SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 138


__ADS_3

"Aku tahu kamu merasa lelah... Mungkin juga bosan. Aku juga bukan mau memaksamu untuk bekerja...


Tapi apa kamu nggak khawatir kalau-kalau, dengan caramu yang seperti tiga hari belakangan ini, kamu bakal merusak nama baikmu sendiri?" tanya Santi, sambil duduk dipangkuan Anang.


"Ah! Aku nggak mau tahu!" sahut Anang ketus.


"Mas...! Kontrakmu..." Santi tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena langsung disela Anang.


"Jangan bicara kontrak denganku!" bentak Anang dengan suara tinggi.


Santi lalu berpindah tempat duduk, setelah Anang membentaknya seperti itu.


"Santi!" seru Anang.


"Ngapain kamu duduk disitu! Aku sudah bilang kalau kamu harus duduk dipangkuanku!" bentak Anang lagi.


Santi terlihat menghela nafas panjang.


Kelihatannya Santi tidak mau menanggapi kekesalan Anang.


Santi malah menatap layar tablet, yang kini dipegangnya.


"Santi...!" kata Anang dengan suara bergetar.


Melihat Santi tidak bergeming ditempat duduknya, membuat Anang jadi sangat kesal dengan Santi.


Anang kemudian berdiri dan menarik Santi sampai ikut berdiri, lalu memaksanya untuk kembali duduk dipangkuannya, dan hampir membanting tablet kelantai van.


Memang Santi mau saja duduk lagi dipangkuan Anang, tapi malah seperti hanya pasrah saja, dan langsung tersandar didada Anang.


Anang sejak tadi tampaknya tidak memperhatikan, kalau ada yang tidak beres dengan Santi.


Setelah kepala Santi tersandar dilehernya, barulah Anang menyadari kalau Santi, mungkin sekarang sedang demam.


Dahi Santi yang menyentuh kulit leher Anang, terasa panas.


Seketika itu juga, kekesalan Anang menghilang.


"Kamu sakit...?" tanya Anang pelan, sambil menyentuh leher Santi dengan punggung tangannya.


Santi tidak menjawab pertanyaan Anang, dan hanya meletakkan tangannya didada Anang.


Anang semakin membenci pekerjaannya dinegara itu.


Semenjak pindah ke negara itu, sudah beberapa kali Anang marah dengan Santi.


Meski untuk hal-hal sepele, Anang jadi sering membentak Santi.


Bahkan Anang sampai-sampai mengasari wanita itu, padahal itu semua bukan kesalahannya.


Anang tahu, kalau Santi hanya berusaha membantu Anang.


Tapi entah mengapa, pikiran Anang seakan tidak bisa berpikir jernih.


Bawaannya, Anang hanya bisa merasa kesal hampir disetiap waktunya, dan kesulitan mengendalikan kemarahannya.

__ADS_1


Karena Anang tidak tahu mau melampiaskan kekesalannya dimana, lalu Santi yang selalu jadi sasarannya, saat Santi seolah-olah tidak mengerti, atau tidak mau menuruti kemauan Anang.


Anang merasa sangat bodoh telah memarahi Santi seperti itu.


Sekarang Santi jatuh sakit, apa kira-kira Anang bisa mengurus semuanya sendiri?


Padahal biasanya, segala sesuatunya selalu Santi yang mengurusnya.


Anang menjadi semakin frustrasi.


Bukannya Anang tidak mau bekerja keras.


Anang pernah bekerja serabutan yang bisa menguras tenaganya, dengan imbalan yang tidak pantas, tapi Anang tidak banyak mengeluh.


Tapi pekerjaan dengan Miss Jordan ini, bukan menguras tenaga Anang, melainkan kewarasannya.


Anang merasa, kalau dia sekarang mungkin sudah gila.


"Apa ada obat untukmu?" tanya Anang.


"Bisa kamu ambilkan tasku?" ujar Santi sambil menunjuk kesatu arah.


Anang lalu menggapai tas Santi, tanpa bergeser dari tempat duduknya.


Santi mengacak-acak isi tasnya, dan kelihatannya dia menemukan obat yang cocok dengan kondisinya sekarang, lalu menelan obatnya dengan sedikit air.


"Kamu pasti jengkel denganku 'kan?" celetuk Anang penuh penyesalan.


Santi memeluk Anang erat-erat.


"Orang Filipina yang bicara denganku waktu itu, juga mengalami hal yang sama. Bahkan dia sampai memecat managernya...


Katanya, awal-awalnya, dia benar-benar frustrasi dengan jadwal kerjanya. Tapi lambat laun, dia bisa mengikutinya...


Meski sudah terlanjur bertengkar hebat dengan managernya yang juga kelelahan, sampai mengusir managernya untuk pulang ke negaranya," sambung Santi.


"Mungkin karena penyesalannya itu, makanya waktu aku bilang dengannya, kalau aku denganmu ada hubungan pribadi, dia mau membantumu...


Tapi kamu harus sabar menunggu, sampai kontraknya sudah selesai," kata Santi lagi.


Anang yang mendengarkan penjelasan Santi, akhirnya memahami, kenapa Santi masih sabar menghadapi Anang yang uring-uringan.


Meski begitu, tidak mungkin Anang akan tetap menjadikan Santi, sebagai tempat pelampiasan rasa frustrasinya.


Anang harus lebih berusaha, agar bisa mengendalikan emosinya.


Kalau Santi sampai pergi, seperti manager penyanyi yang dari Filipina itu, atau terjadi sesuatu yang buruk kepada Santi, bagaimana keadaan Anang nanti?


"Maafkan aku...!" kata Anang pelan lalu mengecup kepala Santi.


"Nggak usah terlalu dipikirkan... Kalau semua rencananya berjalan baik, minggu depan mungkin kita sudah bisa pulang ke negara kita lagi," sahut Santi.


Anang memang mau agar mereka bisa kembali secepatnya ke negara asal mereka, tapi Anang tidak mau terlalu berharap banyak.


Yang pasti, Anang harus bisa mengubah sikapnya kepada Santi.

__ADS_1


Anang menyayangi Santi, dan semestinya Anang berfokus disitu, agar tidak menjadikan Santi seperti samsak tinju.


"Aku mengantuk. Aku tidur dulu ya?! Nanti kita ngobrol lagi. Aku sayang denganmu..." kata Santi.


Anang merebahkan kursinya sedikit, agar posisi mereka bisa agak terbaring.


"Aku menyayangimu..." bisik Anang.~


Sepanjang malam itu, Anang masih sering terbangun dari tidurnya, dan memeriksa keadaan Santi.


Demam Santi sudah hampir menghilang, dan Santi kelihatan bisa tertidur pulas dalam pelukan Anang.


Keesokkan harinya, Santi sudah lebih membaik, meski masih agak pucat dan sedikit lemas.


Anang bisa bernafas lega, saat meraba dahi Santi yang sudah tidak panas lagi.


Sebisanya Anang hanya ingin melihat Santi, tanpa memperdulikan hal yang lain.


Kelihatannya pikiran Anang yang berfokus dengan Santi, bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


Anang mulai bisa mengendalikan emosinya, bahkan Anang merasa kalau dia hampir kembali ke dirinya lagi seperti biasa.


Hari ini, setiap event yang Anang datangi, Anang bisa bernyanyi dan bermain gitarnya dengan baik.


Saat tampil bernyanyi diatas panggung, Anang meminta santi agar berdiri, atau duduk dimana Anang bisa melihatnya dengan jelas.


Iya, Anang seolah-olah hanya sedang bernyanyi untuk Santi.


Tidak masalah 'kan?


Yang penting, penampilan Anang bagus, dan Anang juga bisa mengendalikan emosinya.


Begitu juga diwaktu-waktu tertentu, saat mereka akan mengisi perutnya dengan makanan.


Demi menyenangkan Santi, Anang mau memakan makanannya, tanpa perlu dipaksa-paksa Santi lagi.


Kewarasan Anang seakan-akan mulai kembali.


Anang sudah bisa bercanda lagi dengan Santi, dan sesekali mereka berdua bisa tertawa lepas.


Kelihatannya kalau bisa begitu saja terus, maka keadaan semuanya akan baik-baik saja.


"Dikota ini ada jembatan yang terkenal. Kamu mau singgah disitu sambil berfoto-foto?" tanya Santi.


"Memangnya bisa?" Anang balik bertanya.


"Bisa!" sahut Santi bersemangat.


"Sebentar!" sambung Santi lalu beranjak turun dari pangkuan Anang, dan berjalan kedepan, mendatangi supir.


Tidak lama, Santi sudah berjalan kembali sambil tersenyum lebar.


"Supirnya mau menyinggahkan kita disitu sebentar. Dia juga mau istirahat," ujar Santi lalu kembali duduk dipangkuan Anang, dan memeluk sambil mencium Anang.


Fokus di satu hal yang menyenangkan hatimu, bisa membantumu melewati banyak tantangan!

__ADS_1


__ADS_2