah. Aku masih mau mengenal mereka dulu, sambil memilih siapa yang kira-kira akan aku lamar," sambung Tejo.


Berarti, selama ini tingkah aneh Tejo, hanya karena dia berniat untuk menikah lagi.


Kalau cuma begitu saja, semestinya dia tidak perlu menyembunyikannya dari Anang.


Toh, Anang juga tidak akan tinggal selamanya dirumah Tejo, kalau memang Tejo akan menikah, Anang akan pindah dari situ.

__ADS_1


Setelah semua kegiatan bersih-bersih sudah selesai dikerjakan, Anang lalu membantu Tejo untuk memasak bagi tamu-tamunya nanti.


Mereka masih sibuk memasak, ponsel Tejo berbunyi, dan Tejo buru-buru menyambut panggilan yang masuk itu.


"Nang! Kamu lanjutkan ya,?! Aku mau menjemput tamuku dulu!" ujar Tejo.


Anang menganggukkan kepalanya.


Tejo lalu setengah berlari, keluar dari rumah, meninggalkan Anang sendiri disitu.


Kalau dari bahan yang disiapkan diatas meja, sudah tidak banyak yang harus Anang lanjutkan, tinggal menumis sayuran saja.


Anang menyelesaikan memasaknya sendiri, sambil menunggu Tejo kembali.


Sedikit dalam hati Anang, ada rasa penasaran, wanita seperti apa yang jadi target Tejo.


Apalagi kalau dari perkataannya tadi, berarti wanita incaran Tejo itu lebih dari satu.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anang salut dengan kehebatan Tejo, yang berani mendekati dua wanita sekaligus.


Tapi, ada bagusnya, mumpung belum menikah, masih bisa memilih-milih dulu, biar tidak salah langkah, lalu harus bercerai.


Tejo yang sudah pengalaman, jelas belajar dari kesalahan masa lalu.


Anang sudah selesai didapur, lalu berjalan keluar, kebagian depan rumah, tepat saat Tejo dan dua tamunya datang, dengan menumpang ojek motor.


Mata Anang terbelalak, ketika 'tamu-tamu' Tejo turun dari motor tumpangan masing-masing, dan berjalan masuk ke teras depan rumah Tejo.


Anang rasanya tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.


Salah satu tamu Tejo, adalah orang yang sangat dikenali Anang.


Gita.


Anang hanya melihat sepintas wanita yang lainnya, yang tidak dia kenali, lalu kembali memandangi Gita, yang tersenyum saat melihat Anang.


"Halo, Mas! Lama kita nggak ketemu!" sapa Gita santai.


"Eh, ah! Iya!" sahut Anang gelagapan.


Gita menjulurkan tangannya kepada Anang, dan Anang menyambutnya untuk bersalaman.


"Ini, temanku Ayunda!" kata Gita, memperkenalkan wanita lain, yang datang bersamanya, setelah melepas tangan Anang.

__ADS_1


Anang lalu menjulurkan tangannya kepada teman Gita, yang bernama Ayunda itu.


"Anang!" ujar Anang, lalu tersenyum, karena wanita itu sudah lebih dulu tersenyum, saat melihat Anang.


Ayunda tidak kalah manis dari Gita.


"Silahkan duduk dulu!" ujar Tejo, sambil membawa barang-barang bawaan kedua wanita itu, kedalam rumah.


"Mau duduk disini? Atau mau kedalam?" tanya Anang.


"Disini saja dulu, Mas!" sahut Gita, lalu duduk disalah satu kursi diteras itu.


"Silahkan duduk!" ujar Anang sambil melihat Ayunda.


Ayunda masih tersenyum kepada Anang, lalu duduk didekat Gita.


Gila!


Anang jadi lebih salut lagi dengan kehebatan Tejo, yang berani membawa dua wanita incarannya sekaligus, dalam satu pertemuan.


"Sebentar, ya!" kata Anang, lalu berjalan masuk kedalam rumah, berniat membuatkan dua wanita itu minum.


Ketika Anang sedang merebus sedikit air, Tejo menyusul Anang didapur.


"Nggak masalah 'kan, kalau aku berhubungan dengan mantan-mantanmu?" tanya Tejo.


"Nggak, lah! Coba kamu bilang saja dari kemarin, jadi aku nggak perlu kebingungan dengan tingkah anehmu!" sahut Anang.


Tejo mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil menyiapkan gelas dan teh, yang kemudian diseduh Anang dengan air panas, yang sudah mendidih.


Tejo membawa teh kedepan, sedangkan Anang masih didapur, merapikan sisa sampah teh.


Berarti, maksud Tejo dia khawatir kalau Anang akan marah, karena dulu target Anang, malah jadi istri Tejo, dan sekarang Gita lagi yang jadi incaran Tejo.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil senyum-senyum sendiri, dan hampir tertawa.


Gita belum se-spesial itu bagi Anang.


Anang hanya menganggap Gita sebagai teman saja, meski awal pertemuan mereka dulu, Anang pernah jatuh cinta pada wanita itu.


Anang lalu berjalan keluar menyusul Tejo, dan ikut duduk dengan dua wanita itu, dimana Tejo juga sudah duduk disitu.


"Dengar-dengar, Mas Anang membuka perkebunan disini, ya? Sukses dong! Nggak perlu kerja susah-susah lagi dikota!" celetuk Gita.


"Hmmm... Membuat perkebunan itu benar. Tapi, suksesnya belum. Aku baru saja selesai menanam. Itu pun belum tahu, apa akan berhasil semua atau bagaimana," sahut Anang.

__ADS_1


"Tapi, kalau sudah sibuk dengan kebun, berarti, Mas Anang sudah tidak mau ke kota lagi?" tanya Gita.


"Hmmm... Nggak begitu. Kita lihat saja nanti!" sahut Anang.


__ADS_2