SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 170


__ADS_3

"Tangan Anang terluka!" seru pak Handoko, dengan mata melotot, menatap tangan Anang, lalu memegangnya pelan.


Pak Handoko terlihat panik, lalu memencet tombol yang ada didekat ranjangnya.


"Saya nggak apa-apa, Pak!" ujar Anang.


"Jangan bilang nggak apa-apa! Tanganmu itu terluka, dan sudah seharusnya dirawat!" kata pak Handoko tegas.


Tak berapa lama, seorang perawat mendatangi kamar pak Handoko, lalu menghampiri orang tua itu.


"Ada apa, Pak?" tanya perawat itu, lalu seolah-olah akan memeriksa keadaan pak Handoko.


"Saya baik-baik saja! Tolong, periksa tangan anak saya!" kata pak Handoko tegas dan buru-buru.


Pak Handoko masih terlihat sangat panik, dan cemas, meski perawat wanita itu, sedang memeriksa tangan Anang.


"Kelihatannya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Tapi, kalau mau kita periksakan lebih lanjut dengan dokter saja," ujar perawat itu, setelah meraba-raba tangan, sampai ke jari-jari tangan Anang.


"Iya! Pertemukan anakku dengan dokter saja!" sahut pak Handoko.


"Nggak usah...! Saya nggak apa-apa, Pak!" ujar Anang, menyela pembicaraan pak Handoko, dan perawat itu.


"Anang!" kata pak Handoko dengan suara meninggi, dan alisnya yang mengerut.


Mau tidak mau, Anang lalu berdiri dan ikut dengan perawat itu, berjalan keluar dari ruang perawatan pak Handoko.


"Nanti saya kembali kesini, Pak!" ujar Anang sambil berjalan.


Pak Handoko hanya menganggukkan kepalanya, lalu dengan tangannya yang melambai, seolah-olah memberi tanda bagi Anang, agar terus berjalan mengikuti perawat itu.


Reaksi pak Handoko, ketika melihat tangan Anang yang terluka, kurang lebih sama dengan Santi.


Oh iya, pesan Santi tadi belum terbaca semua.


Sambil Anang berjalan mengikuti perawat tadi, Anang lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Baru saja, Anang memegang ponselnya, panggilan masuk membuat ponselnya berbunyi, dan bergetar.


Santi menghubungi Anang lewat video call.


Kalau Anang menerima panggilan itu, Santi pasti tahu kalau Anang sedang dirumah sakit, dan itu bisa membuat Santi panik, lalu Anang tidak bisa menyembunyikan keadaan pak Handoko, juga dirinya sendiri.


Anang membiarkan panggilan itu sampai berhenti sendiri, lalu balik menghubungi Santi hanya dengan panggilan suara.


"Halo! Mas! Kenapa kamu menolak panggilanku? Kamu dimana? Kamu nggak bohong, kalau kamu baik-baik saja 'kan? Papaku juga... Apa Papaku sedang bersama kamu?


Aku menghubungi temannya. Katanya, Papa tadi jalan denganmu! Ponsel Papa nggak aktif!" ujar Santi, dari seberang telepon.


Santi bicara terburu-buru, sampai-sampai dia mungkin tidak sempat bernafas.


"Aku baik-baik saja. Papamu juga baik-baik saja..." Sahut Anang, lalu Anang melihat kalau perawat tadi, menyuruh Anang untuk duduk diruangan dokter.


"Tunggu sebentar...! Nanti aku telepon lagi, ya?! Aku lagi dikamar mandi," ujar Anang berbohong, lalu tanpa menunggu jawaban Santi, Anang memutus panggilan teleponnya.

__ADS_1


Anang yakin kalau Santi pasti marah, karena alasan Anang itu.


Tapi, biarkan saja dulu.


Nanti, Anang pasti menghubunginya lagi.


Sambil Anang diperiksa dokter, Anang tidak bisa berhenti membayangkan wajah Santi, saat berbicara tadi.


Untung saja tidak terlalu lama tangan Anang diperiksa.


"Kalau keluhannya berlanjut, Bapak bisa datang kesini lagi!" kata dokter itu.


Sambil menunggu obat-obatan yang diambil perawat, dan tangan Anang yang juga dipasangi perban, Anang lalu menghubungi Santi lagi.


"Halo! Mas! Dimana Papa?" tanya Santi masih bicara terburu-buru, saat menerima panggilan Anang.


"Halo! Sekarang, Papamu baru saja kekamar mandi!" sahut Anang.


"Maaas...!" ujar Santi dengan suara merengek.


"Kenapa...? Kami berdua baik-baik saja...!" kata Anang pelan.


Santi terdiam sebentar, lalu berkata,


"Perasaanku nggak enak. Kamu nggak berbohong denganku 'kan, Mas?" tanya Santi.


"Nggak...!" sahut Anang pelan.


"Beneran?" tanya Santi lagi.


"Beneran... Aku memang jalan-jalan dengan Papamu, sepulang dari kantor pengadilan tadi. Mungkin ada yang salah dimakanan kami barusan, makanya kami berdua sakit perut," ujar Anang masih berbohong.


"Ooh..." sahut Santi.


"Nggak usah khawatir... Nggak ada yang buruk yang terjadi..." ujar Anang.


"Hmmm... Nanti kalau Papa sudah keluar dari kamar mandi, bilang kalau aku mau bicara dengannya," kata Santi, yang sekarang suaranya terdengar sudah jauh lebih tenang.


"Iya...!" sahut Anang.


Mereka berdua lalu terdiam, untuk beberapa waktu lamanya.


Anang tidak tahu harus berkata apa, setelah sekian lama mereka tidak pernah saling bicara.


Kemungkinan, Santi juga merasakan hal yang sama.


Tidak ada satupun yang mengeluarkan suaranya, sampai-sampai Anang merasa saat itu jadi sangat canggung, meski mereka tidak saling bertatap muka.


"Aku menyayangimu..." kata Santi tiba-tiba, lalu panggilan itu terputus.


Rasanya, Anang tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Anang terdiam menatap layar ponselnya, tanpa tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Butuh waktu beberapa menit, barulah Anang terpikir untuk menghubungi Santi lagi, tapi kontak Santi sedang berada dipanggilan lain.


Hmmm...


Nanti saja, Anang menghubunginya lagi.


Anang berjalan kembali, menuju ruangan perawatan pak Handoko.


Dari dalam ruangan, terdengar suara pak Handoko sedang berbicara disitu.


Ketika Anang melangkah masuk, pak Handoko sedang berbicara diponselnya.


Perkataan pak Handoko, terdengar seolah-olah dia sedang berusaha menenangkan seseorang yang sedang berada diseberang panggilan teleponnya.


Dan, ketika pak Handoko melihat Anang, orang tua itu tersenyum, lalu menunjuk ponsel yang menempel ditelinganya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anang menunggu disitu, sambil duduk didekat ranjang pak Handoko.


"Iya, Anang sedang jalan-jalan dengan Papa..." kata pak Handoko diponselnya.


Berarti, Santi menelpon Papanya lagi, setelah berbicara dengan Anang tadi.


"Iya... Papa pasti beritahu kamu, kalau ada apa-apa!" kata pak Handoko.


"Sudah? Papa masih mau jalan-jalan dengan Anang!" sambung pak Handoko lagi, lalu menurunkan ponsel dari telinganya.


"Santi menghubungi Anang, tadi?" tanya pak Handoko.


"Iya...!" sahut Anang.


"Tadi, ponsel saya mati..." ujar pak Handoko pelan.


"Katanya, Santi tadi punya firasat buruk. Dia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dengan kita berdua...


Anak itu..." kata pak Handoko lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anang hanya terdiam, sambil memikirkan kata-kata Santi sebelum mengakhiri panggilannya tadi.


Santi masih bisa merasakan kejadian yang Anang dan ayahnya alami.


Hmmm...


Apa yang Anang harus lakukan?


"Bagaimana tanganmu? Apa baik-baik saja?" tanya pak Handoko, yang seakan baru ingat, kalau Anang tadi memeriksa keadaan tangannya ke dokter.


"Eh! Baik-baik saja, Pak! Hanya memar biasa," sahut Anang.


"Untung saja..." kata pak Handoko pelan.


Pak Handoko lalu melihat layar ponselnya sebentar.


"Saya mau jalan-jalan denganmu. Tapi, mungkin warna pipi saya, akan jadi pusat perhatian orang-orang," celetuk pak Handoko, sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Anang ikut tertawa disitu.


"Kita disini saja dulu, Pak!" ujar Anang santai.


__ADS_2