SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 132


__ADS_3

Anang dan Santi menemui seorang laki-laki yang punya perawakan, dan tampang mirip-mirip dengan mereka berdua, disebuah kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari studio.


Awalnya Anang sempat mengira kalau orang itu berasal dari negara yang sama dengan mereka, dan hampir saja mengajaknya bicara menggunakan bahasa Indonesia.


Bukan.


Menurut Santi, laki-laki itu berasal dari Filipina, dan sekarang sedang dalam masa penyelesaian kontrak dengan label Miss Jordan.


"Dia sama sepertimu, lagunya dicuri hak ciptanya. Yang lebih buruk, dia sudah menandatangani kontrak untuk satu album," kata Santi.


Santi berbicara dengan laki-laki itu bersahut-sahutan, menggunakan bahasa Inggris, dan Anang hanya bisa terdiam menunggu disitu.


Keduanya berbicara setengah berbisik, dengan raut wajah serius, dan sesekali melihat-lihat kesana kemari, seakan-akan ada yang mereka waspadai.


Ketika mereka selesai bicara, laki-laki itu langsung berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Anang dan Santi disitu.


"Dia mau saja, membantumu lepas dari tuntutan Miss Jordan, tapi kontraknya masih belum berakhir,


Dia khawatir kalau-kalau dia malah akan mendapat masalah baru, kalau dia menjadi saksi sekarang ini," kata Santi.


"Kita harus menunggu dua minggu lagi," sambung santi dengan raut wajah kecewa.


"Masih ada beberapa orang lagi yang jadi korban Miss Jordan. Rata-rata dari negara berkembang...


Hanya saja mereka sulit untuk ditemui, karena sedang bekerja. Ada juga yang sudah kembali ke negaranya," kata Santi lagi, sebelum mereka pergi dari tempat itu, dan kembali ke apartemen.~


Keesokkan harinya, masih pagi-pagi sekali sebelum jemputan Anang datang, Santi sudah mengemasi barang-barangnya yang perlu dia bawa.


"Kita tidak akan bisa kembali ke apartemen, kurang lebih satu minggu...


Aku hanya membawa sedikit pakaianmu, karena nanti label yang menyiapkan pakaianmu untuk tampil," kata Santi sambil memasukkan barang-barang kedalam koper.


Anang dibawa ke studio Miss Jordan pagi itu, sebagai awalnya, karena Anang akan berfoto-foto untuk cover singlenya, sebelum mereka memulai perjalanan, untuk tampil dibeberapa event.


Pakaian Anang dan riasannya ada yang mengatur, sedangkan Santi hanya menunggu dan mengawasi pekerjaan Anang.


Anang harus beberapa kali berganti pakaian, begitu juga dengan riasan wajah dan rambutnya, yang sesekali masih dirapikan disela-sela sesi foto.


Untuk berfoto saja, sudah menghabiskan waktu cukup lama, sampai-sampai melewatkan jam makan siang.


Anang hanya bisa makan di ruang foto, itupun sambil terburu-buru, karena dia masih ditunggu untuk berfoto ulang, dan mengambil beberapa pose lagi.

__ADS_1


"Vitaminmu diminum! Jangan sampai sakit lagi!" kata Santi sambil menemani Anang makan, lalu menyodorkan dua butir tablet kepada Anang.


"Kamu sudah makan?" tanya Anang.


"Nanti saja... Aku bisa makan sambil menunggumu," sahut Santi.


Sambil Anang berfoto-foto, Anang melihat Miss Jordan yang datang ke situ, dan tampak mengawasi pekerjaan yang sedang berlangsung.


Miss Jordan cukup lama berdiri, dan sesekali terlihat berjalan disitu, mengawasi langsung pekerjaan yang dilakukan diruangan itu, bahkan Anang sempat melihat Miss Jordan yang berbicara dengan wajah serius dengan Santi, sebelum dia pergi dari tempat itu.


Selesai dari situ, Anang dan Santi kembali masuk kedalam van kendaraan perusahan, untuk memulai perjalananan mendatangi event sesuai jadwal.


"Perjalanan yang ini tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja, kalau kamu bisa tidur, kamu tidur saja dulu..." ujar Santi.


Sekitar satu setengah jam perjalanan, mereka tiba disalah satu event terbuka, yang diselenggarakan didalam ruangan besar, dengan panggung yang juga besar.


Anang akan jadi titik diatas panggung, karena disitu Anang hanya akan duduk dan bernyanyi sendiri, tanpa ada pendamping yang bermain musik bersamanya.


Setelah memastikan pakaian dan penampilan Anang sudah maksimal, Santi menemui orang-orang yang ada disitu, dan berbicara dengan mereka.


"Kita tunggu disini saja! Nanti aku beritahu kalau sudah giliranmu untuk tampil dipanggung," ujar Santi sambil memeriksa pakaian Anang.


Acara yang menurut Anang seperti sedang dalam perlombaan bernyanyi, karena pergantian penyanyi yang cukup cepat tanpa berjeda lama-lama.


Didepan panggung itu cukup banyak penonton yang hadir.


Perhatian orang-orang yang jadi penonton disitu, benar-benar terpusat keatas panggung, dan reaksi penonton disitu juga mengkhawatirkan Anang.


Meski ada yang mendapat tepuk tangan meriah, tapi ada saja penyanyi ataupun grup band, yang mendapat sorakkan mengejek saat mereka sedang bernyanyi.


Padahal menurut Anang penampilan orang-orang itu sudah bagus, tapi masih tidak bisa memuaskan penontonnya.


Membayangkan dia mendapat sorakkan mengejek dari penonton seperti itu, benar-benar bisa membuat lutut Anang gemetaran.


Anang menggenggam tangan Santi, sambil menunggu gilirannya untuk naik ke panggung.


"Kenapa? Gugup?" tanya Santi lalu tersenyum kepada Anang.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Iya," sahut Anang.

__ADS_1


"Tenang saja! Anggap saja seperti saat kamu bernyanyi di acara-acara, yang biasa mengundangmu dulu," kata Santi.


"Tapi, ini beda... Orang-orang ini benar-benar memperhatikan baik-baik, semua yang naik keatas panggung," sahut Anang.


Santi lalu tersenyum.


"Kalau kamu rasa nggak nyaman, saat bernyanyi nanti, pejamkan saja matamu... Kamu pasti bisa!" kata Santi sambil mengelus-elus tangan Anang dengan lembut.


"Kamu nggak kemana-mana 'kan?" tanya Anang.


"Nggak, sayang... Aku tetap berdiri disini, jadi kamu bisa melihatku, kapan pun kamu mau," sahut Santi.


Anang lalu memeriksa suara gitar yang diberikan padanya distudio Miss Jordan tadi.


Sebenarnya Anang sudah menyetelnya tadi diperjalanan, tapi karena rasa gugupnya, membuatnya ingin memastikan kalau nada senar gitarnya tidak ada yang salah.


Seseorang yang memakai pakaian berlambang event itu, lalu menghampiri mereka berdua, dan terlihat berbicara dengan Santi.


"Selesai yang satu itu, sudah giliranmu yang bernyanyi dipanggung," kata Santi.


"Kita kedekat situ dulu! Kamu harus memasang alat untuk pengeras suara di gitarmu," sambung Santi, sambil memegang tangan Anang dan membawanya berjalan.


Baik di gitar Anang, juga ditelinga Anang dipasangi alat kecil, yang menurut Santi, alat-alat itu kurang lebih seperti mikrofon.


Meski setahu Anang yang namanya mikrofon itu dipasang ditongkat yang berdiri didepannya, tapi kali ini hanya perlu dipasang ditelinga, dengan sedikit bagiannya yang seperti kawat tebal, yang menjulur keluar hampir ke mulut Anang.


Begitu juga yang dipasang di gitar.


Biasanya 'kan ada colokan dengan kabel panjang, yang dipasang ke gitar, tapi yang ini hanya colokan dengan kotak kecil diujungnya.


Meski ada kotak yang hampir sebesar pemutar kaset pita, yang dipasang di bagian belakang pinggang Anang.


Semua alat itu, baru kali itu dilihat Anang, apalagi sampai memakainya seperti itu.


Anang hanya berdiri diam, sambil seseorang yang ada disitu yang memasangkan semuanya untuk Anang.


"Sudah giliranmu..." kata Santi pelan, kemudian mencium bibir Anang sebentar.


"Yakin saja kalau kamu bisa tampilkan yang terbaik, sayang...!" ujar Santi lalu tersenyum.


Anang menghela nafas panjang, lalu melangkahkan kakinya ke panggung.

__ADS_1


__ADS_2