
Setibanya Anang di studio rekaman pak Robi, Anang yang masih senyum-senyum sendiri, dikejutkan dengan tepukkan dibahunya.
"Kelihatannya, Anang sedang bersemangat!" ujar pak Robi, sambil tetap menepuk-nepuk bahu Anang.
"Eh, Pak!" kata Anang.
"Langsung saja ke lantai dua! Saya masih ada yang harus saya lakukan," ujar pak Robi.
Anang menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menaiki tangga, menuju tempat khusus untuk melakukan perekaman suaranya.
Disana, pegawai pak Robi, terlihat sudah siap untuk proses perekaman Anang, dan Anang langsung di arahkan untuk masuk ke dalam ruangan.
Sementara pegawai Robi, memantau dari ruang disebelahnya, yang berbatas dinding kaca berukuran besar.
Anang kemudian memakai gitar yang ada didalam ruangan itu, untuk jadi musik pengiringnya, saat dia bernyanyi.
Dengan batas waktu yang sudah ditentukan, hari itu Anang hanya bisa sempat merekam satu lagu saja.
Karena, masih seperti sebelum-sebelumnya, Anang harus mengulang nyanyiannya, kalau dirasa pegawai pak Robi, suara Anang yang mereka dengar, masih belum sesuai dengan harapan mereka.
Meski begitu, proses perekaman Anang, bukan waktu yang sebentar.
Sejak kurang lebih jam satu siang tadi, Anang baru keluar dari ruangan itu setelah hari sudah hampir gelap, ketika Anang melihat keluar dari jendela gedung.
Sebelum Anang keluar dari gedung studio pak Robi, Anang juga disuruh mendatangi kantor administrasi, yang ada didalam gedung itu, untuk penandatanganan kontrak, yang belum sempat Anang lakukan sebelumnya.
Sampai Anang keluar dari gedung studio pak Robi, laki-laki paruh baya itu, masih tidak terlihat lagi.
Jadinya, Anang hanya menitipkan pesannya kepada pegawai-pegawai pak Robi, yang ada diruang tunggu lantai satu gedung itu.
Anang baru saja mengeluarkan ponselnya hendak memesan taksi, pak Handoko tiba-tiba menghubungi Anang.
"Halo!" sambut Anang.
"Halo! Anang, masih rekaman?" tanya pak Handoko, dari seberang telepon.
"Sudah selesai, Pak! Ini saya sudah mau pulang," sahut Anang.
"Oh... Tunggu saja disitu! Sebentar saya jemput!" ujar pak Handoko.
"Nggak usah repot-repot, Pak! Saya bisa pakai taksi saja!" sahut Anang.
"Nggak apa-apa. Saya sudah didalam mobil. Tunggu saja, biar saya jemput!" kata pak Handoko lagi.
"Baik, Pak! Hati-hati dijalan, Pak!" ujar Anang, kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Sambil menunggu pak Handoko datang menjemputnya, Anang lalu duduk-duduk diteras depan gedung, dan melihat-lihat layar ponselnya.
Ternyata, Santi tadi sempat mengirimkan Anang beberapa foto dirinya, dengan pose yang cukup mencolok, dan mengganggu kesejahteraan otak Anang.
__ADS_1
Anang tidak menyadari keberadaan foto-foto itu dipesan masuknya, karena ponselnya tadi di atur ke mode hening, agar tidak mengganggu proses rekaman lagu Anang.
Anang menggigit bibirnya sendiri.
Dasar wanita brengsek!
Anang rasanya mau tertawa, tapi ada juga rasa kesalnya melihat foto-foto itu.
Salah Anang sendiri, memperlihatkan kesedihannya tadi kepada Santi.
Akibatnya, Anang dikerjai Santi habis-habisan.
Kalau foto-foto itu dihapus, rasanya sayang...
Kalau disimpan, bisa-bisa Anang jadi gila nanti.
Anang tetap menatap foto-foto itu satu persatu, sambil menggigit bibirnya, dan senyum-senyum sendiri.
Ponsel Anang hampir terjatuh ke lantai, saking kagetnya, ketika pak Handoko yang tiba-tiba sudah berdiri tepat didepan Anang, dan berkata,
"Lagi lihat apa?"
Anang yang merasa salah tingkah, jadi gelagapan, dan buru-buru berdiri, kemudian menyimpan ponselnya ke kantong celananya.
"Nggak ada, Pak! Kita bisa langsung pulang sekarang!" ujar Anang, lalu mulai berjalan pelan.
Mudah-mudahan saja, pak Handoko tidak melihat kelakuan Anang tadi.
Apalagi, kalau sampai pak Handoko melihat gambar-gambar yang ditatap Anang, sampai hampir tidak bisa berkedip itu.
"Bagaimana rekamannya tadi?" tanya pak Handoko, yang mulai menyetir mobilnya memasuki jalan raya.
"Rasanya berjalan lancar saja, Pak!" sahut Anang.
"Hmmm... Anang mau langsung pulang?" tanya pak Handoko.
"Iya, kita pulang saja! Kecuali, ada yang masih harus Bapak lakukan diluar," sahut Anang.
"Nggak ada... Tadi, sudah selesai semua. Malahan, Wina tadi sudah menandatangani berkas perceraian kami," sahut pak Handoko.
"Jadi, Wina sudah bisa pulang?" tanya Anang.
"Sudah sejak pagi tadi. Hanya saja, dia nggak bisa kembali kerumah saya lagi...
Karena, saya sudah bilang dengannya, kalau dia coba-coba mempersulit perceraian, atau coba-coba kembali ke rumah saya, maka akan saya perpanjang tuntutannya," sahut pak Handoko.
"Kasus Peter, yang kemungkinan akan panjang, juga lama urusannya. Karena, Peter masih bersikeras kalau dia tidak bersalah, dan seolah-olah saya hanya asal tuduh," sambung pak Handoko.
Anang mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia nggak tahu, dengan siapa dia mencari masalah!" celetuk pak Handoko.
Mendengar perkataan pak Handoko, berikut dengan nada suaranya, Anang tahu kalau pak Handoko, tidak sedang main-main, atau cuma asal bicara.
Kemungkinan besar, Peter memang akan jadi pesakitan dibuat pak Handoko, dan kolega-koleganya.
Jangankan Peter, sekelas Miss Jordan yang notabene bos Peter saja, meski labelnya besar dan berada diluar negeri, masih bisa dipukul mundur oleh tim pak Handoko.
Bayangkan saja, kalau cuma Peter...
Anang menoleh kesamping, melihat wajah pak Handoko, yang samar-samar terpapar cahaya lampu jalanan.
Kalau saja Peter mau bersungguh-sungguh meminta maaf, kemungkinan pak Handoko mau memaafkannya, dan tidak memperpanjang masalah itu.
Tapi, kalau Peter tetap bersikeras untuk melawan, kelihatannya pak Handoko bukan orang yang gampang menyerah, dan bisa-bisa Peter memang jadi bulan-bulanannya pak Handoko.
Lebih repotnya lagi, kalau berurusan dengan orang seperti pak Handoko, laki-laki paruh baya itu tidak perlu menyakiti tangannya untuk memukul Peter, tapi, pak Handoko bisa memakai tangan orang lain, untuk memberi Peter pelajaran.
Rasanya, Peter akan benar-benar terkapar kali ini.
"Nanti, ada waktunya Anang dipanggil untuk bersaksi dipengadilan, untuk persidangan Peter," ujar pak Handoko.
"Oh... Iya, Pak! Beritahu saja nanti...!" sahut Anang.
Setibanya dirumah pak Handoko, Anang langsung naik dan masuk kekamar, untuk mandi dan berganti pakaian.
Meski hanya rekaman didalam ruangan berpendingin udara, rasa kulit Anang tetap saja berminyak dan lengket.
Pak Handoko juga tadi sudah memberitahu Anang, kalau dia mau mandi dulu, baru makan malam bersama Anang nanti.
Sesudah mandi dan berpakaian, Anang lalu turun kelantai bawah, dan langsung ke ruang makan, karena asisten rumah tangga pak Handoko, sudah menunggu Anang di kaki tangga.
"Tuan Handoko, sudah menunggu bapak di meja makan," kata asisten rumah tangga pak Handoko itu.
Pak Handoko, meski sudah duduk dimeja makan, tapi, masih terlihat sibuk melihat sesuatu dilayar ponselnya.
"Anang, besok jadwal rekamannya jam berapa?" tanya pak Handoko, ketika Anang sudah duduk disitu, dan asisten rumah tangga pak Handoko, mulai menyendokkan nasi kedalam piring pak Handoko dan Anang.
"Masih sama seperti tadi, Pak! Siang sekitar jam satu," sahut Anang.
"Anang, besok pagi bisa ikut dengan saya?" tanya pak Handoko.
"Bisa saja, Pak! Mau kemana?" tanya Anang.
"Kita mengunjungi Peter," sahut pak Handoko.
"Iya, Pak!" kata Anang.
Sambil memakan makan malamnya, sesekali pak Handoko, mengajak Anang bercerita tentang kegiatan mereka masing-masing, yang dilakukan mereka berdua tadi siang.
__ADS_1