
Anang rasanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Ketika keluar dari gedung kantor persidangan, sinar matahari sudah menghilang, dan berganti dengan cahaya lampu jalan yang menerangi dengan samar.
Selama itu persidangan tadi?
Anang buru-buru memesan taksi.
Iya, tadi Anang berbohong dengan pak Handoko.
Tapi, Anang jujur, saat berkata, kalau dia tidak mau merepotkan pak Handoko.
Anang bukan orang yang tidak tahu diri.
Selain udara, semua yang didunia ini, tidak ada yang gratis 'kan?
Orang yang sedang sakit pun, lalu membutuhkan tambahan tabung oksigen, tetap diminta bayaran.
Setahu Anang, orang-orang yang bekerja seperti pak Handoko, dan rekan-rekannya itu pasti dibayar, dan pasti dengan harga yang cukup fantastis.
Berhubung melihat keadaan pak Handoko, yang bisa memiliki rumah mewah, bisa memiliki ini itu, tanpa harus terlalu memikirkan, 'apa besok masih bisa makan'.
Tapi, meski hanya sepeser pun, Anang belum membayar kerja keras mereka.
Hanya karena berdasarkan alasan, kalau pak Handoko mau membantu Anang sajalah, makanya mereka sekarang bekerja, tanpa menagih imbalan kepada Anang.
Selain itu, Anang memang sengaja menghindari, untuk berbincang-bincang terlalu lama dengan pak Handoko, yang bisa memungkinkan Anang diajak untuk membahas tentang Santi, di ujung pembicaraannya.
Anang lalu menghubungi Tejo, ketika Anang sudah didalam taksi.
Pasti, Tejo masih menunggu dipusat perbelanjaan yang diarahkan Anang tadi pagi.
Mungkin Tejo akan merasa bosan menunggu disana, tapi mau bagaimana lagi, kalau dia tidak mengerti apa-apa dikota.
Ternyata dugaan Anang itu salah, Tejo tidak dipusat perbelanjaan itu lagi.
Tejo sudah pergi ke salah satu penginapan, yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat perbelanjaan itu.
Memang tidak terlalu jauh, tapi rasanya agak aneh, kalau sampai Tejo bisa mengetahui tempat itu, sedangkan 'katanya' dia tidak pernah pergi ke kota.
Tapi mungkin saja, dia bertanya dengan seseorang yang dia temui dipusat perbelanjaan itu.
Anang diantar langsung ke penginapan, dimana Tejo sudah mengambil satu kamar untuk mereka berdua.
Tidak apa-apa meski harus tidur sekamar.
Toh, hanya semalam, daripada membuang-buang uang dengan menyewa dua kamar, yang hanya dipakai untuk tidur.
"Bagaimana persidanganmu tadi?" tanya Tejo, yang sedang berbaring santai diatas ranjang.
Anang yang baru saja masuk ke dalam kamar, sebenarnya memang tidak berminat untuk membahas persidangan, yang melelahkan itu.
"Sudah!" jawab Anang asal.
__ADS_1
Tejo kelihatannya mengerti dengan apa yang Anang rasakan sekarang.
Jadi, meski jawaban Anang mengandung banyak arti, tapi, Tejo tidak memaksa untuk bertanya lagi, dan malah terlihat sibuk dengan ponselnya.
Anang ikut naik ke atas ranjang, disamping Tejo, dengan posisi bertelungkup, dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
Lelah sekali.
Pinggang Anang rasanya mau putus, saking lamanya duduk.
Dengan posisinya seperti itu, bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Kamu sudah makan?" tanya Tejo.
Anang menggelengkan kepalanya sedikit.
"Kalau begitu kita pergi makan keluar, mau?" tanya Tejo.
"Nanti dulu...! Aku masih capek...!" sahut Anang pelan, sambil memalingkan wajahnya kesisi lain ranjang, yang berlawanan arah dengan Tejo.
"Atau kamu mau pesan makanan, lalu kita makan dikamar saja?" tanya Tejo lagi.
Astaga, Tejo!
Kamu benar-benar mengingatkan Anang, dengan keberadaan Santi.
Jika saja Tejo mungkin tidak akan menganggap Anang seorang gay, Anang mau saja memeluk Tejo disitu.
Susah payah Anang berusaha melupakan Santi, tapi ada-ada saja yang membuat Anang kembali mengingatnya.
Anang menghela nafas panjang, yang terasa sangat berat, sambil meremas bantal yang jadi tempat kepalanya bersandar, dengan kedua tangannya sekuatnya.
Sebaiknya Anang kembali kekampung secepatnya, karena kalau tidak, bisa-bisa, Anang nekat berangkat keluar negeri menyusul Santi, karena merindukannya.
Dan, itu tidak lucu sama sekali.
Anang harus berjalan maju!
"Besok kita pulang ke kampung! Aku harus mengawasi penanaman bibitku," ujar Anang tegas.
Tejo tidak menyahut omongan Anang, dan hanya berdiam diri disamping Anang, untuk beberapa saat Anang menunggu tanggapannya.
"Kamu masih mau jalan-jalan disini?" tanya Anang.
"Nggak terlalu... Agak membosankan kalau cuma pergi ke mall seperti tadi. Kalau kamu mau pulang besok, bisa saja!" sahut Tejo datar.
"Kita pergi makan keluar saja sekarang!" ujar Anang lalu beranjak turun dari tempat tidur.
Tejo juga sama, buru-buru turun dari ranjang, lalu berjalan keluar dari kamar bersama Anang.
"Kamu mau makan apa?" tanya Tejo, yang tiba-tiba merangkul pundak Anang, sambil mereka berjalan menyusuri trotoar.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terserah saja!" sahut Anang asal.
Mereka berdua memilih, untuk makan diwarung pinggir jalan yang beratapkan tenda terpal, dengan pengunjungnya yang cukup ramai.
"Persidangan tadi, benar-benar melelahkan..." celetuk Anang, sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Tejo menyeruput sedikit es jeruk, yang sudah disajikan lebih dulu.
"Tapi, kira-kira ada bayangannya kalau kamu bisa lepas dari tuntutan label orang luar negeri itu?" tanya Tejo.
"Kalau yang aku dengar dari tanggapan teman-teman pak Handoko tadi... Mungkin bisa," sahut Anang.
Anang melayangkan pandangannya, kesegala arah yang bisa dia lihat.
Aroma harum tumisan bumbu nasi goreng yang sedang dimasak pedagang disitu, membuat Anang jadi tidak sabar untuk makan. ~
Masih subuh kedua laki-laki itu sudah bangun, dan bersiap-siap untuk kembali ke kampung.
Untung saja, Anang yang terbangun duluan. Karena kalau tidak...
Hmmm...
Bayangkan canggungnya mereka berdua nanti, kalau sampai Tejo menyadari, bahwa Anang memeluknya erat-erat dalam tidurnya.
Anang hampir terloncat dari tempat tidur, ketika dia membuka matanya, dan wajah Tejo tepat didepan wajah Anang, dengan tangan Anang yang melintang didada Tejo.
Catat!
Bukan cuma tangan Anang yang melintang memeluk Tejo, tangan Tejo juga begitu adanya.
Bahkan tangan Tejo yang sebelahnya lagi agak lebih ekstrim, karena menjadi bantal untuk leher Anang.
Kalau mungkin ada orang yang melihat mereka berdua tidur tadi, seolah-olah Tejo adalah laki-laki yang berusaha membuat kekasihnya bisa tertidur nyenyak, dengan kehangatan tubuhnya.
Dan Anang yang menjadi kekasih wanita, yang dilindungi kekasih prianya, dan membalasnya dengan pelukan kasih sayang.
Dengan pengecualian, kalau mereka berdua sama-sama adalah laki-laki.
Sebenarnya memang bukan salah Anang, atau Tejo.
Mau bagaimana lagi kalau tidurnya seranjang seperti itu?
Kekurangan area, atau karena kelelahan sampai-sampai gaya tidur jadi berantakan, pasti bisa membuat dua orang diatas ranjang yang sama, akan melakukan kesalahan posisi tidurnya.
Anang buru-buru pergi mandi, meski dinginnya air didalam kamar mandi, serasa bisa menusuk sampai ke tulang-tulang Anang.
Tak lama setelah Anang selesai mandi, Tejo juga sudah bangun pergi mandi.
Sekarang, mereka tinggal menunggu taksi, yang akan mengantarkan mereka ke terminal bus.
Tampaknya, Tejo memang tidak menyadari keadaan memalukan itu, karena Tejo masih terlihat santai tanpa menyinggung apa-apa, ketika mereka menikmati teh panas diterminal, sambil menunggu keberangkatan bus ke kampung.
Kecuali, saat mereka sudah duduk didalam bus yang mulai berjalan, lalu Tejo berkata,
__ADS_1
"Segitu rindunya 'kah kamu dengan Santi?"
Dan, Anang tiba-tiba merasa dadanya sesak.