SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 106


__ADS_3

"Jadi kamu sudah nggak berniat tinggal dikampung ini lagi?" tanya Joko.


"Hmm... Bukan begitu, hanya untuk sementara ini aku masih mencari nafkah dikota. Nggak tahu nanti gimana..." sahut Anang.


"Kalian berdua kenapa belum menikah?" tanya Anang.


"Eh, belum ketemu jodoh saja. Beberapa kali aku sempat dekat dengan wanita dari kampung sebelah, tapi nggak berjalan lancar..." sahut Joko.


"Kalau kamu, Wo?" tanya Anang.


"Belum tertarik menikah. Buang-buang uang untuk menikah buru-buru. Aku khawatir nanti jadi 'duren' seperti Tejo...!" jawab Bowo.


"Duda keren!" sambung Joko dan Bowo bersamaan, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Alasan Tejo dengan mantannya itu juga aneh. Masa cuma gara-gara pindah kekota saja malah cere'...?!" ujar Bowo.


"Kalau aku curiga, kalau Tejo memang nggak puas dengan wanita itu saja...!" sambung Joko.


Anang dan Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan begitu..." ujar Tejo.


"Untuk apa aku harus mencari uang dikota yang aku tidak tahu bagaimana caranya, sedangkan disini, aku bisa mengelola sawah mendiang orang tuaku?! Benar nggak Nang?" ujar Tejo.


"Iya. Kalau disini ada yang pasti, mendingan tetap disini. Kalau seperti aku mau bagaimana lagi? Mau nggak mau harus adu nasib..." sahut Anang.


"Pamanmu itu memang brengsek!" ujar Joko.


"Kalau nggak salah, pamanmu sekarang tinggal dikampung sebelah..." sahut Tejo.


"Aku pernah bertemu dengannya, waktu mencari pupuk disana. Dia sempat panik, karena salah mengira kalau aku itu kamu. Mungkin pamanmu takut kalau sampai bertemu dengan kamu lagi," sambung Tejo.


"Ah, biarkan saja. Aku sudah tidak memperdulikannya lagi..." ujar Anang.


Anang lalu melihat Santi, dan Sugeng sedang berjalan memasuki halaman rumah Tejo.


Santi memegang dua buah kelapa muda, sedangkan Sugeng membawa empat buah kelapa muda ditangannya.


Anang lalu berjalan menghampiri Santi, dan mengambil kelapa dari tangannya.


"Berat?" tanya Anang.


"Nggak kok!" sahut Santi, lalu melihat tangannya yang merah bekas memegang tandan kelapa, kemudian cengengesan, sambil memegang pinggang Anang.


"Eh, cuma Santi saja yang dibantuin?" ujar Sugeng.


Anang lalu melihat kearah Sugeng, yang tampak keberatan membawa kelapa-kelapa itu.


"Ah, jadi laki tuh, kamu harus kuat!" ujar Anang.

__ADS_1


Tak lama Sugeng sudah dibantu Tejo, untuk membawakan kelapa muda dari tangannya.


"Mau langsung dikupas?" tanya Anang kepada Santi.


"Iya," sahut Santi.


Anang, Santi dan teman-teman Anang yang ada disitu, lalu berkumpul di sudut halaman depan rumah Tejo, untuk mengupas kelapa muda.


Mengupas kelapa muda saat itu seakan jadi ajang pamer kemampuan.


Anang melihat gerak-gerik teman-temannya selain Sugeng, yang tampak hebat mengupas kelapa muda, dengan sekali tebasan parang.


Dan Santi terlihat tertarik melihat gaya teman-teman Anang disitu, sambil meminum air kelapa yang sudah dikupaskan Anang untuknya.


Mereka tidak lagi duduk diteras rumah Tejo, melainkan sambil beralaskan tikar, duduk ditanah halaman yang berumput.


Anang lalu mengupas kelapa untuk dirinya sendiri, setelah semua sudah selesai mengupas kelapa milik mereka.


Mungkin karena Anang tidak bisa konsentrasi karena teman-temannya yang senyum-senyum kepada Santi, akhirnya salah satu jari tangan Anang terkena tajamnya parang.


Meski lukanya tidak terlalu dalam, tapi tetap membuat jari Anang mengeluarkan cukup banyak darah.


Santi terlihat panik, dan menarik Anang agar ikut dengannya, untuk pergi mencuci tangan Anang.


"Kenapa kamu nggak hati-hati...!" ujar Santi dengan wajah cemas, sambil mencuci tangan Anang dengan sabun.


"Nggak apa-apa... Cuma luka gores," sahut Anang.


Anang menelan ludah.


Jangan coba-coba berkomentar, kalau Santi sudah memasang wajah itu.


Ketika luka dijari Anang sudah berhenti mengeluarkan darah, barulah Anang dan Santi kembali kedepan, dan duduk lagi dengan teman-teman Anang.


Tejo lalu melanjutkan mengupas kelapa milik Anang yang belum terbuka, lalu menyodorkannya kepada Santi.


"Punyamu tadi tumpah...!" ujar Tejo sambil menunjuk dengan matanya, kelapa muda Santi yang miring, dan menumpahkan semua isi airnya.


"Makasih...!" sahut Santi sambil tersenyum.


Sebenarnya nggak masalah, meski kelapa muda milik Anang diberikan kepada Santi, tapi waktu Tejo menyodorkan kelapa itu kepada Santi, seolah-olah dia sedang berusaha menyentuh tangan Santi disitu.


Anang menghela nafas panjang, untuk menahan kekesalannya.


Santi lalu memberi Anang minum kelapa yang dia pegang.


"Kita bagi saja!" ujar Santi sambil tersenyum manis kepada Anang.


Oke.

__ADS_1


Aman.


Sambil Anang meminum air kelapanya, Anang melihat wajah-wajah teman-temannya disitu.


Dalam hati, Anang tertawa bangga, karena kelihatannya mereka kecewa dengan Santi, yang hanya tetap memperhatikan Anang.


Apalagi sekarang, Santi malah sibuk bersenda gurau dengan Sugeng.


Kalau cuma Sugeng, Anang tidak khawatir, karena Anang tahu kalau Santi memang akrab dengan laki-laki yang gemulai. Contohnya Candy laki-laki gemulai pemilik salon langganan Santi.


Mereka masih duduk disitu sambil bercerita sekedarnya sampai hari mulai senja, dan teman-teman Anang berpamitan pulang.


Dan berjanji kalau nanti malam, mereka datang lagi kesitu.


Kini tertinggal Anang, Santi dan Tejo disitu sambil membersihkan bekas kulit kelapa yang masih tersisa.


Santi sedang menggulung tikar, dan Tejo tampak buru-buru membantunya.


Tejo seakan-akan memang mencoba mengambil kesempatan, untuk mendapatkan perhatian Santi.


Tapi Santi kelihatannya tidak terlalu terpengaruh dengan gerak-gerik Tejo, dan tetap lebih banyak menghampiri Anang, kalau tidak ada yang Santi lakukan.


Kalau begitu saja, tidak ada yang perlu Anang khawatirkan.


Seperti sekarang, mereka bertiga masih duduk bersantai diteras depan yang sudah diterangi lampu, karena diluar sudah gelap.


Sambil Santi memakan jajanan pasar yang dibelikan Tejo, kalau ada kue yang dianggap Santi rasanya enak, pasti Santi akan menyuapkan Anang potongan kuenya.


"Santi kelihatannya sayang sekali denganmu..." celetuk Tejo, ketika Santi sedang kekamar mandi, dan meninggalkan Anang dengan Tejo duduk diteras itu.


"Begitulah... Santi memang manja denganku," ujar Anang lalu tersenyum bangga.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Tejo.


"Masih diurus berkas-berkas pendaftarannya, jadi belum tahu tanggal pastinya," sahut Anang.


"Jadi kamu nanti memang akan menetap dikota ya?" tanya Tejo.


"Hmm... Kelihatannya begitu. Ada sih rencana untuk mencari tanah di perkampungan, cuma aku masih mengumpulkan uang," sahut Anang.


"Kalau kamu tertarik membeli tanah dikampung ini, ada satu yang dijual, kurang lebih sepuluh hektar," ujar Tejo.


"Harganya nggak mahal, karena orangnya mau menjualnya begitu saja. Pemiliknya sudah pindah keluar pulau," sambung Tejo.


"Nanti saja. Aku masih pikir-pikir dan nggak mau buru-buru ambil keputusan pindah untuk sementara ini," sahut Anang.


"Sebenarnya aku sempat terpikir untuk pergi dari sini, tapi rasa khawatir kalau nanti ditempat lain aku nggak bisa jadi apa-apa membuatku takut," ujar Tejo.


"Aku salut denganmu, meski kamu sempat kerja serabutan, sampai jadi pengamen jalanan, tapi sekarang kamu sudah hampir menjadi penyanyi terkenal, seperti yang kamu mau," sambung Tejo.

__ADS_1


"Tapi semua perjuangannya nggak segampang kedengarannya. Banyak-banyak bersyukur saja!" sahut Anang.


__ADS_2