SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 90


__ADS_3

Anang hampir tidak bisa berhenti mengagumi rumah keluarga Setyo.


Rumah mewah, tapi desain dibagian luar dan dalamnya, bertema gabungan antara tradisional dan modern.


Ruangan per-ruangan, terkesan sangat lega, karena hanya diisi dengan furniture yang tidak seberapa banyaknya, tapi dengan nilai estetika yang tinggi.


Furniture berbahan kayu asli, begitu juga dengan pajangan patung pahatan kayu, yang diletakkan dibeberapa sudut rumah.


Unik.


Namun itu selera yang mahal.


Anang dan Santi dibawa Setyo keruang makan, yang tidak kalah estetik.


Dengan ruang makan terbuka menghadap ketaman, benar-benar menenangkan perasaan orang-orang yang melihatnya.


Tak lama, beberapa pekerja dirumah Setyo, tampak sibuk menyajikan jamuan makan siang untuk Anang dan Santi.


"Mari makan!" kata Setyo, mempersilahkan Anang dan Santi untuk mulai memilih makanan, diatas meja didepan mereka.


Sambil memakan makan siangnya, sesekali Anang memandangi taman didepan mereka yang cukup lega, dengan beberapa tanaman bunga yang sedang bermekaran.


"Orang tua dan adikku masih pergi berbelanja. Paling-paling sebentar lagi mereka kembali. Soalnya mereka sudah pergi sejak pagi tadi." kata Setyo disela-sela makan siang mereka.


"Disini pekerjaan utama masyarakatnya, apa?" tanya Anang.


"Petani dan nelayan. Banyak juga yang punya perkebunan akasia seperti kami, tapi itu 'kan tidak dipanen setiap hari," kata Setyo sambil tersenyum.


"Perkebunan akasia cukup dirawat, sambil menunggu waktu sampai batangnya bisa dipanen untuk diolah.


Jadi kalau yang masih baru-baru saja membuka lahan untuk akasia, masih harus mencari penghasilan tambahan, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Kalau perkebunan ayahku ini sudah lama dibuka, jadi sebagian besar sudah menghasilkan, tinggal dilakukan penanaman ulang bergantian." kata Setyo menjelaskan.


"Berapa lama waktu tanamnya sampai bisa dipanen?" tanya Anang penasaran.


"Kurang lebih enam sampai tujuh tahun. Tapi orangtuaku lebih suka memanennya, pada saat pohonnya sudah berusia lebih dari tujuh tahun.


Katanya biar kualitas batangnya lebih baik, dan harga jualnya juga lebih tinggi," kata Setyo.


Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau Anang mau tahu bagaimana dari awal persiapan penanaman sampai waktu panen, Anang bisa bertanya dengan ayah,

__ADS_1


Dia pasti dengan senang hati mengajarkan Anang.


Ayahku yang pertama kali membuka lahan akasia didaerah ini, dan mengajari penduduk yang tertarik membuka perkebunan akasia," kata Setyo lagi.


Setelah menghabiskan makan siangnya, Setyo lalu menunjukkan kamar tamu untuk Anang dan Santi beristirahat, tapi Anang masih ingin berjalan-jalan di area perkebunan, dan Setyo mau menemani Anang.


"Istirahat saja... Aku mau jalan-jalan dengan Setyo sebentar ya?!" kata Anang pada Santi ketika mereka sudah dikamar yang diberikan Setyo tadi.


"Iya," jawab Santi singkat.


Anang memeluk Santi sebentar, lalu mengecup kepalanya, sebelum berjalan keluar dari kamar, dimana Setyo sudah menunggu Anang dibalik pintu.


"Maafkan aku... Mungkin aku hanya mengganggu kesibukkan Setyo," celetuk Anang sambil berjalan bersama Setyo di area perkebunan.


"Santai saja! Tidak ada yang terlalu menyibukkanku. Warga yang sering di ajarkan ayahku, sudah membantu persiapan pesta adikku.


Paling-paling kalau ada yang kurang, barulah aku dibutuhkan untuk berbelanja," kata Setyo.


Sambil berjalan-jalan santai di area perkebunan, Setyo menjelaskan kepada Anang, mulai dari penyemaian bibit, penanaman, penyulaman, sampai ke penanaman ulang lahan yang sudah dipanen.


Anang diajak Setyo berjalan-jalan sambil memperlihatkan semua bagian, yang mendukung perkebunan akasia itu, kecuali area yang pohon-pohonnya sudah tinggi besar.


"Kita tidak perlu ke area itu. Takutnya kalau-kalau ada ranting-rantingnya ada yang jatuh, lalu menimpa kita," kata Setyo.


Semua tentang perkebunan akasia itu, sangat menarik perhatian Anang.


"Kalau ada lahan lebih dan bisa ditunda masa panennya, sampai berusia kurang lebih dua belas tahun, batang pohon akasia ini bisa lebih tinggi lagi nilai jualnya," sambung Setyo.


Setyo dengan sabar menjelaskan semua tentang perkebunan kepada Anang dengan detail.


Tanpa perlu bertanya dengan ayah Setyo, Anang sudah mendapatkan semua informasi tentang perkebunan akasia itu.


"Setyo tahu tentang perkebunan ini dengan baik," celetuk Anang.


Setyo tertawa pelan.


"Ayahku belakangan sudah sering meninggalkan kota ini bersama ibu. Perkebunan sawit yang sedang diuji coba, masih butuh banyak perhatian ayahku," kata Setyo.


"Aku belum sepintar ayahku. Tapi karena aku yang akan meneruskan pengelolaan perkebunan ini, jadi mau nggak mau, aku harus banyak belajar," sambung Setyo lagi.


Setyo lalu membawa Anang kembali kerumah, setelah keduanya mulai lelah berjalan diarea perkebunan, yang sangat luas itu.


"Kalau Anang mau membuka perkebunan akasia dan butuh bantuan, bisa hubungi aku nanti. Kita bisa sama-sama belajar," kata Setyo sambil menepuk-nepuk punggung Anang.

__ADS_1


"Terimakasih banyak!" kata Anang kepada Setyo.


"Sama-sama!" sahut Setyo kemudian berjalan pergi meninggalkan Anang yang masuk kedalam kamar tamu.


"Bagaimana? Menarik?" tanya Santi, ketika Anang masuk kedalam kamar itu.


"Iya. Kelihatannya mengelola perkebunan seperti ini tidak terlalu sulit, asal ada yang membantu mengarahkan," kata Anang sambil meluruskan pinggangnya dengan berbaring diatas ranjang.


Santi yang sedari tadi berbaring disitu, lalu mendekat kepada Anang, dan bersandar didada Anang.


Anang memeluk Santi dan mengecup kepalanya.


"Kalau ada yang menjual tanah dengan harga murah, dan cocok dengan kriteria yang dikatakan Setyo tadi, aku mau mencoba-coba menanam akasia. Kata Setyo, dia akan membantuku kalau aku mau," kata Anang.


"Nggak bakalan ada tanah yang murah kalau dikota. Kalau kamu mau, kapan ada waktu lengang, kita carinya dikampung mu dulu, mau? Sekalian kita jalan-jalan disana," ujar Santi.


Anang hanya terdiam, memikirkan perkataan Santi.


Kata Santi ada benarnya juga, apalagi setahu Anang, tanah dikampung Anang itu masuk dalam kategori yang cocok untuk tanaman akasia, menurut ciri-ciri tanah yang dikatakan Setyo.


Tapi, ada sedikit yang mengganggu Anang, yaitu perasaannya kalau melihat rumah dan sawah milik mendiang orang tuanya dulu.


Entah Anang masih sanggup atau tidak, melihat tempat itu, yang kini sudah ditempati orang lain.


"Mau nggak?" tanya Santi.


Mau tidak mau, Anang memang harus kekampungnya.


Anang harus mengeraskan hatinya, agar tidak terlalu terbawa perasaan tentang kelakuan pamannya dulu.


"Hmm... Bisa saja nanti kita kesana. Kalau nggak salah diberkas untuk KUA juga butuh data dari kampung ku itu 'kan?! Sekalian waktu ngurus berkas, kita melihat-lihat disana," sahut Anang.


"Oke! Aku mau melihat, dimana kamu bermain waktu kecil dulu," kata Santi sambil tertawa pelan.


"Apa ada mantanmu disana?" sambung Santi.


"Ada. Kerbau punya tetangga, yang tiap hari menemaniku disawah," sahut Anang.


Santi tertawa terbahak-bahak.


"Masa sih sampai SMA kamu nggak punya pacar biar satu?" tanya Santi seakan tidak percaya dengan perkataan Anang.


"Nggak ada. Kamu aja yang masih mau denganku yang nggak pernah laku-laku," sahut Anang lalu mengecup kepala Santi lagi.

__ADS_1


Santi mengangkat kepalanya, lalu mencium bibir Anang sebentar.


"Bagus! Berarti aku tidak perlu takut ada sainganku disana," kata Santi lalu kembali mencium bibir Anang, yang membalas ciumannya, sampai puas.


__ADS_2