SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 178


__ADS_3

Pagi ini, Anang tidak ada kegiatan yang membuatnya sibuk, dan hanya menikmati sarapannya bersama pak Handoko, meski pak Handoko tampak tergesa-gesa memakan sarapannya.


Pak Handoko, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan berkata,


"Maaf, Nak Anang...! Saya buru-buru... Saya masih harus ke kantor pagi ini. Anang, jam berapa ke tempat pak Robi?"


Pak Handoko berbicara, sambil memperhatikan arloji ditangannya sebentar, lalu melihat Anang, sambil merapikan lipatan kemejanya.


"Jadwal rekamannya, nanti selepas jam makan siang," sahut Anang, lalu ikut berdiri.


"Nggak perlu berdiri. Anang lanjutkan sarapannya saja...! Bagaimana Anang pergi kesana nanti?" ujar pak Handoko.


"Saya bisa pakai taksi saja, Pak!" sahut Anang yang kembali duduk di kursinya.


"Hmmm... Oke! Saya pergi dulu, kalau begitu!" ujar pak Handoko, lalu berjalan pergi dari situ dengan tergesa-gesa.


Setelah pak Handoko pergi, Anang juga buru-buru menghabiskan sarapannya.


Anang memang jadi lambat makannya tadi, karena terlalu banyak melamun.


Semalam, sepulangnya dari pesta pernikahan kenalan Lia, dan Lia mengantarkan Anang kembali ke rumah pak Handoko, Santi membalas pesan Anang.


Bukan cuma membalas pesannya saja, Santi bahkan menyempatkan untuk menghubungi Anang lewat video call.


Tidak banyak informasi yang Anang dapatkan saat berbicara dengan wanita itu, karena sebagian besar, Santi hanya bercerita seputar kuliahnya saja.


Begitu juga Anang, yang hanya menceritakan soal rekamannya nanti dengan pak Robi.


Tidak ada satupun dari mereka berdua, yang mau menyinggung tentang perasaan, atau sesuatu yang berhubungan dengan itu.


Video call yang berlangsung cukup lama, meski tidak ada mesra-mesranya, dan benar-benar hanya seperti teman lama.


Datar...


Walaupun begitu, meski mereka hanya berbincang-bincang sekedarnya saja, tapi, senyum manis diwajah Santi, kian terbayang-bayang dikepala Anang.


Wajah Santi yang kini tampak lebih pucat dari sebelum-sebelumnya, tetap terlihat cantik dimata Anang.


Mengingatnya saja, bisa membuat hati Anang berdesir-desir.


Anang masih ingin berbicara lama dengan Santi, atau paling tidak, Anang ingin melihat wajah wanita itu lebih lama, tapi, Santi sibuk dengan tugasnya, dan harus mengakhiri panggilannya.


Tapi, Santi berjanji kepada Anang, kalau dia tidak sedang sibuk, dia nanti menghubungi Anang lagi.


Selesai menghabiskan sarapannya, Anang kemudian berjalan-jalan dihalaman samping rumah pak Handoko, sambil sesekali memeriksa layar ponselnya.


Anang yang sudah terbiasa sejak subuh sudah sibuk dikebun, lalu sekarang tidak melakukan apa-apa, dirasa sangat mengganjal bagi Anang.


Kalau Anang membawa gitarnya, mungkin Anang tidak akan sebingung itu, karena tidak tahu hendak berbuat apa, untuk menghabiskan waktu, sambil menunggu saatnya Anang pergi ke studio pak Robi.


Anang lalu melihat-lihat ke dalam kolam ikan, yang berisi ikan hias berwarna-warni, dengan airnya yang jernih, tampak seperti belum terlalu lama dibersihkan.


Gerakan ikan yang berenang kesana kemari, cukup menarik perhatian Anang.


Anang memandangi ikan-ikan disitu, sambil duduk dipinggir kolam.


Menarik, dan indah...


Kalau orang penggemar ikan peliharaan, itu memang pemandangan yang bisa memuaskan mata dan pikiran.

__ADS_1


Entah berapa lama, Anang terpaku menatap ikan-ikan yang berenang hilir-mudik didepannya itu, sampai ponsel Anang yang berdenting, mengejutkan Anang, dan membuatnya buru-buru memeriksa ponselnya.


'Semangat rekamannya!' pesan masuk dari Santi.


Senyum Anang merekah lebar.


Anang lalu menghubungi Santi lewat video call.


Santi tampaknya masih berbaring ditempat tidurnya, dengan wajah sebagian tertutup bantal, tampil dilayar ponsel Anang.


Mata Santi terlihat masih sayu, dan seolah-olah masih sangat mengantuk, tapi masih bisa tersenyum disitu.


"Baru bangun? Atau baru mau tidur?" tanya Anang.


"Hmmm... Baru bangun," sahut Santi, sambil mengucek matanya.


"Memangnya jam berapa disana sekarang?" tanya Anang.


"Jam empat subuh..." sahut Santi pelan.


Anang lalu melihat jam di sudut layar ponselnya, lalu mencoba menghitung-hitung selisih waktunya.


"Kenapa?" tanya Santi.


"Kamu dimana? Kenapa selisih waktunya seperti itu?" tanya Anang.


"Ooh..." ujar Santi lalu tersenyum lebar, dan hampir tertawa.


"Aku bukan di negeri Paman Sam. Terlalu membosankan, kalau aku kembali mengambil jurusan hukum. Aku mengambil jurusan bisnis di universitas di Inggris," sahut Santi.


"Berarti, tadi malam kamu nggak menyimak yang aku ceritakan ya?" tanya Santi.


Anang hanya bisa tersenyum, sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kamu ini...!" ujar Santi, sambil mengacungi jari telunjuknya diponsel.


"Kamu lagi dimana sekarang?" tanya Santi.


"Masih dirumah Papamu," sahut Anang.


"Sudah selesai rekamannya?" tanya Santi lagi.


"Belum... Nanti jam dua belasan, baru aku pergi kesana," sahut Anang.


"Aku kira kamu tadi, lagi rekaman... Makanya, aku cuma mengirim pesan," ujar Santi.


Santi lalu terlihat menguap, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Masih ngantuk?" tanya Anang.


"Lumayan... Tapi, aku nggak bisa tidur lagi. Jadwal kuliahku pagi. Kalau aku tertidur lagi, nanti bangunnya kesiangan," sahut Santi.


Santi lalu terlihat berpindah posisi berbaringnya yang menyamping, ke sisi sebelahnya lagi.


Saat Santi bergeser dengan ponsel yang masih diarahkan padanya, yang terlihat bukan wajahnya, melainkan leher sampai ke dadanya yang setengah terbuka.


Anang menelan ludah.


Astaga...

__ADS_1


Kalau Santi didekat sini saja, mungkin Anang sudah berlari menghampirinya sekarang.


"Kamu sengaja menggodaku?" tanya Anang, ketika layar ponsel kembali memperlihatkan wajah Santi.


"Heh? Maksudnya apa?" tanya Santi yang terlihat bingung.


Tidak berapa lama, Santi lalu tersenyum lebar.


"Ini maksudmu?" tanya Santi, lalu mengarahkan ponselnya tepat keatas dadanya, yang sebagian tertutup gaun tipis menerawang.


Terdengar suara Santi diseberang, yang sedang tertawa cekikikan.


"Santi...!" ujar Anang, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Santi kembali mengarahkan ponselnya, ke wajahnya lagi.


"Aku bukan berniat menggodamu. Mungkin tadi nggak sengaja, karena aku berbalik saja..." kata Santi sambil tersenyum.


"Tapi, kalau kamu mau lihat, boleh..." ujar Santi lalu tersenyum nakal, dan menggigit bibirnya sendiri.


"Jangan! Kamu mau membuatku gila disini?" ujar Anang.


Santi memang nakal.


Seperti diperintah, sambil tertawa, Santi mengarahkan ponselnya, sehingga dari leher sampai kedua buah dadanya, bisa terlihat jelas dilayar ponsel Anang.


"Santi...!" kata Anang dengan suara memelas.


Entah Anang harus senang, atau sedih.


Pemandangan yang indah, tapi tidak bisa disentuhnya.


Celana terasa sesak, lengkap dengan kepala Anang yang tiba-tiba jadi terasa sakit.


"Sudah...! Santi...!" kata Anang, setengah memohon, meski matanya masih menatap layar ponselnya.


Santi kembali mengarahkan ponselnya ke wajahnya lagi.


Mungkin, Santi bisa melihat kesedihan yang terpancar diwajah Anang, karena Santi lalu berkata,


"Maaf, sayang... Aku cuma bercanda..." Kemudian tersenyum manis.


"Kamu nggak rindu denganku?" tanya Anang.


"Sedikit..." sahut Santi, sambil membentuk sela kecil, dengan jari jempol dan telunjuknya.


"Cuma segitu saja?" tanya Anang.


Santi tertawa pelan.


"Sudah! Jangan bahas itu...!" kata Santi.


Anang lalu terdiam, dan menatap wajah Santi dilayar ponselnya lekat-lekat.


"Oh iya! Aku belum beritahu kamu! Akhir tahun nanti, ada yang mau aku kirimkan untukmu," ujar Santi bersemangat.


"Kira-kira, kamu lagi dimana waktu itu?" tanya Santi.


"Paling-paling aku sudah dikampung. Kamu mau mengirimkan apa?" tanya Anang.

__ADS_1


"Sesuatu... Tunggu saja!" sahut Santi, lalu tersenyum lebar.


__ADS_2